Pages

WHERE MY HEART BELONGS Inoo's POV Chapter 1



Title   : Where My Heart Belongs
Genre : crime, dark, romance
Rate : PG-15
Author : elfnazmina
POV : Inoo Kei
OC : Hoshino Hikari
Disclaimer : I don’t own anything except the story.

Cinta pada pandangan pertama, ah bukan, maksudku pertemuan pada pandangan pertama tidak selalu berakhir dengan hal-hal yang indah, bahkan itu bisa menjadi salah satu momen terburuk dalam sejarah hidupku. Maksudku, mana mungkin hal konyol semacam cinta pada pandangan pertama itu eksis? Bukankah cinta itu datang melewati sebuah pencarian? Lantas, mengapa masih saja banyak orang bodoh yang bangga akan kata-kata menggelikan seperti ‘cinta pandangan pertama’ itu? Tentu saja mustahil bagiku yang diciptakan sebagai mesin perasional logika ini untuk jatuh cinta kepada seorang wanita di pandangan pertama. Dan apabila pada kesan pertamaku kudapati bahwa wanita itu bukan sebagai wanita yang pantas untukku, aku tidak akan membuang waktu berhargaku untuk mendekatinya. Kesan pertama, sesuatu yang sangat krusial untukku…
Itu pernyataanku, ketika logika masih mendominasi seluruh bagian dalam pikirku.
-------

Aku mengutak-atik laptopku, sudah dua jam ini aku tidak berbicara dengan siapa pun sejak kami melangkahkan kaki di pesiar ini pagi tadi. Perhatianku hanya tertuju pada sesuatu yang menarik hatiku akhir-akhir ini, sehingga mataku tidak bisa melepaskan tempelannya yang telah melekat kuat di layar laptopku.
“Bagaimana? Sudah kau dapatkan identitas masing-masing peserta lelang, Inoo-chan?”  tanya Yabu

“Belum, maaf ketua” kujawab ia dengan acuh tak acuh. Aku tahu ia merasa terganggu dengan sifat acuhku dari decakan lidahnya. Tapi tetap saja, aku juga tahu ia tak mungkin marah padaku karena aku adalah otak dari tim kami. Akulah yang selalu mengonsep ide-ide gila tentang bagaimana caranya membunuh seseorang yang mengetahui identitas kami, pelan tapi pastinya akan memberikan mimpi terburuk dalam hidup korban yang malang itu. Sebenarnya, aku sendiri tidak pernah mengotori tanganku dengan darah pembunuh, eksekutor dalam tim kami hanyalah Hikaru dan Daiki. Aku tidak ingin menodai tanganku, aku senang hanya dengan menjadi otak dibalik layar mereka. Tapi, dengan peranku yang seperti itu, bukankah bisa dikatakan bahwa sebenarnya akulah pembunuh semua korban itu secara tak langsung?

Hikaru berjalan mendekati kami. Ia membawa semua alat lengkap untuk penyamaran Yabu. Yabu terlihat senang, jauh berbeda dengan ekspresinya terhadapku beberapa waktu lalu. Tapi tetap, aku tidak peduli.

“Nah, Inoo-chan. kau tetap disini memantau perkembangan, aku akan pergi ke hall untuk bertemu di pesta awal pertemuan para peserta lelang dan penyelenggara. Hikaru dan Daiki. Kalian ikut denganku.”, ujar Yabu.

Mereka meninggalkanku sendirian, tapi tak apa, aku sudah terbiasa. Bahkan mungkin lebih tepat kalau aku dikatakan bersyukur karena aku ditinggal di ruangan ini. Tidak ada yang menggangguku dan aku bebas melakukan apapun yang kuinginkan dengan laptopku.
Aku masih duduk di kursi putih ini, mencari informasi tentang semua peserta lelang seperti yang Yabu perintahkan padaku. Ini adalah perkara mudah, kurang dari setengah jam aku sudah bisa mendapatkan data mereka semua, kecuali Yamada Ryosuke. Siapa itu Yamada Ryosuke?
Aku memainkan jariku di keyboard laptopku dengan berisik, tiba-tiba aku melihat sesosok bayangan menghampiriku. Kudongakkan wajahku untuk melihat siapa dia, ternyata seorang wanita yang memakai gaun hijau gading panjang dengan rambut gelombang panjang terurai di bahu sampai ke punggungnya.
“Ada apa?”, tanyaku malas. Siapa wanita ini? Seenaknya saja menghampiriku.
“Heh! Bisa tidak kau berhenti memainkan laptopmu itu? Suaramu itu benar-benar berisik dan membuatku terganggu!”, ia memperlihatkan wajah kesalnya padaku. Eh? Seberisik itukah bunyi ketikan jariku?
Aku berdiri dari dudukku dan sedikit membungkuk padanya, mungkin memang aku yang salah.
“Dasar! Memangnya siapa sih kau ini? Pakaian apa itu? Memangnya kau tidak punya pakaian lain yang lebih pantas untuk menghadiri pesta ini?!”, ia mencibir dengan wajahnya yang…oh aku tidak bisa menjelaskan seberapa menyebalkannya wajah itu.
“Maaf?”, aku memandanginya dengan seksama. Siapa wanita yang berlagak seperti tuan putri angkuh ini?
“Kubilang pakaianmu itu tidak pantas untuk dipakai kemari! Apa ini? Kemeja dan jeans?”, ia mengobservasi diriku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Mungkin aku hanya seorang bodyguard, tapi pantaskah kau bermulut kasar pada orang yang baru pertama kau temui?!”, aku mengangkat sebelah alisku dihadapannya, menantangnya secara tidak langsung. Sungguh, aku benar-benar tidak mengerti mengapa ada orang seperti dia yang membuat kesan pertama mengenal orang sebegini buruknya. Kau tahu, kesan pertama itu penting untukku…
“Hahaha bodyguard, tidak heran kalau kau tidak tahu tempat dimana kau bisa bebas berekspresi dengan laptopmu atau tidak. Kau kira, hanya ada kau di ruangan ini huh?”
“Nona Hoshino, sudahlah…”, seorang maid yang berdiri dibelakangnya mencoba menenangkannya. Kurasa, maid itu adalah pembantu pribadi wanita angkuh ini. Hoshino? Sebentar…kurasa ia adalah anak dari keluarga bangsawan yang merupakan tamu kehormatan di pesta ini, setidaknya itulah yang dapat kusimpulkan dari informasi yang kuperoleh.
“Jadi, kau anak bangsawan itu? Lucu sekali, ternyata seorang nona besar memiliki mulut yang sebegitu kasarnya dalam merendahkan orang. Kau pikir semua orang takut padamu dan bisa berada di bawah kendalimu, huh?”, aku mencibir dan tertawa meremehkan. Kulihat wajahnya berubah warna menjadi pink kemerahan karena menahan amarah. Biar saja, sejak awal memang ia yang bersalah bukan? Ia yang mulai menghinaku…
“Hahaha, aku tidak ingin diberitahu seperti itu oleh bodyguard rendahan sepertimu!”, ia menunjukkan jari telunjuknya dihadapan wajahku. Apa ini? Perempuan macam apa yang berdiri di hadapanku ini?!
“Nona, ayah anda memanggil anda untuk memasuki ruangan pesta…”, maid yang tadi membuyarkan amarahku. Suara maid itu begitu sopan, aku tidak bisa berpikir bagaimana ia bisa hidup tenang sementara majikannya seperti ini, mesin penghina berjalan yang bahkan tidak sadar bahwa dirinya salah.
Wanita itu terdiam beberapa saat.
“Baiklah…”, sahutnya kemudian. Untuk beberapa saat, ekspresinya terlihat berbeda, wajah angkuhnya berubah menjadi tak mengenakkan. Tapi, siapa peduli?
Ia meninggalkanku tanpa ada satu pun kata maaf dan rasa penyesalan terpatri di wajahnya.
Wanita macam apa itu? Wanita itu bahkan menggunakan suara lantangnya ketika menghinaku, mendongakkan dagunya dan mencibir sinis ketika merendahkanku. Tidak mungkin aku ingin menjadikan wanita itu sebagai istriku, semoga saja pendamping hidupku kelak tidak seperti dia. Mengerikan…
***
Aku mulai bosan sendirian. Aku pun berjalan memasuki hall dimana pesta diadakan. Aku mengambil punch yang terletak di sebuah meja di sudut ruangan, kemudian aku pun berdiri dan menyandarkan punggungku pada sebuah dinding tak jauh dari meja punch itu. Aku mengamati ruangan ini, sungguh…musiknya benar-benar mengganggu telingaku. Bau parfum yang menusuk hidung pun tersebar dimana-mana, kurasa aku tidak bisa bertahan lama berada di dalam sini. Kulihat Yabu sedang duduk di meja bagian depan dengan tokoh utama pelelangan kali ini, Chinen Yuri. Aku tersenyum iblis, menertawakan kebodohan Chinen yang menerima risiko berada sedekat itu dari tim kami. Hikaru dan Daiki terlihat berdiri di belakang Yabu, selalu siaga untuk mengingatkan Yabu atas kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Mataku mulai berlari lagi, mencari-cari akan adanya sesuatu yang mungkin menarik perhatianku. Tiba-tiba, aku melihat wanita tadi. Wajahnya terlihat pucat dan ia menghampiri seorang lelaki yang berumur sekitar 40 tahunan. Kurasa itu adalah ayahnya.
Tetapi, mengapa ayahnya terlihat seperti sangat mengacuhkannya? Mengapa ayahnya tetap terlihat tertawa dengan peserta lain padahal aku bisa melihat dengan jelas bahwa wanita itu memiliki sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Mataku terpaku pada wanita itu. Tak berapa lama kemudian, ia dan ayahnya keluar dari hall pesta bersama seorang wanita berumur sekitar 30 an.
Satu bagian dalam diriku merasa penasaran dengan kejadian itu, tanpa sadar aku pun membuntutinya. Ya, selain itu aku juga ingin bebas dari suasana menyesakkan di ruangan pesta ini. Kulihat ia berjalan dibelakang ayahnya dengan wajah pucat. Kenapa ia? Kehabisan persedian kata-kata untuk menghina orang?
Aku bersembunyi dibalik dinding sekitar situ. Mencoba mencuri dengar percakapan ia dengan ayahnya.
“Ada apa Hikari?! Kau tahu kan aku sedang sibuk?!”, tanya ayahnya dengan geram
“Otou-san….kepalaku pusing, musiknya sangat mengganggu telingaku dan aku tidak tahan dengan aroma parfum di ruangan itu, bolehkah aku kembali ke kamar?”, suara wanita tadi mendominasi koridor kosong ini.
“Tahan sedikit pusingmu! Bagaimana bisa kau mengeluh hal yang tidak penting seperti itu dan menyeretku keluar?!”, sahut ayahnya lagi dengan nada tinggi
“Tapi…aku benar-benar pusing sedari pagi otou-san”
“Tidak penting! Cepat kembali ke ruangan!”, ayahnya mulai berjalan memasuki ruangan pesta kembali, setidaknya itulah yang kulihat dari sudut persembunyianku ini.
“Tante, aku benar-benar pusing, aku takut aku akan pingsan didalam…”, aku masih mendengar suara wanita itu, ternyata wanita tiga puluhan itu adalah tantenya.
“Jangan manja! Turuti perintah ayahmu, kau ini benar-benar menyulitkan kami saja!”
Sejujurnya, aku sangat terkejut atas tanggapan ayah dan tantenya pada percakapan ini. Kupikir, ia adalah seorang putri yang sangat dimanja di keluarganya sehingga ia merasa nyaman saja untuk menghina orang lain. Tapi, aku tidak tahu bahwa sebenarnya ia diperlakukan seperti ini oleh ayahnya sendiri. Aku mulai mengasihaninya, tapi tetap aku tidak menyukainya…
Ia berjalan mengikuti tantenya dari belakang. Aku tahu, ia tidak berbohong. Wajahnya benar-benar sangat pucat. Bagaimana bisa ayahnya tidak menyadari itu dan memaksanya tetap ikut pesta? Wanita malang…
***
Pukul 10 malam ini Yabu memerintahkan kami semua untuk berkumpul di kamarnya. Aku masih memiliki sedikit waktu untuk menikmati hari pertama di pesiar ini. Aku berjalan menuju dek belakang kapal, mencoba mencari udara segar walaupun sesungguhnya yang akan kudapatkan hanya angin malam yang menyelimuti hari dengan selimut dinginnya. Tetapi, tetap saja aku ingin melihat pemandangan malam dari kapal ini dan menikmatinya. Aku memang tidak suka keramaian, tentu saja hiruk pikuk di ruang pesta tadi sama sekali bukan untukku. Aku adalah tipe penyendiri dan pembenci keramaian. Yabu tahu itu, maka tak heran ia selalu meminta Daiki ataupun Hika untuk menemaninya, dibandingkan aku.
 “Ah…sejuk sekali”. Aku menarik nafas panjang begitu sampai di dek belakang. Tidak ada seorang pun disini, paling tidak itulah yang kupikirkan. Seperti biasa, aku menyukai kesendirian ini, membuatku nyaman untuk memandang bintang sepuasku. Aku suka bintang dan sangat tertarik dengan aerospace. Jadi, waktu ini adalah waktu yang berharga untukku bukan?
Aku menyandarkan dadaku di pagar besi, menikmati indahnya laut malam walaupun terasa mengerikan, tapi kedamaian yang diciptakannya membuatku merasa nyaman. Aku memalingkan wajahku ke sebelah kanan untuk melihat apa saja yang ada disana, namun di luar dugaanku, ternyata wanita angkuh tadi juga sedang berada disini, menatap laut dengan tatapan kosong. Wanita itu…tidak terlalu cantik. Wajahnya biasa saja, namun entah kenapa wajah sedih dan rambut panjangnya yang tertiup angin itu, serta gaun merahnya membuatnya terlihat sedikit…istimewa?
Tapi, mengapa ia memandang laut dengan tatapan kosong? Bukankah ia diciptakan sebagai mesin penghina orang dengan mendongakkan dagunya, sehingga ketika ia memandang laut dengan tatapan kosong seperti ini…sama sekali tidak cocok.
Kesan pertama, tentu saja aku tidak menyukainya. Tapi, itu belum menjadi alasan yang cukup bagiku untuk membencinya. Ketika aku melihatnya seperti ini, melihatnya mencoba berdiri tegak dalam kerapuhan seperti ini, tentu ada dorongan yang kuat dalam batinku untuk menghampirinya. Angin malam sepertinya telah mengacaukan pikiranku. Maksudku, bagaimana mungkin otakku mengambil alih kendali atas kakiku dan membuatku berjalan menghampirinya? Bukankah sudah kukatakan kalau aku tidak menyukainya? Tapi tetap saja, kakiku melangkah mendekatinya, ada desakan magnet yang menarik diriku untuk berdiri disampingnya. Sounds stupid…
Sepertinya dia sudah tahu bahwa aku menghampirinya, jelas saja karena suara gesekan sepatuku menjadi melodi utama dalam kesunyian ini. Dia memalingkan wajahnya untuk melihatku. Sepersekian detik kemudian, ia mencibir. Lihat, inilah salah satu alasanku tidak menyukainya. Aku menghampirinya karena ia terlihat sangat membutuhkan seseorang, seseorang yang paling tidak ingin mencoba mengerti akan keadannya, dan selama hanya ada aku disini, kurasa Tuhan menyuruhku menjadi seseorang itu. Tapi apa imbalanku? Sebuah cibiran? Sungguh tidak lucu.
 “Kenapa kau disini?”, tanyanya dengan pandangan merendahkan.
 “Kau pikir ini pesiar milikmu, tidak ada hukum yang mengatur dimana aku boleh berada bukan?”, sahutku dengan nada merendahkan pula. Sebenarnya sungguh bodoh bagiku untuk menanggapi permainan kasar wanita ini, tetapi aku tidak bisa diam saja ketika diriku direndahkan, dipandang sebelah mata, bahkan oleh seorang wanita.
 “Tinggalkan aku, aku tidak ingin ditemani oleh seorang bodyguard. Seseorang yang hanya menjadi pesuruh tuannya.”
 “Ini hakku. Aku ingin menikmati pemandangan dari dek ini, jadi bisakah kau tidak menghancurkan malam yang ingin kunikmati ini?”, aku mencibir balik. Aku tahu, beradu mulut dengan wanita adalah salah satu hal yang bukan merupakan kodrat lelaki. Tapi, aku jamin tidak akan ada seorang pun yang tahan untuk tidak melawan apabila ia berhadapan dengan wanita ini.
Dia tidak menjawabku dan memilih memalingkan mukanya dariku, kembali menatap lautan yang tidak bertepi. Lagi-lagi, tatapan kosong itu. Sebenarnya apabila ia bertahan dalam diam seperti ini, keberadaannya akan terlihat sangat memukau, menghanyutkan, dan mungkin akan menggilakan beberapa lelaki karena garis pipinya yang terlihat dari samping benar-benar indah. Tapi kuharap aku bukan salah satu dari lelaki itu. Aku tidak akan bisa menahan diri apabila ia sudah mulai berbicara, tidak, aku bahkan mulai tidak bisa menahan diri ketika ia menarik satu nafasnya untuk mulai berbicara. Ya, semengerikan itulah mulut wanita ini.
Tiba-tiba, kusadari bahwa tubuhnya bergetar dan menggigil. Hidungnya terlihat sedikit memerah dan ia mulai meniupkan nafasnya ke tangannya, menggosok tangannya sendiri untuk mencari segelintir kehangatan. Wajar saja ia kedinginan, gaun yang dipakainya tidak memiliki lengan dan panjangnya hanya selutut. Wanita bodoh, berpakaian pendek tetapi masih memilih untuk berdiri disini.
Kulepaskan jaketku dan tanpa kusadari aku telah meletakkan jaket itu ke punggungnya. Aku memang tidak menyukainya, tetapi membiarkannya kedinginan seperti tadi akan membuatku dicap sebagai laki-laki yang tidak bermoral bukan?
 “Huh? Apa ini? Aku tidak butuh jaket lusuh seperti ini!”, ia memalingkan wajahnya untuk menatapku lagi.
 “Tidak usah banyak bicara! Pakai saja! Tidak usah berpura-pura kuat seperti itu, aku tahu kau hampir mati beku. Bunyi kertakan gigimu yang kedinginan itu sungguh menggangguku…”
Sepertinya aku benar, ia sangat kedinginan. Buktinya ia tidak melawanku, walaupun aku sudah siap dengan peluru kata-kata yang akan dikeluarkan oleh mulut bazooka itu. Sungguh disayangkan bibir mungil dan tipis itu harus dihiasi dengan pisau-pisau yang siap melayang kapan saja.
“Ekspresi sedih tidak cocok untuk diletakkan di wajahmu”, sahutku tiba-tiba.
 “Huh?”, ia menatapku tajam, membuatku terpaku beberapa saat. Sorot matanya terasa mencekam, aku berpikir sedalam apa gelapnya kesedihan yang ia alami sampai-sampai matanya pun terasa ingin membunuhku.
 “Ya, ekspresi sedih tidak cocok bersarang di wajahmu. Bukankah kau orang yang selalu mengangkat dagumu ketika berjalan dan kau tidak memiliki ekspresi selain cibiranmu yang terkenal suka merendahkan orang itu?”
 “Kau ini, bercerminlah akan dirimu sendiri. Memang siapa dirimu beraninya berkomentar seperti itu tentangku? Dasar bodyguard rendahan!”
 “Kau ini benar-benar seperti mawar berduri. Sangat disayangkan, padahal kau nona besar dari seorang bangsawan, kehidupanmu elegan, wajahmu pun sebenarnya…manis, tapi mulutmu itu yang benar-benar tidak bisa ditoleransi. Kau pikir, adakah lelaki yang ingin mendekatimu kalau kau tidak merubah kebiasaanmu?”
Dia menatapku, tapi kali ini bukan tatapan tajam seperti yang ia perlihatkan beberapa menit lalu. Ekspresinya menjadi lebih lembut, tapi tetap saja, ada telaga kesendirian yang disembunyikannya dalam tatapan itu. Karena tatapan itulah, aku bertahan berdiri disini.
 “Bukankah orang bilang bahwa daripada mengeluh sebatang mawar bertangkai penuh duri, lebih baik bergembira bahwa tangkai berduri itu berbunga mawar?”, ia tersenyum merendahkanku. Lucu sekali, apa ia sedang memuji dirinya sendiri?
 “Makanya jarang ada orang yang berani untuk memetik mawar karena takut akan durinya walaupun sebenarnya mawar itu cantik bukan?”
Ia menghela nafas dan tersenyum getir. Ada apa ini? Sebegitu menusuknya kah kata-kataku untuknya? Benar saja aku tidak menyukainya, tapi begitu aku berpikir bahwa mungkin saja aku telah melukainya tetap membuatku merasa tidak nyaman.
Ia menyandarkan punggungnya ke tiang pagar kapal. Menonggakan dagunya dan melihat ke atas, tetapi kali ini bukan tonggakan seperti yang ia lakukan ketika menghinaku, ia hanya menonggak sedikit untuk melihat langit, langit yang penuh dengan bintang. Walaupun aku sangat menyukai bintang, entah kenapa mataku lebih memilih untuk menjenaki wajah wanita ini dibandingkan menikmati lautan bintangku. Apakah karena namanya juga ‘hoshi’? Sehingga membuatku merasa cukup bersyukur walau hanya mengamati setiap jengkal dari wajahnya? Ada apa denganku? Mengapa sejak detik ia memperlihatkan senyuman getirnya membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya? Mungkinkah aku hanya terlalu penasaran dengan apa yang tersembunyi dibalik senyuman itu?
 “Hey…kau…”, ia memanggilku tiba-tiba, dengan tatapan yang masih melekat pada langit.
 “Namaku Inoo Kei”, sahutku. Aku tidak perlu berbohong tentang namaku karena tidak ada yang tahu namaku sebelumnya. Aku juga merasa bahwa…aku bisa mempercayai wanita ini. Walaupun ada satu bagian dalam diriku yang ketakutan apabila Yabu mengetahui bahwa aku memberi tahu identitasku, walaupun hanya namaku.
 “Aku tidak bertanya namamu, aku hanya ingin bertanya sesuatu…”
 “Tidak ada yang salah dengan memperkenalkan namaku bukan?”, aku menghela nafas. Sungguh wanita ini benar-benar aneh.
Ia memalingkan wajahnya dan berhenti menatap langit.
 “Kau pikir aku ingin tahu namamu dan memanggilmu dengan namamu?”, tanyanya
 “Kau pikir aku ingin kau panggil dengan namaku?”
“Lantas mengapa kau sebutkan namamu yang bahkan orang tak penting dalam hidupku?”
“Seperti yang sudah kukatakan memangnya ada yang salah kalau aku menyebutkan namaku?”
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”
“Kau juga tidak menjawabku?”
CUKUP!! Lama-lama aku bisa gila apabila kami terus bertengkar seperti ini. Apakah aku ingin bertukar pertanyaan dengannya tanpa sebuah jawaban seumur hidupku? Tentu saja tidak!
Ia kembali menatap langit. Aku menyandarkan punggungku di pagar besi kapal, disampingnya. Aku tahu, mungkin aku hanya membuang waktuku apabila tetap berada di dekatnya. Bukankah tujuan awalku adalah melihat bintang? Mengapa aku lupa akan keinginanku semula dan memilih untuk bersama wanita angkuh ini? Adakah penjelasan atas itu?
 “Hey…Inoo…apa kau…pernah jatuh cinta?”
Mataku terbelalak akan pertanyaan tiba-tiba itu? Mengapa? Mengapa tiba-tiba bertanya masalah cinta?
 “Aku…menghabiskan seluruh waktuku untuk belajar. Begitu kusadari aku sudah bekerja pada Toru, atasanku. Bekerja dengannya menyenangkan dan aku bahagia, ketika kau bertanya seperti itu, aku berpikir…ternyata aku telah melupakan waktuku untuk hal-hal seperti itu…”, aku tertawa kecil dan menatapnya dari samping.
Ia menghembuskan nafasnya dan terlihat asap putih keluar dari helaan itu, dia benar-benar kedinginan. Aku membetulkan posisi jaketku yang bersandar di punggungnya, kututup kancing jaketku sehingga bagian depan tubuhnya tertutup. Ia tidak melawan, dan itu melegakanku. Aku tahu ia bukan bayi, ia bisa menutup kancingnya sendiri, tapi aku hanya tidak ingin melihatnya seperti ini. Kedinginan dan kesepian, terdengar mengerikan bukan?
 “Tapi kau masih bisa merasakannya kelak kan? Jatuh cinta dan kemudian menikah dengan orang yang kau cintai, adakah yang lebih menyenangkan daripada itu?”, ia bertanya pelan. Aneh, tidak seperti biasanya. Ia yang kutahu memiliki mulut kasar dan suara yang lantang dalam menghina orang lain, tiba-tiba terlihat sangat menyedihkan seperti ini.
 “Memangnya kenapa bertanya begitu? Apa kau sedang jatuh cinta dan orang itu tidak mencintaimu karena mulutmu benar-benar mengerikan?”, aku bertanya setengah bercanda.
 “Hey!”, ia memukul bahuku pelan.
Deg!
Apa ini? Aku tidak biasa disentuh wanita. Ketika ia memukulku pelan, menyentuhkan sedikit bagian tangannya di bahuku, kenapa tiba-tiba telingaku menangkap bunyi berisik? Apa itu? Suara laut? Tidak, laut tidak seberisik itu. Suara itu datang dari dalam diriku.
 “Lantas kenapa?”, tanyaku kembali.
 “Aku iri padamu. Pada orang-orang sepertimu, yang memiliki kesempatan jatuh cinta.”
“Kau mengindikasikan bahwa kau tidak akan mungkin jatuh cinta”, aku tertawa pelan, wanita ini benar-benar terlihat bodoh. Bukankah jatuh cinta itu hak semua orang, lantas mengapa ia seperti sedang mengasihani dirinya sendiri?
“Untuk apa aku jatuh cinta kalau akhirnya siapa yang menjadi pasanganku ditentukan orang tuaku? Buang-buang waktu saja bukan? Untuk apa aku jatuh cinta padahal aku tahu aku tidak mungkin bisa berakhir dengannya? Yah, pasangan hidupku sudah ditentukan. Aku tidak sepertimu, orang dari keluarga biasa yang bisa menikmati kewajaran hidup. Kau tahu, perjalanan menuju New York ini adalah perjalanan dalam rangka mempertemukanku dengan calon suamiku…”, ia tertawa kecil.

Hentikan…
Telingaku tidak tahan mendengarnya…
Hentikan…
Aku tidak ingin melihatmu tertawa dipaksakan seperti itu…

“Jangan tertawa…”, kutatap matanya dengan serius. Darimana aku mendapatkan keberanian seperti ini? Tapi jujur, aku tidak suka dengan orang-orang yang pura-pura tegar padahal ia menderita.
 “Eh?”, sorot matanya menyiratkan bahwa ia kebingungan dengan kata-kataku. Benar, aku pun kebingungan dengan kata-kataku sendiri. Maksudku, beberapa jam, beberapa menit yang lalu aku masih sangat tidak menyukainya. Tapi mengapa sekarang aku mulai menaruh perhatian padanya? Apa hanya karena aku orang yang terlalu baik dan tidak bisa membiarkan orang lain bersedih? Sepertinya bukan itu…
 “Jangan pura-pura tertawa seperti itu. Beritahu orang tuamu kalau kau tidak ingin ditunangkan, beranikan dirimu”, aku berusaha menyemangatinya. Tapi tentu saja, kurasa itu bukan hal yang mudah mengingat kejadian antara ia dan ayahnya beberapa waktu lalu.
 “Lebih baik aku terlihat bahagia seperti ini. Untuk apa aku menjelaskan mengapa aku bersedih pada mereka yang bahkan tak berusaha untuk mengerti?”
Ia tersenyum lagi.
Detik itu, kurasa aku mulai sedikit mengerti tentang kesepian yang dikuburnya sedari tadi, tentang alasan dibalik senyum getirnya yang menyimpan sejuta kesedihan, tentang alasan dibalik tatapan kosongnya ketika memandang horizon langit dan laut, tentangnya.
Rapuh, wanita ini sangat rapuh, tapi masih tetap memaksakan diri untuk berdiri. Hentikan…hentikan senyumanmu itu. Kembalikan ekspresi kasarmu, tunjukkan keangkuhanmu karena itu adalah kebanggaanmu.
Bodoh, aku memang bodoh. Sejak kapan aku mulai berpikir bahwa ternyata ekspresi angkuhnya adalah ekspresi yang kurindukan untuk menghiasi wajahnya? Bagaimana mungkin kekasarannya adalah hal terutama yang ingin kulihat saat ini? Tetapi, jika memang aku dihadapkan pada dua pilihan antara wajah angkuhmu dengan wajahmu yang…sekarang, tak diragukan aku akan memilih pilihan pertama. Tidak bisa…aku tidak bisa melihatmu bersedih seperti ini.
Hey?! Kenapa masih saja kau jaga senyuman itu di bibirmu?!
Sudah kukatakan bukan, jangan tersenyum seperti itu! Apa kau tahu bahwa dengan senyumanmu itu aku telah meruntuhkan tembok pertahanan diriku dalam waktu sepersekian detik? Terima risiko dari perbuatanmu sendiri, kau tidak mendengarkan peringatanku!
Kukunci dirinya…dalam pelukanku.
 “Jangan bersedih, sudah kukatakan itu tidak cocok untukmu bukan? Jangan bersedih, masih banyak pintu kebahagiaan menantimu. Atau apabila kau memang tidak bisa mengindahkan kesedihanmu, jangan bersedih sendirian, ada aku…disampingmu”
Kupeluk ia, erat. Kuelus tiap helai rambutnya yang lembut. Samar-samar tercium aroma parfumnya yang membuatku kecanduan layaknya ekstasi.
Dimana logikaku?
Bukankah seluruh bagian dalam otakku tidak memberikan perlawanan ketika kunyatakan bahwa aku tidak menyukainya?
Tapi mengapa aku memeluknya seperti ini? Mengapa aku tidak bisa menahan diri ketika melihatnya lemah seperti ini? Dimana Hoshino Hikari yang sombong dan terkesan kuat itu?
Tetapi, seperti yang telah kupelajari dalam Fisika, tidak ada dua hal dengan massa yang sama kuat dapat bekerja secara berkesinambungan dalam waktu yang sama pula. Logika dan…perasaan. Ya, dua hal itu sama kuatnya bukan? Sehingga semua dari kita pasti tidak akan pernah bisa menjalankan keduanya secara berkesinambungan, harus ada yang mengalah dari salah satu pilihan itu. Mungkin sekarang, logikaku lah yang mengalah terhadap perasaanku, walaupun hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Atau mungkin lebih tepatnya…….aku sengaja mengalahkan logikaku.
---to be continued---


No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)