Pages

TRUTH part 7


                                           

Title                             : Truth
Categories                   : Multichapter
Genre                          : Romance, fantacy
Rating                         : NC-21. If you don’t like. Just don’t read.  I warn you
Theme song                 : understand - Yui
Cast                             : Inoo Kei
                                     Yabu Kota
                                     Takaki Yuya
                                     Hikaru Yaotome
                                     Arioka Daiki
Disclaimer                   : all cast is not mine, the story is mine
Synopsis                      :
            Mereka hidup seperti oranglain. Makan nasi dan lauknya, minum air, sekolah, belajar, berkencan, bahkan melakukan seks seperti yang lain.namun ada satu yang membedakan mereka dari makhluk di sekitarnya. Mereka haus akan darah manusia. Namun mereka, sampai saat ini, masih menahan diri untuk tidak mengurangi populasi manusia yang semakin padat di muka bumi ini. ya, mereka adalah para vampire. Yang saat ini keberadaannya masih sangat dirahasiakan oleh beberapa manusia lain, dan hidup berbaur dengan para manusia.

***********************************************************************************
            Kenapa? kenapa jadi serumit ini? Daiki yang mondar-mandir di kamarnya terus bergumam dalam hati . ia tak menyangkan bahwa semua ini terjadi . memikirkan apa yang baru saja ia lihat barusan


………….. flash back ……………..
           

“minumlah … minumlah yang banyak … jika itu dapat membuatmu nyaman..” inoo memeluk yabu yang sedang kehausan. Yabu terus menerus menghisap darah inoo mengikuti hawa nafsunya. Seolah binatang yang sedang kelaparan. Inoo merasa kesakitan dan menggenggam erat bahu yabu. Daiki yang melihat hal itu hanya terdiam. Takut jika inoo mati karena ulah yabu. yabu bangkit dan mencium bibir inoo. Inoo membalas ciumannya.
“bagaimana? Sudah lebih baik?” inoo bertanya dengan lembut sambil tersenyum.
“un, arigato. Darah seorang imun memang tak dapat diragukan” yabu menjawab sambil menyandarkan kepalanya di dada inoo. Mendengar detak jantungnya yang semakin cepat.yabu membuka selimut yang masih dipakai inoo dan inoo belum berpakaian sama sekali.
“kau pasti lelah karena melayani nii-chan semalam” yabu hendak bangkit.
“tidak!! Aku sama sekali tidak lelah” inoo menarik kembali tangan yabu. yabu mencium bibirnya lagi. Membaringkan inoo di tempat tidur.
“aku akan menunjukanmu apa yang telah kupelajari semalam” inoo mengambil tangan yabu. membimbing tangannya ke bagian bawah perut. Yabu tersenyum
Daiki yang mengintip dari balik pintu sangat terkejut. Inoo ternyata tidak mati begitu yabu menghisap darahnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Yang jelas, saat itu daiki marah sekaligus bingung. Ia marah karena inoo berani mengkhianati yuya yang daiki telah relakan tepatnya terpaksa relakan untuknya. Tetapi, jika ia mengadu pada yuya, akan ada banyak orang yang tersakiti. Daiki tertunduk bingung dan meninggalkan kamar inoo. Membiarkan yabu dan inoo menikmati adegan percintaan mereka.
………………………….. back to story ……………………..
Daiki masih mondar-mandir tidak jelas. Menopang dagunya sambil berfikir. Ia kacau sekali.
“ne, daiki. Pasti kau memikirkan yang tadi kan?” hikaru tiba-tiba muncul di depan daiki.
“hikaru?!!” daiki terkejut. “apa maksudmu?” ia pura-pura bodoh
“jangan mengelak, aku tadi menguntitmu saat kota-sama pergi ke kemar inoo dan melihatmu sedang mengintip meeka.”
“jadi… kau sudah tahu tentang hal ini? sejak kapan?”
“sejak kemarin. Saat yuya-sama membawa inoo kemari. Kota-sama menceritakannya padaku. Bahwa inoo adalah juga imunnya. Dan kota-sama haus akan darahnya” hikaru berbicara dengan suara pelan.
“apa kau merelakannya?” daiki ragu
“entahlah, kalau boleh jujur. Aku marah sekaligus iri pada inoo. Dia bisa mendapatkan semuanya. Aku juga tak rela kota-sama jatuh ke pelukannya. Tetapi, kota-sama memang sangat membutuhkan darahnya.”
“setidaknya kota-sama masih bisa kau milikki” daiki tertunduk
“ah, dai-chan. Jangan lesu begitu. Bukankah yuya-sama sangat baik padamu?”
“ya, demoo … aku tak bisa memiliki hatinya”
Mereka berdua hening. Memikirkan orang yang mereka cintai masing-masing. Takut dan khawatir.
………………………………………………

Inoo terbangun sekali lagi. Ia bangun di samping yabu yang sedang tertidur lelap. Memekarkan senyumnya kemudian mencium kening yabu. yabu terbangun.
“konnichiwa” inoo menyambut yabu yang membuka matanya”
“un, konnichiwa”
“daijobu ka? Nanti hikaru mencarimu.”
“tidak, dia tak akan mencariku. Sebab dia tau aku disini denganmu.”
“eh??? Tapi.. tapi ..”
“ya, aku sudah menceritakan semuanya padanya. soal kau adalah juga imunku.”
“lalu bagaimana reaksinya?”
“dia pelayanku, dan tak akan pernah bisa melarangku untuk tidur dengan siapa saja”
“tapi dia kekasihmu. Dan kalian saling mencintai”
“jadi kau tak mau melakukan ini lagi?” yabu beranjak dari ranjang
“bukan begitu” inoo menarik tangan yabu. “hanya saja, aku tak enak dengannya”
“hahaha, kau terlalu memikirkan banyak hal inoo. Dengar, yang harus kau pikirkan adalah dirimu”
“apa maksudmu?”
“kau adalah imun dari pewaris tahta. Ya, imunku dan imun niichan. Sudah pasti banyak vampire lain yang mengincarmu. Menginginkan posisi kami runtuh. Karena itu yuya mengurungmu disini dan hanya memperbolehkanmu keluar dengan daiki kan?”
“sou ka”
“mandi dan pakailah bajumu. Oh ya tadi niichan berpesan padaku untuk menyuruh daiki mengawalmu berbelanja beberapa keperluanmu. Ambillah ini.” yabu mengambil kartu ATM yang ada di dompetnya. “pakailah berapapun yang kau butuhkan. Pin nya tanggal ulangtahunku.”
“yabu, maukah kau menemaniku pergi?” inoo menginginkan lebih lama lagi bersama yabu.
“tidak bisa. Aku tak mau tiba-tiba terpergok dengan kakakku. Pergilah bersama daichan”
“baiklah, jika itu maumu” inoo bangun pergi ke kamar mandi.
Yabu terdiam, masih menikmati sisa-sisa darah inoo yang ada di pinggir mulutnya. Matanya tertuju pada pintu kamar inoo.
“hikaru, masuklah. Kau tak perlu diam-diam mencui dengar seperti itu.” yabu berkata dengan agak keras, sadar bahwa hikaru ada di balik pintu kamar inoo.
            Hikaru masuk dengan diam.
“kemarilah,” yabu tersenyum dan memberi kode pada hikaru untuk duduk di sampingnya. Yabu tersenyum dan mengusap-usap kepala hikaru. Dia memeluk hikaru dari samping. Mengecup kening hikaru dan berkata “tak ada yang perlu kau khawatirkan.” Kemudian berbisik pelan di telinga hikaru. “aku masih mencintaimu”. Yabu mencium bibir hikaru, tubuh hikaru gemetar, menahan semua gejolak yang ada di hatinya.
Inoo keluar dari kamar mandi dan terdiam melihat hikaru sedang ada di pelukan yabu. hikaru hendak keluar namun yabu menarik tangannya. “daijobu, inoo ingin keluar untuk belanja keperluannya. Bolehkan ku pinjam kamarmu inoo”
“terserah” inoo menjawab dengan sinis, terbakar api cemburu dan kemudian segera keluar kamar sambil mengepalkan kedua tangannya. yabu hanya tertawa kecil.
“kota-sama. Kau … apakah kau menyukainya?” hikaru khawatir
“sudah kubilang ribuan kali, aku tak berniat untuk menjadikannya milikku. Aku hanya memanfaatkan darahnya dan rasa sukanya padaku” yabu menjawab semua kegelisahan hikaru. Perlahan ia mencium bagian belakang telinga hikaru. meniup telinganya hingga sedikit angin tertiup padanya. tubuh hikaru lagi-lagi gemetar. Tahu hikaru bereaksi, yabu segera mencium lehernya. Menghisap bagian-bagian kecil kulit leher hikaru, membuat tanda kemerahan. “ahh… kota-sama” yabu bergegas mengambil posisi. Ia duduk di atas hikaru yang berbaring. Yabu yang masih tak berpakaian sehabis bercinta dengan inoo tadi langsung menyodorkan penisnya. Memasukkannya ke dalam mulut hikaru. Mendorong dan menarikkan penisnya ke dalam mulut hikaru dan menggesek-gesekkan dengan lidahnya.
“ahhh terus … ayo hikaru..”
Hikaru menjilati bagian pangkal kemaluan yabu. membuat yabu mengenggam erat tiang tempat tidur inoo yang terbuat dari besi dan emas. Yabu menggoyangkan pinggulnya membantu kecepatan hikaru. Ia berkeringat. Kedua tangan yabu menyelinap ke dalam kaos hikaru dan  memilin kedua putting hikaru, meraba-raba dada datar hikaru. Dia semakin melayang dan kemudian sperma yabu keluar dalam hitungan menit. Hikaru menyapunya dengan lidahnya sendiri. Yabu tersenyum sinis. Dibangunkannya hikaru hingga posisi berdiri. Dilepaskannya semua pakaian hikaru hingga tak ada sehelai benangpun. Yabu memojokkan hikaru ke tembok dan membalikkan tubuh hikaru sehingga wajahnya menghadap tembok
“yak, siap-siap ya hika-chan” yabu mengangkat penisnya, membasahi ujung kemaluannya dengan sedikit cairan yang keluar. “ah… kota-sama..” dalam sekejap penis yabu masuk ke dalam lubang belakang hikaru. Hanya sepertiga dari panjang penis yabu, lubang hikaru masih sangat sempit meskipun sering melakukannya dengan yabu. kemudian yabu mengeluarkannya lagi. Mendorong dan memasukkannya lagi dengan tenaga yang lebih sedikit dari tadi. “ah… kota-sama … ittee..” yabu tak memperdulikannya. Sekali lagi ia mendorong paksa penisnya dan akhirnya semua bagian penis yabu masuk ke dalamnya. Yabu diam tak mengeluarkan penisnya. Menunggu hikaru bereaksi. Melepaskan rasa sakitnya. Dia mencumbu lagi leher hikaru dari belakang.
“shhhhh… ahhh… terus kota-sama … akkk… uuu” yabu tersenyum. Cumbuannya semakin hebat di bagian belakang leher hikaru. Kini ia megeluarkan penisnya, memasukkannya kembali, dan mengeluarkannya lagi dengan kecepatan pelan.
“sudah tidak sakit hika-chan??”
“un” hikaru mengangguk dan memejamkan matanya. Ia menundukkan hikaru sehingga posisinya seperti anak bayi yang sedang merangkak dengan penis yabu masih di dalam lubang belakangnya. Yabu menggerakkan pinggulnya. Mengeluar-masukkan penisnya dengan perlahan. Kedua tangannya memainkan testis milik hikaru seakan itu adalah bola bekel. Hikaru tersentak keenakan.
“ahh.. ahh.. ahhhhh lebih cepat kota-sama”
Yabu mempercepat tunggangannya pada hikaru hingga keringatnya bercucuran. Dan beberapa puluh menit kemudian hikaru merasakan sesuatu yang hangat di dalam tubuhnya. Sperma yabu keluar sangat banyak di dalam tubuhnya. Hikaru jatuh ke tempat tidur karena kelelahan. Ia membalikkan badannya. Menatap mata hikaru dan mencium bibirnya.
“aishiteru “ katanya pada yabu dan kemudian memeluknya.
Pelukan yabu turun . ia mencium dada hikaru kemudian menggigit putting hikaru dan mengulum-ngulumnya. Hikaru terangsang lagi dan penisnya tegang kembali. Ciuman yabu turun ke perut hikaru, mencari batang kemaluan pacarnya itu dan akhirnya bertemu. Yabu memasukkan penis hikaru ke mulutnya, mengisapnya seperti eskrim batangan,. Menjilati ujungnya. Dan kemudian mengocoknya dengan kecepatan tinggi membuat hikaru menggenggam erat bantal yang ditidurinya. Matanya terpejam dan tubuhnya sedikit kaya.
“kota-sama … akkuuhhggh.. inginn…” semua sperma hikaru keluar membanjiri tanga yabu. yabu tersenyum dan memberikan tangan yang dibasahin sperma hikaru ke mulutnya. Menyuruh hikaru menjilatinya sendiri. Yabu tersenyum, mengangkat dagu hikaru yang sedang asik menjilati tanga yabu dan mencium bibirnya.
“teruslah jadi anak baik, hikaru…”
…………………………………………………………..
Inoo berjalan kaki di pinggir jalan kota Tokyo dengan riang diiringin daiki yang mengikutinya dari belakang. Sepanjang jalan inoo hanya tersenyum tanpa sebab. Memikirkan kejadian tadi pagi saat yabu mampir ke kamarnya.
“doushite dai-chan? Daritadi kau terlihat lesu sekali” inoo bertanya melihat daiki yang sepanjang jalan hanya terdiam.
“nande monai inoo-sama”
“inoo-sama?? Hahahha. Hei, kita ini teman. Kau tak perlu memanggilku dengan sebuta –sama. Jangan perlakukan aku seperti kau memperlakukan takaki.” Inoo berkata sambil tersenyum.
“mengapa kau ingin berjalan kaki? Padahal aku bisa mengantarmu dengan mobil.” Daiki mengalihkan pembicaraan.
“aku… ingin melewati suatu tempat”
Mereka berjalan. Melewati satu gang kecil di pinggir jalan. Sebuah bola yang ditendang terbang dan menyangkut di pohon.
“ah, sumimasen. Apa kau bisa mengambilkannya untukku?” seorang anak perempuan kecil menghampiri inoo. “aku tidak sengaja menendangnya terlalu keras.” kata anak perempuan itu. daiki kaget, ia sangat familiar dengan rupa itu. dan itu adalah adik kecil inoo yang sudah dia hapus ingatannya tentang inoo.
Inoo mengambil bola itu, memberikannya pada adiknya yang sudah melupakannya. “dozo” inoo tersenyum.
“ah, arigato. Siapa namamu?”
“inoo kei.” Katanya sambil tersenyum lagi.
“waaahh nama keluargamu sama sepertiku. Aku inoo ruka” kata anak kecil itu menyalami inoo.
“nah, ruka-chan. Apa kau mau menemaniku makan es krim di taman?”
“eh? Tapi ibu berpesan aku tak boleh pergi jauh-jauh dengan orang asing.” Mendengar kata-kata itu ino terdiam.
“inoo, sebaiknya kita cepat pergi” daiki mulai khawatir.
“yasudah, kalau begitu kita beli es serut di warung itu saja” inoo menunjuk sebuah warung di pojok gang. Langganan ia dulu, setiap pulang sekolah di hari sabtu pasti inoo mengajak adiknya kesitu.
“eh, boleh saja asal tidak jauh dari rumah. Kakak itu.. temanmu juga?” dia menunjuk daiki.
“ya, dia sahabatku” inoo tersenyum. Daiki kaget mendengar kata itu keluar dari mulut inoo.
“ikou, ruka, daiki” inoo berjalan duluan menggandeng ruka. Bernostalgia tentang kehidupannya yang hangat yang masih bisa ia rasakan beberapa hari yang lalu dan sekarang telah sirna. Genggaman tangan adiknya membawa kembali kerinduannya pada keluarga inoo. Keluarga kecil sederhana yang selalu hidup bahagia karena sebuah cinta. Inoo emnyantap es serutnya dengan senyum sepanjang ia mengobrol dengan adiknya yang telah lupa bahwa ia adalah kakaknya. Idaiki bisa merasakan kesedihan yang inoo rasakan di balik senyumnya itu.
“ruka-chan..” seorang wanita datang menghampiri mereka. “darimana saja kau? Ibu mencarimu kemana-mana”
“ah ibu. Aku tadi bermain bola dan bolaku tersangkut. Lalu kakak ini membantuku mengambilnya kemudian mentraktirku makan es serut. Dia baik sekali”
Inoo terdiam, memandangi ibunya. Jantungnya semakin berdetak kencang berharap ibunya mengenali dirinya.
“ah sumimasen. Anakku telah merepotkanmu. Ruka memang sedikit nakal. Anoo, nama anda?”
Harapan inoo hilang. Ternyata ibunya memang sudah tak mengenalinya lagi.ia mengepalkan tangannya, menahan tangis dan rasa sakit di hatinya. “aku inoo kei” katanya
“ah, nama keluargamu sama dengan kami. Kau tinggal di dekat sini?”
“tidak, aku tinggal di kota sebelah” katanya berbohong.
“ruka-chan. Ayo kau harus pulang dan mengerjakan PR mu. Inoo-san. Terimakasih banyak karena sudah menjaga ruka. Kami permisi” ibu itu membungkuk dan kemudian pergi.
“percuma, sihir kami untuk mengunci ingatan mereka sangat kuat, mereka tak akan mengingatmu kembali hanya dengan muncul di hadapan mereka” daiki berkata dengan santai.
“sudahlah. Ayo pergi daiki.” Inoo berjalan tak meghiraukan daiki. Mereka sampai ke sebuah mall terbesar di toko. Inoo jarang berbelanja di mall besar seperti itu. dia mengambil apa saja yang ia lihat untuk mengalihkan rasa sedihnya tadi. Ia melihat sebuah gelang berwarna merah, warna kesukaan yabu dan kemudian ia beli. Daiki segera tahu itu untuk yabu.
“untuk yuya-sama?”
“ah, tidak. Ini untukku” katanya berbohong.
“sebaiknya kau beli satu untuk yuya-sama. Ia suka warna cokelat. Kalau kau bisa menyenangkannya. Mungkin ingatan keluargamu akan dipulihkan”
“ah!! Benar juga ya.” Inoo segera ke kasir dan membayar yang berwarna cokelat. Daiki menelpon supir di rumah untuk segera menjemput mereka dengan mobil.
“aku sudah menelpon supir untuk menjemput kita. Dia menunggu kita di basement”
“baiklah”
Mereka berjalan turun dengan lift dengan banyak belanjaan.
“daiki” suara seorang wanita memanggil daiki dengan manja.
“kau ….” Daiki kaget dan semua belanjaan di tangannya terjatuh.
To be continued ….

NB: akan muncul tokoh baru disini =p

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)