Title : Where My Heart Belongs
Genre : crime,
dark, romance
Rate : PG-15
Author : Yuu
(Michishige Miharu)
POV : Yaotome
Hikaru
OC : Yoshioka
Shizu
Disclaimer : I
don’t own anything except the story
.
“Ketua, ini. sudah kusiapkan. Kartu identitas, alamat, nama
lengkap, latar belakang palsumu.” Aku memberikan sebuah kartu yang tentu saja
telah ku palsukan dengan sangat detail kepada Yabu.
“Terima kasih” Yabu melihat kartu tersebut. “Yoshizawa Toru?
Nama yang unik. Dari mana kau dapatkan ini semua.” Tanyanya.
“Identitas itu adalah milik seseorang yang beberapa tahun
lalu ku bunuh.” Aku menjawab dengan senyum sinis. Heh, rasanya senang sekali
bisa membunuh, merampok hartanya, dan memalsukan identitasnya.
“Hahaha, kau ini memang pintar Hikaru.” Yabu memujiku.
“Ketua, bawalah ini. ini akan memudahkan komunikasi kita”
Daiki memberikan sebuah pulpen dan satu buah anting kepada Yabu. Tanpa
dijelaskanpun ia sudah mengetahui fungsi dari alat tersebut.
“Nah, Inoo-chan.
kau tetap disini memantau perkembangan, aku akan pergi ke hall untuk
bertemu di pesta awal pertemuan para peserta lelang dan penyelenggara. Hikaru
dan Daiki. Kalian ikut denganku.”
“BAIK” kami bertiga menjawab serempak dan mulai memerankan
peran kami masing-masing.
.
Aku berperan sebagai bodyguard,
sama seperti Inoo dan Daiki, dan Yabu berperan sebagai peserta lelang. Kami
semua memakai topeng jadi tak ada seorang pun yang tahu wajah asli kami. Jika
ada yang melihat wajah asli kami, ya bunuh saja orang itu. Memang begitulah
aturan mainnya.
Kami bertiga masuk ke ruang pesta, Yabu memilih duduk di
kursi paling depan dengan sebuah meja makan bundar putih yang mewah. Aku dan
Daiki berdiri di belakang Yabu sambil melihat sekeliling. Kami harus terus
waspada. Pasti ada petugas yang menyamar apalagi di acara besar seperti ini. Aku
menduga bahwa alasan mereka menyelenggarakan pelelangan besar mendunia seperti
ini di atas kapal adalah karena mereka tak ingin ada perampok yang mencuri
benda itu, tetapi sayangnya hal ini sudah menjadi bagian dari antisipasi kami,
para perampok professional.
“Permisi… boleh aku duduk di sini?” seorang wanita cantik
dengan gaun warna merah tiba-tiba saja menghampiri Yabu .Sepertinya aku pernah
melihatnya. Mungkin artis, aku jarang memperhatikan infotainment sih.
Aku tetap memperhatikan sekeliling, dan… hey, kebetulan
sekali. Pemilik permata itu disini. Duduk di sebelah Yabu. Aku sedikit
menyeringai.
PRAAANG~
Suara pecahan kaca tiba-tiba membuat seluruh isi ruangan
menjadi hening.
“Kaauu !! apa yang kau lakukan pada gaunku !!” itu kan
wanita yang tadi
“Ahh, sumimasen,
maaf, maaf sekali nona .. aku .. aku ….”
Artis cantik yang seperti malaikat tadi entah kenapa
tiba-tiba marah seperti seorang setan karena gaunnya telah dibasahi oleh
seorang pelayan wanita bertubuh mungil.
“Kau tahu berapa harga gaun ini!! bahkan gajimu setahun-pun
belum tentu bisa membayar setengah dari harga gaun ini.” Ah, aku malas melihat
ini.
Aku tetap fokus pada tugasku, namun tiba-tiba Yabu berdiri
dan mengambil satu gelas anggur dan menumpahkan anggur tersebut ke baju artis
itu.
“Ahh, maaf nona, aku tidak sengaja” aku dan Daiki kaget.
Untuk apa Yabu ikut campur dalam hal ini. Astaga, jalan pikirnya ini memang
sulit ditebak.
“Maaf nona, biar aku ganti bajumu. Nona kecil ini tak akan
bisa mengganti bajumu dengan satu tahun gajinya kan? begitu juga dengan pelayan
lain. Untuk apa kau meminta kepada orang yang jelas-jelas tak bisa membayar?
Nah, Berapa harganya? Karena aku bersalah sudah merusak gaun indahmu, aku akan
ikut menggantinya. Kau mau cek atau cash? “
Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam, kurasa mereka
semua sadar dengan tingkah jelek wanita itu. Dia pergi karena merasa malu
ditertawakan oleh semua orang.
Yabu kembali duduk di kursikan dan menyuruhku untuk
memberikan sejumlah cek pengganti
gaun itu dengan harga 5 kali lipat. Sebagai rasa bersalahnya karena
mempermalukan wanita itu tadi.
Aku keluar dari hall
dan menghampiri wanita tadi dan memberikan cek
seperti yang diperintahkan Yabu tadi. Karena aku malas berlama-lama dengan
wanita ini aku segera kembali.
Namun, saat menuju ke hall
aku mendengar tangisan seseorang dan beberapa suara dari arah yang berlawanan,
dekat toilet. Aku berbalik arah dan menuju ke sumber suara.
Aku bersembunyi di samping toilet, aku sedikit melongok ke
dalam. Di sana ada anak perempuan kecil dan beberapa pekerja di kapal tersebut
mungkin. Entahlah. Aku mulai mencuri dengar.
“Hey, gadis kecil tadi kau bilang akan memberikan bayarannya
pada kami sekarang. Kami sudah membiarkan naik kapal ini dengan GRATIS. Kami butuh
BAYARANnya sekarang.” Pria paruh baya memegang pundak gadis kecil itu.
“Ma-maaf kan aku tuan. Tapi aku ingin mencari onii-chanku dulu…” suara gadis itu
sedikit bergetar. Bayaran? Gratis? Kakak? Apa maksudnya?
“Tadi kau bilang akan memberikan tubuhmu asal kami membolehkan
mu naik kapal ini. Sekarang kau sudah naik, dan hutangmu harus dilunasi.” Pria
yang lainnya menyahut.
“Hiks, tolong aku… aku takut..” gadis itu menangis.
Entah apa yang menggerakkan ku untuk masuk ke toilet itu dan
berpura-pura buang air. Toh, ini toilet pria. Semua orang yang ada di dalam
sana tersentak kaget melihat kedatanganku. Setelah selesai, aku menghampiri
gadis itu.
“Hey adik kecil. Mereka keluargamu?” aku bertanya pada gadis
kecil itu dan ia menggeleng.
“Maaf, gadis ini milik kami. Sekarang tolong tinggalkan
tempat ini.” Ucap pria tua itu jengkel.
“Tadi aku tak sengaja dengar, dia masuk ke sini tanpa
membayar ‘kan? Baiklah berapa yang kalian mau?” aku mengeluarkan cek. Apa yang aku lakukan, kenapa aku
menjadi orang baik begini.
Setelah selesai ‘bertransaksi’ dengan orang-orang tua itu,
aku melihat keadaan gadis itu. Dia menggigil ketakutan, masih sesenggukan, baju
kemeja yang ia pakai sudah ada beberapa kancingnya yang terbuka. Aku
membantunya berdiri.
“Te-terima kasih, kak.” Ucap gadis itu menunduk.
“Un, tidak masalah. Siapa namamu?” aku bertanya sambil
mengajaknya keluar dari toilet itu.
“Yoshioka Shizu.” Jawabnya pelan. Ia sedikit meremas ujung
kemejanya. Mungkin ia masih takut karena hamper diperkosa.
“Nah, Shizu-chan,
apa yang kau lakukan disini? Kau sendirian kan?” aku terdengar seperti sedang
menintrogasi anak ini.
“Aku memang sendiri, karena aku sedang mencari onii-chanku. Sudah 7 tahun ini dia tidak
pulang, dan aku tahu kalau nii-chan
suka permata, aku bermaksud mencarinya disini tapi harga tiketnya mahal jadi…
aku berpikiran menjual tubuhku.” Ia sedikit sesenggukan.
“Biar ku tebak. Umurmu masih 13 atau 14 tahun kan? Kenapa
kau nekat sekali?”
“Umurku 14 tahun. Aku nekat karena aku rindu Onii-chanku.” Ia mulai menangis lagi.
“Sudahlah, jangan menangis. Sekarang kau sudah menjadi
penumpang resmi, dan ini kunci kamarmu. Aku pergi dulu. Jaa,” aku memberikan
sebuah kunci dan pergi meninggalkan anak itu sendiri.
“Chotto… nama nii-san siapa?” aku terdiam sejenak.
Perlukah aku memberi tahunya? Sepertinya dia bukan orang berbahaya.
“Hikaru” aku melanjutkan jalanku. Dari kejauhan aku
mendengar ia mengucapkan terima kasih.
.
Saat aku kembali ke hall,
aku melihat Yabu sedang berbincang santai dengan pemilik permata itu. Ya,
Chinen Yuri. Tapi aku memperhatikan seseorang. Bodyguardnya Chinen, dia terlihat sangat waspada. Dia termasuk
orang yang patut dicurigai.
Satu setengah jam mereka berbincang, aku mengingatkan Yabu
untuk tidak terlalu banyak minum. Hampir saja ia mabuk dan mebahayakan kami
semua.
Saat kembali ke kamar Inoo memberitahukan tentang bodyguard Chinen dan Morimoto. Namanya
Yamada Ryosuke. Tapi aneh, tidak ada satupun data tentang dirinya.
TING TONG~
Suara bel berbunyi. Rupanya seorang room service datang .Tiba-tiba saja
gadis pelayan itu langsung membuka pintu dan pergi tanpa pesan terakhir lagi. Pasti
karena Yabu iseng bermain-main dengan pelayan itu. Aku dan Inoo segera
meladeni room service itu.
.
Waktu menunjukkan tengah malam, dan aku tidak bisa tidur.
Aku mengambil smartphone ku. Mungkin
dengan bermain game sebentar bisa
membuatku mengantuk. Penjahat juga manusia. Jadi aku tetap menyisihkan beberapa
space memori untuk game.
Setelah bosan aku kembali ingat pada anak kecil tadi. Shizu.
Aku mengingat adik sepupuku. Kami dulu sering bermain bersama. Tapi tidak
mungkin kan adik sepupuku itu masih 14 tahun. Aku tertawa kecut dalam hati.
Sudahlah, tak ada urusannya denganku juga. Aku pun mulai
memejamkan mata dan terlelap.
.
Pagi ini kami berempat sedang membicarakan strategi untuk
pencurian permata nanti malam. Ah aku tidak sabar untuk hal ini. Pasti mala
mini menjadi malam yang sangat menyenangkan.
Setelah selesai rapat singkat aku ke deck dan menikmati suasana laut yang tenang. Namun tiba-tiba seperti
ada sebuah tangan yang menyentuhku.
“Nii-san~” gadis
kecil ini lagi. Astaga.
“Ada apa?” tanyaku dengan suara datar. Kulihat dia sedikit
mengerucutkan bibirnya. Hah, anak-anak.
“Tidak, aku hanya bingung harus mencari kemana lagi. Dari
foto dan wajah onii-chan yang aku
ingat tidak ada satu pun yang seperti ia,”
“Teruslah mencari.” Kataku tak melepas pandanganku dari
laut.
“Hikaru-niisan
suka laut?” tanya gadis itu. Aku mengangguk pelan.
“Onii-chan ku
bilang laut itu tenang. Ia juga suka laut. Karena ia bilang laut itu seperti
menghanyutkan semua beban kita. Dulu aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi
sekarang aku mulai memahami maksudnya,” aku menoleh ke gadis itu. Dia juga
menatap laut dengan padangan yang sulit diartikan. Antara lelah, rindu, sedih, hilang
harapan, dan sebagainya.
Aku jadi prihatin pada anak ini. Dia masih kecil dan harus
mencari kakakya sendiri. Eh? Tunggu. Sendiri?
“Kau mencari kakakmu sendiri. Memang kemana ayah dan ibumu?”
tanyaku
“Ayahku sudah meninggalkan kami dari aku masih bayi. Dia
pergi entah kemana. Dan ibuku meninggal 3 tahun yang lalu. Hanya onii-chan harapanku. Tapi ia tak kunjung
pulang menjengukku.” Setetes air mata mulai turun dari matanya. Aku jadi tak
enak hati. Aku mengusap pelan kepalanya dan segera meminta maaf.
“Ah, aku ingin mencari onii-chan
ku lagi. Jaa ne Hikaru-nii,” ia memlabaikan tangan padaku. Aku
membalasnya sedikit.
.
Malam pun tiba, aku, Daiki dan Inoo siap dengan senjata dan
strategi kami. Yabu tidak membawa senjata karena takut dicurigai. Jadi aku membawa
senjata lebih untuknya nanti.
Kami masuk ke dalam hall untuk
menghadiri pelelangan. Banyak peserta seperti semalam di hall tersebut. Disana
aku juga melihat Yamada yang berdiri sigap dibelakang Morimoto dan Chinen.
Lampu sedikit diredupkan.Dan seorang wanita memandu acara
pelelangan hari ini.
Belum 5 menit wanita itu bicara, tiba-tiba seorang pria naik
ke panggung, dengan wajah cemas dan berbisik ke pembawa acara dan membuat si
pembawa acara menyerahkan microphonenya ke pria tersebut.
“Selamat malam semua,saya inspektur Takaki ingin
menyampaikan sebuah pengumuman. Salah satu penumpang kapal ini Kitagawa Keiko
ditemukan tak bernyawa dikamarnya.”
Semua penumpang langsung ricuh. Aku tersenyum setan di dalam
hati. Tapi aku dan Daiki tetap tenang. Ekspresi yang tak terduga adalah Yabu.
Pfft~ dia berlagak sok panik. Kami berdua berusaha menahan tawa.
“kemungkinan waktu kematian pada pukul 8-9 pagi. Kami pihak
kepolisian akan memeriksa alibi kalian semua pada jam itu. Jadi harap berkerja
sama dengan kami.” Lanjut pria bernama Takaki tersebut.
Aku, Daiki, Inoo dan Yabu terlihat tenang. Karena kami
memiliki alibi masing-masing.
“Sesuai rencana,”
.*;;TBC;;*.


No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)