Tittle
: Blossom
Categories
:
One Shoot
Genre
: romance, angst
Rating
: general
Theme song
: YUI – High Way change
Cast
: Hikaru
Yaotome
Tsubasa Honda
Yamashita Tomohisa a.k.a Yamapi
And some of Hey! Say! Jump member
Author
: kei-ruu
Disclaimer
: semua cast punya Tuhan, bapak dan
emaknya serta punya agency nya masing-masing. Ceritanya punya saya yang
terinspirasi dari salah satu episode dari komik Detective Conan tapi lupa
judulnya. Tapi nggak semua cerita aku ambil, Cuma beberapa bagian aja,
kebanyakan sih cerita dari otak saya *digampar kelamaan intro*
…………………………………………………………………….
Prolog :
Entah
kenapa frasa itu terdengar sangat indah. Satu frasa yang Terdiri dari kata
cinta dan pertama. Dimana saat kau merasakan rasa sayang untuk yang pertama
kalinya, dan pertanda bahwa kau beranjak dewasa. Kau tahu? Aku mempunyai
rahasia. Rahasia yang memang benar-benar sudah aku lupakan. Rahasia yang
tenggelam bersama alunan waktu, yang menuntunku ke suatu kehidupan yang aku
impi-impikan. Dan Sampai saat ini, tanggal 2 desember tahun ini. saat aku
berumur 22 tahun. saat salju-salju turun menutupi aspal-aspal di jalan dan
gemerlap suka cita natal bertebaran di sepanjang belahan dunia,Sebuah ingatan
yang terlalu indah untukku sekaligus penyesalan yang teramat dalam datang
beriringan di natalku yang ke 22 tahun ini…
************************************************
Malam itu. perayaan natalku yang ke-22. Aku merayakannya
bersama ke-5 temanku di rumah karena keluargaku sedang pergi ke kampung. Mereka
adalah yabu, yuya, yamada, yuto dan inoo. Aku tak suka merayakan natal
sendirian. Kalau bukan karena tugas dari universitas yang memaksaku untuk tetap
tinggal di Tokyo, aku tak akan pernah mau merayakan natal tanpa keluargaku.
“ne,
hikaru ayo buka anggurnya.” Yuya yang sedang mempersiapkan red velvetnya untuk
kami.
”un,” aku membuka sebotol anggur dan menuangkannya ke
gelas teman-temanku.
“ah hikaru, malam ini kami menginap ya.”
“terserah kalian saja.”
“ne, minna. Bagaimana jika kita bermain games? Aku akan
putar botol wine ini dan siapa yang ditunjuk botol ini harus menjawab dengan
jujur semua ertanyaan yang dilontarkan. Jika tidak, ia harus kita kelitiki
sampai pagi” Daiki bicara dengan semangat.
“eh?” aku agak tak setuju.
“kau penakut sekali hikaru”
“buka begitu, perasaaanku tak enak”
“baiklah kita mulai ya” inoo memaksa dan memutar botol
itu. dan sialnya botol itu mengarah padaku.
Ting tong suara
bel pintu rumahku terdengar. Sepertinya bukan ayah dan ibuku. Aku berjalan ke
arah pintu dan mengintip dari monitor. Ternyata tukang pos yang membawakan
kartu ucapan natal dari keluargaku di kota sebelah. Aku segera membaca kartu
itu dan menaruhnya di sebuah kotak tempat untuk mengumpulkan kartu ucapan natal
setiap tahun. Mengambil kotak tersebut dan membawanya di depan teman-temanku.
Sebelumnya pekerjaan ini selalu dikerjakan oleh ibuku yang memang sangat rapi
dalam pekerjaan ini. wajar saja laki-laki sepertiku tak suka mengerjakan ini.
“ne,
hikaru. Kau masih suka mengumpulkan kartu-kartu ucapan seperti ini? hahaha”
“bukan
begitu. Ibuku yang menyuruhnya. Jadi aku menurut saja.” Kataku menghindari
ejekan dari mereka.
Yabu
mengambil sebuah kartu lusuh dari kotak itu, membacanya dengan serius.
“eh
hikaru, apa ini?”
“ah
itu, itu kartu ucapan natal dari temanku waktu SMP.”
“kenapa
masih disimpan? Jangan-jangan ….. dia pacarmu ya???” Yabu menebak dengan heboh
“bukan.
Dia temanku. Namanya Tsubasa Honda, adik kelasku. Kami tidak sengaja berkenalan
waktu sedang berangkat ke sekolah.”
“ne
hikaru, ayo ceritakan tentang dia” yuya mendekatiku dan berkata dengan
semangat.
“uhmm.
Aku… sedikit lupa tentangnya. Bahkan surat itu saja aku lupa dan baru ingat
kalau kuletakkan di situ.” Jawabku ragu
“ayolah
hikaru. Ceritakan. Kau kan yang ditunjuk oleh botol tadi. Jadi kau harus
menceritakannya” daiki mengingatkan kami tentang permainan yang tadi. Aku
menepuk dahiku.
“baiklah…
apa boleh buat” aku duduk memeluk bantal sambil memulai ceritaku.
*************************************
Daun daun berjatuhan ke daratan
kotaku saat itu. saat akhir musim gugur dimana orang-orang sibuk mempersiapkan
diri untuk menghadapi musim dingin. Begitupun denganku yang sudah sangat
bersemangat menghadapi libur musim dingin tahun ini. aku berlari menuju sekolah
untuk minggu terakhir masuk musim ini. aku melihat seorang yang lebih muda
dariku sedang menangis sendirian. Rupanya dia takut dengan seekor anjing yang
berada di balik pagar rumah besar di dekat sekolah kami. Aku menghampirinya dan
memandanginya dari atas ke bawah. Gadis jepang berambut pendek yang memakai
topi sampai ke bagian alis matanya. Dia menarik tanganku.
“tolong, aku takut. Tolong antarkan
aku sampai ke depan.” Dia menangis di bahuku. Mengumpat dari pandangan anjing
besar itu.
“eh? Kau mau kemana?”
“aku mau ke sekolah. SMP futari”
“ah kita satu arah. Ayo jalan bersama-sama”
“un” dia menggandeng tanganku
dengan erat. Rupanya dia pernah digigit oleh anjing sampai akhirnya dia trauma.
“uhmm, kau pasti bukan angkatanku
sebab aku tak mengenalmu. Kau siapa?” aku berinisiatif duluan bertanya pada
gadis in.
“anoo, aku dari kelas 1F tsubasa
Honda. Kau?”
“aku hikaru yaotome, dari kelas 2B”
Sadar bahwa dia masih menggandeng
tanganku. Gadis ini melepas tangannya dengan cepat. Wajahnya memerah. “terimakasih
yaotome-san” dia membungkuk padaku begitu kami sampai di depan gerbang sekolah.
“oy, tsubasa.” Seorang laki-laki
menghampirinya.
“ah, yamashita sempai”
Laki-laki itu menghampiri kami
kemudian tersenyum pada gadis ini. “oh, hikaru. Ohayoo” dia adalah teman
sekelasku. Yamashita Tomohisa. Aku cukup akrab dengannya karena dia duduk di
depanku.
“ah ohayoo yamashita-kun.”
“sempai, kau kenal dia?” Tanya tsubasa
pada temanku itu.
“un, dia teman sekelasku. Kalian juda
sudah saling kenal?”
“tidak, kami baru berkenalan hari
ini. dia telah menolongku menemani saat lewat rumah yang ada anjing besar itu.”
tsubasa menjelaskan.
“ah sou ka. Hikaru. Arigatoo”
“anoo, sempai. Aku permisi dulu
karena sensei akan datang lebih awal”
“ah ya, sampai jumpa Honda”
“un” gadis itu berjalan perlahan ke
dalam gedung sekolah. Aku melihatnya, agak aneh bagiku melihat seorang gadis
sekolah yang memakai topi sampai seperti itu.
“dia pacarmu yamashita-kun?”
“ah, bukan. Dia tetanggaku yang
baru. Aku juga baru berkenalan dengannya akhir-akhir ini. dia lumayan cantik
kan?”
“eh, kau ini. genit sekali”
“hahaha ikou hikaru.”
“un”
Saat pelajaran kelas sehabis
istirahat aku memutuskan untuk membolos kelas dan pergi kea tap karena aku
belum mengerjakan PR dari senpai. Segan dengan semua ocehan dan celotehan para
pembimbing konseling, aku tidur di sana. Wajahku menatap langit dan perutku
keruyukan lapar karena belum diisi saat istirahat tadi. Namu kantin sudah tutup
saat jam pulang mendekati.tiba-tiba mucul siluet seseorang di atas wajahku yang
menghadap langit. Aku kaget dan bangun dari baringanku.
“konnichiwa, yaotome-san” tsubasa Honda,
gadis yang tadi pagi ternyata.
“konnichiwa. Sedang apa kau disini?
Bolos ya?”
“kau sendiri?”
“tak baik wanita bolos di atap
seperti ini.”
“biarkan saja” bibirnya cemberut. “aku
lelah mengikuti semua pelajaran di jepang”
“ eh? Jadi kau?”
“ya, sebelumnya aku sekolah di
amerika.”
“sughoii” kataku heboh.
Honda mengambil sepotong roti dari
kantongnya dan membagi dua roti itu denganku. “dozoo”
“tidak usah. Terimakasih” kataku
gengsi. Bersamaan dengan itu perutku keruyukan dengan sangat kencang seolah
cacing-cacing di perutku berdemo meminta untuk diisi. Aku malu dan wajahku
memerah. Honda menahan tawanya, membuat wajah lucu dan kemudian tertawa lepas. Tak
lama aku juga tertawa. Kami berdua tertawa riang.
“tak perlu malu. Ambillah” dia
menawariku roti itu dengan senyum
“arigatoo” dia membalas ucapan terimakasihku dengan senyum dan gigi
kelincinya.
Aku memakan roti itu dengan lahap
dan berbaring kembali. Honda menemaniku berbaring di samping.
“indah ya, langit biru yang berawan
seperti ini. aku rindu sekali Negara ini”
“memang sejak kapan kau tinggal di
amerika?”
“sejak umurku 5 tahun. Aku pindah
karena ayah bertugas di sana. Aku tak terlalu suka tinggal di amerika.”
“nande? Di sana sangat keren kan?”
“entahlah … hanya saja terasa
sangat asing bagiku biarpun sudah bertahun-tahun hidup disana. Aku senang
sekali saat tahu ayahku mendapat giliran untuk dinas di sini.”
“un..” aku tak begitu menangkap apa
yang Honda bicarakan karena mengantuk. Kemudian aku tertidur lelap karena
semilir angin yang membuai wajahku.
Aku terbangun kaget masih di tempat
tadi. Ternyata aku ketiduran. Honda sudah tak ada di sampingku. Mungkin dia
kembali ke kelas. Aku segera menuruni tangga begitu melihat jam di tanganku. Harus
cepat-cepat mengambil tas kemudian pulang. Ternyata aku berpapasan dengan
yamashita yang berjalan dengan Honda. Honda terlihat senang sekali,
menceritakan banyak hal. Awalnya aku tak peduli dengan apa yang mereka lakukan.
****************************************
“eh?
Jadi dia pacar temanmu itu hikaru?” yabu bertanya dengan antusias.
“ayo
ceritakan lebih jelas lagi hikaru. Apa kalian berpacaran? Apakah dia suka
padamu?” Tanya inoo dengan tidak sabar.
“yah,
aku sudah agak lupa jalan ceritanya. Yang jelas..uhmmmm…” aku memegangi
kepalaku. Mengingat-ingat beberapa kejadian saat itu. akh aku memang pelupa
begitus berurusan dengan cinta.
“anoo,
hikaru sepertinya wanita ini akan menunggumu besok” yuto berbicara dengan
pelan.
“eh?
Darimana kau tahu yuto? Kau kan tidak kenal dengannya.” Daiki meledek yuto
“lihatlah
kartu pos ini minna” yuto menunjukannya.
Untuk Hikaru
Terimakasih atas bantuanmu selama
ini. aku sangat senang bisa mengenalmu selama ini. tetapi sepertinya nasib
memutuskan untuk kita berpisah. Ayahku harus kembali ke amerika. Aku tak berani
mengatakan perpisahan langsung denganmu. Mulai saat ini, setiap tanggal ini,
setiap dua tahun sekali aku akan selalu menunggumu di tempat kenangan kita
Tsubasa
Honda
25
desember 2003
“tanggal
25 desember itu besok kan minna?”
“ah
ya!!! Benar!! Dan tahun ini adalah tanggal genap dari tahun yang ada di kartu
pos ini.” kata yamada sambil memegang dagunya.
“ah
tak mungkin. Mungkin dia sudah lupa dengan janji itu” aku membantahnya
“siapa
tahu kan? bagaimana kalau dia benar-benar menunggumu selama beberapa tahun ini.”
yuya menambahkan
“itu
tak mungkin. Dulu aku pernah mencobanya” kataku dengan yakin
“eh?
Hontou?”
“ya,
kalau tidak salah dua tahun setelah surat itu dikirim, aku menunggunya. Di tempat
pertama kali kita bertemu”
“memangnya
tempat kenanganmu disana?” Tanya yabu
“mungkin,
dia tak member tahu langsung tempat itu. jadi aku berfikir disitu.”
“ayo
coba kau ingat-ingat lagi hikaru. Siapa tahu
kau bisa ingat dan bertemu dengan cinta pertamamu ini” daiki tertawa.
“aaahhhhh
dia bukan cinta pertamaku.”
“hahaha
sudah jelas dia cinta pertamamu. Kau bilang kau tak pernah berpacaran
sebelumnya kan? apa karena kau masih menunggu gadis itu?” yabu ikut meledekku.
“minaaa.
Hentikan!!’ aku tak mau dibully seperti ini.
“ayo
coba sekali lagi ingat-ingat hikaru.”
Aku
terdiam, mencoba mengingat dimana tempat itu namun ingatanku benar-benar tak
mendukung saat itu. ah! Beberapa kepingan ingatanku datang. Aku menceritakan
kembali pada teman-temanku.
**********************************
Pagi itu, daun-daun sudah
berguguran dan beberapa binatang sudah mulai mengumpulkan cadangan untuk musim
dingin.aku datang lebih awal karena ibu memaksaku untuk memasak sarapan tadi
pagi. Benar-benar merepotkan. Belum ada orang di kelas. Karen bosan, aku
berkeliling sekolah siapa tahu bisa menemukan sesuatu yang menarik. Terdengar
suara yang taka sing bagiku dari depan gudang olahraga. Karena penasaran aku
mengintip. Rupanya yamashita dan Honda sedang berbicara berdua di sana. Yamashita
menunduk pada Honda. Honda terlihat tidak enak padanya.
“Honda, jadilah pacarku. Kau adalah
wanita pertama yang membuat ku jatuh cinta”
Honda hanya diam kemudian dia balas
menunduk.
“hontou ni gomenasai. Ada seseorang
yang aku sukai”Honda segera pergi karena tak enak dengan yamashita. Karena tak
mau begitu tahu dan ikut campur dengan urusan mereka, aku segera kembali ke kelasku.
Duduk di pojok belakang seperti biasa. Yamashita datang ke kelas dengan lesu.
“ohayoo yamashita-kun.” Aku menyapanya
dengan senyum
“ohayo hikaru-kun” dia menjawab
singkat dan segera duduk di kursi depan ku
“doushite”Tanya ku pura-pura tidak
tahu
“ah, hikaru.aku sedang tak enak
hati. Gomen, aku sedang ingin sendiri.”
“baiklah…” aku mengabaikannya,
membiarkan dia menyendiri. Aku sedikit perihatin dengannya. Dia terlihat lesu
sampai saat pulang sekolah. Aku rasa Honda agak sedikit bodoh karena menolak
temanku ini. dia sangat popular di sekolah dan banyak wanita yang ingin jadi
pacarnya. Namun Honda dengan entengnya bilang sudah ada seseorang yang ia suka.
“yaotome-kun”suara seorang wanita memanggilku.
Ternyata gadis yang tadi aku bilang ‘agak sedikit bodoh’ datang menghampiriku.
“nani?”
“boleh aku pulang denganmu? Aku takut
nanti ketika lewat rumah anjing besar itu lagi
“baiklah, terserah kau saja” aku
berjalan dengan cuek.
Kami berdua melewati rumah anjing
besar itu. lagi-lagi tsubasa mengenggam erat tanganku. Aku hanya berfikir bahwa
saat itu dia sedang ketakutan. Setelah itu kami berjalan melewati sebuah sungai
dengan banyak pohon di tepiannya. Kami menyempatkan diri untuk duduk dan makan
takoyaki di sana.
“ne, yaotome-kun. Jika sudah dewasa
nanti, kau ingin jadi apa?” dia tiba-tiba bertanya padaku.
“aku? Entahlah… aku belum
memikirkannya. Kalau kau?”
“aku ingin jadi designer, tapi
sepertinya tak mungkin. Ayahku menlarangku dengan keras dan sangat ingin aku
menjadi diplomat sama seperti dirinya.”
“yah, memang kebanyakan orangtua
begitu” kataku dengan santai. “tapi, dengan orangtuamu menyuruhmu seperti itu.
bukan berarti kau hanya berpangku tangan saja kan? kau bisa menjadi diplomat
sekaligus designer.”
“hontou? Aku rasa, aku tidak mampu”
“kenapa begitu? Semua orang berhak
untuk mencapai mimpi-mimpinya yang tiada batas. Bukankah hidup itu berawal dari
mimpi? Tanpa mimpi hidup seseorang akan hampa” entah kenapa darimana kata-kata
bijak itu keluar dari mulutku.
“begitu. Baiklah…” dia berdiri. “ayo
pulang yaotome-kun”
“un”
Kami berdua berjalan beriringan. Setelah
itu kami menjadi teman yang akrab. Aku dan yamashita yang awalnya memang teman
dekat, lalu sekarang ditambah Honda. Kami melewati musim gugur bersama-sama. Pergi
wisata kuliner, nonton bioskop, meskipun yamashita dan Honda tak jadi sepasang
kekasih, sepertinya dia sudah senang hanya dekat dengan Honda.
Perlahan entah kenapa ada sesuatu
yang aneh denganku. Jika Honda tak masuk sekolah aku selalu menelpon ke
rumahnya. Jika ia belum sarapa saat tiba di sekolah pasti aku selalu
menyisihkan sebagian bekalku untuknya, tak beda jauh dengan yamashita.ketika Honda
sedang sedih karena sesuatu pasti aku meminjamkan bahuku untuk dia melampiaskan
tangisnya.sebelumnya aku tak pernah merasakan seperti ini. sampai saat itu,
semuanya terjawab. Tanggal 24 desember saat misa natal. Di depan Tokyo tower, Honda
mengajakku untuk bicara sebelum pergi ke gereja.dan tak sadar yamashita
mengikutiku dari belakang.
“anoo san, aku… aku menyukaimu
yaotome-kun. Sejak awal kita bertemu.”
Aku hanya terdiam mendengar
pengakuannya. Tak tahu harus bicara apa. Ternyata orang yang dimaksud dia
adalah aku.
“maukah kau menjadi pacarku” dia
berkata dengan suara pelan.
****************************************************
“EH!!!
Lalu kau menerimanya?” yamada berteriak keras.
“tidak,
aku tak menerimanya.” Jawabku tegas
“mengapa?
Bukannya kau suka padanya?” yuto tak mengerti
“yah,
aku tak enak dengan yamashita-kun. Aku takut persahabatan kita akan merenggang
hanya karena keegoisan ini.”
“itu
namanya bukan keegoisan hikaru” yabu menepuk punggungku.
“ne,
hikaru. Apa mungkin atap sekolahmu itu adalah tempat dia menunggu?” yamada
mengambil kesimpulan lagi.
“tidak,
awalnya aku juga berfikir begitu. Tetapi dua tahun kemudian setelah itu Aku berpesan
pada penjaga sekolahku itu jika ada wanita yang menunggu seseorang di atap
untuk memberitahukannya padaku dan dia bilang tak ada seorangpun saat itu.”
Yuya
mondar-mandir di ruangan itu, memasang wajah serius anehnya. “apa mungkin
tempat dia mengungkapkan perasaannya itu adalah tempatnya?”
“entahlah,
aku juga sudah mencoba kesitu. Tapi tak ada juga. Tak mungkin itu tempat
kenangan kita karena aku menolaknya untuk menjadi pacarnya dulu.”
“hahaha
benar juga” daiki tertawa. “ayolah hikaru, ingat-ingat lagi.”
Kelima
temanku ini mencoba membuat kepingan-kepingan ingatanku kemabli. Mereka sangat
penasaran dengan gadis cinta pertamaku ini. kami mengobrol sampai pagi tiba. Kami
sangat lelah berbincang-bincang. Yuto yang masih memegang kartu pos itu,
mengangkatnya kemudian menerawangnya. Dia mengenyitkan satu alisnya dan
tiba-tiba bangun.
“ne,
hikaru. Lihat ini. ada bayangan tak jelas di kartu pos ini.”
Aku
segera mengambilnya dan menerawangnya menghadap lampu seperti apa yang yuto
lakukan. Terlihat sobekan kecil untuk membelah dua kartu pos itu, dan sebuah
gambar terlihat. Gambar yang tak kami duga, gambar yang mungkin adalah petunjuk
dari tanda Tanya kami berenam.
Aku
segera mengambil mantelku dan memakai sepatu boots, berlari keluar dan
menstarter mobilku. Teman-temaku secepat kilat langsung duduk di mobil padahal
aku sama sekali tak mengajak mereka.
Aku
berkonsentrasi mengendarai mobilku sambil mengingat-ingat apa yang saat itu Honda
katakana. Ya, di tepian sungai tempat kami duduk.
Jika aku sukses nanti, pasti tempat
inilah yang tak akan pernah aku lupakan karena dari sinilah segalanya tentang
mimpiku dimulai.mimpiku yang pasti akan selalu bermekaran dan menjadi
kenyataan.
Ya,
mungkin tempat itulah yang dimaksud Honda. Aku memasang kecepatan mobilku
hingga 200KM/jam. Kelima temanku sangat takut aku mengendarai seperti pembalap
mobil yang professional. Aku memarki mobilku di dekat tempat duduk sewaktu aku
dan Honda mengobrol. Dan benar, ada seorang wanita duduk disana. Seseorang dengan
rok bermotif bunga dan kemeja putih, berambut pendek. Ia menghadap kea rah yang
berlawanan denganku. Senyumku muncul begitu dia menengok ke arahku. Wajah yang
sudah 8 tahun tidak aku lihat. Wajah seorang Tsubasa Honda. Teman-temanku
mengintip kami dari dalam mobil. Dan sepertinya terpukau dengan kecantikannya.
“kau
…” Honda kaget melihatku. Seperti tak percaya bahwa orang yang ada di
hadapannya sekarang adalah aku.
“Honda,
lama tak bertemu. Apa kabar?” aku menyalaminya. Dan dia membalasku.
“oy,
tsubasa. Maaf lama menunggu” seseorang yang tak asing datang. Ya, yamashita. Membawakan
dua gelas kopi hangat kesukaan Honda. Sudah beberapa tahun juga setelah lulus
SMA aku tak melihatnya, dia kaget. Akupun juga begitu, apalagi melihat cincin
yang mereka pakai sama bentuk dan warnanya.
“yamashita-kun,
genki desuka?” aku tersenyum padanya, berusaha menutupi rasa penasaranku akan
cincin itu. mungkinkah mereka sudah
bertunangan atau bahkan menikah?
“anoo
san, cincin itu … kalian …” karena tak tahan aku langsung menanyakannya. Yamashita
hendak maju untuk menjelaskan tetapi Honda melarangnya. Ya, mungkin mereka
sudah bertunangan. Mungkin Honda memutuskan untuk memilih kembali pada
yamashita, laki-laki yang benar-benar mencintainya sepenuh hati dan berani. Tidak
sepertiku yang egois ini.
“ah,
Honda, yamashita. Maaf karena sudah mengganggu waktu kalian berdua, sebaiknya
aku permisi dulu”
“eh?
Kau mau kemana? Tidak ingin mengobrol dengan kami? Honda kan ….” Belum selesai
bicara Honda menarik tangan yamashita, menggeleng-gelengkan kepalanya.
“tidak
apa-apa sempai, mungkin yaotome-kun punya urusan lain yang lebih penting. Pergilah
yaotome-kun. Kami tidak apa-apa kk”
“un,
arigatoo Honda. Gomen, itekimasu”
Aku
berlari dengan cepat ke arah mobilku, berusaha untuk menghilangkan rasa sesalku
karena pergi ke tempat ini. ya, pergi ke tempat yang hanya membuat sebagian
hatiku sakit setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Aku senang sekaligus
sedih.
************************************
2
tahun kemudian…
“ne,
hikaru. Sebaiknya besok kau datang ke tempat itu lagi?. Menemui Honda-san.” Yabu
yang saat ini satu kantor denganku menasehati. Setelah lulus kuliah, kami
memutuskan untuk bekerja di tempat yang sama dan akhirnya diterima. Sudah dua
tahun kami bekerja di sini dan yabu adalh orang yang paling dekat denganku.
“tidak,
aku tak enak dengan yamashita. Mungkin saja saat ini mereka sudah menikah kan?”
“jika
mereka menikah pasti undangan akan sampai padamu. kau sahabat mereka.”
“yaotome-san,
ada yang ingin bertemu denganmu” salah satu rekanku memanggil. Aku heran siapa
yang menhampriku di malam natal seperti ini saat aku sedang lembur. Aku turun
ke lobby dengan lift. Melonggarkan dasi dan kerah baju serta jas yang kupakai. Pergi
menuju sofa tunggu di lobby, ternyata yamashita duduk disana. Menggenakan jasnya.
“hikaru,
ikutlah denganku.” Tanpa berkata-kata yamashita menarik tanganku ke mobilnya. Hanya
diam dalam perjalanan. Akupun juga begitu. Tiba-tiba didatangi oleh orang yang
sudah dua tahun tidak bertemu lagi dan tiba-tiba dia mengajakku keluar saat aku
sedang lembur. Dia membawaku ke sebuah rumah besar yang saat itu ramai dengan
kerumunan orang banyak.
Aku
turun dari mobil dan melihat sekelilingku. Wajah-wajah teman-temanku saat SMP. Aku
tak menghiraukan mereka dan masih penasaran dengan tujuan yamashita. Aku mengikutinya
menuju ke sebuah peti kayu berukuran 3x2x1 dan melihat seseorang terbujur kaku disitu. Wajah yang sudah taka
sing lagi. Wajah Honda . Honda yang terlihat tertidur lelap di dalam peti itu
namun nafasnya sudah tak terasa. Wajahnya ucat sambil memegang bunga. Aku tak
percaya dengan apa yang aku lihat. Ku buka tutup kaca peti itu, memegang tangan
dinginnya. Mencoba membangunkannya namun sama sekali tak ada reaksi. Aku menangis,
menangis tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku masih sangat
mencintainya, dan baru tersadar saat melihatnya dua tahun yang lalu. Aku rindu
senyumnya, tawanya, dan suaranya. Kenapa harus bertemu dengan cara yang seperti
ini?
Orang ini, benarkah dia Tsubasa Honda
yang dulu aku kenal?
“dia…
selama delapan tahun ini, dua tahun sekali menunggumu di tempat itu. aku
bertemu dengannya empat tahun yang lalu dan dia memintaku untuk menemaninya
menunggumu” yamashita memegang pundakku, berusaha menguatkanku. Dia mengambil
sebuah cincin yang sama dengan dia pakai.
“dia
menitipkanku ini untuk diberikan padamu. ambillah”
“tapi
ini kan cincin tunangan kalian”
“aku
tak bertunangan dengannya, cincin ini dia sengaja buat dan design tiga buah. Untuknya,
untukku, dan untukmu. Lambang persahabatan kita”
Aku
mengambil cincin itu, mengenggamnya erat seperti aku menggenggam tangan Honda.
“saat
itu, dua tahun yang lalu sebenarnya aku ingin menjelaskannya padamu tentang
cincin ini dan penyakit yang Honda derita selama tiga tahun ini. leukemia. Dan dokter
bilang ia tak punya banyak waktu. Karena itu aku terus menemaninya. Saat aku
menawarkannya untuk ke rumahmu, ia tak mau. Ia tak mau kau melihatnya dalam
keadaan lemah seperti itu. dia ingin kau melihatnya kuat. Selama ini dia
mencoba menggapai cita-citanya menjadi seorang designer fashion, dan cincin ini
salah satu karya terbaiknya”
“jadi
saat itu …”
“ya,
saat kau bilang ingin cepat-cepat pulang dan Honda menarik tanganku. Ia tak mau
menyusahkanmu. Hikaru, ambillah cincin ini, dia tak mau kau menganggapnya sudah
mati.”
Aku
memandangi cincin itu yang di dalamnya ada sebuah tulisan make your dreams come true.
Aku
mengantarkan jenazah Honda untuk dikremasikan. Kini tubuh Honda telah menjadi
abu yang siap untudikuburkan. Semua orang yang hadir disitu menangis termasuk yamashita
dan aku yang terus memejamkan mataku, mengingat-ingat senyumnya, wajahnya,
suaranya, tangisannya. Aku tak mau kehilangan itu semua lagi diingatanku.
Honda, maafkan aku karena telah
menyia-nyiakanmu, maafkan aku karena tak bisa mengerti dirimu saat kau mengakui
perasaanmu padaku, maafkan aku yang tak sempat untuk jadi kekasihmu,
membahagiakanmu, dan maafkan aku karena telah membuatmu menunggu bertahun-tahun
dalam sakitmu….
The End


No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)