Title : Eternal
Blessing From Heaven part 1
Cast : Arioka Daiki
Nagisa Otawa
Genre : Romance
Rate : PG-15
Theme song : Understand-Yui
Author : Ruu
Disclaimer : I don’t own anything
Terkadang, sesuatu
akan terus terasa berarti, ketika hal tersebut telah tidak untuk kita….
* * * * * * *
“Terimakasih untuk
hari ini” semuanya saling berucap seperti itu tepat pada pukul 6.18 sore. Hari ini
aku cukup lelah. Setelah beberapa jam syuing acara televisi, bernyanyi dan
menari. Walau sudah bertahun-tahun aku menjadi salah satu personil Hey Say JUMP.
Tetap saja ada satu hal yang paling membuatku lelah. Dan sampai sekarang aku
tak tahu itu apa.
“hei Daiki, ayo ke
toko ramen langgananku” Takaki-san yang sepertinya dari tadi sudah lapar menyeretku
dengan paksa ke mobilnya. Aku hanya tertawa.
“kenapa hanya
mengajakku? Yang lain kemana?”
“yang lain sedang
sibuk masing-masing. Entahlah”
“hahaha yasudah
aku temani”
Aku duduk manis di
jok kursi mobil Takaki-san. Tak lama sebuah langkah kaki datang kepadaku.
“Arioka-san. Kau masih
harus rapat dengan produser mengenai film yang akan kau perankan”
Seorang gadis
berambut panjang dengan mantel putih mengetuk jendela mobil dan berkata padaku.
“ah maaf Otawa-san.
Sepertinya aku harus pergi dengan Takaki, ini penting, tentang karir kami. Jika
tidak, nanti Johnny-san akan mengamuk”
“tetapi film ini
juga penting untuk karirmu”
“film itu hanya side job saja kan? lagi pula karir utama
ku ada pada Hey Say JUMP. Mau disimpan dimana mukaku jika HSJ tidak legkap mala
mini, yak an Takaki?” aku mengedipkan mataku member kode pada Takaki untuk
mendukung strategiku.
“tapi ….”
“sudah, maaf ya
nagisa-chan …”
Takaki mulai
menstarter mobilnya dan kami-pun melaju dengan cepat, menghindari Nagisa Otawa,
seorang manajer, asisten yang sudah dipilihkan ibuku sekaligus sebagai
penggantinya. Tadinya, ibu yang bekerja sebagai manajer pribadiku dan Nagisa
yang membantunya, tetapi karena ibu bertambah tua, dia menyerahkan semuanya
pada Nagisa.
Nagisa adalah
teman masa kecilku. Ibu dan ayahnya berasal dari keluarga tidak mampu, dia
tetanggaku juga. Karena kasihan, ibu memberinya biaya untuk sekolah sampai ke
tingkat Universitas. Karena rasa terimakasih pada ibu, dia bersedia untuk jadi
asistenku. Kalau tidak, mana mau dia mengurusi aku yang kata teman-teman lain
ini, sangat sulit untuk di atur, hahaha.
Ibu sangat
menyayangi Nagisa seperti anaknya sendiri, itu karena dia adalah anak yang
pintar dan rajin. Selain itu, ibu memang tak punya anak perempuan. Tetapi tidak
denganku. Hampir hari-hariku aku isi dengan mengerjai Nagisa. Saat di rumah,
saat syuting, konser. Entah kenapa ada rasa puas tersendiri saat menlihat wajahnya
yang sangat kesal dan marah kepadaku.
“tidak apa-apa
Daiki?” Takaki tiba-tiba berbicara di tengah perjalanan.
“ha? Kenapa?”
“itu, asistenmu
yang cantik” entah kenapa wajah Takaki berbinar saat membicarakannya.
“Nagisa? Ah, sudah
tak usah dipikirkan”
“tetapi, nanti dia
kan, yang akan dimarahi pihak produser filmnya?”
“salahmu”
“lho? Kenapa salahku?”
“kau yang
menyeretku untuk makan ramen kesukaanmu itu”
“heeeeee kau ini,
seenaknya saja menyalahkan orang. Yasudah, kau mau kembali ke Nagisa?”
“eh jangaaaan, aku
sedang malas melihat wajahnya”
“ahahaha yasudah
terserahmu saja”
“kau suka ya pada
Nagisa? Hahaha” aku mulai mencoba menggoda Takaki.
“tidak, dia sudah
punya orang yang diaa sayangi”
“eh?! Monster itu
sudah punya orang yang dia sukai? Siapa?”
“kau”
Aku memegangi
perutku, menahan tertawa dan tak lama tawaku pun lepas. Wajah Takaki sangat
lucu, tetapi kalimat yang baru saja dilontarkannya aku rasa lebih lucu lagi.
“suka? Aku?
HAHAHAHA mana mungkin bebek gendut itu suka padaku? Kami musuh dari kecil.”
“tetapi, dia
satu-satunya wanita yang selalu ada di dekatmu kan? lagipula jika tak suka
padamu, dia tidak akan tahan dengan sifatmu yang kekanak-kanakan itu. bagaimana
jika dia memintamu untuk jadi pacarnya?”
“hahaha sudahlah
Takaki, kau terlalu mengada-ngada. Lagipula jika benar tak akan aku terima. Mana
mungkin ada seorang kurcaci yang mendarat di bulan”
“Daiki, jangan
bicara begitu. Perasaan wanita itu sangat dalam. Ketika mereka mencintai
oranglain, mungkin orang itulah yang akan menjadi terakhir baginya”
“kau pikir aku
tidak begitu?” entah kenapa tiba-tiba wajahku berubah menjadi serius. Kalimat Takaki
tadi, mengingatkanku … padanya ….
“jadi, karena itu …. Sampai saat ini,
kau masih belum melupakannya ya?”
Yah, ini memang
menjadi salah satu rahasia-ku dan beberapa anggota HSJ yang lain, bahwa … aku
mempunyai seseorang, seseorang yang untuk pertama kalinya merebut hatiku, dan
mungkin…
Untuk terakhir kalinya bagiku ….
Entahlah ….
Bayangannya ….
Wajahnya ….
Harum tubuhnya …
Suaranya yang
memanggil namaku …
Sudah setahun ini
selalu ada dipikiranku. Pandanganku teralihkan ke jendela mobil Takaki saat
hujan mulai turun. Membawa ingatanku saat itu, saat pertama kali bertemu dengan
gadis yang amat sangat kucintai itu, yang beberapa hari kemudian kami menjadi
teman, yang beberapa minggu kemudian kami mejadi sahabat, dan beberapa bulan
kemudian dia menjadi kekasihku, kekasih
yang kurahasiakan dari publik, hanya untuk melindunginya.Midori …. Wanita yang
sedikit lebih tua dariku, yang selalu ada di dekatku selama ini ….
“Daiki, orang yang telah mati tak akan bisa hidup
kembali lagi”
Takaki membuyarkan
lamunanku, kalimatnya tadi seolah menjadi palu yang menghentakkan lamunanku
tadi. Ya aku tahu, seseorang yang telah pergi, seseorang yang telah mati, tak
akan bisa kembali lagi. Tetapi apa salahnya untuk selalu menempatkan dia, di
sisi terdalam hatiku? Karena dia, hidupku menjadi lebih hidup. Hariku menjadi
tidak kosong dengan rutinitas penuh yang telah beberapa tahun aku jalankan.
* * * * * *
TTRRRRTT~
Getar ponselku
membangunkanku. Terpampang jelas nama Nagisa di layar. Wanita ini, entah kenapa
senang sekali mengganggu tidur lelapku. Aku menutup telepon itu dan meneruskan
tidurku.
.
.
.
.
.
“Daiki bangun !!
Daiki!!”
Ibu mengehentak-hentakkan
tubuhku di tempat tidur
“ya … ada apa bu?”
aku mejawab ibu dengan mata yang masih tertutup
“tadi Nagisa
menelepon ibu. Kau ada syuting jam 8 kan?”
“ibu … ini masih
jam 7” aku mengambil gulingku lagi.
“ayo bangun Daiki
!!! kau bisa terlambat ke tempat syuting”
Aku menuruti
perintah ibu dan mempersiapkan diri ke lokasi syuting. Dan benar saja, aku
telat 15 menit. Ketika sampai di sana, Nagisa sedang meminta maaf kepada hampir ke seluruh crew yang ada disitu.
“yo, ohayo, Nagisa”
aku menepuk punggungnya.
Wajah nagisa
memerah, pipinya menggembung, tangannya mengepal. Dia segera menarik tanganku,
mengambil kertas skripku dan membawaku ke ruangan rias di dekat lokasi syuting.
PLAAAK~
Dia memukul
kepalaku dengan kertas skrip yang digulungnya tadi.
“dasar bodoh !!
bodoh !! kau bisa kehilangan pekerjaanmu tadi !!untung sutradara itu baik
sekali mau menunda jadwal ini”
Aku masih
memegangi kepalaku yang ia pukul, sakit sekali. Sepertinya ia memukulku dari
hati yang terdalam.
“kau boleh saja
tak ikut rapat, telat syuting, atau melakukan apapun yang kau suka. Tapi jangan
sampai reputasimu jelek dank au tidak laku lagi. Ingat ibumu, ayahmu, dan
orang-orang yang sudah berjuang selama ini untukmu, apa kau …”
“iya iya maaf” aku
memotong kalimatnya. “lain kali tak akan aku ulangi”
Aku segera pergi
meninggalkannya tanpa berkata-kata, berganti kostum dan segera memulai peranku
di situ. Syuting kulakukan sekitar dua jam tanpa henti. Dan akhirnya sutradara
memperbolehkan para pemeran untuk istirahat.
Aku duduk di
ruanganku, menutup wajahku. Memutar-mutar kursi yang kududuki. Biasanya Midori
akan langsung mengirimiku SMS dan pergi ke tempat aku berada saat siang hari.
Haaahh~
Apa benar yang
dikatakan Yama-chan, Yabu-kun, dan lainnya? kalau aku tidak akan pernah menikah
selama aku belum melupakan Midori? Mana mungkin? Aku ini masih normal, aku
masih suka pada gadis-gadis seksi jepang. Tapi Inoo-chan bilang, rasa suka itu
berbeda dengan perasaan cinta, dan rasa cinta itulah yang akan mengantarkanku
pada pernikahan. Ah~ Inoo-chan terlalu naïf. Sudahlah.
“hei, sedang apa
kau, beruang jelek?”
Suara Nagisa
mengagetkanku. Nenek sihir ini, senang sekali mengagetkanku
“aku sedang
istirahat gendut ~~” aku meledeknya dengan menggembungkan pipiku.
“apa kau bilang? Heh
beruang jelek” Nagisa memutar-mutar kursiku dengan kecepatan tinggi sebagai
tanda kemarahannya atas ejekanku tadi.
“he…hei.. hei
Nagisa hentikan …”
“tidak mau, kau
mengataiku gendut tadi, ayo minta maaf”
Nagisa terus
memutar-mutarkan kursiku hingga aku pusing. Dia tertawa lepas, sangat senang
ketika aku menderita karena pusing seperti ini, dia tetap tak mau menghentikan
putarannya sampai aku berinisiatif untuk menurunkan kakiku menghentikannya,
DUUKK~
Aku terjatuh ke
lantai dengan posisi tengkurap. Nagisa sialan, tubuhku sakit seperti ini. aku
mulai membuka mataku, entah kenapa tubuhku terasa hangat dan tercium harum
citrus di sekitarku. Saat mataku terbuka lebar, wajah Nagisa hanya berjarak 1cm
dariku. Aku canggung dan segera bangun. Merapihkan kostum yang masih kupakai. Sesaat
aku diam, entah kenapa wajahku mejadi merah, dan beberapa detik kemudian aku
mengingat perbuatan Nagisa tadi. Aku berbalik ke arahnya.
“ini semua
gara-gara kau …”
“maaf….” Nagisa
memotong perkataanku dengan tatapan kosong.
“aku … permisi dulu …”
Wajahnya entah
kenapa berubah, keceriaan tadi seolah menjadi pudar. Nagisa segera berjalan
keluar. Apa dia sakit? tapi tadi dia ceria sekali. Aneh sekali. Sudahlah,
mungkin dia hanya sedikit sakit aku tindih tadi, lagipula itu kan salahnya.
Aku melanjutkan
syutingku kembali. selama syuting ku lihat Nagisa hanya diam saja memperhatikan
proses syuting. Dia juga mencatat beberapa evaluasi mengenai diriku dan
membawakan peralatanku. Tetapi ada yang aneh, dia sama sekali tak berkata
apa-apa. biasanya ketika ku suruh-suruh
Nagisa akan menghindar dan mengejekku beruang gendut. Ada apa dengannya? Apa karena
hal tadi?
“yak cukup, mari kita
makan siang….” Sutradara menepuk tangannya tanda semua kegiatan diberhentikan. aku
duduk dan kembali ke tempatku.
Setelah mencuci
wajahku, aku membuka ponselku. Terdapat beberapa email dari teman-temanku. Kubuka
satu persatu email itu dan kaget ketika tak sengaja kudapati sebuah kotak
makanan tergeletak di meja ruanganku dan sebuah kertas di atasnya.
Makanlah,
kau pasti sangat lelah hari ini kan?
ganbatte yo,
tak ada naa
pengirimnya di sini, siapa yang mengirimnya? Nagisa? Tapi monster itu kan tidak
bisa masak. Bahkan masak mie ramen instant pun harus diajari.
Ku buka kotak itu,
sebuah Omrice, makanan kesukaanku dan makanan yang paling sering dibuatkan
Midori untukku. Apa-apaan ini? apa ini sekedar orang iseng? Atau …
Ku
makan saja makanan itu, daripada tersia-siakan. Karena lapar, kuhabiskan
makanan itu secepat kilat, ternyata ada sebuah alumunium voil di bawahnya yang
melapisi sesuatu, aneh sekali jika omrice dilapisi oleh kertas semacam ini,
karena penasaran aku ambil alumunium itu, rupaya ada sebuah kertas dilapisi
lagi oleh plastic dan bertuliskan OMAE GA
SUKI DA.
Apa ini? siapa?? Apa maksudnya? Apa ini dari fans? Tetapi tak
mungkin fans bisa masuk sampai sini.
TTTRRRRTT~
Ponselku berbunyi
dan aku mengangkatnya. Rupanya dari yama-chan.
“ya? Ada apa
Yama-chan?”
“apa kau sudah
memakan omrice di ruanganmu?”
“sudah, kenapa kau
tahu? Jangan-jangan itu darimu ya?”
“dasar bodoh. Dari
miliaran wanita di dunia ini kenapa aku harus membuatkanmu makanan. Yang benar
saja” Yama-chan tertawa terbahak-bahak
“lalu kenapa kau
tahu? Lagi pula ada yang aneh pada kotak bekal ini.”
Aku memotret
tulisan di kertas itu dan langsung mengirimkannya pada Yama saat itu juga.
“eh?? Apa itu
benar” Yama kelihatan kaget
“”un, sebenarnya
itu darimana sih?”
“i..itu… itu …
bagaimana ya bilangnya?”
“sudah katakana saja.
Kita ini sudah lama berteman, nah yama-chan. apa kau yang membuat omrice ini”
nadaku sedikit tertawa geli
“Dai-chan !! kau
membuatku merinding !! yamette !! omrice itu buatan Nagisa !!” Yama kemudia
menghentikan omongannya, sepertinya baru sadar kalau dia keceplosan.
“eh??”
“i… iya, Nagisa
kemarin menanyakanku bagaimana cara membuatnya, ketika kutanya untuk siapa, dia
tak mau menjawab, lalu ketika aku asal menebak apa itu untukmu, wajahnya
memerah sambil mengangguk” tak kusangka dia ingin mengutarakan perasaannya
padamu. kukira dia ingin meracunimu tadi”
“kau ini … tapi…
apa benar ??”
Tok tok tok
Seseorang mengetuk
pintu, aku segera menutup telepon dan mempersilahkannya masuk. Rupanya Nagisa,
dia diam dan mendekatiku dengan pipinya yang memerah.
“anou … omrice nya
… bagaimana??”
Aku diam, ingin
tertawa tapi tak tega dengan ekspresinya.
“enak, terimakasih
ya. Tumben sekali kau bisa memasak ini dengan lumayan”
“arigatou” dia
membalasku
Apa-apaan ini? HEI ! itu tadi bukan pujian,
itu ejekan Nagisa.
“Daiki, aku … aku
menyukaimu … aku ingin terus ada di dekatmu” dia membungkuk padaku.
Seketika kami
menjadi canggung. Aku … sama sekali tak punya perasaan pada wanita ini, tapi
Yama-chan tadi mengirimiku sms, ini saatnya jika aku ingin berpaling dari
Midori, tetapi … apa bisa? Apalagi dengannya, wanita yang selama ini sudah
kuanggap seperti adikku sendiri, meskipun kami sering bertengkar, aku… sama
sekali tak punya rasa padanya.
“gomen … Nagisa …
aku …” aku berbicara dengan suara pelan. Tak sanggup melanjutkan kalimatku.
“ah … tak apa-apa
.. maaf, telah mengganggu waktu istirahatmu” dia membungkuk lagi dan berlari
keluar, aku ingin mengejarnya, tapi aku takut dia akan salah pengertian. Selama
ini, tak pernah terbesit di dalam benakku, untuk menjadi kekasih Nagisa sama
sekali. Rasanya sama saja seperti menjadi kekasih dari adikmu, karena Nagisa
sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. dan, memang tak bisa aku paksakan.
Midori … aku … harus bagaimana??
Beberapa menit
kemudian syuting dilanjutkan. Aku memperhatikan Nagisa dengan seksama. dia
terlihat menutupi rasa sedihnya. Aku tahu, Nagisa yang ceria sangat berbeda
dengan saat ini. meskipun ia menutupinya. Aku menjadi sangat merasa bersalah. Baiklah,
nanti malam akan aku ajak dia ke arena bermain, untuk menebus rasa bersalahku. Dia
sangat suka arena bermain. Aaahhhh !! kau ini kenapa Daiki !! kenapa jadi gusar
begini !! ayo konsentrasi, adegan ini sudah 12 kai diulang karena kau terus
melakukan kesalahan ! ayo Daiki fokus !!
”CUT !!!” sutradara mulai marah.
Karena ia tak bisa
memarahiku, ia mebanting skrip yang ia pegang dan tempat minum yang ada di
dekatnya, tempat minum itu mengendurkan sekrup tiang roller kamera.
“NAGISA AWAS !!!!”
Kamera jatuh
menimpa kepala Nagisa yang tepat ada di bawahnya. Kepala Nagisa berlumuran darah, ia kesakitan
dan terus memegang kepalanya, aku menggendongnya dan membawanya ke mobilku,
meninggalkan lokasi syuting kemudian melaju cepat kea rah rumah sakit terdekta.
Nagisa kehilangan kesadarannya ketika di tengah jalan. Tanpa berfikir panjang
langsung aku gendong tubuhnya ke UGD. Aku tak boleh masuk oleh dokter. Karena panic,
aku menelpon ke rumah dan teman-temanku. Tak lama ibu, dan yang lainnya datang.
Aku hanya duduk di depan lorong. 1 jam kemudian dokter keluar. Dia berkata
bahwa Nagisa baik-baik saja. Aku segera meminta rumah sakit memindahkannya ke
kamar agar Nagisa bisa istirahat.
Satu jam kemudian
Nagisa sudah dipindahkan, kami emnunggu Nagisa siuman dari pingsannya. Aku
sangat merasa bersalah, entah kenapa, mungkin ini semua karena aku, jika saja
aku tidak membuatnnya sedih tadi, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.
“tenanglah, ini
semua kecelakaan. Bukan kesalahanmu” Yabu berusaha menegarkan hatiku, tetapi
aku masih menyalahkan diriku sendiri. walau dokter bilang kondisi Nagisa sudah
stabil, tetap saja …
“hei, Daiki.” Yama
menggoyang-goyangkan tanganku. Dia menunjuk pada Nagisa yang mulai menggerakkan
tangannya. rupanya Nagisa sudah mulai
sadar.
“Na… Nagisa, kau
sudah sadar…”
Nagisa membuka
penuh matanya. Terdiam, dan melihat sekeliling kamar.
“kalian … siapa ??”
To be continued …

No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)