Pages

WHERE MY HEART BELONGS Arioka Daiki POV chapter 1



Title   :  Where My Heart Belongs
Genre : crime, dark, romance
Rate : PG-15
Author : Anarioka (Anasicha Rose)
POV : Arioka Daiki
OC : Mitsumori Kira
Disclaimer : I don’t own anything except the story.


Daiki’s POV
                Merampok dan membunuh.
Itu adalah aktifitas paling menyenangkan didunia—Tentu saja.
Karena dengan merampas harta milik orang lain,aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya hidup didunia.Kami bisa menikmani harta hasil jarahan kami sepuasnya tanpa memikirkan halal atau tidaknya cara kami memperolehnya.Mengaku sajalah,didunia ini siapa sih yang tidak tergiur dengan harta dan kekayaan? Tak mungkin ada seseorang yang bisa hidup tanpa uang didunia ini!
Membunuh,Ya.Ini bagian yang paling kusuka.Rasanya aku sangat puas ketika;
Melihat sang korban mati mengenaskan akibat ulahku…
Mendengar teriakan kesakitan dan  putus asa yang keluar dari mulut mereka.
Mendengar Magnum sniper rifle-ku berbicara saat mereka memberontak.
Atau saat WASP knife-ku merobek dada sampai perut mereka dan menarik paksa organ dalamnya lalu memotong-motong bagian tersebut sampai kecil.
Sangat menyenangkan saat melihat cairan kental berwarna merah pekat itu melumuri tubuh mereka.
Dengan tubuh berlumuran yang berlumuran darah..Maka nyawa orang-orang itu segera melayang ke alam baka dan membusuk dineraka paling dalam,hahaha.
Hari ini,kami akan menjalankan sebuah misi untuk merampas sebuah permata langka yang ditemukan oleh dua orang arkeolog.Kudengar permata itu memiliki sebuah legenda magis yang hebat,entah aku harus percaya atau tidak.Tapi yang jelas permata itu bukan permata sembarangan dan tentunya bernilai jual tinggi,jadi tak ada alasan lagi bagi kami untuk tidak MERAMPASNYA.
“Ketua,ini sudah ku siapkan.Kartu identitas,nama dan latar belakang palsumu” Hikaru memberikan sebuah kartu tanda peserta lelang pada Yabu.Tentu saja pasti ia akan sangat membutuhkan kartu identitas sebagai salah satu taktik penyamarannya.
“Teriamakasih” Yabu melihat kartu identitas itu dengan seksama “Yoshizawa Toru? Nama yang unik.Dari mana kau dapatkan semua ini?”
“Identitas itu adalah milik seseorang yang beberapa tahun lalu kubunuh” Hikaru berkata dengan tersenyum sinis.Ya,tentu saja senyuman yang menampakan gingsul khas iblis-nya itu semakin terlihat.
“Hahaha,kau ini memang pintar Hikaru”
“Ketua,bawalah ini.Ini akan memudahkan komunikasi kita” Aku memberikan sebuah pulpen dan sebuah anting pada Yabu.Ya,tanpa ku jelaskan juga pasti ia mengerti fungsinya.
“Nah,Inoo-chan.Kau tetap disini memantau perkembangan,aku akan pergi ke hall untuk bertemu di pesta awal pertemuan para peserta lelang dan penyelenggara. Hikaru dan Daiki.Kalian ikut denganku”
“BAIK” Kami bertiga menjawab serempak dan mulai memerankan peran masing-masing.

Aku memulai peranku sebagai seorang bodyguard begitupun dengan Inoo dan Hikaru,sedangkan Yabu menyamar sebagai peserta lelang.Singkat kata Kami menyamar sebagai bodyguardnya.Aku yakin tak mungkin ada seorangpun yang mengetahui identitas kami,aku sudah membuat topeng penyamaran sedemikian rupa agar tak ada seorangpun yang tahu wajah asli kami. Kalau saja ada yang melihat wajah asli kami saat sedang beraksi,aku hanya tinggal mengikuti aturan mainnya saja.Ya,Bunuh orang itu!
Kami bertiga masuk ke ruang pesta,Yabu segera memilih tempat duduk dikursi paling depan dengan sebuah meja makan bundar putih yang mewah.Sedangkan aku dan Hikaru berdiri dibelakang Yabu sembari melihat sekeliling apakah ada petugas yang sedang menyamar.Tentu saja kami harus selalu waspada karena diacara besar seperti ini aka nada banyak petugas yang wara-wiri mengawasi semua tamu setiap jalannya acara
. “permisi… boleh aku duduk di sini?” seorang wanita cantik dengan gaun warna merah tiba-tiba saja menghampiri Yabu .Seertinya aku pernah melihatnya.Ya,wajahnya itu sangat tak asing lagi ditelevisi.
“Tuan Morimoto dan Chinen, di sini adalah tempat duduk anda”Aku mengedarkan pandanganku kearah lain,kulihat seseorang dengan jas putih dan kemeja abu-abunya membimbing beberapa orang untuk duduk di samping Yabu. Yatta! Ternyata mereka pemilik permata yang akan itu.Hah baguslah berarti Yabu bisa mencari tahu tentang seluk-beluk permata itu melalu pemiliknya secara langsung.Tentunya itu akan memudahkan tim kami.
“terimakasih Yamada-san” seseorang bernama Morimoto tadi tersenyum kemudian duduk di samping Yabu. Ia membungkuk tanda memberi salam Yabu, dan iapun membalasnya dengan senyuman palsu.

PRAANG~
Tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca yang membuat seisi ruangan ini menjadi hening,semua orang menoleh kearah sumber suara itu.Termasuk juga aku.
“Kauu!! Apa yang kau lakukan pada gaunku!!”
“ahh,sumimasen,maaf,maaf sekali nona.. aku.. aku..”
Hei,bukankah itu wanita yang tadi duduk disebelah Yabu? Ah,tak ku sangka ternyata wajah malaikatnya itu hanya topeng.Lihat kan,dia sombong sekali! Memang berapa sih harga gaun norak yang dipakainya itu?!
                “Kau tahu berapa harga gaun ini!! Bahkan gajimu setahun-pun belum tentu bisa membayar setengah dari harga gaun ini”
“ada apa ini??” seorang kepala pelayan datang menengahi suasana panas yang mendadak ini.
“anak buahmu ini mengotori gaunku!! Aku tidak mau tahu! Kalian harus membayarnya!”
Entah sejak kapan,tiba-tiba saja Yabu sudah berdiri dari tempat duduk nya,ia mengambil segelas anggur dan tanpa kusangka ia menumpahkannya tepat digaun wanita bermulut tajam itu.Aku yakin itu pasti sengaja.
“ahh,maaf nona aku tak sengaja”
Hei,tapi untuk apa Yabu mencampuri urusan mereka yang jelas-jelas tak punya hubungan apa-apa dengannya.Aku memang tak pernah mengerti jalan pikiran ketua ku yang satu ini.
“maaf nona, biar aku ganti bajumu. Nona kecil ini tak akan bisa mengganti bajumu dengan satu tahun gajinya kan? begitu juga dengan pelayan lain. Untuk apa kau meminta kepada orang yang jelas-jelas tak bisa membayar? Nah, Berapa harganya? Karena aku bersalah sudah merusak gaun indahmu, aku akan ikut menggantinya. Kau mau cek atau cash? “
Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam, kurasa mereka semua sadar dengan tingkah jelek wanita itu.Mereka semua memandang wanita itu dengan sinis sambil berbisik satu sama lain
Dan akhirnya wanita itupun pergi karena merasa malu ditertawakan oleh semua orang, Yabu pun kembali duduk di kursinya dan menyuruh Hikaru untuk memberikan sejumlah cek pengganti gaun itu yang tak tanggung-tanggung hingga 5 kali lipat dari harga aslinya.

                “sumimasen, anou-san …. Aku … ingin berterimakasih soal yang tadi”Ah, Rupanya pelayan yang tadi.

Terlihat Yabu tersenyum pada pelayan wanita itu, tetapi ia juga tak melepaskan pandanganku kepada Chinen dan Morimoto. Dan kurasa ia juga tetap melayangkan pandangannya pada bodyguard-mereka yang bernama Yamada.Ya,aku juga memang curiga kepada bodyguard Chinen dan Yamada itu,sepertinya ia terlihat waspada saat memperhatikan gerak-gerik kami.Dan itu membuatku merasa tak suka dengan kehadirannya disini.
 “ah, ya. Tak usah sungkan nona”

“apa yang harus aku lakukan untuk menebus kebaikanmu tuan?”

 “apa benar kau ingin menebusnya? Aku sedang butuh bantuan seseorang”

Pfftt..Aku menahan tawa saat Yabu mengucapkan hal itu pada si pelayan wanita.Ya,sepertinya aku mulai bisa menebak jalan pikirannya.

Kulihat Yabu menyelipkan kertas kecil itu di bawah cangkir kosong yang ia berikan padan gadis pelayan itu.
“permisi tuan … Yoshizawa …” seseorang mendekati Yabu sambil menawarkan tangannya untuk berjabat tangan.

“ah ya, Aku Yoshizawa Toru”  

“Aku Chinen Yuri”

“ah, jadi kau salah satu dari pemilik permata itu?”

“begitulah”

“senang berkenalan denganmu”

“apa anda salah satu peserta lelang?”

“ya, aku sangat tertarik pada permata yang kau dan temanmu temukan. Aku akan membayar berapapun uang yang harus aku keluarkan”

“hahaha, semoga kau beruntung tuan”

Aku terus mendengarkan percakapan mereka namun kurasa Chinen dan Morimoto tidak menyadarinya.

Hingga tanpa sengaja kutolehkan kepalaku ke arah kiri.dan seketika itu aku agak tercekat. Tak terpaut jarak yang jauh dariku, berdirilah seorang gadis berambut hitam pekat sebahu sedang duduk sendirian termenung ditengah keramian pesta.Sungguh sepertinya wajah gadis itu amat sangat familiar bagiku,kurasa dia mengingatkanku pada seseorang,aku kembali memutar memori masa laluku,kucoba mengingat-ingat,apakah aku pernah bertemu dengan gadis itu.Tapi tunggu..kenapa wajahnya terlihat murung. Hampir tak ada seulas senyum sama sekali.
Tak ku sangka,Ia menolehkan kepalanya kearah kanan.Dari wajahnya ia nampak tercekat saat mendapati aku sedang memperhatikannya. Ia terbelalak. Ia nampak membuka mulutnya sedikit. Entah karena dia heran atau kaget,melihatku.
Untuk beberapa detik, mata kami  bertemu. Aku mulai menyelami mata biru indah miliknya.Astaga,kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari denyut normal? Ada apa ini?!
 Sadar dengan kelakuanku, Aku pun sedikit salting.Mungkin sebaiknya aku  melemparkan senyuman padanya untuk menutupi kesaltinganaku
Gadis bergaun merah muda itu,masih terdiam melongo. Mungkin melihat  aku tersenyum dengan… ehem… mungkin lebih tepat berkesan sok kenal.Wajah gadis itu merona merah. Ia pun membuang wajahnya.
Aku memalingkan pandanganku kearah kanan.Tiba-tiba terlihat sesosok pria berpakaian serba hitam, tinggi jangkung, dan bertubuh kekar.Pria itu terlihat sedang membisikkan sesuatu pada si gadis, dan seketika itu mereka berlalu meninggalkan tempatnya berpijak tadi. Sebelum benar-benar menghilang di balik kerumunan orang-orang di pest ini, Kulihat gadis-yang-mirip-dengan-’nya’ itu sempat menoleh kearah ku yang  juga sedang menatapnya hingga ia benar-benar lenyap dari pandanganku.
Tunggu dulu..
Tatapan itu…
Benar-benar mengingatkanku pada seseorang…
Ya,seseorang yang pernah kucintai…
Apakah itu dia?
Ah,mustahil.Dia sudah lama meninggal dan seseorang yang sudah meninggal tak mungkin hidup kembali.Tapi,dia benar-benar mirip dengan Kira...

Satu setengah jam Yabu mengobrol dengan kedua pemilik permata itu, Mereka minum beberapa gelas. Hampir saja ia mabuk. Untung Hikaru segera mengingatkannya agar tetap waspada. Begitu ia mulai mabuk, kami berdua langsung membawanya ke kamar. Dasar ketuaku ini memang keras kepala,aku kan sudah bilang pada agar tidak meminum alcohol.

“ketua, sudah kubilang untuk tidak mabuk tadi” Aku memarahi Yabu yang nekad meminum alcohol sampai mabuk begini,dasar dia memang kepala,tak pernah mendengarkan perkataanku.

“hahaha gomen ne, aku kelepasan”

“kau ini, jangan sampai membahayakan tim kita” Timpal Hikaru dengan nada datar.

“ya, aku tahu. Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang. Bagaimana Inoo? Sudah kau dapatkan?”

“ya, sudah ketua. Ini semua data tentang peserta lelang.” Yabu membaca tumpukan kertas yang diberikan oleh Inoo.

“Inoo-chan. tak ada satu data-pun tentang Yamada Ryosuke?”

Hah? Dugaanku benar kan? Sedari awal aku memang sudah mencurigainya.

“Yamada Ryosuke? Maksudmu bodyguard Morimoto dan Chinen tadi?” Tanyaku heran

“tidak ketua. Aku juga bingung. Sepertinya … dia termasuk orang-orang yang identitasnya   dirahasiakan”

“apa maksudmu dirahasiakan?” Sungguh,aku masih tak mengerti.

“di Negara ini, ada beberapa orang yang sangat dirahasiakan identitasnya. Biasanya Mereka adalah para orang-orang yang mempunyai peran penting dalam perlindungan Negara.”

“tetapi kenapa Morimoto dan Chinen bisa dikawal oleh orang seperti itu?” Hikaru memegangi dagunya pertanda ia sedang berfikir.

“entahlah, yang jelas. Dia bukan orang sembarangan.”

“begitu …”

Ting tong~
Suara bel kamarku berbunyi. Kami cepat-cepat memakai topeng penyamaran kami. aku, Hikaru dan Inoo memasang posisi siaga. Yabu segera membuka pintu kamar ini dan mengintip.

“konbanwa~” Rupanya gadis pelayan tadi datang.

“kau … masuklah .. aku tak menyangka kau akan datang”

Rupanya gadis pelayan itu.Huh,kukira siapa! Kurasa dia gadisbaik-baik,aku yakin dia tidak berbahaya.Tapi walau bagaimanapun kami harus waspada

“ya, tuan bilang, tuan butuh pertolonganku. Karena anda sudah menolongku tadi, maka aku akan berbalas budi.”

Yabu menoleh kepada kami bertiga memberi kode pada kami untuk meninggalkan mereka berdua dan kamipun menurut.

Ya entah apa yang akan dilakukan oleh Yabu pada gadis pelayan itu,sebagai anak buah aku hanya bisa meng’iya’ kan apa kemaunnya.Tapi biar bagaimanapun kami harus selalu waspada dengan apapun yang mencoba ‘mendekat’.

                10 menit berlalu,entah apa yang Yabu lakukan pada gadis itu.Well sekali lagi aku tak bisa menebak jalan pikirannya.Semoga saja dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh.

Ting tong~
Suara bel berbunyi. Rupanya seorang room service datang .Tiba-tiba saja gadis pelayan itu langsung membuka pintu dan pergi tanpa pesan terakhir lagi,Ah ini pasti karena Yabu iseng bermain-main dengan pelayan itu.Huh,aku memang tak bisa menebak jalan pikirannya.Inoo, dan Hikaru bergegas meladeni room service itu. untuk menanyakan kamarku. dan Aku membangunkan Yabu yang kelihatannya kesakitan karena gadis itu baru saja menendangnya dibagian ‘itu’.Hahaha ini lucu sekali, kejadian ini benar-benar langka karena kapan lagi aku bisa menyaksikan seorang Yabu Kota berhasil di pukul oleh seorang gadis.Sungguh aku tak bisa menahan tawa.
“kau ini, tega sekali mentertawakanku”

“hahaha, salah sendiri, kenapa kau bermain-main dengan pelayan itu?”

“ne, Daiki, apa kau ingat klan Narusawa?”

“Narusawa? Yang uangnya kita curi beberapa minggu lalu itu?”

“ya, gadis itu … dia putri tunggalnya. Aku tak sengaja melihatnya tidur di kamar keluarga Narusawa malam saat kita mengambil semua uangnya. Dan beberapa pelayannya memanggilnya dengan akhiran –sama”

“begitu.. tapi apa yang dia lakukan sebagai pelayan disini? Tidak dia jatuh miskin dan bekerja karena uangnya kita ambilkan?”

“dasar bodoh, mana mungkin, yang kita ambil hanya seberapa dari kekayaan kaln Narusawa. Tentu saja ia ingin ikut pelelangan”

“oh ya, lalu … bagaimana ketua??”

“entahlah, tapi … sepertinya aku bisa memanfaatkan gadis ini untuk target kita besok ….”

Yabu tersenyum sinis,kurasa ia sedang memikirkan sesuatu.Ah,lagi-lagi aku tak bisa menebak jalan pikirannya.


Entah mengapa malam ini aku tak bisa memejamkan mataku dengen tenang,rasanya ada sesuatu yang membuatku terganggu.Sebenarnya ini sama sekali tak ada hubungannya dengan misi pencurian permata itu,ya bisa dibilang ini diluar urusan itu.
Wajah gadis itu benar-benar terpampang nyata dalam memoriku.Tentu saja siapa lagi kalau bukan gadis duplikat Kira itu,aku benar-benar penasaran.Sebenarnya dia itu siapa? Apa dia salah satu peserta lelang permata juga? Ah,memikirkan hal ini sungguh-sungguh membuatku pusing.Ingat tujuanku kemari hanyalah satu yaitu : Mendapatkan permata langka itu bagaimanapun caranya.
Tapi,aku benar-benar tidak bisa tidur! Apa sebaiknya aku keluar saja,dan berjalan-jalan disekitar dek kapal,hmm..tak ada salahnya kucoba mungkin itu bisa menghilangkan stress ku.Kurasa yang sudah tertidur pulas ditempat masing-masing,aku tak perlu minta izin pada mereka untuk keluar toh yang ada aku malah akan mengganggu mereka.
Akhirnya akupun keluar kamar,aku hanya menggunakan penyamaran seadanya saja,mengenakan celana jeans panjang dan jaket hitam yang tudungnya menutupi kepala dan sebagian wajahku.
Aku  berjalan pelan menuju pinggiran dek.bisa kurasakan kapal bergerak dengan pelan. Angin malam yang dingin berhembus kencang.membuatku sedikit menggigil.
Mataku masih memandangi bintang-bintang yang bertaburan di langit dengan tatapan kagum. Bintang, ya. Bintang selalu terlihat menakjubkan dan menenangkan hati, ya? Walaupun sinarnya hanya terlihat kecil-kecil, tapi bintang terus saja kokoh hingga pagi menjelang. Kelip-kelip berliannya membuat mata tidak bosan.
Sedang asyik-asyiknya aku menikmati kerlingan-kerlingan bintang yang sedang bermain mata, tiba-tiba suara derap langkah mengalihkan perhatianku. Ah, bukan. Mungkin lebih tepat disebut dengan suara orang yang sedang berlari. Suara itu perlahan mendekat dan semakin jelas. Aku pun membalikkan tubuhku karena penasaran. Sesaat kemudian, melintaslah sesosok yang mungkin tak asing lagi di matanku, sedang berlari tergesa-gesa menuju buritan. Seseorang yang beberapa saat lalu mengambil alih pikiranku,ya dia gadis yang mirip Kira itu.
Gadis itu terus berlari.Tak kusangka, ia malah berlari kearah buritan. Tapi ia tidak sekalipun berpaling kearah lain.Aku masih memperhatikannya dari jauh.
Sesampainya di buritan, ia menyentakkan tubuhnya pada pagar pembatas.Dapat kulihats amar-samar airmatanya mengalir satu per satu. Astaga,mengapa rasanya seperti ada yang menohok hatiku ketika melihat mata indahnya berkaca-kaca,padahal aku sama sekali tak tahu apa yang membuatnya menangis.
Pandangannya semakin menatap ke bawah, menatap air laut yang terlihat mengkilap memanpantulkan sinar lampu kapal. Tubuhnya bergetar hebat,seolah-olah menahan emosi.
 Angin malam bertiup kencang, menyilak-nyilakkan helai rambut hitam pekatnya. Agak lama ia terdiam sambil memegangi pagar pembatas dengan erat.Tak lama kemudian  aku mendapatinya tengah memanjat besi pagar pembatas dan melompatinya hingga ia sekarang berada di luar pagar. Tiba-tiba, terbesit pemikiran gila di kepalaku,jangan-jangan—
Matanya menatap laut yang hitam itu kosong. Air laut itu pasti terasa sangat dingin. Jika kau menceburkan diri ke dalamnya, dalam sekejap kau mungkin akan langsung beku. Pas sekali untuk melakukan aksi bunuh diri malam ini.Ia mencondongkan tubuhnya ke bawah, mengahadap air laut. Tangannya menggenggam erat pagar di belakangnya,sudah kuduga pasti akan melakukannya.Aku tak boleh tinggal diam!
Sebelum ia mengambil ancang-ancang untuk segera terjun, akupun segera melangkah mendekatinya.
"Sedang apa kau di situ?"
Ia menoleh perlahan kearah belakang. Matanya terbelalak.,ketika mendapati ku berdiri menatapnya tajam sambil melipat tangan di depan dada.
"Kau mau bunuh diri?" tanyaku, dengan nada datar.
Tak ada jawaban,ia masih menatapku dengan tatapan nanar,tubuhnya masih bergetar,dan sesekali ia mengigit bibir bawahnya.
"Mau apa kau?" akhirnya ia bicara juga "Ini bukan urusanmu!" ucap Kira bergetar sambil membuang muka. "Kalau kau mendekat, aku akan segera lompat!"
"Kalau kau lompat, aku juga akan lompat." Pungkas ku.
Mendengar itu,ia  terbelalak.
 Tunggu,apa yang kukatakan barusan? Kenapa bicara ku jadi seperti ini.Astaga ada apa denganku?
Akh,aku tak peduli,yang terpenting aku harus membujuk nya agar tak melakukan hal gila seperti itu.Aku mendensah pelan dan kuputar bola mataku dengan ekspresi merendahkan.
"Hah! Kau ini bodoh, ya…?" Tegasku dengan nada menngejek.
Ia kembali menoleh kearahku Ah! Atau lebih tepatnya hanya melirikku saja.
"Bunuh diri? Kau ini kampungan sekali, ya? Bunuh diri dengan cara seperti ini, sih… sudah ketinggalan zaman!" Ucapku. Kali ini,Ia benar-benar menoleh sepenuhnya kearahku. Wajahnya sembab akibat menangis. Ia membiarkan angin malam membelai wajah pucatnya.
"Kau tahu?" Aku berjalan mendekat kearahnya. "Kalau malam-malam begini, air laut pasti dingin sekali. Benar, kan?" Ucapku sambil pura-pura memasang  wajah polos.
Kini aku berpangku tangan di sisi pagar yang jaraknya dekat dengan tempat di mana Kira berdiri. Sedangkan gadis itu,ia menatapku dengan tatapan datar.
"Kau tahu,Kalau kau benar-benar lompat… ah! Tidak. Aku tidak yakin kau akan lompat." Bisikku,tepat didepan telinganya.
Gadis itu mengangkat sebelah alisnya.
"Kalau kau lompat… begitu kau masuk ke dalam air, kau akan merasakan penderitaan yang lebih dari apapun." Aku memberi jeda pada kalimatku. mencoba menunggu  apakah ia bisa mencerna perkataanku.
"Air itu sedingin es, kau tahu itu, kan? Kau akan merasakan tubuhmu dicabik-cabik. Di tusuk-tusuk dengan jarum yang tajam dan dingin, di sayat-sayat dengan pisau sekeras es. Setelah kau merasakan itu semua, kau akan mati mengenaskan.Lalu lenyap dari muka bumi ini." Aku memasang expresi horror padanya
Ia membuka mulutnya sedikit dan kembali menatap air laut.
"Aku yakin. Kau ini takut mati."
Ia kembali tersentak mendengar ucapanku
"Tak perlu marah. Semuanya juga pasti takut mati, kok. Aku yakin itu. Aku sendiri juga begitu." Aku menoleh kearahnya sambil tersenyum.Dapat kulihat samar-samar  Wajahnya langsung merona. Ia kembali memalingkan pandangannya dariku.
"Jadi bagaimana? Mau dilanjutkan?" tanyaku.Tiba-tiba Ia menoleh kearahku yang kini berjalan kearah belakang, tepat di belakangnya.
"Tidak. Aku akan kembali."
Mendengar itu, aku merasa lega. Kulemparkan senyuman puasku pada gadis bersurai hitam itu.Ia segera berbalik dan mulai memanjat pagar lagi. Dari dalam pagar, Aku berusaha menjaganya agar tidak jatuh. Tapi, karena sedikit kesalahan langkah, Ia pun terpeleset. Kami  tersentak bukan main. Perasaan panic mulai menyeruak dalam diriku.
"Ah!"
"Eh? He-hei!" Aku tercekat tapi segera memegangi tangannya. Posisinya saat ini seperti bergelantungan. Ia sangat ketakutan.
"Tolong akuuu!" serunya.
“Kumohon tolong aku.Yang kau katakana itu benar,aku..aku..takut mati,aku tak mau mati sekarang,aku tak mau mati dengan tragis seperti ini”
Aku menaiki pagar beberapa tingkat dan segera menarik gadis yang lebih tinggi beberapa centi dariku itu yang masih bergelantungan di luar pagar. Jangan sampai dia jatuh!
"Bertahanlah! Jangan bergerak lebih dari itu, atau kau akan jatuh! Cobalah kau pijak di besi-besi pagarnya!" Teriakku  yang tak kalah panik.
Ia terus berusaha menapak satu besi pagar dengan mengayun-ayunkan tubuhnya. Satu tangannya kutarik, dan satu tangannya memegang erat besi pagar.Ia berusaha memanjat. Setelah berhasil memanjat besi pagar ketiga, ia pun terpeleset lagi.
"Aaakh!" Ia kembali bergelantungan dipagar besi.
"Astaga!" Aku yang sedang menarik tangan gadis itu, seketika itu juga tertarik oleh tubuh nya yang terpeleset lagi. Tapi utnungnya, Aku masih tertahan pagar pembatas.
"Aku mohon… tolong akuuu!" Astaga dia semakin panik. Sial! Karena memakai Heels dengan sol yang terbuat dari kayu, Ia terus-terusan terpeleset. Pagar ini licin!
"Teruslah… panjat…" Ucapku terputus-putus. Sebisa mungkin berusaha menarik tubuhnya keatas.
"Aku tidak bisa…! Aku tidak…"
"Kau bisa, bodoh! Jangan bilang kau tidak bisa! Kalau kau bilang begitu, sama saja kau ingin mati! Cepat panjat! Aku tidak akan mampu kalau hanya menarikmu seperti ini…" Sentak ku.
Dengan tenaga yang tersisa ia kembali memanjat besi-besi pagar pembatas dengan hati-hati walaupun panik. Dan akhirnya ia berhasil sampai dan melompati pagar tersebut. Aku menarik tubuhnya yang lumayan tinggi itu hingga masuk ke dalam pagar. Karena beban yang berat sebelah, Aku yang sedang menarik langsung tertimpa tubuh ramping nya yang ternyata juga berat.
Kami berhasil mendarat dengan selamat di lantai dek dengan posisi Aku berada di bawah, dan ia menimpaku di atas. Kami berdua sama-sama terengah-engah. Kejadian ketidak sengajaan ini sungguh membuat jantung ku berpacu dengan cepat! Tadi itu bahaya sekali.
Posisi kami terus begitu selama beberapa detik, hingga pertolongan datang. Tapi… ini, sih, telat namanya!
"Ada apa ini?" seru seorang awak kapal. Ia dan anak buahnya melihat posisi kami yang sekiranya… tidak memungkinkan itu.
Sadar akan posisi yang memalukan itu, Kami segera bangun. Terlihat jelas wajah gadis itu merah sekali seperti strawberry,aku menahan tawa saat melihat expresinya yang begitu menggoda.
"Ada apa ini?" tanya si awak kapal itu sekali lagi. Dari belakang, beberapa orang berlari menuju buritan.
"Mitsumori-sama,anda tak apa-apa? " terdengar suara panik seorang pria, di ikuti beberapa orang di belakangnya.Sepertinya itu pria yang tadiku lihat bersama gadis itu saat dipesta pertemuan.
Eh? Tunggu dulu,Mitsumori? Itu nama marga Kira! Ya Tuhan,sebenarnya siapa gadis ini? Tak mungkin jika dia Mitsumori Kira,kalaupun benar itu namanya.Aku yakin jika dia bukan Mitsumori Kira ‘ku’.Atau jangan-jangan… Kira punya kembaran?
“maafkan saya Mitsumori-sama,saya telah—“
"Aku baik-baik saja,bodoh! Dan tak usah terlalu mengkhawatirkanku seperti itu! Aku ini bukan anjing cihuahua yang harus selalu dipakaikan kalung rantai! Dan satu hal lagi…jangan membuntutiku!"Gadis itu menunjuk wajah pria yang kuyakini sebagai bodyguard nya itu.
“Tapi,ayah anda menyuruh saya untuk tetap mendampingi anda selama dikapal ini”
“aku tidak peduli! Aku sama sekali tidak punya ayah seperti itu.Dia bukan ayahku!”
Setelah memarahi bodyguard nya itu.Ia langsung beranjak dari tempat itu sambil melepaskan kedua heels dari kakinya dan ditenteng nya heels itu dengan kedua tangannya,sambil berjalan dengan cepat.
Aku hanya bisa terdiam dan menatapi punggungnya seiring ia melangkah.
"Ah! Apakan Tuan… yang menyelamatkan Mitsumori-sama?" tanya pria jangkung berpakaian hitam itu.
Aku segera menoleh cepat.
"Ah… begitulah." Aku menjawabnya sambil tersenyum.
"Benarkah?" Pria itu sontak kaget. "Saya sungguh berterimakasih,anda sudah menyelamatkan majikan saya"
"Sama-sama."
"Tapi bolehkah saya tahu… apa yang terjadi sehingga menimbulkan keributan seperti ini?”
"Tak ada apa-apa. Dia hanya ingin melihat bintang di malam hari. Karena keasyikan, dia jadi iseng memanjat besi pagar penbatas. Dan tidak tahunya, dia terpeleset dan jatuh.Untungnya aku lewat sini dan langsung membantunya untuk naik keatas"Jelasku pada pria itu,iapun merespon dengan anggukan kepala,ya aku sengaja mengarang cerita,karena bisa gawat urusannya jika ada yang tahu kalau gadis itu mencoba melakukan percobaan bunuh diri.
"Saya harap Kejadian ini jangan sampai terulang lagi. Tuan, saya sangat berterimakasih atas jasa Tuan." Pria itu menyilangkan tangan didada dan membungkuk padaku.
"Ah! Tidak…" Aku menggoyang-goyangkan kedua tanganku,rasanya aku tidak nyaman jika diperlakukan seperti ini.
“Kalau begitu,saya permisi.Anda juga segeralah masuk. Angin malam tidak baik bagi kesehatan." Kata Bodyguard itu tersenyum lalu berjalan meninggalkannku di ikuti para awak kapal.
Aku menatap kepergian mereka semua. Dari balik dinding kapal aku melihat Kira menoleh kearahku sambil menyinggungkan seulas senyuman. Aku tercekat melihatnya.Tapi tak lama kemudian iapun menghampriku.
“Maaf tadi aku pergi begitu saja,aku hanya risih jika Takashi mengikutiku terus”
“eh? Takashi?”
“Iya,dia bodyguardku yang tadi”
“Oh”
“Aku hanya ingin bilang terimakasih untuk yang tadi,dan maaf telah merepotkanmu”
“Ah,tak masalah”
“Aku Mitsumori Kira.Boleh ku tahu namamu?”
Deggg!!
Tidak mungkin! Ini mustahil.Apakah ini yang dinamakan reinkarnasi?
Ya,reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang merujuk bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain.Kalau dipikir menggunakan logika,rasanya memang mustahil namun tak ada kemungkinan lain selain itu.
“Arioka Daiki,salam kenal”
“Salam kenal,juga.Apa kau juga salah satu peserta lelang permata disini?”
“Ah.Bukan,tapi boss ku,Yoshizawa Toru.Aku hanya mendampinginya sebagai seorang bodyguard”
“Oh,rupanya kau seorang bodyguard”
“eh? kenapa?”
“Tidak,hanya saja wajahmu itu terlalu kawaii,hahaha”
“Huu,enak saja!”
“Hahaha.Sepertinya aku harus pergi sekarang,ini sudah lewat tengah malam.Aku harap kita bisa bertemu lagi,Jaa nee~” Kira melambaikan tangannya padaku
“Hei tunggu,kenapa tadi kau mau bunuh diri?”
“Kalau kita bertemu lagi pasti akan kuceritakan” Teriaknya dari kejauhan.
 Akupun segera membalas lambaian tangannya.
Sepeninggal Kira, Aku kembali menengadah kelangit. Bintang mulai hilang satu per satu. Padahal, ini adalah puncaknya malam. Seharusnya para bintang bukannya perlahan menghilang, tapi perlahan muncul lebih banyak. Tapi tak apa.Aku sudah lumayan lama menikmati mereka semua. Aku pun tersenyum sambil mendesah.


                                                                                                TBC…

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)