Pages

SILHOUETTE

Title       :               silhouette
Cast        :              Yamada Ryosuke
                                Ryutaro Morimoto
                                Nakamura Natsuki (OC)
Categories          oneshoot
Rate       :               NC-17
Genre   :               romance, angst
Disclaimer           I don’t own anything except the story
                “…..aku mencintaimu seperti seorang seniman yang melukis di atas air saat hujan mendung….”


************************

Malam ini hujan lebat. Aku duduk di sebuah halte tanpa jaket dan dan paying. Sudah satu setengah jam aku disini namun tak ada satu-pun orang lewat. Bahkan mobilpun juga sudah tak ada. Yang kulakukan selama itu hanyalah membolak-balikkan tanganku untuk melihat jam tangan. Duduk-berdiri-melihat sekelilingku. Berharap seseorang datang menawarkan untuk pulang bersama dengan payungnya. Ku lihat sisa uangku di saku, tak mungkin aku mencari penginapan, bahkan bajuku yang ketinggalan jaman ini-pun sudah tak pantas untuk memasuki sebuah hotel kecil sekalipun.
Bagaimana ini? sudah jam 12 malam. Ryu pasti marah karena makan malamnya tertunda sangat lama. Aku menyesal sudah meninggalkan ponselku di kamar. Tubuhku mulai gemetar kedinginan dan nafasku mengeluarkan asap dingin yang tebal. Bagaimana ini? tak mungkin berjalan kaki sampai rumah yang jaraknya 15KM dari sini. Kereta juga sudah tak ada yang melintas. Bisa-bisa aku tidur disini malam ini.
“selamat malam…”
“lho? Nakamura-san … kenapa…?? sedang apa disini malam-malam begini?”
“aku yang seharusnya bertanya padamu. aku baru saja berbelanja makanan cepat saji”
“ya.. aku tak sengaja terjebak disini. Aku tak bawa paying dan ponselku tertinggal di rumah”
“kalau begitu, mau aku antar ke rumahmu?”
“eh? Tak usah, nanti aku merepotkanmu. Aku tak mau merepotkan seorang wanita malam-malam begini”
“sudahlah, aku kan temanmu”
Gadis ini menarik tanganku.
Namanya Nakamura Natsuki, teman satu sekolahku, kami berada di tingkat yang sama namun berbeda kelas. Dia satu kelas dengan Ryu. Nakamura-san termasuk wanita populerdi sekolah, apalagi di antara para laki-laki. Banyak yang telah mengunggkapkan perasaannya dan memintanya untuk berpacaran namun sampai saat ini aku tak pernah melihatnya berjalan dengan pria manapun. Jangankan dengan sekolah lain, satu sekolahpun dia jarang sekali terlihat dekat dengan seorang laki-laki. Banyak teman-temanku yang sudah tersihir oleh kecantikannya. Matanya yang coklat dan besar, bibir mungilya, rambut sebahunya yang berkilau, suara lembutnya, serta peringkat satunya di kelas dalam olahraga dan pelajaran. Aku tak mengerti dengan alasan apa Tuhan menciptakan wanita sepertinya. Tak heran laki-laki yang telah bertemu dengannya pasti tersihir oleh pesonana, termasuk …. Aku …
Nakamura-san membawaku ke sebuah bis dengan rute tujuan dekat rumahku. Malam ini entah kenapa seperti musibah sekaligus berkah untukku. Hujan yang mengguyur bis yang kami tumpangi seolah menjadi pendukung latar setting pembicaran kami berdua. Sepanjang perjalanan Nakamura-san mengajakku mengbrol banyak hal. Sekolah, teman-teman, pelajaran, tetapi yang hanya terdengar olehku, hanyalah suara lembutnya. Jujur saja, aku tak mengerti dengan apa yang dia bicarakan, namun selama dia di dekatku, tidak masalah. Bisa sedekat ini dengan orang yang kau suka, suasana sepi dengan alunan hujan, bukankah ini suatu anugerah?
“bus nya sudah sampai tujuan terakhir” suara supir menghentakkan lamunan buaianku dari wajah temanku ini. “ini adalah bis terakhir yang jalan. Selanjutnya bis akan berangkat besok pagi jam 6 pagi. Kalian tidak apa-apa?” Tanya supir bis yang memang seharusnya heran ada anak SMA ke pegunungan malam-malam begini. Rumahku memang di daerah pegunungan. Karena hanya disinilah aku dan temanku, Ryu bisa tinggal berdua.
“tidak apa-apa pak. Aku akan pergi besok kok.”
Seketika aku kaget mendengar perkataan Nakamura-san. Apa ini berarti dia akan menginap? Aku … ingin tahu, tapi tak enak untuk bertanya padanya. nanti dia kira aku sangat bernafsu untuk dia menginap di rumahku. Sudah, lebih baik diam saja.
Kami berjalan 100 meter ke arah rumahku, sebuah rumah sederhana kecil tempat aku dan Ryu tinggal bersama. Aku yakin, Ryu pasti akan membentakku.
“tadaima….” Aku membuka pintu dan mempersilahkan Nakamura-san masuk. Dan benar saja, Ryu dengan cepat datang bertolak pinggang sambil mengangkat alisnya tanda ia sangat marah. Namun ia sama sekali tak mengeluarkan kata ketika melihat Nakamura. Wajar saja, Ryu juga salah satu anggota fans club Nakamura-san. Mungkin ia sedikit kaget tuan putrid kita ini tiba-tiba datang ke rumah.
“kau …. Kenapa malam-malam ke rumah kami?”
“tadi Nakamura-san menolongku saat tak ada satupun orang lewat. Aku terjebak hujan tadi”
“dan gara-gara kau malam ini aku tak makan Ryo”
“gomen… Ryu…”
“kalian belum makan? Kalau begitu, aku akan membuatkan sesuatu untuk kalian. Tadi Yamada-san berbelanja ka?”
“eh, tidak usah. Nanti kami merepotkanmu”
Ryu berbalik menuju dapur. Menyiapkan panci dan beberapa perlengkapan untuk memasak. Entah kenapa wajahnya jadi sangat acuh pada Nakamura-san. Padahal walau tak pernah bilang, dia sangat menganggumi gadis ini. kami lumayan sering berbicara tentang kelebihannya dan aku juga sering melihatnya mengambil beberapa foto Nakamura-san secara candid dengan kamera kesayangannya.
“ini sudah malam. tak baik wanita malam-malam bertamu ke rumah oranglain”
“RYU!! Kau jahat sekali, Nakamura-san kan sudah membantuku dan sekarang kau dapat membuat makanan”
“yah, aku tak mau tetangga berfikir yang tidak-tidak Ryosuke.lagipula dia mau tidur dimana?”
“sudah, sudah jangan bertengkar. Tak apa-apa aku akan pulang yamada-san”
“jangan, ini sudah malam. kau bermalam saja di sini. Lagipula sudah tak ada bus yang lewat.”
Ryu hanya diam meneruskan masakannya. Aku tak mengerti apa yang ada di otak Ryu, lagipula ini kesempatan kita untuk mendekatinyakan?
“terserah kau-lah” Ryu tetap acuh dan meneruskan apa yang ia lakukan di dapur

*********

“hoaahhmmmm….” Aku ketiduran. Kenapa aku tertidur di depan tv? Oh ya, tadi aku berbincang dengan Nakamura-san sampai ketiduran. Lho? Dimana Nakamura-san? Apa dia tidur di kamar? Dimana Ryu? Jangan-jangan Ryu macam-macam pada Nakamura-san? Ah, aku tak mau keduluan olehnya.
Aku langsung berdiri dan mencari Nakamura-san. Kutelusuri dapur dan kamar mandi tidak ada, di teras juga tidak ada. Kemudian aku memberanikan diri ke kamarku dan Ryu, kurasa tadi Ryu langsung tidur di kamar.
“Ryu… ku mohon …”
Eh???? Bukannya itu suara Nakamura-san?
Kenapa …
Aku memberanikan diri lagi untuk mengintip lewat pintu dan tak percaya dengan apa yang aku lihat. Kulihat Nakamura-san  dengan tubuh mulus seperti biola spanyol itu hanya bertutupkan selimut, rambutnya berantakan dan wajahnya memerah tersipu. Dia medekati Ryu dan aku baru sadar Ryu hanya menggenakan celana dalamnya. GILA !! Ryu GILA !! atau harus kusebut hebat? Karena bisa tidur dengan gadis paling populer di sekolahku ini? tapi, kenapa wajah Nakamura-san sangat sedih? apa dia … apa Ryu memperkosanya???? Tapi Ryu bukan tipe laki-laki seperti itu. bahkan teman-teman sekelasnya pun bilang sepertinya Ryu itu yaoi karena sama sekali tak memperlihatkan ketertarikan dengan wanita.
“Ryu …” Nakamura sekarang memanggil Ryu dengan nama kecilnya. Ia menangis.
“maaf, tapi aku tak bisa Natsuki.” Dan Ryu sekarang juga memanggil dengan nama kecilnya.
“kumohon Ryu… ini demi dirimu …” tangisan Nakamura-san semakin kencang. Aku jadi semakin penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Wajah Nakamura-san saat itu sangat cantik, bahkan di saat sedihpun dia bisa secantik ini.
“aku tak peduli dengan apapun, aku tak akan membiarkanmu mendekati Ryosuke dan aku ….. tak akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Sudah, nanti Ryosuke terbangun. Aku tak mau menjelaskan sesuatu apapun padanya”
Aku menjauh dari kamarku, tubuhku terasa lemas. Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi. Demi Ryu? Tak peduli? Kesalahan? Mendekatiku? Apa Ryu cemburu karena Nakamura-san tadi menolongku dan ingin menginap di sini? Atau … Apa Nakamura-san dan Ryu sudah saling mengenal sebelumnya? Ryu, dia memang misterius. Aku baru saja mengenalnya saat penerimaan SMA. Saat itu dia bilang ingin mencari tempat tinggal karena orangtuanya hidup di desa. Hampir sama sepertiku, tetapi bedanya, aku ini sebatang kara. Ayah ibuku meninggal karena kecelakaan dan saat ini aku menghidupi diriku sendiri. berbeda dengan Ryu yang sesekali mendapat kiriman dari orangtuanya. Kami baru saling mengenal selama 2 tahun, ada yang bilang Ryu itu sebenarnya dibuang orangtuanya, ada yang bilang Ryu adalah anak orang kaya, bahkan ada yang bilang Ryu itu diusir dari panti asuhan. Aaarrrggghhh~ aku semakin tak mengerti apa yang terjadi.

**************

“Ohayou, Yamada-san. Morimoto-san” Wajah cantik Nakamura-san menghiasi rumah kami pagi ini. pagi ini dia memanggil Ryu dengan nama belakangnya lagi seolah mereka baru saja saling kenal. “aku sudah buatkan sarapan” dia memberikan senyumnya padaku.
Aku duduk dan menunggu dia menyiapkan saran. Dia mengambilkan satu buah omelet untukku. Hanya untukku. Aneh, kenapa dia tidak membuatkannya untuk Ryu? Padahal semalam … mereka .. saling bercinta kan??
praaanKK~
Ryu menjatuhkan satu cangkir kopi tepat di omelet buatan Nakamura-san untukku.
“gomen, Ryo, Nakamura-san. Aku tak sengaja” Ryu memasang wajah menyesalnya. Apa-apaan ini? kau cemburu padaku Ryu?
“daijobu, biar aku buatkan lagi, Yamada-san”
“ah tak usah Nakamura-san. Karena aku yang salah, biarkan aku saja yang memasakkannya untuk kalian” dengan cepat Ryu mengambil piringku dan membawanya ke dapur. Memasak omelet sekali lagi untuk kami bertiga.
Ku lirik kea rah Nakamura-san dan dia hanya melihat Ryu dengan tatapan sedih dan kemudian dia mengganti ekspresinya itu dengan wajah ceria ketika sadar aku memperhatikannya.
Aku … ingin sekali tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan …
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?
Apa benar Ryu cemburu padaku?
Apa benar … Nakamura-san menyukaiku?
Aku ….
Tak tahan lagi, untuk menanyakannya….
Saat ini juga ….

“Nakamura-san …”
“Yamada-san, kau boleh memanggilku dengan nama depanku” dia tiba-tiba tersenyum padaku. Senyum yang selama dua tahun ini hanya aku lihat dari jauh. Hanya sebatas idolaku di sekolah, rasanya melayang ketika melihat wajahnya saat ini, dan terjatuh dari langit ketika teringat apa yang dia dan Ryu lakukan semalam.
“ba…baiklah, na…Natsuki…” Wajahku memerah malu.” Kuurungkan niatku untuk menanyakannya. Sepertinya dia benar-benar menyukaiku. Jika tidak, kenapa dia memintaku untuk memanggilnya seperti ini?

*****************

BRUUUGGH~

Ryu melempar koper dan barang-barang milikku ke depan pintu rumah, juga satu buah amplop besar berisikan uang 50 juta Yen. Uang yang sangat banyak dan tak mungkin seorang anak SMA mempunyai uang sebanyak itu.
“Ryosuke, pergilah dari sini. Aku membeli rumah ini darimu dengan uang itu. pergilah sejauh mungkin, dan jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi di depanku”
APA??!! apa-apaan ini? Ryu? Kenapa dia??
“aku rasa uang ini cukup untu membeli rumah baru dan membuka usaha. Kau bisa hidup lebih baik dengan itu”
“RYU!! Apa maksud semua ini!!” tiba-tiba aku membentak.
“dengar Ryosuke !!” dia mengangkat kemejaku dan tiba-tiba terlihat marah. “jangan pernah muncul dihadapanku dan Natsuki lagi. Pergilah, lupakan dia…”
“kau …. Apa kau cemburu padaku…??”
“apa??”
“yah, aku melihatmu kemarin malam, juga apa yang kalian lakukan di kamar.”
Ryu terdiam, wajahnya berkeringat. Sepertinya dia takut ketahuan olehku.
“lalu, apa yang ingin kau katakan?” Ryu mengepalkan tangannya.
“aku tau, Natsuki suka padaku kan? tetapi kau terlalu cemburu. Dengar Ryu, aku tak peduli darimana uang ini, siapa dirimu, dan kenapa kau bisa sedekat itu dengan Natsuki. Aku memang mencintainya, tetapi aku rela jika kau juga mencintainya. Aku rela melepasskannya untukmu. Kita ini sahabat….”
“pergi …”
“Ryu?”
“jika kau memang sahabatku, pergilah.” Ryu tertunduk dan tersenyum. “bagaimana bisa Natsuki melupakanmu jika kau tak pergi dari sini? Jika aku ingin tidur dengannya. Dia akan selalu melihat wajahmu yang dia cintai kan? bagaimana dia bisa berpaling? Dan tolong, ambil uang itu. hiduplah bahagia Ryosuke”
“Ryu ….” Entah kenapa sekarang aku bisa mengerti keadaannya. Ryu ingin hidupnya bahagia.
“baiklah, aku akan pergi…”
“ambillah uang itu, dan kumohon, jangan memperlihatkan wajahmu lagi di depan Natsuki”
“ya, aku mengerti…”
Aku menjadi dingin, sedingin hujan hari ini.  aku… tak apa-apa Ryosuke. Masih banyak wanita di dunia ini dan kau tak akan bisa menukar sahabatmu dengan seorang wanita kan?
Aku pergi ke pusat kota, mencari hotel untuk aku menginap sementara. Kuputuskan untuk menginap di salah satu hotel paling mewah di kota, salah satu hotel di pusat kota yang sangat aku ingin masuki. Aku check-in di sana. Karena masih sedikit kesal dengan perlakuan Ryu dan perasaan tak rela melepaskan Natsuki untuknya, aku pergi ke bar hotel. Bar yang hanya berisi orang-orang hidung belang yang kaya dan beberapa wanita penghibur. Aku memesan minuman yang bahkan namanya saja aku tak hapal. Jujur saja aku baru pertama kali ke tempat seperti ini.
“konbanwa, sepertinya kau sedang sendiri” seorang wanita yang lebih dewasa dariku datang, pakaiannya minim sekali dan aku bisa melihat bentuk dadanya.
“konbanwa” sapaku ramah.
“sepertinya kau sendiri mau aku temani? Untuk apa anak seusiamu datang kemari?”
“tidak, aku hanya sedang ingin sendiri”
“kau menginap di sini?”
“ya”
“kau pasti kesepian, bagaimana jika kita ….” Wanita itu membelai bahuku “…sedikit bersenang-senang di kamarmu…”
“hey kau !! sedang apa kau di sini?” seorang pria dewasa datang pada wanita yang baru menyapaku tadi, kemudian menampar wanita itu. “pelangganmu tak puas dengaanmu kemarin. Apa kau mau membuatku malu??” mata semua orang tertuju pada mereka. datang satu lelaki paruh baya lagi menghampiri mereka berdua.
“oy, Matsuda, aku kecewa dengan pelayanan bar ini. dulu aku pernah ditipu oleh gadis koleksimu yang bernama Nakamura Natsuki itu !! sekarang wanita yang satu ini mencoba menghindar dariku dengan mencari pelanggan lain”

APA??!!! Natsuki !!

Aku masih ragu dengan apa yang aku dengar, tetapi aku rasa kupingku ini masih sangat sehat. Tadi pria paruh baya itu menyebut nama Natsuki.
“sumimasen” aku memberanikan diri mengikuti percakapan mereka. “apa tadi kau menyebut nama Natsuki.”
Mereka bertiga menengok padaku. Jantungku berdebar kencang.
“ya, siapa kau? Kau temannya?”
“ah bu…bukan” aku berbohong. “aku adalah pelanggannya yang tertipu juga. Kalian kenal Natsuki?”
“ah~ ternyata bukan temannya. Jika kau temannya akan langsung aku hampiri dan kuhajar wanita jalang itu.”
Gadis penghibur yang berdiri di samping lelaki itu menghampiriku, menggandeng tanganku.
“maaf tuan, tetapi bocah kaya ini telah mentransfer  10 juta yen ke rekeningku untuk menyewa jasaku. Nah, apa kau sanggup membayar lebih? Jika sanggup, mungkin aku akan berpindah ke sisimu” dia berbohong dengan licin bak seekor ular yang menghindar dari mangsanya. Aku ingin menyangkalnya namun ia menginjak kakiku hingga rasa sakitnya menjalar di tubuhku.
“GILA !!! mana mungkin aku habiskan 10 juta yen dalam semalam hanya untuk wanita jalang kelas rendah seperti kau !!!”
“kalau begitu silahkan cari wanita jalang yang lebih berkelas dariku. Jaa~ matta ne”
Gadis ini menggandeng tanganku, menarikku dan menyuruhku untuk ke kamar. Ia berbisik akan memberikan free service padaku karena telah menolongnya. Tetapi, bukan itu yang aku harapkan darinya.

***************************

“ahhhh, arigatou. Siapa namamu bocah kecil?” wanita itu menuangkan segelas air ke dalam gelas dan menenggaknya.
“Yamada Ryosuke”
“nah, Yamada. karena kau sudah menolongku, dan aku bukan tipe wanita pengingkar janji….” Dia mendekatiku yang duduk di sofa kamar. Menurunkan sedikit baju tanktop-nya dan meniup kupingku untuk menggodaku.
“maaf, bukan itu yang aku mau.”aku mendorongnya dengan pelan.
“lalu?”
“begini, kau … kenal dengan Natsuki?”
“ah Natsuki? Ya, aku kenal. Ibunya adalah pelacur di sini. Dia dibesarkan juga di bar itu, dididik untuk menjadi penghibur sama seperti ibunya.”
Jantungku langsung berdetak kencang. Aku masih sangat tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Idola di sekolah kami, adalah seorang ……
“kau ini temannya kan?”
“ah, iya. Tadi aku berbohong” aku merasa wanita ini sebenarnya baik, atau mungkin aku yang terlalu naïf.
“dulu aku yang membantunya keluar dari sini. Tetapi dia tertangkap. Ibunya mati dibunuh oleh sekelompok mafia yang memproduksi narkotika dalam jumlah besar. Dan ku dengar, Natsuki dipaksa melayani mereka jika tak ingin mati.
“lalu dia berhasil kabur lagi?”
“yah, ku dengar dia menjalin cinta dengan salah satu pembuat narkotika dalam tubuh mafia itu. kalau tidak salah dia masih sangat kecil tapi otaknya sangat hebat. Beredar kabar laki-laki itu mengkhianati Natsuki dan berusaha melepaskan diri juga dari dunia gelap. Namanya … Ryu..”
“RYUTARO”
“AH !! ya, namanya Ryutaro Morimoto !! tapi, darimana kau tahu namanya?”
Tubuhku melemas. Apa maksud semua ini? ternyata… Ryu …
Dengan segera aku mengambil mantel. Ku tinggalkan gadis itu di kamarku dan sejumlah uang sebagai rasa terimakasihku atas informasi tadi. Ku hentikan taksi menuju rumah lamaku, aku sedikit memaksa supir untuk melaju dengan kecepatan yang lebih cepat. Untuk meminta penjelasan dari Ryu dan juga Natsuki. 30 menit aku sampai di depan pintu rumahku, kubuka pintu yang sama sekali tak terkunci, melangkah dalam kegelapan kamar itu menuju ruang makan.
“NATSUKI!!”
Kudapati Natsuki dengan pistol di tangannya dan Ryu yang berlumuran darah. R
“BERHENTI !!!” Natsuki menodongkan pistolnya dan menangis. “kalau tidak … kalau tidak …”
“Natsuki tenanglah …”
“Ryosuke ku mohon. Aku tak mau membunuh orang lebih dari ini …”
Aku melihat Ryu yang masih berlumuran darah, nafasnya terisak-isak. Aku ingin menghampirinya namun nuraniku masih kalah dengan rasa takut oleh senjata yang dibawa Natsuki.
“kumohon Ryosuke .. aku tak mau membunuh orang yang tak berdosa… jangan biarkan aku lebih dari ini…” Natsuki menangis lagi.
“RYU JUGA TAK BERDOSA !!” aku membentaknya. “dia sahabatku, dia terluka dan membutuhkanku”


DORR~

Natsuki melepaskan satu pelurunya ke arahku, dan beruntung hanya melukai tanganku. Aku sudah tak lagi mempedulikannya, memberanikan diri untuk maju dan membopong tubuh Ryu sementara tangan kiriku berlumuran darah dan tertancap peluru Natsuki. Aku berusaha membawa tubuh Ryu dengan sisa tenagaku. Dan lama kelamaan mataku mulai kabur.tubuhku mulai melemah, merasakan sengatan rasa sakit dari timah panas yang baru saja bersarang di tubuhku. Ryu, bertahanlah … ku mohon … jangan mati …

********************************

“…………..”
Mataku masih kabur, pandangan di sekitarku …. Kepalaku masih sedikit pusing. Ada apa ini? diamana aku? Apakah aku sudah ada di surga? Ryu … dia …
“Ryosuke, kau sudah bangun?” suara yang sudah sangat taka sing lagi bagiku.
“Natsuki, aku… kenapa….??? dimana Ryu?”
“dia baik-baik saja di kamar sebelah, kondisinya sudah stabl tapi dokter bilang dia harus istirahat dan butuh tidur”
“begitu … yokatta”
“Ryosuke … maaf…. Aku …”
“sudahlah Natsuki, yang penting Ryu sudah selamat” aku tersenyum padanya.
“kau … kenapa .. saat itu tak membunuhku? Aku sudah sangat jahat padamu”
Aku hanya membalas gadis malang ini dengan senyuman. Entah kenapa.
“Ryu, awalnya dulu dia adalah pelangganku di kalangan mafia. Hampir setiap hari dia datang ke tempatku. Dan lama kelamaan rasa itu muncul, perasaan suci yang seharusnya tidak aku miliki untuk siapapun…”
“Natsuki …”
“tapi, Ryu… entah kenapa tanpa alasan, dia meninggalkan organisasi, meninggalkanku, mencampakkanku begitu saja. Dia memilih hidup bebas di luar daripada memilikiku”
“…….”
“sampai akhirnya bosnya tau tentang hubungannya denganku, dia sangat tak merelakan Ryu yang merupakan asset besar organisasi itu sebagai otak dari pembuat barang-barang keji itu. dan dia memintaku untuk membawa pulang Ryu”
“lalu?”
“lalu dia bilang jika Ryu tidak kau dapatkan, bunuh saja dia. Jika kau tak bisa membunuhnya, maka kau yang akan aku bunuh. Selama ini aku sudah cukup percaya pada Ryu, percaya pada rasa cintanya padaku. Tapi, dia mengkhianatinya dan kurasa aku sudah tak punya alasan lagi untuk tidak menyayangi diriku hanya karena dia. Aku memutuskan untuk lebih mengorbankan dia disbanding diriku.”
jadi ini maksud dari perbincangan mereka waktu itu? Ryu tak ingin Natsuki mendekatiku karena dia merasa bahwa Natsuki sangat berbahaya untukku. Ryu .. kau …
“tidak Natsuki, dia sangat mencintaimu. Kau tau, saat kau masuk ke sekolah kami, dia tak henti-hentinya membicarakanmu padaku, mengoleksi foto-fotomu. Kami berdua mengidolakanmu secara rahasia. Kau … memalsukan tanggal lahirmu kan?”
“darimana kau tahu?”
“sewaktu semua anak laki-laki di sekolah merayakan hari ulangtahunmu, hanya Ryu yang tidak merayakannya, tetapi beberapa minggu setelahnya, dia membeli kue ulangtahun untuk diberikan pada seseorang bernama Natsuki, kupikir Ryu sedikit telat memberikannya karena harus mengumpulkan uang untuk membeli kue, tetapi entah kenapa dia sangat merasa puas saat membeli itu. dan di hari itu juga ia ingin memberikan sebuah kado untukmu, namun ia urungkan niat itu. aku tak tau kenapa”
Natsuki terdiam. Dia hanya menangis mendengarkan ceritaku. Aku mengerti bagaimana perasaan Natsuki yang harus terus hidup dengan situasi seperti ini. aku … juga sangat mencintaimu Natsuki, tapi jika kau lebih bahagia dengan Ryu, apapun akan aku lakukan.
“jangan menangis, kau tau? Kau wanita paling beruntun di dunia ini. karena memiliki orang yang seseorang yang kau cintai, dan dua orang yang mencintaimu”
Tak sadar aku mengecup bibir kecil gadis yang sedang menangis ini. menyadarkannya bahwa aku akan selalu ada untuknya.
“jangan pernah menyerah pada kehidupan…”
“arigatou, ari..gatou… Ryo-chan” dia mengusap air matanya. Dan berusaha untuk sekali lagi tersenyum.


************************
“ohayou, Ryu..”
Aku mampir ke kamar Ryu keesokan harinya. Kondisi Ryu sudah pulih namun dokter masih menyuruhnya untuk tinggal beberapa hari lagi. Ini pertama kalinya kita bertemu setelah kejadian menyedihkan itu.
“hey bodoh, kenapa kau pulang lagi waktu itu?”
“kau ini, bukannya berterimakasih padaku. Kalau aku tak cepat datang..”
“mungkin aku sudah mati, kan? Ryo, memang itu yang aku inginkan”
“eh?”
“ya, aku sengaja membuat diriku dekat dengannya saat di sekolah, aku tau kelak bosku akan menjadikannya senjata untuk membunuhku. Setidaknya jika aku mati, Natsuki akan hidup tenang”
“dasar bodoh !! jika kau mati, siapa yang akan menjaga Natsuki, yang selalu ada di dekatnya? Melindunginya?”
“kau mencintainya kan? aku percayakan dia padamu”
“Ryu sudahlah, sudah kubilang, aku tak masalah jika…”
“permisi…”
Seorang suster datang dengan membawa bucket bunga untukku dan Ryu, juga sepucuk surat. Ryu membacanya pertama. Tak berapa lama dia memaksakan untuk berlalri keluar.
Aku mengejar Ryu sampai ke lobby, beberapa suster menghalanginya keluar dan petugas keamanan membantunya, Ryu tiba-tiba menangis dan berteriak, meneriakan nama Natsuki. Aku membantu mereka untuk menenangkan Ryu, akhirnya dokter memutuskan untuk membiusnya. Dia menjatuhkan surat yang ia baca tadi dan aku ikut membacanya karena namaku tertera pada kertas itu.

Ryutaro, Ryosuke
Maaf, jika selama ini aku sangat merepotkan kalian
Untuk Ryu,
Maafkan aku, karena untuk beberapa saat berfikir mengkhianatimu. Setelah mendengar cerita dari Ryo, aku sekarang mengerti, alasanmu pergi dari sini, adalah untuk tetap membiarkanku hidup. Maafkan aku karena berfikir terlalu kotor sebagai seorang kekasih mulai sekarang, teruslah hidup. Lupakan masa lalumu. Kau telah lahir sebagai Ryutaro yang baru, Ryu yang menjadi bagian dari masyarakat yang dicintai. Berjanjilah, jangan pernah kembali lagi pada mereka.
Untuk Ryo,
Maafkan aku juga, karena sampai saat terakhir aku tak bisa membalas perasaanmu. Terimakasih karena telah mencintaiku, tetapi aku bukan wanita yang pantas untuk kau cintai, kau terlalu baik dan pria yang baik itu hanya untuk laki-laki yang baik. Kau pasti akan mendapatkan wanita yang lebih cantik dariku. Ingat, jangan mudah terpedaya oleh wanita ya

Maafkan aku,
Nyawa kalian berdua terlalu berharga untuk ditukar dengan nyawaku
Kalian adalah cahaya
Dan aku adalah kegelapan
Kalian harus tetap hidup, hiduplah demi aku.
Selamat tinggal Ryu, Ryo
Terimakasih atas semuanya
Aku akan terus mendoakan kalian walau jiwaku sudah tak di dunia yang sama dengan kalian.

Natsuki,



Bodoh, Natsuki bodoh.
Kenapa kau…
Pergi ….
tanpa mengajakku ….


The End

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)