Categories
:
Multichapter
Genre
: Romance, fantacy
Rating
: NC-21. If you don’t like. Just don’t read. I warn you
Theme song
:
understand - Yui
Cast
: Inoo Kei
Yabu Kota
Takaki Yuya
Hikaru Yaotome
Arioka Daiki
Disclaimer
:
all cast is not mine, the story is mine
Synopsis :
Mereka hidup seperti oranglain. Makan nasi dan lauknya,
minum air, sekolah, belajar, berkencan, bahkan melakukan seks seperti yang
lain.namun ada satu yang membedakan mereka dari makhluk di sekitarnya. Mereka haus akan darah manusia. Namun
mereka, sampai saat ini, masih menahan diri untuk tidak mengurangi populasi
manusia yang semakin padat di muka bumi ini. ya, mereka adalah para vampire.
Yang saat ini keberadaannya masih sangat dirahasiakan oleh beberapa manusia
lain, dan hidup berbaur dengan para manusia.
***********************************************************************************
Kenapa?
kenapa jadi serumit ini? Daiki
yang mondar-mandir di kamarnya terus bergumam dalam hati . ia tak menyangkan
bahwa semua ini terjadi . memikirkan apa yang baru saja ia lihat barusan
………….. flash back ……………..
“minumlah … minumlah yang banyak … jika itu dapat membuatmu nyaman..” inoo memeluk yabu yang sedang kehausan. Yabu terus menerus menghisap darah inoo mengikuti hawa nafsunya. Seolah binatang yang sedang kelaparan. Inoo merasa kesakitan dan menggenggam erat bahu yabu. Daiki yang melihat hal itu hanya terdiam. Takut jika inoo mati karena ulah yabu. yabu bangkit dan mencium bibir inoo. Inoo membalas ciumannya.
“bagaimana?
Sudah lebih baik?” inoo bertanya dengan lembut sambil tersenyum.
“un,
arigato. Darah seorang imun memang tak dapat diragukan” yabu menjawab sambil
menyandarkan kepalanya di dada inoo. Mendengar detak jantungnya yang semakin
cepat.yabu membuka selimut yang masih dipakai inoo dan inoo belum berpakaian
sama sekali.
“kau
pasti lelah karena melayani nii-chan semalam” yabu hendak bangkit.
“tidak!!
Aku sama sekali tidak lelah” inoo menarik kembali tangan yabu. yabu mencium
bibirnya lagi. Membaringkan inoo di tempat tidur.
“aku
akan menunjukanmu apa yang telah kupelajari semalam” inoo mengambil tangan
yabu. membimbing tangannya ke bagian bawah perut. Yabu tersenyum
Daiki
yang mengintip dari balik pintu sangat terkejut. Inoo ternyata tidak mati
begitu yabu menghisap darahnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Yang jelas,
saat itu daiki marah sekaligus bingung. Ia marah karena inoo berani
mengkhianati yuya yang daiki telah relakan tepatnya terpaksa relakan untuknya.
Tetapi, jika ia mengadu pada yuya, akan ada banyak orang yang tersakiti. Daiki
tertunduk bingung dan meninggalkan kamar inoo. Membiarkan yabu dan inoo
menikmati adegan percintaan mereka.
…………………………..
back to story ……………………..
Daiki
masih mondar-mandir tidak jelas. Menopang dagunya sambil berfikir. Ia kacau
sekali.
“ne,
daiki. Pasti kau memikirkan yang tadi kan?” hikaru tiba-tiba muncul di depan
daiki.
“hikaru?!!”
daiki terkejut. “apa maksudmu?” ia pura-pura bodoh
“jangan
mengelak, aku tadi menguntitmu saat kota-sama pergi ke kemar inoo dan melihatmu
sedang mengintip meeka.”
“jadi…
kau sudah tahu tentang hal ini? sejak kapan?”
“sejak
kemarin. Saat yuya-sama membawa inoo kemari. Kota-sama menceritakannya padaku.
Bahwa inoo adalah juga imunnya. Dan kota-sama haus akan darahnya” hikaru
berbicara dengan suara pelan.
“apa
kau merelakannya?” daiki ragu
“entahlah,
kalau boleh jujur. Aku marah sekaligus iri pada inoo. Dia bisa mendapatkan semuanya.
Aku juga tak rela kota-sama jatuh ke pelukannya. Tetapi, kota-sama memang
sangat membutuhkan darahnya.”
“setidaknya
kota-sama masih bisa kau milikki” daiki tertunduk
“ah,
dai-chan. Jangan lesu begitu. Bukankah yuya-sama sangat baik padamu?”
“ya,
demoo … aku tak bisa memiliki hatinya”
Mereka
berdua hening. Memikirkan orang yang mereka cintai masing-masing. Takut dan
khawatir.
………………………………………………
Inoo terbangun sekali lagi. Ia bangun di samping yabu yang sedang tertidur lelap. Memekarkan senyumnya kemudian mencium kening yabu. yabu terbangun.
“konnichiwa”
inoo menyambut yabu yang membuka matanya”
“un,
konnichiwa”
“daijobu
ka? Nanti hikaru mencarimu.”
“tidak,
dia tak akan mencariku. Sebab dia tau aku disini denganmu.”
“eh???
Tapi.. tapi ..”
“ya,
aku sudah menceritakan semuanya padanya. soal kau adalah juga imunku.”
“lalu
bagaimana reaksinya?”
“dia
pelayanku, dan tak akan pernah bisa melarangku untuk tidur dengan siapa saja”
“tapi
dia kekasihmu. Dan kalian saling mencintai”
“jadi
kau tak mau melakukan ini lagi?” yabu beranjak dari ranjang
“bukan
begitu” inoo menarik tangan yabu. “hanya saja, aku tak enak dengannya”
“hahaha,
kau terlalu memikirkan banyak hal inoo. Dengar, yang harus kau pikirkan adalah
dirimu”
“apa
maksudmu?”
“kau
adalah imun dari pewaris tahta. Ya, imunku dan imun niichan. Sudah pasti banyak
vampire lain yang mengincarmu. Menginginkan posisi kami runtuh. Karena itu yuya
mengurungmu disini dan hanya memperbolehkanmu keluar dengan daiki kan?”
“sou
ka”
“mandi
dan pakailah bajumu. Oh ya tadi niichan berpesan padaku untuk menyuruh daiki
mengawalmu berbelanja beberapa keperluanmu. Ambillah ini.” yabu mengambil kartu
ATM yang ada di dompetnya. “pakailah berapapun yang kau butuhkan. Pin nya
tanggal ulangtahunku.”
“yabu,
maukah kau menemaniku pergi?” inoo menginginkan lebih lama lagi bersama yabu.
“tidak
bisa. Aku tak mau tiba-tiba terpergok dengan kakakku. Pergilah bersama daichan”
“baiklah,
jika itu maumu” inoo bangun pergi ke kamar mandi.
Yabu
terdiam, masih menikmati sisa-sisa darah inoo yang ada di pinggir mulutnya. Matanya
tertuju pada pintu kamar inoo.
“hikaru,
masuklah. Kau tak perlu diam-diam mencui dengar seperti itu.” yabu berkata
dengan agak keras, sadar bahwa hikaru ada di balik pintu kamar inoo.
Hikaru masuk dengan diam.
“kemarilah,”
yabu tersenyum dan memberi kode pada hikaru untuk duduk di sampingnya. Yabu tersenyum
dan mengusap-usap kepala hikaru. Dia memeluk hikaru dari samping. Mengecup kening
hikaru dan berkata “tak ada yang perlu kau khawatirkan.” Kemudian berbisik
pelan di telinga hikaru. “aku masih mencintaimu”. Yabu mencium bibir hikaru,
tubuh hikaru gemetar, menahan semua gejolak yang ada di hatinya.
Inoo
keluar dari kamar mandi dan terdiam melihat hikaru sedang ada di pelukan yabu.
hikaru hendak keluar namun yabu menarik tangannya. “daijobu, inoo ingin keluar
untuk belanja keperluannya. Bolehkan ku pinjam kamarmu inoo”
“terserah”
inoo menjawab dengan sinis, terbakar api cemburu dan kemudian segera keluar
kamar sambil mengepalkan kedua tangannya. yabu hanya tertawa kecil.
“kota-sama.
Kau … apakah kau menyukainya?” hikaru khawatir
“sudah
kubilang ribuan kali, aku tak berniat untuk menjadikannya milikku. Aku hanya
memanfaatkan darahnya dan rasa sukanya padaku” yabu menjawab semua kegelisahan
hikaru. Perlahan ia mencium bagian belakang telinga hikaru. meniup telinganya hingga
sedikit angin tertiup padanya. tubuh hikaru lagi-lagi gemetar. Tahu hikaru
bereaksi, yabu segera mencium lehernya. Menghisap bagian-bagian kecil kulit
leher hikaru, membuat tanda kemerahan. “ahh… kota-sama” yabu bergegas mengambil
posisi. Ia duduk di atas hikaru yang berbaring. Yabu yang masih tak berpakaian
sehabis bercinta dengan inoo tadi langsung menyodorkan penisnya. Memasukkannya
ke dalam mulut hikaru. Mendorong dan menarikkan penisnya ke dalam mulut hikaru
dan menggesek-gesekkan dengan lidahnya.
“ahhh
terus … ayo hikaru..”
Hikaru
menjilati bagian pangkal kemaluan yabu. membuat yabu mengenggam erat tiang
tempat tidur inoo yang terbuat dari besi dan emas. Yabu menggoyangkan
pinggulnya membantu kecepatan hikaru. Ia berkeringat. Kedua tangan yabu
menyelinap ke dalam kaos hikaru dan memilin kedua putting hikaru, meraba-raba dada
datar hikaru. Dia semakin melayang dan kemudian sperma yabu keluar dalam
hitungan menit. Hikaru menyapunya dengan lidahnya sendiri. Yabu tersenyum
sinis. Dibangunkannya hikaru hingga posisi berdiri. Dilepaskannya semua pakaian
hikaru hingga tak ada sehelai benangpun. Yabu memojokkan hikaru ke tembok dan
membalikkan tubuh hikaru sehingga wajahnya menghadap tembok
“yak,
siap-siap ya hika-chan” yabu mengangkat penisnya, membasahi ujung kemaluannya
dengan sedikit cairan yang keluar. “ah… kota-sama..” dalam sekejap penis yabu
masuk ke dalam lubang belakang hikaru. Hanya sepertiga dari panjang penis yabu,
lubang hikaru masih sangat sempit meskipun sering melakukannya dengan yabu. kemudian
yabu mengeluarkannya lagi. Mendorong dan memasukkannya lagi dengan tenaga yang
lebih sedikit dari tadi. “ah… kota-sama … ittee..” yabu tak memperdulikannya. Sekali
lagi ia mendorong paksa penisnya dan akhirnya semua bagian penis yabu masuk ke
dalamnya. Yabu diam tak mengeluarkan penisnya. Menunggu hikaru bereaksi. Melepaskan
rasa sakitnya. Dia mencumbu lagi leher hikaru dari belakang.
“shhhhh…
ahhh… terus kota-sama … akkk… uuu” yabu tersenyum. Cumbuannya semakin hebat di
bagian belakang leher hikaru. Kini ia megeluarkan penisnya, memasukkannya
kembali, dan mengeluarkannya lagi dengan kecepatan pelan.
“sudah
tidak sakit hika-chan??”
“un”
hikaru mengangguk dan memejamkan matanya. Ia menundukkan hikaru sehingga
posisinya seperti anak bayi yang sedang merangkak dengan penis yabu masih di
dalam lubang belakangnya. Yabu menggerakkan pinggulnya. Mengeluar-masukkan
penisnya dengan perlahan. Kedua tangannya memainkan testis milik hikaru seakan
itu adalah bola bekel. Hikaru tersentak keenakan.
“ahh..
ahh.. ahhhhh lebih cepat kota-sama”
Yabu
mempercepat tunggangannya pada hikaru
hingga keringatnya bercucuran. Dan beberapa puluh menit kemudian hikaru
merasakan sesuatu yang hangat di dalam tubuhnya. Sperma yabu keluar sangat
banyak di dalam tubuhnya. Hikaru jatuh ke tempat tidur karena kelelahan. Ia membalikkan
badannya. Menatap mata hikaru dan mencium bibirnya.
“aishiteru
“ katanya pada yabu dan kemudian memeluknya.
Pelukan
yabu turun . ia mencium dada hikaru kemudian menggigit putting hikaru dan
mengulum-ngulumnya. Hikaru terangsang lagi dan penisnya tegang kembali. Ciuman yabu
turun ke perut hikaru, mencari batang kemaluan pacarnya itu dan akhirnya
bertemu. Yabu memasukkan penis hikaru ke mulutnya, mengisapnya seperti eskrim
batangan,. Menjilati ujungnya. Dan kemudian mengocoknya dengan kecepatan tinggi
membuat hikaru menggenggam erat bantal yang ditidurinya. Matanya terpejam dan
tubuhnya sedikit kaya.
“kota-sama
… akkuuhhggh.. inginn…” semua sperma hikaru keluar membanjiri tanga yabu. yabu
tersenyum dan memberikan tangan yang dibasahin sperma hikaru ke mulutnya. Menyuruh
hikaru menjilatinya sendiri. Yabu tersenyum, mengangkat dagu hikaru yang sedang
asik menjilati tanga yabu dan mencium bibirnya.
“teruslah
jadi anak baik, hikaru…”
…………………………………………………………..
Inoo
berjalan kaki di pinggir jalan kota Tokyo dengan riang diiringin daiki yang
mengikutinya dari belakang. Sepanjang jalan inoo hanya tersenyum tanpa sebab. Memikirkan
kejadian tadi pagi saat yabu mampir ke
kamarnya.
“doushite
dai-chan? Daritadi kau terlihat lesu sekali” inoo bertanya melihat daiki yang
sepanjang jalan hanya terdiam.
“nande
monai inoo-sama”
“inoo-sama??
Hahahha. Hei, kita ini teman. Kau tak perlu memanggilku dengan sebuta –sama. Jangan perlakukan aku seperti kau
memperlakukan takaki.” Inoo berkata sambil tersenyum.
“mengapa
kau ingin berjalan kaki? Padahal aku bisa mengantarmu dengan mobil.” Daiki mengalihkan
pembicaraan.
“aku…
ingin melewati suatu tempat”
Mereka
berjalan. Melewati satu gang kecil di pinggir jalan. Sebuah bola yang ditendang
terbang dan menyangkut di pohon.
“ah,
sumimasen. Apa kau bisa mengambilkannya untukku?” seorang anak perempuan kecil menghampiri
inoo. “aku tidak sengaja menendangnya terlalu keras.” kata anak perempuan itu.
daiki kaget, ia sangat familiar dengan rupa itu. dan itu adalah adik kecil inoo
yang sudah dia hapus ingatannya tentang inoo.
Inoo
mengambil bola itu, memberikannya pada adiknya yang sudah melupakannya. “dozo”
inoo tersenyum.
“ah,
arigato. Siapa namamu?”
“inoo
kei.” Katanya sambil tersenyum lagi.
“waaahh
nama keluargamu sama sepertiku. Aku inoo ruka” kata anak kecil itu menyalami
inoo.
“nah,
ruka-chan. Apa kau mau menemaniku makan es krim di taman?”
“eh?
Tapi ibu berpesan aku tak boleh pergi jauh-jauh dengan orang asing.” Mendengar kata-kata
itu ino terdiam.
“inoo,
sebaiknya kita cepat pergi” daiki mulai khawatir.
“yasudah,
kalau begitu kita beli es serut di warung itu saja” inoo menunjuk sebuah warung
di pojok gang. Langganan ia dulu, setiap pulang sekolah di hari sabtu pasti
inoo mengajak adiknya kesitu.
“eh,
boleh saja asal tidak jauh dari rumah. Kakak itu.. temanmu juga?” dia menunjuk
daiki.
“ya,
dia sahabatku” inoo tersenyum. Daiki kaget mendengar kata itu keluar dari mulut
inoo.
“ikou,
ruka, daiki” inoo berjalan duluan menggandeng ruka. Bernostalgia tentang
kehidupannya yang hangat yang masih bisa ia rasakan beberapa hari yang lalu dan
sekarang telah sirna. Genggaman tangan adiknya membawa kembali kerinduannya
pada keluarga inoo. Keluarga kecil sederhana yang selalu hidup bahagia karena
sebuah cinta. Inoo emnyantap es serutnya dengan senyum sepanjang ia mengobrol
dengan adiknya yang telah lupa bahwa ia adalah kakaknya. Idaiki bisa merasakan
kesedihan yang inoo rasakan di balik senyumnya itu.
“ruka-chan..”
seorang wanita datang menghampiri mereka. “darimana saja kau? Ibu mencarimu
kemana-mana”
“ah
ibu. Aku tadi bermain bola dan bolaku tersangkut. Lalu kakak ini membantuku
mengambilnya kemudian mentraktirku makan es serut. Dia baik sekali”
Inoo
terdiam, memandangi ibunya. Jantungnya semakin berdetak kencang berharap ibunya
mengenali dirinya.
“ah
sumimasen. Anakku telah merepotkanmu. Ruka memang sedikit nakal. Anoo, nama
anda?”
Harapan
inoo hilang. Ternyata ibunya memang sudah tak mengenalinya lagi.ia mengepalkan
tangannya, menahan tangis dan rasa sakit di hatinya. “aku inoo kei” katanya
“ah,
nama keluargamu sama dengan kami. Kau tinggal di dekat sini?”
“tidak,
aku tinggal di kota sebelah” katanya berbohong.
“ruka-chan.
Ayo kau harus pulang dan mengerjakan PR mu. Inoo-san. Terimakasih banyak karena
sudah menjaga ruka. Kami permisi” ibu itu membungkuk dan kemudian pergi.
“percuma,
sihir kami untuk mengunci ingatan mereka sangat kuat, mereka tak akan
mengingatmu kembali hanya dengan muncul di hadapan mereka” daiki berkata dengan
santai.
“sudahlah.
Ayo pergi daiki.” Inoo berjalan tak meghiraukan daiki. Mereka sampai ke sebuah
mall terbesar di toko. Inoo jarang berbelanja di mall besar seperti itu. dia
mengambil apa saja yang ia lihat untuk mengalihkan rasa sedihnya tadi. Ia melihat
sebuah gelang berwarna merah, warna kesukaan yabu dan kemudian ia beli. Daiki segera
tahu itu untuk yabu.
“untuk
yuya-sama?”
“ah,
tidak. Ini untukku” katanya berbohong.
“sebaiknya
kau beli satu untuk yuya-sama. Ia suka warna cokelat. Kalau kau bisa
menyenangkannya. Mungkin ingatan keluargamu akan dipulihkan”
“ah!!
Benar juga ya.” Inoo segera ke kasir dan membayar yang berwarna cokelat. Daiki menelpon
supir di rumah untuk segera menjemput mereka dengan mobil.
“aku
sudah menelpon supir untuk menjemput kita. Dia menunggu kita di basement”
“baiklah”
Mereka
berjalan turun dengan lift dengan banyak belanjaan.
“daiki”
suara seorang wanita memanggil daiki dengan manja.
“kau
….” Daiki kaget dan semua belanjaan di tangannya terjatuh.
To be continued ….
NB: akan muncul tokoh baru disini
=p


No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)