WHERE MY HEART BELONGS Yuto's POV Chapter 1
Title : Where My
Heart Belongs
Genre : crime, dark, romance
Rate : PG-15
Author : Shuri Airie
POV : Nakajima Yuto
OC : Erinzu Ai
Disclaimer : I don’t own anything except the story.
Apa jadinya jika suatu hal berada
pada tempat yang tidak seharusnya? Perlahan tempat itu akan mengikisnya menuju
ketidakberdayaan. Namun ada kalanya hal itu justru menjadi ujian pertahanan
walau tak bisa dipungkiri bahwa itu jelas-jelas mustahil.Sebagai contoh, seekor
ikan terdampar di darat.Apa ia bisa bertahan hidup didarat yang kering?
Mutlaknya, ikan bernapas dengan insang, dan tempatnya insang adalah air.Namun
berbagai kemungkinan bisa terjadi.Seperti halnya, ikan ini berada didaratan
yang kering, tapi suatu ketika hujan turun menyebabkan beberapa lengkungan
daratan tergenangi air.Ada harapan untuk hidup bukan?Siapa yang tau.
Mungkin istilah untuk ikan ini bisa disebutTochi Sakana. Ikan darat…
“ Nakajima, pergilah untuk memesan
kapal pesiar. Takaki, kau bertugas menyiapkan beberapa perangkap dan
perlengkapan misi ini, Keito, kau bertugas untuk menyelidiki siapa saja
orang-orang yang akan datang di pelelangan itu. dan kau Ryo, lindungi Ryutaro
Morimoto dan Chinen Yuri, klien kita. Kau ada di garis depan.”
Perkataan Nanami-san masih
terngiang ditelingaku.Aku harus menyiapkan kapal.Ini terdengar sepele bila
dibandingkan dengan tugas Ryosuke sebagai ketua misi kali ini. Berada di garis
depan dan bertanggung jawab pada apapun yang terjadi dalam misi. Ryosuke itu cerdas,
ia pantas mendapatkan jabatan itu. Tapi tugasku pun tak bisa kuremehkan.Mencari
kapal mungkin bukan perkara sulit, tapi ini menyangkut kepentingan orang
banyak.Salah memilih kapal, maka ratusan nyawa dalam kapal itu menjadi taruhan.
“ Jam
12 ..”, gumamku ketika tak sengaja melihat jam disalah satu toko yang kulewati.
Hmm, pantas saja matahari terasa begitu menyengat.Ia sedang berada tepat diatas
kepalaku sekarang. Memaksa cairan yang ada dalam tubuh terdorong keluar
pori-pori dalam bentuk buliran peluh. Mungkin bila aku beristirahat sejenak tak
akanada yang melarang.
Aku baru saja menyelesaikan
tugasku.Kapal pesiar mewah dengan segala sistem keamanannya telah dipesan.Hanya
tinggal menunggu hari H dan kapal itu siap melaju mengarungi lautan membawa
orang-orang berkelas dengan tetek bengeknya. Orang-orang yang haus akan
kekayaan maupun status. Sementara aku,
haus akan air. Aku serius.Siang ini dengan terpaan matahari itu membuat
tenggorokanku kering seperti tanah tak bertemu hujan.
Aku menghentikan langkahku disalah
satu café yang cukup menyita perhatianku.Warna putih dan pot-pot tumbuhan hijau
menyemarakkan café itu.Terlihat sejuk.
“ Silahkan, ini menunya”, seorang
pelayan menghampiriku segera setelah aku menempati salah satu kursi yang
tersedia di café itu. Setelah memesan apa yang kuinginkan, pelayan itu pun
berlalu. Sambil menunggu pesanan datang, aku melihat sekelilingku.Desaign yang bagus, aku tidak bisa menilai seperti
apa detailnya hanya saja café ini membuatku nyaman. Dan lagi, vas bunga yang
ada dimeja ini menambah segar penglihatanku. Jika aku kupu-kupu atau lebah madu
tentu dengan senang hati akan hinggap dibunga itu. Vasnya yang terbuat dari
kristal terlihat berkilau terkena cahaya matahari dari jendela café ini.
Kilauan itu membuatku teringat akan misi yang aku dan teman-temanku dapatkan.
Dua orang itu memang hebat bisa menemukan permata yang hanya ada dalam legenda
cerita dongeng.Aku sendiri masih tidak percaya bahwa permata itu benar-benar
ada.Sebenarnya aku menyayangkan permata itu harus dilelang. Tapi menurut Keito,
Yah,
permata itu memiliki legenda yang kabarnya sangat mengkhawatirkan.
Dasar
bodoh !menurut legenda, orang yang memiliki dan menyimpan terus permata itu
tidak akan pernah bahagia
Yuya pun berkata seperti itu,
terlebih lagi Ryosuke juga mengatakan agar tidak meremehkan sedikitpun sejarah. Perkataan Ryosuke-lah yang akhirnya
membuatku tidak mendebat hal menyangkut permata itu.
“ Silahkan, ini pesanan anda. Italian lemon ice corona ..”
“ Ah, Arigatou ..“ , jawabku. Pelayan itu membungkuk perlahan dan berlalu.
“ Ah, Arigatou ..“ , jawabku. Pelayan itu membungkuk perlahan dan berlalu.
Tiba-tiba pandanganku menangkap
silau yang terpancar dari bawah meja café yang kutempati.Sebuah benda mungil
memancarkan sinar.Tidak, maksudku, matahari dari luar jendela memantulkan
cahayanya pada benda mungil itu.Aku mengambil benda tersebut.Sebuah
cincin?Lokasinya dibawah meja, kenapa bisa terkena cahaya matahari?Atau lebih
tepatnya kenapa baru sekarang?Sedari tadi aku duduk disini, aku tidak merasakan
kilaunya. Hanya kilau vas kristal itu. Mungkin karena matahari yang mulai
bergerak atau tertutupi awan hingga akhirnya baru sekarang kusadari keberadaan
cincin itu.
Cincin itu terlihat sederhana,
bertuliskan sebuah kanji yang tidak bisa aku baca.Tentu saja karena tulisan itu
seperti satu huruf kanji yang terbelah menjadi dua.Dan cincin itu adalah salah
satu dari bagian kanji yang terbelah dua itu.Mungkin ada pasangan dari cincin
ini. Siapapun pemiliknya, tentu bila cincin ini berharga tidak akan
meninggalkannya disini. Tapi lebih baik aku simpan lagi aja siapa tau
pemiliknya menyadari bahwa cincinnya hilang dan kembali lagi kesini.
Ketika aku hendak menyimpannya
kembali, entah kenapa rasanya tanganku enggan melakukan hal itu. Rasanya cincin
itu akan membawaku pada hal yang belum pernah kutemui sebelumnya, pada takdir
yang lain? Hey, tunggu. Aku tidak semelankolis itu.Namun tak urung juga aku
memasukan cincin itu kedalam saku celanaku.
“ Bila suatu saat aku bisa bertemu
dengan orang yang memiliki bukti bahwa dia adalah pemilik cincin ini, maka akan
aku kembalikan … “
Hari yang ditunggu telah tiba.
Kapal pesiar besar nan mewah itu sudah berada dihadapanku. Aku bisa melihat
ratusan pasang mata berdecak kagum ketika melihat kapal ini.
“ Nice job ”, bisik keito menepuk bahuku pelan. Ia duluan masuk ke dalam kapal.
“ Nice job ”, bisik keito menepuk bahuku pelan. Ia duluan masuk ke dalam kapal.
“ Whoaaa sugoooii. Kapal yang
mewah. Aku akan menghabiskan waktu liburanku di kapal ini. Selain itu, Emphasiss!! Akan kudapatkan kau !!”
Dasar bodoh, Yuya malah berteriak seperti
itu.Mungkin dia sedang mendalami perannya sebagai tamu peserta pelelangan. Tapi
kan, tidak harus berteriak juga. Orang kaya macam apa itu?
Aku masuk kedalam kapal
meninggalkan Yuya yang masih terkagum-kagum dengan kapal yang kupesan.Orang-orang
sudah banyak yang memasuki kapal ini.Aku hanya mengikuti arus kemana
orang-orang ini berjalan.Tentu saja yang mereka tuju adalah tempat pesta.
Wanita berjas dan pria bergaun itu asyik menebarkan pesona mereka seakan ingin
menunjukan pada dunia bahwa ia adalah orang kaya yang sanggup membeli permata
itu. Terkadang, harta yang banyak justru membawa keburukan pada
pemiliknya.Namun, belum tentu mereka merasakan kedamaian dalam hatinya.
Tiba didalam ruang pesta, aku
menangkap adanya keributan kecil. Ada apa sih?
“ Kau tahu berapa harga gaun ini!!
bahkan gajimu setahun-pun belum tentu bisa membayar setengah dari harga gaun
ini.”
Cih, apa-apan perkataan wanita
bergaun merah itu?Sombong sekali.Ia memarahi seorang pelayan yang tidak sengaja
menumpahkan minuman pada gaun yang dikenakannya. Kepala pelayan sampai datang
untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun wanita itu tetap berteriak dengan
suara lantangnya.Tiba-tiba salah satu pria dengan sengaja menumpahkan minuman
pada gaun itu.
“Ahh, maaf nona, aku tidak sengaja”
Menarik, tentu saja aku tau bahwa
pria itu dengan sengaja melakukannya.
“ Maaf nona, biar aku ganti bajumu.
Nona kecil ini tak akan bisa mengganti bajumu dengan satu tahun gajinya kan?
begitu juga dengan pelayan lain. Untuk apa kau meminta kepada orang yang
jelas-jelas tak bisa membayar? Nah, Berapa harganya? Karena aku bersalah sudah
merusak gaun indahmu, aku akan ikut menggantinya. Kau mau cek atau cash? “
Orang-orang disekelilingku
memperhatikan kejadian itu.Jelas aku bisa melihat tatapan sinis mereka.Bibir
mereka pun mengeluarkan bisik-bisik mencemooh.Akhirnya wanita bergaun merah itu
berlalu karena merasa dipermalukan.Dan keadaan kembali seperti semula.
Hahaha.Aku tertawa dalam
hati.Ternyata ada juga tamu kaya yang baik hati.Mungkin masih ada tamu-tamu
kaya yang baik hati lainnya disini.Atau, tamu bermuka dua? Well, kita harus
tetap waspada.
Acara hampir selesai.Ryosuke keluar
dari ruang pesta.Aku hendak mengikuti Ryosuke namun mengurungkan niatku. Tunggu
lima menit lagi. Mengantisipasi jika ada mata yang menatap kearahku.Segala
sesuatunya harus diperhitungkan.Aku mencari sosok Keito diantara kerumunan. Ah,
itu dia. Masih berdiri menikmati minumannya. Sedangkan Yuya, sebentar saja aku
bisa langsung menemukannya. Yuya sedang asyik berjalan kesana kemari menikmati
makanan yang disuguhkan.Walau mereka seperti sedang menikmati pesta namun aku
tau betul mata mereka bersiaga.
Sudah waktunya, aku berjalan keluar
ruangan menuju ruangan lain yang telah ditentukan. Setibanya, Ryosuke telah
menunggu diruangan itu.Ketika aku datang, ia hanya mengangkat wajahnya sekilas
dan kembali focus pada laptop. Tak berapa lama, Keito dan Yuya pun hadir.
“Semua data telah kusimpan ”, kata
Ryosuke masih asyik dengan laptopnya
“ Apa rencanamu selanjutnya
Ryosuke??”, tanyaku seraya berjalan menghampirinya.
“ Tetap awasi hal sekitar. Aku
ingin memperlajari satu persatu tamu kita “, ujarnya.Aku, Keito dan Yuya
membaca info yang telah didapatkan Ryosuke, sementara Ryosuke berjalan keluar
ruangan.
“ Yoshizawa Toru .. dare? “,
tanyaku. Difotonya hanya ada namanya yang tertera tanpa informasi yang lain.
“ Orang yang ikut menumpahkan
minuman untuk menyelamatkan seorang pelayan dari kesombongan wanita bergaun
merah itu”, jawab Yuya.
“Tidak, bukan itu .. “, aku
menggantungkan kalimatku. Kenapa tidak ada informasi yang lain mengenai
Yoshizawa Toru ini? Hal itu menyita perhatianku.
Hmm..tapi tamu-tamu lain pun masih
belum teridentifikasi. Baiklah..mulai saat ini harus bekerja lebih keras lagi.
Tapi, sebelum itu …..
“ Aku pergi dulu .. “
“ eh, kemana?”, Tanya Keito.
“ Toilet “, kataku dan bergegas pergi.
Sial, apa yang kumakan tadi ?kenapa
tiba-tiba perutku berontak seperti ini?
Beberapa langkah menuju toilet, aku melihat ada yang sedang berpelukan di dekat pagar besi.
Hah?
Haduh siapa lagi itu?Wanita bergaun merah dengan pria yang terlihat cantik?Kenapa aku harus melihat kejadian seperti itu?
Untungnya mereka seperti tidak menyadari keberadaanku.Aku pun bergegas masuk kedalam toilet.
Toilet pria sepi.Untunglah, jadi
aku tidak harus menderita lebih lanjut.Sakit perut disituasi penting seperti
ini sungguh menyiksa.
“ Anou .. sumimasen “, seorang
gadis tiba-tiba menghalangi langkahku ketika aku baru saja keluar dari toilet
pria.
“ Iya? Ada apa? “, tanyaku.Entahlah
aku harus ketus atau tersenyum ramah.Yang jelas ucapanku barusan terdengar
datar.
“ Ettou .. tasukete !”
“ Eh ??”
“ Eh ??”
Ia menarik lenganku dan memaksaku
masuk ke dalam …. Toilet wanita ?!!
“C-chotto .. !!”, sentakku dan
melepaskan paksa tanganku dari tarikannya sebelum aku benar-benar masuk kedalam
toilet wanita. Apa yang akan dia lakukan? Memaksaku masuk kedalam toilet
wanita?Ditambah lagi toilet itu sedang benar-benar sepi tidak ada orang.Wajah
gadis ini terlihat lugu. Rambut ekor kudanya menunjukan kepolosan itu . Aku
mencoba untuk tidak berpikir negative, tapi tetap saja..
Coba bayangkan ada seorang gadis yang tiba-tiba saja menarik lengan laki-laki dan memaksanya masuk kedalam toilet wanita??Apa yang …
Coba bayangkan ada seorang gadis yang tiba-tiba saja menarik lengan laki-laki dan memaksanya masuk kedalam toilet wanita??Apa yang …
“ Jangan berpikiran negative
tentangku !”, ketusnya.
Baiklah, dia membaca
pikiranku.Gadis berbadan mungil dalam balutan gaun putih selutut dengan hiasan
bulu-bulu dibagian atas gaunnya—kini menatapku.Bibirnya berkerucut dan pipinya
menggembung seperti balon. Hey, itu lucu. Kenapa ada anak kecil selucu ini
diatas kapal? Mungkin aku akan membawanya pulang dan menjadikannya boneka untuk
mainan adikku. Tidak, aku bercanda.Mungkin dia anak dari salah satu tamu di
kapal ini.
Aku menarik napas panjang dan
menghembuskannya.
“ Baiklah, adik kecil. Apa ma ..”
“ Baiklah, adik kecil. Apa ma ..”
“ Adik kecil ?!!”
Gadis itu kini malah terlihat marah.Tunggu.Apa ini? Aku salah?
“ Sonna ..”
“Aku bukan adik kecil !Kau tau?? Umurku sudah 19 tahun! Aku akan segera menjadi wanita dewasa. Kau tidak sopan memanggilku adik kecil. Apa karena aku pen..Maksudku, kurang tinggi sementara kau menjulang seperti tiang hingga kau berani memanggilku adik kecil??!”
Dia berteriak-teriak seperti itu didepan wajahku.Lebih tepatnya didepan dadaku karena tingginya hanya sebatas dadaku. Dia bilang umurnya 19 tahun ? Belum habis rasa terkejutku karena menurutku wajahnya sama sekali tidak menunjukkan umurnya.Dan dia bilang, menjulang seperti tiang?
Aku?Tiang?
Gadis itu kini malah terlihat marah.Tunggu.Apa ini? Aku salah?
“ Sonna ..”
“Aku bukan adik kecil !Kau tau?? Umurku sudah 19 tahun! Aku akan segera menjadi wanita dewasa. Kau tidak sopan memanggilku adik kecil. Apa karena aku pen..Maksudku, kurang tinggi sementara kau menjulang seperti tiang hingga kau berani memanggilku adik kecil??!”
Dia berteriak-teriak seperti itu didepan wajahku.Lebih tepatnya didepan dadaku karena tingginya hanya sebatas dadaku. Dia bilang umurnya 19 tahun ? Belum habis rasa terkejutku karena menurutku wajahnya sama sekali tidak menunjukkan umurnya.Dan dia bilang, menjulang seperti tiang?
Aku?Tiang?
“ Baiklah terserah. Lalu apa
maumu?”, sepertinya aku yang harus mengalah. Emosi gadis itu akan meledak-ledak dan menahanku lebih lama
lagi disini.
“ Ah aku .. “, Ia melihat kekiri
dan kanan, raut wajahnya berubah tidak seemosi tadi, kini ia malah terlihat
bingung.
“ Aku tidak bisa menggunakan keran
di westafel itu. Tidak ada pemutarnya maupun tombol semacamnya.Makanya aku
ingin meminta bantuanmu”, ucapnya setengah berbisik.
Y-ya ampun.Sudah kuduga, dia memang
anak kecil.Tapi, seandainya dia anak kecil dari keluarga kaya, masa menggunakan
keran saja tidak bisa?Terserahlah.Aku tidak mau ambil pusing.
“ Kau hanya tinggal mengulurkan
tanganmu pada keran itu maka airnya akan keluar dengan sendirinya”, jawabku
tenang.
“ B-Benarkah? “
Apanya yang benarkah?
Ia terlihat tidak percaya. Ia masuk kedalam toilet. Tas kecil yang dibawanya diletakan disamping westafel, kemudian ia melakukan apa yang kukatakan. Tidak bermaksud mengintip namun aku bisa melihatnya dengan jelas dari posisiku berdiri ini. Tapi aku mencoba melihat kearah lain.
Ia terlihat tidak percaya. Ia masuk kedalam toilet. Tas kecil yang dibawanya diletakan disamping westafel, kemudian ia melakukan apa yang kukatakan. Tidak bermaksud mengintip namun aku bisa melihatnya dengan jelas dari posisiku berdiri ini. Tapi aku mencoba melihat kearah lain.
Mungkin gadis itu telah selesai
dengan urusan kerannya karena kini ia sudah berada dihadapanku lagi dengan
wajah yang riang
“ Arigatou ..”, katanya sambil tersenyum lebar. Aku hanya mengangguk sedikit.
“ Arigatou ..”, katanya sambil tersenyum lebar. Aku hanya mengangguk sedikit.
Sepertinya sudah selesai.Gadis itu
berlalu dari hadapanku.Dan akupun harus segera pergi keruanganku.Masih ada hal
yang harus kukerjakan.
Tunggu ..
Gadis itu ..
Sontak aku melihat kedalam toilet wanita.Benar saja.Tas kecilnya masih ada disamping westafel itu. Mau tidak mau aku masuk kedalam toilet wanita dan mengambil tas itu. Aku bergegas keluar toilet sebelum ada yang tau.
Gadis itu ..
Sontak aku melihat kedalam toilet wanita.Benar saja.Tas kecilnya masih ada disamping westafel itu. Mau tidak mau aku masuk kedalam toilet wanita dan mengambil tas itu. Aku bergegas keluar toilet sebelum ada yang tau.
Cih, gadis itu. Bagaimanapun juga
aku harus mengembalikan tas ini. Sialnya, gadis itu sudah menghilang sekarang.
Menyusahkan saja..
Aku membuka tas kecil itu.
Sebenarnya aku tidak mau membuka barang pribadi orang lain. Terlebih bila orang
itu tidak ada hubungannya dengan tindak tanduk kejahatan. Namun apa boleh buat,
aku harus menemukan petunjuk mengenai gadis itu
agar tasnya bisa segera kukembalikan.
Eh, apa ini? Kartu mahasiswa ..
Chiisaku Daigaku
Name : Erinzu Ai
Nim : 0899.344.117
Name : Erinzu Ai
Nim : 0899.344.117
Tunggu,
bukankah Chiisaku Daigaku itu Universitas untuk kalangan bawah?Untuk
orang-orang yang memiliki kesulitan keuangan?Kalau gadis itu bersekolah di
universitas ini, berarti dia bukan anak dari kalangan atas.Tapi, ia menggunakan
gaun. Dia bukan pelayan atau semacamnya.Berarti dia adalah tamu? Lalu apa yang
dia lakukan di kapal pesiar ini ? Kalangan bawah datang ke kapal pesiar sebagai
tamu?
Dia, berada pada tempat yang tidak seharusnya.
Erinzu Ai , Kau …..
Erinzu Ai , Kau …..
Tochi Sakana ….
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ to be continue
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)