Pages

WHERE MY HEART BELONGS Chapter 1 (Yabu's POV)



Title : Where my heart belongs (introduction)
Rate : PG-15
Genre : dark, crime, romance
Disclaimer : I don’t own anything except the story
Author : Ruu
POV : Yabu Kota



“bagaimana? Sudah kau dapatkan identitas masing-masing peserta lelang, inoo-chan?”  aku bertanya pada Inoo yang sudah 2 jam tidak berbicara di kapal ini dan mengutak-atik komputernya. Aku tahu ia sedang tertarik pada sesuatu.
“belum, maaf ketua” dia menjawab sambil mengacuhkanku.
Haaahh anak ini, entah kenapa dengan alasan apa aku bersedia merekrutnya. Inoo memang kadang selalu terlambat dalam mencari informasi namun info yang dia dapatkan serta perhitungan asumsinya terhadap berbagai hal memang jarang sekali meleset. Mungkin itu adalah sebuah nilai plus untuknya.
Aku meneruskan merapihkan kemeja dan jas ku, berdandan seperti layaknya bangsawan kaya raya agar identitasku sama sekali tak diketahui orang.
“ketua, ini. sudah kusiapkan. Kartu identitas, alamat, nama lengkap, latar belakang palsumu.” Hikaru memberikan sebuah kartu tanda peserta pelelangan. Aku menyamar sebagai salah seorang peserta lelang dan ketiga anak buahku sebagai bodyguardnya. Kurasa, dengan menyamar seperti ini tidak akan dicurigai oleh siapapun. Membawa senjata-pun tak akan terkena curiga bagi daiki, inoo, dan Hikaru dengan identitas palsu mereka sebagai bodyguard-ku. Banyak sekali orang kaya yang menyewa jasa bodyguard di kapal ini untuk melindungi diri mereka. ya, kurasa itu sangat wajar.
“terimakasih” aku melihat nama palsu ku yang baru di kartu itu. “Yoshizawa Toru? Nama yang unik. dari mana kau dapatkan ini semua.”
“identitas itu adalah milik seseorang yang beberapa tahun lalu ku bunuh.” Hikaru berkata dengan tersenyum sinis padaku, seolah senyuman seorang iblis yang puas karena berhasil menyeret manusia ke dalam neraka.
“hahaha, kau ini memang pintar Hikaru.”
“ketua, bawalah ini. ini akan memudahkan komunikasi kita” Daiki memberikanku sebuah pulpen dan satu buah anting. Tanpa dijelaskanpun aku mengetahui fungsi dari alat tersebut.
“nah, Inoo-chan. kau tetap disini memantau perkembangan, aku akan pergi ke hall untuk bertemu di pesta awal pertemuan para peserta lelang dan penyelenggara. Hikaru dan Daiki. Kalian ikut denganku.”
“BAIK” mereka bertiga menjawabku serempak dan mulai memerankan peran mereka masing-masing.
Aku memulai peranku sebagai peserta lelang dengan topeng penyamaran yang sudah dibuat oleh Daiki sehingga tak seorangpun tahu wajah asliku. Begitu juga dengan Daiki dan Hikaru. Peraturan utama dalam aksi kami adalah: jika ada seseorang yang melihat wajah aslimu ketika sedang beraksi, bunuh dia.
Kami bertiga masuk ke ruang pesta, aku memilih duduk di kursi paling depan dengan sebuah meja makan bundar putih yang mewah. Daiki dan Hika berdiri di belakangku sambil melihat sekeliling apakah ada petugas yang sedang menyamar. Dugaanku pasti ada, apalagi di moment besar seperti ini. aku sudah menduga bahwa alasan mereka menyelenggarakan pelelangan besar mendunia seperti ini di atas kapal adalah karena mereka tak ingin ada perampok yang mencuri benda itu, tetapi sayangnya hal ini sudah menjadi bagian dari antisipasi kami, para perampok professional.
“permisi… boleh aku duduk di sini?” seorang wanita cantik dengan gaun panjang berwarna merah menggoda tersenyum padaku. Ah!! Aku tahu, dia adalah wanita cantik yang sedang naik daun di televise, tapi … aku sudah lupa namanya. Ah sudahlah.
“Tuan Morimoto dan Chinen, di sini adalah tempat duduk anda” seseorang dengan jas putih dan kemeja abu-abunya membimbing beberapa orang untuk duduk di sampingku. Dan aku tahu, mereka-lah pemilik permata itu.
“terimakasih Yamada-san” seseorang bernama Morimoto tadi tersenyum kemudian duduk di sampingku. Ia membungkuk tanda memberi salam padaku, aku balas tersenyum padanya.
PRAANG~
Suara pecahan kaca tiba-tiba membuat seluruh isi ruangan menjadi hening.
“kaauu !! apa yang kau lakukan pada gaunku !!”
“ahh, sumimasen, maaf, maaf sekali nona .. aku .. aku ….”
Artis cantik yang seperti malaikat tadi entah kenapa tiba-tiba marah seperti seorang setan karena gaunnya telah dibasahi oleh seorang pelayan wanita bertubuh mungil.
“kau tahu berapa harga gaun ini!! bahkan gajimu setahun-pun belum tentu bisa membayar setengah dari harga gaun ini.”
“ada apa ini??” seorang kepala pelayan kapan ini datang menengahi suasana panas yang mendadak ini.
“anak buahmu ini mengotori gaunku !! aku tidak mau tahu! Kalian harus membayarnya!!”
Entah kenapa aku merasa risih. Aku berdiri, mengambil satu gelas anggur dan dengans engaja menumpahkan anggur itu ke baju wanita ini.
“ahh, maaf nona, aku tidak sengaja” aku berbohong.
Daiki dan Hikaru terlihat kaget ketika aku ikut campur urusan mereka. wanita kasar ini terdiam.
“maaf nona, biar aku ganti bajumu. Nona kecil ini tak akan bisa mengganti bajumu dengan satu tahun gajinya kan? begitu juga dengan pelayan lain. Untuk apa kau meminta kepada orang yang jelas-jelas tak bisa membayar? Nah, Berapa harganya? Karena aku bersalah sudah merusak gaun indahmu, aku akan ikut menggantinya. Kau mau cek atau cash? “
Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam, kurasa mereka semua sadar dengan tingkah jelek wanita ini. entah kenapa aku merasa jijik dengan tipe wanita seperti ini.
Dia pergi karena merasa malu ditertawakan oleh semua orang, aku kembali duduk di kursikan dan menyuruh Hikaru untuk memberikan sejumlah cek pengganti gaun itu dengan harga 5 kali lipat. Anggap saja rasa bersalahku karena mempermalukannya tadi.
Acara pesta dimulai kembali. pelayan tadi sudah tak terlihat batang hidungnya. Sudahlah, aku juga tak kenal padanya, tetapi ….. sepertinya aku pernah melihat wajahnya. Dimana ya??
“sumimasen, anou-san …. Aku … ingin berterimakasih soal yang tadi” suara lembut mengambang di telingaku. Rupanya pelayan yang tadi.
Aku tersenyum hangat padanya, tetapi juga tak melepaskan pandanganku kepada dua orang pemilik permata itu. juga satu orang bodyguard-nya yang bernama Yamada. aku tak mengerti kenapa kedua orang ini hanya memliki satu bodyguard untuk melindugi mereka padahal sudah jelas akan banyak orang jahat yang mengincar pelelangan ini. apakah mereka cukup percaya diri akan bisa menangkap perampok sepertiku? Atau …. Ada rekan mereka yang lain???
“ah, ya. Tak usah sungkan nona”
“apa yang harus aku lakukan untuk menebus kebaikanmu tuan?”
Aku terdiam, gadis ini …. Cantik juga, tetapi entah kenapa wajahnya sangat familiar. Aku … pernah bertemu dia dimana ya?
“apa benar kau ingin menebusnya? Aku sedang butuh bantuan seseorang”
Pfftt. Daiki tiba-tiba terdengar menahan tawanya. Aku rasa ia sangat tahu apa yang aku pikirkan. Aku menuliskan sesuatu di atas kertas putih kecil.
Malam ini, jam 23.45 datanglah ke kamar 1025
Aku sangat butuh bantuanmu
Ini menyangkut hidup dan matiku.
Ku selipkan kertas kecil itu di bawah cangkir kosong yang kuberikan padanya, gadis itu menerimanya namun sama sekali tak membacanya. Yah, aku tahu dia bukan tipe wanita seperti itu. dari gelagatnya saja aku sangat tahu bahwa dia wanita baik-baik.

“permisi tuan … Yoshizawa …” seseorang mendekatiku sambil menawarkan tangannya untuk berjabat tangan.
“ah ya, Aku Yoshizawa Toru”  aku tersenyum padanya.
“Aku Chinen Yuri”
“ah, jadi kau salah satu dari pemilik permata itu?”
“begitulah”
“senang berkenalan denganmu”
“apa anda salah satu peserta lelang?” Tanya nya dengan ramah.
“ya, aku sangat tertarik pada permata yang kau dan temanmu temukan. Aku akan membayar berapapun uang yang harus aku keluarkan”
“hahaha, semoga kau beruntung tuan”
Begitulah aku semalaman berbincang. Aku sangat beruntung dapat berbicara langsung dengan pemilik permata itu. ini akan mempermudah usaha timku. Tetapi, entah kenapa aku sangat tak suka dengan bodyguard Chinen ini, dia terlihat sangat waspada. Padahal pada umumnya bodyguard hanya bertugas melindungi tuannya seperti anjing penjaga, aku merasa dia terus mengawasi dan menyelidiku. Apa dia sudah mengenaliku?
Satu setengah jam aku mengobrol dengan kedua pemilik permata itu, kami minum beberapa gelas. Hampir saja aku mabuk. Untung Hikaru mengingatkanku agar tetap waspada. Begitu aku mulai mabuk, mereka berdua langsung membawaku ke kamar. Pelelangan akan dimulai besok malam.
Aku mandi dan menjernihkan pikiranku dari alcohol yang kuminum tadi.
“ketua, sudah kubilang untuk tidak mabuk tadi” Daiki memarahiku
“hahaha gomen ne, aku kelepasan”
“kau ini, jangan sampai membahayakan tim kita” Hikaru berbicara dengan datar padaku.
“ya, aku tahu. Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang. Bagaimana Inoo? Sudah kau dapatkan?”
“ya, sudah ketua. Ini semua data tentang peserta lelang.”
Aku membaca tumpukan kertas yang diberikan oleh Inoo. Aneh, tak ada satupun data tentang Yamada disitu.
“Inoo-chan. tak ada satu data-pun tentang Yamada Ryosuke?”
“Yamada Ryosuke? Maksudmu bodyguard Morimoto dan Chinen tadi?” Daiki bertanya heran
“tidak ketua. Aku juga bingung. Sepertinya … dia termasuk orang-orang yang identitasnya dirahasiakan”
“apa maksudmu dirahasiakan?” Daiki masih tak mengerti.
“di Negara in, ada beberapa orang yang sangat dirahasiakan identitasnya. Biasanya Mereka adalah para orang-orang yang mempunyai peran penting dalam perlindungan Negara.”
“tetapi kenapa Morimoto dan Chinenbisa dikawal oleh orang seperti itu?” Hikaru memegangi dagunya pertanda ia sedang berfikir.
“entahlah, yang jelas. Dia bukan orang sembarangan.”
“begitu …”
Ting tong~
Suara bel kamarku berbunyi. Kami cepat-cepat memakai topeng penyamaran kami. Daiki, Hikaru dan Inoo memasang posisi siaga. Kubuka pintu kamar ini dan mengintip.
“konbanwa~” Rupanya gadis pelayan tadi datang.
“kau … masuklah .. aku tak menyangka kau akan datang”
Aku tersenyum lega, rupanya bukan seseorang yang berbahaya, tapi, aku tak boleh meremehkan gadis ini.
“ya, tuan bilang, tuan butuh pertolonganku. Karena anda sudah menolongku tadi, maka aku akan berbalas budi.”
Aku menengok kepada ketiga anak buahku memberi kode pada mereka bertiga untuk meninggalkan kami dan mereka mematuhinya.
“duduklah nona” aku membawa kursiku untuk mepersilahkan gadis ini duduk. “kau ingin minum apa?”
“tidak, terimakasih. Aku hanya ingin menolongmu. Kau bilang ini menyangkut hidup dan matimu?”
Aku tersenyum mendekati gadis ini, duduk disebelahnya dan tersenyum. Memandang matanya yang berbinar.
“sebenarnya… aku ….” Kudekatkan bibirku ke bibir mungilnya. Seketika aku mendorongnya ke tempat tidur.
Brukk~
Dia mendorongku hingga aku sedikit terpental. Gadis ini menamparku. Karena kesal dan sedikit pengaruh alcohol tadi, ku dorong dia namun kali ini dia menahan doronganku. Aku masih berusaha keras untuk mendorongnya dan sepertinya dia mulai kehabisan tenaga. Dia terbaring di tempat tidurku
Ttrrrttt~
Ponsel di kantongnya bergetar. Kutahan tubuhnya dan kuambil ponsel itu. terlihat wallpaper ponselnya ada dia dan sepasang suami istri. AH !! aku kenal dia.
“henti… hentikan .. ku mohon …”
“begitu .. aku ingat.. hahaha, ya kau putri tunggal dari keluarga Narusawa kan? perusahan elektronik terkaya yang katanya harta keluargamu itu melebihi anggaran Negara jepang?”
“kau .. darimana …”
Ting tong~
Suara bel berbunyi dan mengalihkan perhatianku. Gadis ini memukul bagian penting tubuh ku dan kabur dengan cepat begitu saja. Dia membuka pintu dan pergi tanpa berkata-kata. Rupanya seorang room service datang untuk menanyakan kamarku. Inoo, dan Hikaru meladeni room service itu dan Daiki membangunkanku dari rasa sakit. dia sedikit mentertawaiku Karena berhasil di pukul oleh seorang gadis.
“kau ini, tega sekali mentertawakanku”
“hahaha, salah sendiri, kenapa kau bermain-main dengan pelayan itu?”
“ne, Daiki, apa kau ingat klan Narusawa?”
“Narusawa? Yang uangnya kita curi beberapa minggu lalu itu?”
“ya, gadis itu … dia putrid tunggalnya. Aku tak sengaja melihatnya tidur di kamar keluarga Narusawa malam saat kita mengambil semua uangnya. Dan beberapa pelayannya memanggilnya dengan akhiran –sama”
“begitu.. tapi apa yang dia lakukan sebagai pelayan disini? Tidak dia jatuh miskin dan bekerja karena uangnya kita ambilkan?”
“dasar bodoh, mana mungkin, yang kita ambil hanya seberapa dari kekayaan kaln Narusawa. Tentu saja ia ingin ikut pelelangan”
“oh ya, lalu … bagaimana ketua??”
“entahlah, tapi … sepertinya aku bisa memanfaatkan gadis ini untuk target kita besok ….”
Aku tersenyum sinis, menemukan cara yang bagus untuk mendapatkan permata itu.


To be continued ….

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)