Pages

WHERE MY HEART BELONGS Yamada Ryosuke POV Chapter 2



Title : Where my heart belongs 
Rate : PG-15
Genre : dark, crime, romance
Disclaimer : I don’t own anything except the story
Author : Yuki akanishi ft Ruu
POV : Yamada Ryosuke




Chapter 2


            Waktu terasa merambat menggerogotiku. Aku masih belum puas dengan data-data yang kudapatkan. Misi kali ini terlihat mudah namun sulit untuk kujalankan. Aku merasa seperti ada perasaan yang mengganjal. Ini pertama kalinya dalam hidupku menjadi pesimis. Sepertinya semua akan berakhir disini. Dan hanya analisa-analisa negative yang terus terbayang diotakku.
             Acara pelelangan akan dimulai pukul 9 malam nanti. Aku terus bersiaga dalam ruangan Morimoto-san dan Chinen-san. Aku mendengar mereka terus berbincang berdua mengenai masa depan mereka setelah ini. Mereka tampak gugup dan tak yakin, namun tetap bersikeras untuk melelangnya. Ku buka laptopku, ku sambungkan beberapa kabel dari cctv yang kupasang dibeberapa sisi ruangan disetiap dek kapal ini. Ini akan lebih memudahkan ku mengawasi keseluruhan kapal.
            Yuto, Yuya, dan Keito, aku menyuruh mereka mengawasi bagian-bagian lain dalam kapal, terutama para tamu yang lain. Sedangkan aku hanya duduk memangku dagu memperhatikan terus gambaran cctv.  
            Pukul 5 sore seorang pelayan wanita berjalan menuju kamar ini, hal itu terekam jelas pada kamera. Ia datang membawa hidangan makan malam untuk kedua orang ini. Akupun bergegas membukakan pintu untuknya. Steak truffle yang menggugah selera. Aromanya sangat lezat Seorang pelayan wanita bertubuh mungil itupun keluar. Ia sedikit tertunduk saat aku menatapnya. Entahlah mengapa instingku berkata bahwa pelayan ini bermasalah. Selesai mereka makan malam mereka aku suruh bersiap-siap untuk acara malam nanti.  Akupun memutuskan mengikuti pelayan wanita itu keluar ruangan.
            “terimakasih sudah mengantarkan hidangan makan malamnya.” Ujarku terhadap pelayan wanita itu.
“iya, permisi tuan.” Ia terus tertunduk dan mempercepat langkahnya untuk menghidariku. Sigap, aku menarik tangan pelayan itu. ia tampak kalap dan sangat ketakutan.
            “Lepaskan aku, anda mau apa!!” teriaknya. Yuto, Yuya dan Keito muncul. Mereka Nampak bingung dengan apa yang sedang kulakukan. Aku menariknya kembali masuk keruangan Morimoto-san dan Chinen-san. Ketiga temanku pun hanya mengikutiku dari belakang. Saatku masuk, aku mendapati keduanya sudah terkapar tak berdaya dilantai.
“apa yang kau lakukan!!” bentakku.
“aa-aku tidak tau, aku hanya mengantarkan makan malam.” Ujarnya ia tampak pucat. Yuya memeriksa makanan itu, sedangkan Yuto dan Keito memindahkan tubuh Morimoto-san dan Chinen-san ketempat tidur.
            Kami dikejutkan kembali dengan seseorang yang masuk keruangan ini. Ia langsung membidikkan pistolnya kearah pelayan wanita itu.

“Narusawa Misaki, Menyerahlah!!!” 

            “Ryu-Ryumi?” Ryumi…. Mau apa dia? Jelas kami sangat terkejut dengan kehadiran garangnya itu. ia tak tampak seperti wanita. Dan Narusawa Misaki? Pelayan ini.
            “aku mohon lepaskan aku, demi apapun aku hanya disuruh melakukan hal ini. Mereka…. penjahat itu, yang menyamar dan menggunakan topeng wajah. Mereka yang menyuruhku memberi racun pada makanan ini.” Jawabnya iapun tersungkur dilantai.
            “mereka? Siapa mereka?” Yuto ikut membidikkan pertanyaan.
“bukankah kau diberitakan telah diculik? Kenapa kau ada di sini?” Keito heran melihatnya.
            “salah satu tamu dikapal pesiar ini. Yoshizawa Toru…” tak ada hitungan detik, Ryumi melesat keluar ruangan. Otakku berputar memikirkan ribuan cara untuk menjebak targetku itu.
 “Yuto, kau jaga disini. Yuya-san… kau pergi ke acara pelelangan malam ini. Aku akan menjebak para mereka. Diantara mereka pasti akan ada yang datang kesini untuk mencuri permatanya. Ringkuk mereka… Yoshizawa toru, biar aku yang mengurusnya…” ujarku mengomando mereka.
“hai, kuserahkan padamu Ryosuke.” Aku menarik pelayan wanita itu, tidak lebih tepatnya Narusawa Misaki…
            “aku mau dibawa kemana??” ia terus bertanya dan terdengar suaranya yang gugup dan ketakutan.
“ikuti perintahku, aku akan melindungimu.” Ujarku meyakininya. Namun aku sendiri tak yakin, apa aku bisa melindungi diriku sendiri.

-,-

            “Aku takut, Yamada-san.” Ujar Naruzawa terhadapku.
“ikuti setiap perintahku, aku akan menjebaknya.”
“apa kau berniat membunuhnya.” Aku tersentak dengan pertanyaannya, akupun tak memikirkan sejauh itu.
“aku hanya seorang detektif, bukan seorang pembunuh bayaran.” Jawabku. Ia terdiam. Mulutnya seakan masih menyimpan berjuta pertanyaan.
“nanda?” aku mendesaknya berbicara. Namun nada bicaraku tetap datar, tanpa gertakan sedikitpun.
“anou, bisakah kau bawa dia untukku. Lindungi dia juga. Aku yakin Yoshizawa-san orang yang baik. Aku mohon lindungi dia.” Apa-apaan gadis ini, ini terlalu membelitku. Tanpa banyak bicara, akupun beranjak meninggalkannya.
            Pukul 8.30pm. aku sudah siaga didepan pintu mennyambut para tamu yang mulai bertangan keruangan ini. Aku masih belum melihat sosok si Yoshizawa Toru itu. dan sisi lain ada hal yang mengganggu pikiranku. Kemana perginya Ryumi? Apa dia kembali bertindak bodoh. Aku menarik napas panjang mencoba menjernihkan pikiranku. Tepat pukul Sembilan. Sang taget datang kedalam ruangan. Aku melempar senyum padanya. Ia pun membalasnya dengan ramah. Kulihat semua meja hampir terisi penuh dengan tamu-tamu itu.
            Tiba-tiba Yuya-san datang dengan sangat tergesa. “selamat malam semua, saya inspektur takaki ingin menyampaikan sebuah penguman. Salah satu penumpang kapal ini, Kitagawa keiko ditemukan tak bernyawa dikamarnya.”
Uso!! Ada apa ini? Semua tamu tampak bingung dan panic.susana menjadi ricuh. Yuya berusaha meneangkan. Dan, ada seorang tamu wanita yang ikut bersuara membantu menenangkan para tamu. Mereka semua diperiksa satu persatu.
            Pandanganku langsung tertuju pasa Yoshizawa, ia Nampak sendiri?  Kemana perginya para bodyguargnya itu. sepertinya dugaanku tepat. Yuto, Keito… kuserahkan hal ini pada kalian.
            Aku mendekati perlahan sosok yang menjadi incaranku. Ia tampak panic, namun air mukanya tetap tenang.
“konbanwa, Yoshizawa-san.” Sapaku ramah.
“Konbanwa, ada apa Yamada-san?”
“boleh aku berbincang denganmu? Aku merasa tak tenang dengan kejadian ini. dan kau satu-satunya yang telah kukenal dari perta semalam ini.” Ujarku. Mencoba menyita waktunya. Aku ingin melihat reaksinya saat aku mengusik rencananya.
            “ah, maaf Yamada-san. Aku sangat ingin berbincang denganmu.tetapi setelah polisi memeriksa alibiku tadi, aku merasa tak enak. lagupula, bukankan ada Chinen-san dan Morimoto-san yang juga sudahn kau kenal?” ia mencoba melarikan diri dariku.
“ya, barusan mereka menelponku. Mereka bilang, mereka membatalkan pelelangan ini. Saat ini mereka dikapal kecil mereka menuju Tokyo dengan membawa permata itu. jika semua perserta lelang tau pasti mereka marah. Karena itu, akan sangat aman jika mereka terlebih dahulu diam-diam meninggalkan kapal ini.” Ia Nampak terkejut dengan karanganku itu.
            “kau membiarkan mereka pergi?” “tentu saja, ada apa Yoshizawa-san?” ia Nampak kalut.
“ah, maksudku, kasus pembunuhan ini belum sepenuhnya teungkap, kan? Bisa saja mereka yang…”
“pelakunya??” aku memotong kata-katanya. “alibi mereka sempurna Yoshizawa-san.” Lanjutku.
“begitu…” ia semakin kubuat kalap. Ia terlihat terus mencari cara untuk menghindariku. Iapun beralasan ingin kembali kekamarnya. Kecurigaanku makin tercuak pada orang ini. Ia jelas menyimpan rencana buruk. Dan akhirnya, ia pergi dari tempat ini. Aku melirik pada Yuya-san, ia masih Nampak sibuk memeriksa. Aku memberikan kode padanya iapun langsung mengerti isyaratku.
            Yuto dan Keito memberikan pesan. Mereka berhasil meringkuk rekan dari Yoshizawa. Yokatta. Rencanaku berjalan mulus. Namun aku harus tetap waspada. Aku segera mengukuti perginya Yoshizawa. Benar, ia pergi menemui Narusawa. Aku mengintip dari kejauhan. Mereka Nampak berbincang. Dan wajah Yoshizawa tampak masam. Aku mencoba mendekat dan membidikan pistolku kearahnya.
“YOSHIZAWA TORU!! ANGKAT TANGAN!!” ia tersentak dan terkejut.

“Yamada-san. Ada apa ini?” pria ini masih saja berkutat, padahal ia sudah tertangkap basah. Apa dia bodoh? Tidak, aku tidak boleh meremehkannya.
“jangan mengelak Yoshizawa, gadis ini, kau yang menyuruhnya untuk membius Chinen dan Morimoto kan?”
“aku? Hahaha jangan bodoh, tadi kau bilang mereka…”
“itu bohong” aku tersenyum sambil memotong omongannya. Ya, itu memang strategiku untuk menjebaknya disini. Jika tidak begitu, orang yang terlihat sangat professional ini tak akan memakan umpan pancingnya.
“apa?”
“ya, aku berbohong padamu. sebenarnya, rencana hebatmu itu berjalan dengan lancar. Hanya saja, wanita ini tertangkap berkat beberapa rekanku yang menyamar sebagai peserta lelang. Menyerahlah Yoshizawa, sekarang anak buahmu juga telah terkepung oleh ketiga rekanku yang berada di kamar Chinen dan Morimoto. Pasti saat ini mereka sudah menangis karena terborgol”
“HAHAHAHA, Yamada-san, kau begitu meremehkanku dan anak buahku.”
“Yoshizawa …” Gadis ini masih saja memberi iba pada pria yang hampir membunuhnya tadi, aku tak mengerti jalan pikiran wanita.

TTRRRRTTT~

walky talky ku berbunyi, sepertinya rekan-rekannya sudah dibekuk oleh yang lain. Semoga saja begitu

“ya, ada apa yuto?”
“Ryosuke !! ketiga orang yang hendak mengambil permata itu berhasil kabur !!”
“APA?!! ketiga orang itu berhasil kabur?!!! Bagaimana bisa!!?”
Sial !! mereka pasti bukan orang sembarangan. Selama ini tak ada yang bisa kabur dari yuto dan keito. Mereka sudah dari kecil terlatih menjadi mata-mata dan detektif. Berarti bukan hanya kepalanya, buntutnya pun sama sekali tak boleh kuremehkan.
“baiklah, tenang saja. Ketua mereka sudah tertangkap. Bila kepalanya tertangkap maka buntutnya juga akan dengan mudah mengikutinya” aku menutup walky talky ku sementara masih kutodongkan pistol ku pada pria yang katanya memakai penyamaran ini. “Yoshizawa, sekarang menyerahlah. Kalau kau berusaha kabur, kau hanya akan mati sia-sia. nona yang hendak kau bunuh ini bilang kau memakai penyamaran. Sekarang buka penyamaranmu” itu adalah hal pertama yang sangat ingin aku lakukan. Aku penasaran siapa sebenarnya pria ini, pria yang hampir berhasil merebut permata itu dan mengendalikan anak dari klan Narusawa untuk meracuni oranglain. Dia menuruti perintahku. Aku rasa saat ini dia tahu dimana posisinya. Pistolku sudah sangat siap untuk melepaskan pelurunya apabila dia macam-macam.

 “kon, Yabu Kota desu. Yoroshiku” sapanya ramah.


“kau …..”


APA?? apa-apaan ini? dia … orang ini?? ti…tidak mungkin… bukankah dia sudah mati beberapa tahun yang lalu???

 “Yabu….” tak sengaja kata itu keluar dari mulutku yang seketika membeku.


“Yamada-san, doushita?” Narusawa menggoyang-goyangkan tanganku. Ya, aku terseret kepada ingatanku di masa lalu. Tak sadar dalam beberapa detik pria itu telah merenggut Narusawa dari genggamanku. Sial !! nyawa gadis itu dalam bahaya.
 “Yamada !!” Yuya datang saat kepala penjahat ini mengaitkan kawatnya ke leher Narusawa. Apa yang harus aku lakukan? Dia …
“jika kalian mendekat, gadis ini mati sekarang juga”
Yuya yang melihat hal itu mengepalkan tangannya, otot wajahnya membentuk pertanda ia sedang berfikir. Jika gadis itu mati, maka organisasi kami yang akan mendapat imbasnya. Apalagi orangtuanya sangat berpengaruh di Negara kami.

“yuya, hentikan. Biarkan dia pergi.” Hanya kalimat itu yang bisa aku ucap. Mengingat dia menyandera Narusawa dan dia …
“apa? apa maksudmu?”
“kumohon, kali ini saja. Biarkan dia pergi, setelah itu kau bisa menangkapnya lagi.”
“apa kau gila, tidak. Aku tak akan pernah melepaskannya”
Yuya menarik pelatuknya. Bodoh, apa yang kau lakukan yuya? Narusawa bisa ikut mati oleh Yabu.
Aku segera membelokkan arah pistol yuya dengan tubuhku. Yuya terjatuh dan dalam beberapa detik Yabu melemparkan bom asapnya pada kami. Pandanganku kabur, aku berusaha menghilangkan asap yang ada di pengelihatanku sambil memakai masker yg telah kusiapkan apabila asap ini beracun. 3 menit kemudian asap yang diciptakan Yabu mulai menghilang.

******

BRUKKK~
Yuya memojokkanku ke dinding dengan wajah penuh amarah. Sudah satu jam setelah kejadian itu, setelah Yabu memperlihatkan wajahnya, setelah Narusawa Misaki ditangkap, dan setelah aku melepaskannya …
“APA YANG KAU LAKUKAN!!!” Yuya membentakku.
“yuya, tenangkan dirimu” Yuto menarik tangan Yuya dan berusaha melepaskanku darinya.
“bagaimana bisa aku tenang sementara dia telah melepaskan kepala perampok yang telah bertahun-tahun buron setelah membunuh banyak orang tak berdosa dan sekarang membawa anak tunggal dari klan Narusawa sebagai sanderanya, Yuto??”
Ya, memang. Jika melihat keadaan ini secara logika, aku memang tak lebih dari manusia tolol yang tak berguna. Apalagi sebagai pemimpin mereka dalam misi kali ini.
“pasti dia punya alasan” Keito juga berusaha menenangkan Yuya. Tidak, Yuya benar. Memang ini semua salahku. Tetapi, Yabu …
“alasan? Ya, tentu dia memang punya alasan untuk melepaskan pria itu, tapi lalu apa alasan yang akan kita bilang pada keluarga Narusawa jika mereka tahu anaknya ada di kapal ini sebagai sandera dari orang-orang sadis yang tak akan ragu menghilangkan nyawa oranglain bahkan anak gadis sekalipun?!!”

PAAKKK~
Keito yg biasa bersikap dingin sekarang menampar Yuya dengan sangat keras
“dengar Yuya, semua orang bertindak atas alasan tertentu, mari kita dengar alasan Yamada melakukan hal itu.”
“nah, Ryo. Sekarang katakan apa alasanmu bertindak seperti itu. tolong berikan kami alasan yang logis”

Aku terdiam.
Logis?
Tentu saja tidak.
Bagian mana yang terlihat logis dari melepaskan target utamamu yang seperti bayang-bayang itu dan setelah kau tahu wajah aslinya, kau melepaskannya begitu saja bahkan memaksa rekanmu juga untuk melepaskannya?
“minna, gomen, aku ….”
Semua orang mendekatiku. Aku tertunduk, tanganku bergetar tak tahu bagaimana aku harus menceritakannya pada mereka.
“maaf, aku  tak bisa menceritakannya pada kalian saat ini.” ya, aku memutuskan untuk tak menceritakannya terlebih dahulu.
“Ryosuke …”Yuto terlihat tampak kecewa.
“kalian dengar? Dia bahkan tak mengungkapkan sedikitpun alasannya. Aku heran mengapa Nanami-san memintanya sebagai ketua kita dalam misi kali ini. apa karena dia … anak angkat Nanami-san??”
Sifat kekanakkan Yuya muncul. Aku berdiri marah, tak rela Yuya berkata seperti itu. Nanami-san memang ayah angkatku tapi bukan karena itu aku sering diminta untuk menjadi ketua dalam beberapa misi akhir-akhir ini.
“Yuya, hentikan. Kau sudah keterlaluan” Keito membentak Yuya.  Suasana mulai kacau.

BRUUKKK~ sebuah suara dari depan pintu kamar terdengar, kami reflek bersiaga mengambil pistol kami masing-masing. Aku meminta Yuto membuka pintunya sementara yang lain berjaga menodongkan pistol mereka. Yuto pun membuka pintu itu.
“Na… Narusawa-san !!” kami berempat sungguh kaget. Narusawa masih memakai gaun yang terakhir aku lihat namun kali ini gaun nya telah robek compang-camping. Wajahnya sedikit terluka dan nafasnya terengah-engah. Iya terjatuh hampir pingsan saat langkah pertamanya memasuki kamar kami.
“Narusawa-san.. daijobu ka?”
“to..tolong aku… aku haus… seluruh badanku.. sakit sekali..”
“apa yang mereka lakukan padamu?” Yuya ikut turun dan langsung menggendong Narusawa-san, memberinya segelas air putih.
“Narusawa-san, dimana mereka? apa yang telah mereka lakukan padamu” aku sedikit penasaran kenapa
“aku .. aku tak ingat … yang aku ingat mereka memaksaku meminum sesuatu, setelah itu … aku …” dia menangis. Wajar saja, anak manja seperti dia pasti tak pernah terjebak situasi seperti ini.
“bagaimana kau berhasil kabur?” aku tak sengaja berkata itu. aneh juga rasanya para pro seperti itu bisa lengah terhadap gadis ini. kecuali jika gadis ini adalah salah satu mata-mata seperti kami. Ah tidak, aku hanya bergurau.
“aku …”
Dia terjatuh pingsan lagi. Yuya memeriksa Nadinya.
“Nadinya melemah. Yuto, periksa apakah dia telah diracuni. Aku heran mengapa ia bisa lepas. Jangan-jangan mereka telah memberikan racun padanya.”
“baik” Yuto segera mengambil suntikkan untuk memeriksa sample darahnya.
“teman-teman, ada faks dari Nanami-san. Dia bilang untuk tetap focus melindungi permata itu dan pemiliknya serta mengejar para perampok itu. dan Ryosuke, Nanami-san bilang kau tetap di kamar ini hingga misi selesai”
“APA!!”
“ya, Ryosuke, karena kau belum bisa menceritakan alasanmu, kami tak bisa mengikutsertakanmu lagi dalam misi ini.”
“tetapi bagaimana bisa…”
“itu permintaan dari kami semua” Yuya bangun dan menepuk bahuku. “nah, berikan pistolmu Ryo, ini perintah Nanami-san”
“apa-apaan ini?? hanya karena masalah sepele seperti ini kalian mengeluarkanku dari misi ini?”
“bukan begitu Ryosuke…” Yuto mendekatiku dan ikut menepuk pundakku. Aku menyingkirkan tangan Yuto, memberikan pistolku dan pergi keluar kamar mencari udara segar tanpa berkata apa-apa.

*****************

HHHH~
Untuk yang kesekian kalinya aku menghela nafasku. Merasakan kekecewaanku, entah pada diriku sendiri atau pada teman-temanku. Ku tatap bintang di langit yang malam ini sangat cerah. Merasakan angin digin yang berhembus di telingaku. Menggenggam erat pagar besi pembatas kapal. Kulihat jarum jam di tanganku sudah menunjukan pukul setengah dua pagi.
“pasti sakit ya, diperlakukan seperti itu oleh mereka”
Sebuah suara datang dari belakangku. Orang ini … yuto menunjukan fotonya tadi malam. seseorang yg merupakan bagian dari perampok itu dan terlihat sangat santai. langsung aku memasang kuda-kuda waspada.
“tenang saja, aku tak akan berbuat macam-macam. Kita sama-sama tak bersenjata”
Orang ini, bagaimana dia tahu aku sedang tak bersenjata.
“perkenalkan, aku Inoo kei” dia menawarkan tanganya untuk berjabat tangan.
“mau apa kau?”
“kalau kau terus berfikiran negative terus seperti itu, kau sama saja seperti teman-temanmu”
“darimana kau …”
“aku ini bagian mengumpulkan informasi dalam tubuh organisasi”
“siapa yang mau tahu? Lagipula kenapa kau memberitahukan informasi seperti itu padaku yang jelas-jelas musuhmu.”
“hahaha, kau sudah disingkirkan bukan? Itu berarti kau bukan musuh kami lagi”
“tapi aku masih tetap akan memburumu dan teman-temanmu”
Aku segera merebut tangannya dan melakukan bantingan akrate. Aneh, orang ini tak meberontak sama sekali. Dia sekarang terjepit di bawahku. Walaupun dia terlihat lemah dan tak sekuat Yabu, tapi paling tidak dia bisa membela diri. Apa-apaan dia? Menatapku seperti itu?
“kau … apa kau tak malu pada dirimu sendiri?”
“apa?”
“aku sudah bertahun-tahun terjun dalam dunia gelap seperti ini. aku sama sepertimu.”
“jangan pernah samakan aku denganmu”
“oh ya? Lalu kenapa kau melepaskan ketua?”
Aku memalingkan wajahku.
“hahaha, Yamada Ryosuke. Sudahlah, jujur saja pada dirmu sendiri. mereka tak membutuhkanmu lagi atau harus sedikit kuubah frasa tadi? Mereka … tak mempercayaimu lagi?”
“tidak !!”
Aku mulai melepas cengkramanku padanya, entah mengapa aku melakukan itu saat kudengar frasa terakhir darinya.
“mempercayai orang yang sama sekali tak percaya padamu. bukankah kau lebih bodoh dari seekor babi yang makan kotorannya sendiri?”
“apa maumu?”
“kau tahu, kenapa aku menghampirimu tak membawa senjata?”
“tidak”
“karena aku percaya padamu”
“apa???”
Aku bangun dan melepaskannya. Aku tahu dia sedang ingin melakukan sesuatu padaku tapi aku sama sekali tak mengerti kalimat yang keluar dari mulutya tadi.
“bergabunglah dengan kami. Ketua, aku, dan teman-temanku mempercayaimu”
“hahahaha apa kau gila? Bagian mananya dari diriku yang terlihat sedikitpun ingin bergabung dari kalian? Mati beku di laut ini seklipun aku tak akan sudi mengotori tanganku seperti kalian.”
“oh ya?” pria yang bernama Inoo itu mengambil rokok dari sakunya dan membakarnya kemudian mendekatiku.
“ma..mau apa kau” dia mendekati wajahmu dan melihat detil mataku.
“kau berbohong, retina matamu memberitahukannya padaku. Manusia itu akan terlihat saat ia berbohong dari matanya.”
Ya, aku tahu itu. tapi aku sama sekali tak berfikir untuk melakukan itu. aku … aku hanya bimbang … tentang kepercayaan teman-temanku …
“yah, sudahlah. 2 jam lagi aku akan menghampirimu. Sampai saat itu tiba, pikirkan dengan baik tawaranku.”

“kenapa?” aku menghentikan langkah kaki orang itu. dia menengok kepadaku.

“karena aku melihat ada kegelapan di balik matamu itu” dia pergi berlalu. Tidak !! tidak Ryosuke !! kau tak boleh mengotori tangamu, kau tidak boleh… jangan sampai kau terjerumus dunia itu.

Tapi, bukankah ini satu-satunya cara kau bertemu dengan Yabu lagi??

Hatiku yang lain berkata seperti itu. aaarrrggghhhh apa yang harus aku lakukan??

“konbanwa Ryo-chan …”kali ini suara wanita yang datang.
“Ryu..Ryumi ..”
“huwaaaa, sughoi. Menatap bintang di atas kapal mewah seperti ini memang sangat menyenangkan”
Ryumi berputar-putar seperti orang bodoh yang baru pertama kali naik kapal, kemudian berbaring ke lantai dan tersenyum melihat langit.
“sedang apa kau disini?”
“aahhh, anginnya enak sekali Ryo-chan, ayo sini berbaring. Tak ada salahnya sedikit bersantai di tengah-tengah tugas kan? lagipula jarang sekali kita dapat kesempatan naik kapal mewah seperti ini”
“aku sudah tidak bertugas”
“eh?”
“ya, Nanami-san mengeluarkanku dalam misi kali ini. pistolku juga sudah kukembalikan pada Yuya dan yang lainnya”
“sou, apa itu karna kau melepaskan penjahat itu?”
“Ryumi, seandainya saja teman-temanmu … tak mempercayaimu lagi. Apa yang akan kau lakukan?”
Aku tertunduk malu menanyakan hal itu, tak kusangka aku akan menanyakan hal itu pada Ryumi, orang yang aku pikir sangat bodoh selama ini.
“aku? Jika aku merasa tak dipercayai lagi, aku akan berusaha mengembalikan rasa percaya itu. bukankah kalian sudah bertahun-tahun bekerjasama? Seharusnya hal seperti itu bisa kau urus. Aku rasa sebenarnya mereka bukan tak mempercayaimu. Hanya saja mereka ingin melindungimu dari perasaanmu yang terlalu kuat dan mengalahkan logika itu”
“begitu”
“un, dengar Ryosuke. Aku tak tahu persis penyebab kau melepaskan buronan itu, tapi aku rasa teman-temanmu sangat ingin melindungimu. Nah, kembalikanlah rasa percaya mereka itu”
Ryumi, baru kali ini aku melihatnya bersikap dewasa seperti itu. wajah manisnya yang terus menatap bintang, entah mengapa dia baru terlihat seperti wanita kali ini.
“ah, Ryosuke. Aku harus pergi. Aku ingin mandi. Ini sudah jam setengah 4 pagi. Biar bagaimanapun mata-mata wanita harus tetap kelihatan cantik kan?”
Dia mengedipkan matanya dan itu membuatku sedikit bergidik geli.
“jaa,” dia menepuk pundakku. Seolah membangunkanku dari tidur yang sangat panjang.
“Ryumi, arigatou” aku berteriak padanya di tengah-tengah angin yang berhembus sekitar kapal.
Ya, aku ahrus mempercayai teman-temanku. Para perampok itu, mereka selalu berhasil karena mereka saling mempercayai juga satu sama lain kan? baiklah kalau begtu. Meskipun Yuya dan yang lainnya bersikap seperti itu, aku akan membantu mereka. ya, dimulai dari menangkap pria yang bernama Inoo tadi. Dia bilang akan kesini lagi kan? aku harus menangkapnya.
Aku menunggu pria itu. sesekali melihat jam di tanganku. Dan benar, dia memang sagat tepat waktu. tak lama setelah Ryumi pergi dia datang lagi.
“ohayou.” Dia menyapaku ramah.
Aku tersenyum padanya.
“bagaimana? Kau menerima tawaranku itu?”
“ya, aku … sudah tak ada lagi yang bisa kupercaya disana” aku berbohong dan memalingkan wajahku karena aku tau dia bisa melihat apakah orang itu sedang berbohong atau tidak. Dia tersenyum menghampiriku yang berdiri di pinggir pagar besi, terdiam menatap langit. Ini kesempatanku !! aku mengambil gas air mata yang lupa kuserahkan pada Yuya tadi dan hendak menyemprotkannya pada pria ini.
TTSSK~

a..apa ini?? tangan dan kakiku… kenapa tak bisa bergerak … tubuhku .. bahkan aku tak bisa mengeluarkan suaraku.. nafasku.. sesak …

“ada pepatah yang mengatakan, orang baik itu tak pandai berbohong. Jangan lupa bahwa aku sudah dua jam mengawasimu dari tempat yang jauh.” Inoo tersenyum padaku. Aku hanya bisa mendengarkannya.
“huh, dasar licik. Aku kira kau akan dengan mudah terjebak olehnya” seseorang dengan rambut coklat datang. Dia menjatuhkanku dan menghampiri Inoo. Aku terjatuh. “kau berikan apa padanya Inoo-chan?”
“hanya Chlorosium yang kubuat sendiri dengan dosis kecil. itu akan membuatnya lumpuh sementara, dan tertidur lelap untuk beberapa saat. . Terimakasih sudah menembakkannya dari jarak jauh Hikaru.” dia membelai wajahku.
“bukan apa-apa Inoo-chan” Pandanganku mulai kabur. Nafasku semakin sesak. Orang ini menggendongku.  Aku… tak bisa mendengar.. apa-apa lagi …


To be continued …

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)