Title : Where My Heart
Belongs
Genre :
crime, dark, romance
Rate : PG-15
Author : elfnazmina
POV : Inoo Kei
OC : Hoshino Hikari
Disclaimer : I don’t
own anything except the story.
Mengapa wanita selalu terlihat cantik diluar tetapi
sebenarnya ia menyembunyikan kebodohannya? Sama seperti wanita artis ini, bodoh
sekali dia berani mengambil risiko mendengarkan percakapan kami. Lihat saja,
aku harus berpikir keras lagi bukan untuk menyusun rencana pembunuhanmu? Tetapi
yah sebenarnya karena yang menjadi eksekutor adalah Hikaru dan Daiki, maka aku
tinggal duduk manis dan bersiap mendengarkan laporan keberhasilan mereka.
Tetapi kali ini, rencanaku yang seharusnya berjalan mulus pun terganggu oleh
kehadiran satu orang wanita bodoh lagi. Seperti biasa, satu orang tahu, maka
otakku akan bekerja secara otomatis untuk memikirkan trik pembunuhan atasnya. Yang
benar saja, kapan otakku akan berhenti memikirkan hal-hal seperti ini? Huft.
“Hikaru, siapa lagi dia?”, tanyaku pada Hikaru yang
masuk ke kamar dengan menyeret seorang wanita yang terlihat sangat sulit
mengatur nafasnya.
”Inoo-chan, dia melihatku dan Daiki ketika kami keluar
dari kamar wanita artis itu setelah membunuhnya…”, Hikaru tersenyum sinis.
Daiki menatap tajam kepada wanita yang terduduk di
lantai itu. Wanita itu mulai menangis ketakutan karena Daiki mulai mengeluarkan
pisau dari sakunya.
Tapi, sepertinya aku pernah melihat wanita ini…
“Daiki, tunggu sebentar...”
Aku mengambil pisau dari tangan Daiki dan melipatnya
kembali, kemudian aku tersenyum dan menepuk pundak Daiki agar ia bisa menahan
nafsu pembunuhnya untuk sementara. Aku tahu Daiki orang yang sangat tidak bisa
menahan kesabarannya apabila ia sudah melihat calon korban di depan mata.
“TOLONG AKU!! JANGAN BUNUH AKU!! KUMOHON!!!”, wanita
itu berteriak diantara senggukan tetes air matanya yang seperti air terjun itu.
Sangat deras. Lucu sekali bukan, melihat seseorang yang memelas-melas
kehidupannya dihadapan kami, meminta diberikan kesempatan untuk tetap hidup dan
menangis seperti anak domba yang ditinggal induknya.
“Sssttt…”, aku meletakkan telunjukku di bibirnya dan
berlutut dihadapannya, memberikan kode padanya untuk berhenti menangis dan
diam. Tubuhnya bergetar dan air mata sudah mendominasi seluruh bagian dari
wajahnya. Nafasnya tersengal, dan itu cukup membuatku kegirangan dalam hati.
Pemandangan seperti ini benar-benar pemandangan yang aku cintai.
“Inoo-chan! Bukankah yang mengetahui tindakan kita
harus dibunuh?!”, tanya Daiki
“Daiki tenanglah, kurasa kita bisa memanfaatkannya…”
“AKU MOHON, AKAN KULAKUKAN APA SAJA TAPI JANGAN BUNUH
AKU!! KUMOHON!!!”
Wanita itu bersimpuh dihadapanku. Lihat, dia wanita
bodoh bukan? Untuk apa dia bersimpuh dihadapanku yang bahkan bukan Tuhannya?
“Siapa namamu nona?”
“Na-Natsumi. Tanaka Natsumi”
“Baiklah nona Tanaka, kau bilang akan melakukan apa
saja bukan agar kami tidak membunuhmu?”
Ia menunduk pelan dan wajahnya terlihat sangat
mengerikan. Wajah basah, mata sembab, rambut berantakan, benar-benar terlihat
jelek sekali eksistensinya saat ini. Bahkan mungkin lebih jelek dibandingkan
ekspresi Hoshino ketika ia menghinaku. Pfft, kenapa tiba-tiba aku teringat
tentang Hoshino? Bodoh sekali…
“Kalau begitu, kau mau membunuh Takaki Yuuya untuk
kami?”
Tanpa diragukan, Hikaru dan Daiki spontan terkejut,
dan aku hanya memberikan senyum manisku untuk kedua orang temanku itu. Aku
memasang wajah tenanglah-serahkan-padaku
dihadapan mereka, dan Daiki yang terlihat kurang sabar itu memanyunkan bibirnya.
“E-eh?”, wanita itu terkejut seketika dan aku memegang
pergelangan tangannya untuk memeriksa jumlah denyutan nadinya. Sangat cepat,
denyutan nadinya sangat cepat. Rasa takut dan gugup bercampur menjadi satu
dalam dirinya.
“Kenapa? Kau tidak bisa? Kau bukan yang berciuman tadi
malam di dek kapal dengan Takaki?”
Ya, aku melihatnya berciuman dengan seseorang bernama
Takaki Yuuya tadi malam. Dari informasi yang kudapat, Takaki Yuuya adalah
seorang inspektur polisi. Tapi, aku tidak terlalu bodoh untuk mengetahui siapa
Takaki sebenarnya. Ia pasti seorang mata-mata, dan instingku tidak pernah salah
ketika mengatakan bahwa seseorang itu berbahaya. Itulah yang kurasakan atas
Takaki Yuuya.
Wajahnya langsung memerah. Berapa kali harus
kujelaskan kalau wanita ini bodoh? Sempat saja dia memasang wajah memalukan
seperti itu di tengah suasana yang seperti ini.
Ia terdiam dan tidak berani menjawabku. Tentu saja,
tidak ada yang perlu diragukan atas itu.
“Kalau kau tidak mau, apa boleh buat, kami akan membunuhmu
sekarang. Daiki, serahkan pisaumu padaku…”, aku mengulurkan tanganku kehadapan
Daiki dan sebelum Daiki sempat memberikannya padaku -yang Daiki pasti tahu
bahwa aku tidak mungkin membunuhnya dengan tanganku- wanita itu memotong
kalimatku.
“JANGAN BUNUH AKU! KUMOHON!! BAIKLAH AKAN KUBUNUH
TAKAKI UNTUK KALIAN!!”
Ia berteriak dihadapanku dan aku kembali menatapnya
dengan senyuman.
“Benarkah? Bukankah kau mencintai Takaki?”, tanyaku
dengan nada rendah dan mengelus-elus daguku sendiri seolah aku sedang berpikir,
tetapi aku tetap menjaga senyum manis di bibirku.
“A-Aku tidak mencintainya lagi! Dia meninggalkanku!!
Aku akan membunuhnya! Ya, aku akan membunuhnya!!”
Wanita ini tidak pandai berbohong. Kalau kau bilang
tidak mencintainya, mengapa kau pasang wajah tersiksamu ketika mengatakan
kalimat itu? Kau tahu, wajahmu ketika mengatakan ‘aku tidak mencintainya’ lebih
terlihat sangat menyakitkan dibandingkan wajahmu ketika mengatakan ‘aku akan
membunuhnya’.
“Baiklah. Berikan Takaki ini…”
Kukeluarkan satu suntikan dari dalam saku jaketku dan
kuberikan padanya.
“Apa ini?”, tanyanya bingung ketika benda itu sudah
berada dalam genggamannya.
“Ini racun pelumpuh syaraf, kau suntikkan saja ini di
bagian belakang telinga Takaki sehingga akan sulit dideteksi. Syarafnya akan
mati secara perlahan dan yang kau lakukan hanya tinggal membuang suntikan ini
ke laut, kemudian barang bukti hilang. Ada pertanyaan?”
Ia terdiam dan hanya memandang suntikan itu.
“Kau tahu apa jadinya kalau mengkhianati kami bukan!”,
tanya Hikaru dengan nada yang sedikit meninggi
Kemudian tak seberapa lama, Daiki menggoreskan sedikit
luka di bahu wanita itu dengan pisaunya. Wanita itu merintih kesakitan dan air
mata mulai mengalir deras lagi dari matanya yang berwarna seperti hazelnut itu.
“Daiki, apa yang kau lakukan?”, tanyaku santai dengan
nada rendah seperti biasa.
“Itu bukti kesepakatan kita dengannya Inoo-chan”,
Daiki tersenyum sinis. Aaah, sahabatku yang satu ini memang tidak bisa
mengontrol nafsu pembunuhnya. Dan aku hanya tersenyum menyaksikan tingkah lucu
Daiki yang seperti itu.
“Baiklah, sekarang tinggalkan ruangan ini. Kalau kau
berkhianat, Daiki akan lebih menyakitimu dibandingkan dengan apa yang baru saja
dilakukannya. Mengerti?”
Ia mengangguk cepat dan aku tidak tahu entah darimana
ia mendapatkan energinya kembali untuk berdiri dan berlari meninggalkan kamar
kami.
“Inoo-chan bisakah kita mempercayainya?”, tanya Hikaru
ragu.
“Hika, serahkan saja padaku”, kutepuk kedua pundak
Hikaru dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
***
Aku masih memiliki sisa waktu sebelum pelelangan dan
rencana berikutnya dimulai. Aku berjalan sendirian dan mengeksplorasi semua
bagian dalam kapal ini, persiapan membuat rute pelarian apabila terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan.
Aku tetap berjalan santai, mengenakan topeng
penyamaranku sehingga tidak ada yang tahu siapa aku.
Kubilang aku mempersiapkan rute untuk mengatasi
hal-hal yang tidak diinginkan nanti bukan? Tetapi, sebelum ‘nanti’ sempat
datang, aku sudah melihat hal yang tidak kuinginkan.
Aku melihat Hoshino Hikari sedang berjalan dengan
pelayannya dari arah yang berlawanan denganku. Wajahnya seperti biasa, tetap
angkuh walaupun di koridor ini tidak ada satupun orang yang berada di sekitar
kami. Dia berjalan mendekati arahku, tapi aku yakin ia tidak akan mungkin
mengenaliku. Dan benar saja, ia hanya berjalan melewatiku dengan gaya
merendahkannya seperti biasa.
Aku tidak ambil peduli atasnya. Ya, mungkin karena aku
tidak ingin menghadapinya ketika aku sedang berdiri dalam kepalsuan seperti
ini. Aku tidak ingin berdiri dihadapannya pada waktu dimana aku bukan sebagai
‘Inoo Kei’.
Kemudian, aku mendengar suara sesuatu yang terjatuh.
Kubalikkan badanku dan kulihat tas Hoshino yang sedang dibawa oleh pelayannya
terjatuh. Pelayannya kemudian segera berlutut dan mengambil tas itu.
Kasihan sekali pelayan itu, pasti Hoshino akan
memakinya habis-habisan karena tasnya jatuh, pikirku.
Tetapi, aku tidak tahu bagian mananya yang belum
kukenal dari seorang Hoshino Hikari. Salah. Dugaanku salah. Ia tidak memaki
pelayannya, bahkan berkebalikan dari itu ia…tersenyum.
Detik itu, kurasakan paru-paruku mengalami kesulitan
dalam bernafas. Tidak. Lebih dari itu. Aku merasa bahwa aku telah lupa
bagaimana caranya bernafas. Tak kusangka ternyata ia memiliki ekspresi seperti
itu, tak kusangka senyumannya bisa semanis itu. Tak kusangka senyuman
sederhananya membuat dada kiriku bergemuruh dalam keberisikan, sesederhana
mataku yang tidak bisa melepaskan pandangan darinya dan tidak bisa menggerakan
kakiku satu langkahpun untuk menjauhinya.
Mengapa tiba-tiba kau terlihat sangat cantik?
Apa karena kau cantik lantas aku menyukaimu? Atau
karena aku sudah menyukaimu lantas kau terlihat sangat cantik?
***
Malam pesta pelelangan dimulai. Semua orang berkumpul
disini dan suasana disekitarku menjadi hiruk pikuk. Aku tidak suka. Sangat
sangat tidak suka. Tapi, aku harus bertahan malam ini demi kelancaran rencana
kami.
Aku mengenakan topeng penyamaranku bersama ketiga
rekanku. Kami tidak membawa senjata untuk menghindari kecurigaan. Tentu saja
senjata yang kumaksud adalah senjata tajam. Tetapi, aku masih membawa beberapa
perlengkapan kecil untuk melindungi kami dalam pelaksanaan rencana berikutnya.
Lampu ruangan mulai diredupkan dan sorang wanita mulai
memandu jalannya acara ini. Tetapi, belum lima menit wanita itu berdiri di
depan, seseorang naik ke atas panggung dan wajahnya terlihat sangat pucat.
Takaki Yuuya.
“Selamat
malam semua,saya inspektur Takaki ingin menyampaikan sebuah pengumuman. Salah
satu penumpang kapal ini Kitagawa Keiko ditemukan tak bernyawa dikamarnya.”
Semua
penumpang langsung ricuh. Tapi seperti biasa, aku hanya bersandar di
dinding sambil memegang gelas wine ditanganku. Aku tersenyum tipis dan kelegaan
datang membanjiriku saat Takaki mengatakan perkiraan waktu kematian pukul 8-9
pagi. Lelaki bodoh, termakan saja dengan jebakanku yang sesederhana itu. Aku
melihat ke sebelah kiriku dan mendapati Hikaru dan Daiki yang menahan tawa
karena melihat Yabu yang terlihat (sok) panik.
Yabu terlihat memarahi Hikaru ketika ia mengetahui
bahwa kami membunuh Kitagawa Keiko.
“Ketua tenanglah…”, aku menengahi Yabu dan Hikaru agar
spotlight tidak berpindah kepada mereka hanya karena pertengkaran sepele ini. “Aku yang merencanakannya dan tak ada
yang luput satupun dari penglihatanku”, lanjutku.
“kau yakin?
Apa Hikaru meninggalkan jejak?”
“sama sekali
tidak ketua”, sahutku dan kurasa itu sudah cukup untuk membuat Yabu menghentikan
kecemasannya. Yabu memang selalu percaya padaku.
Kulihat Hikaru dan Daiki masih saja menahan tawa
mereka dan sungguh, bagiku mereka terlihat sangat kekanak-kanakan. “Hey,
tenanglah. Setelah ini tugas kita lebih berat lagi…”, sahutku setengah berbisik
yang membuat Hikaru dan Daiki menghentikan tawa mereka dan mulai berakting
serius.
Tak dapat dipungkiri, sesungguhnya aku pun merasa
senang ketika melihat semua orang panik seperti ini. Semua orang, terkecuali
satu orang.
Seperti tersembul di tengah keramaian, mataku langsung
dapat menangkap keberadaanya. Pandanganku akan hal lain berubah menjadi kabur
dan pupil mataku memfokuskan lensanya pada seorang wanita dengan gaun pink yang
terlihat tetap tenang di tengah keributan ini.
Hoshino Hikari, mengapa kau tetap tenang? Apa kau
sudah terlalu tidak peduli dengan keadaan sekitarmu sehingga kau hanya terdiam
sementara masing-masing dari orang di sekitarmu ribut dengan adanya kejadian
ini. Sungguh aneh…
Kemudian, ia membalas tatapanku. Tatapan itu cukup
kuat untuk membuatku tergeletak berdiri tanpa geming di posisiku. Yang kami
lakukan hanya bertatapan. Seperti tidak peduli akan kehebohan ini, kami saling
beradu pandang. Hawa matanya sangat dingin, menusuk mataku dalam waktu sepersekian
detik sebelum akhirnya Daiki membuyarkan konsentrasiku.
“Inoo-chan, kau suka tipe seperti nona besar itu?”,
tanya Daiki
“Ah…tidak.”, sahutku datar.
Aku tidak menjawab terlalu banyak dan berusaha
menghindari insting tajam Daiki. Untunglah beberapa detik kemudian Hikaru
memberikan kami kode untuk segera beranjak dari tempat itu dan bersiap-siap
menuju kamar bintang utama pelelangan ini. Chinen Yuri dan Morimoto Ryutaro.
***
Setibanya kami di kamar Chinen dan Ryutaro, kami
langsung menggeledah seluruh barang mereka dan mencari kemungkinan tempat
dimana permata itu disembunyikan. Rupanya Narusawa melakukan tugasnya dengan
cukup baik, Chinen dan Ryutaro tertidur pulas sehingga ini sangat memudahkan
aksi kami. Tapi, seperti ada yang mengganjal dalam hatiku entah mengapa aku
merasa kali ini tugas kami sangat mudah.
Tiba-tiba aku mendengar suara hantaman pintu yang
sangat nyaring dan kulihat dua orang lelaki tinggi dengan sigap menghampiri
kami dan meraih tangan Hikaru dan aku.
“Kalian tertangkap!”, suara seorang lelaki dengan tahi
lalat di bagian bawah matanya bergema di kamar ini.
Aaah, ternyata memang tidak ada aksi pencurian yang
mudah. Tentu saja harus ada drama seperti ini untuk menimbulkan kesan
menegangkan dalam aksi kami.
Kulihat wajah kedua orang itu tersenyum sangat puas
ketika membekuk kami. Aku hanya tersenyum tipis menyaksikan betapa bodohnya
mereka yang merasa sudah berhasil menangkap kawanan perampok kelas kakap ini.
Sesuai perkiraanku, beberapa detik kemudian Daiki
melancarkan serangan jitunya, menekankan sikunya di bagian tengkuk kedua orang
itu sehingga mereka terjatuh ke lantai dan kehilangan tenaga mereka dalam waktu
singkat.
“Terima kasih Daiki…”, Hikaru tersenyum sinis dan
mengelus-elus kepala Daiki.
Kami bertiga langsung kabur dan melarikan diri
melewati rute yang telah kuobservasi sebelumnya. Daiki dan Hikaru berlari
didepanku. Kami sudah tidak mengenakan topeng penyamaran kami lagi sehingga ini
adalah waktu yang sangat krusial. Satu orang saja yang melihat kami berlari
dalam keadaan ini maka dapat dipastikan ia akan mati seketika.
Tapi, rupanya dewi keberuntungan tidak berpihak
padaku. Maksudku, bagaimana mungkin ternyata rute yang kami lewati ternyata
melewati kamar Hoshino? Aku merasakan seluruh tubuhku seperti tertahan ketika
melihat ia berdiri di depan pintu kamarnya dan menyaksikan dengan mata
terbelalak atas kami yang tengah berlari.
“Hikaru, Daiki, kalian duluan saja!”, teriakku dan
dalam sekejap mereka berdua memutar pandangannya untuk melihatku.
“Inoo-chan! Kenapa?!”, tanya Daiki dan sorot tajam
mata Daiki langsung menuju ke Hoshino yang berdiri disebelahku.
“Duluan saja!!”, teriakku lagi
“Baiklah! Cepat!”, kemudian Hikaru menarik tangan
Daiki dan dalam waktu singkat mereka telah hilang dari pandanganku.
Kulihat Hoshino yang masih mematung ditempatnya sedang
memandangiku dengan tatapan tak percaya. Kutarik pergelangan tangannya untuk
memasuki kamarnya dan kukunci pintu seketika. Kudorong tubuhnya dan ia
tersandar di dinding, dengan telapak tanganku yang bersarang menutup mulutnya.
“Jangan berisik…”, kataku pelan dan kulepaskan
tanganku perlahan sehingga ia kembali dapat bernafas dengan sempurna.
“K-kenapa kau terlihat panik berlari, seperti
melarikan diri dari sesuatu. Jangan-jangan kau pembun—“
“DIAMM!!!”
Belum sempat ia selesai berbicara aku sudah
meneriakinya. Tapi dapat kupastikan bahwa teriakanku belum cukup nyaring untuk
dapat terdengar dari luar.
“Berisik! Beraninya kau meneriakiku dasar pembunuh!!”
“Kau yang diam atau kau mau kubunuh juga!!”
Aku mengatur nafasku yang tersengal. Sungguh, setiap
kali berhadapan dengan wanita ini nafasku selalu bekerja tak beraturan. Dan,
sial! Dia terlihat sangat cantik dengan gaun pink nya. Membuat logikaku
berterbangan dalam sekejap dan mau tak mau aku harus mengalihkan pandanganku
darinya.
Kulihat melalui sudut mataku, ia tengah menatapku. Aku
tak tahu arti tatapan itu dan yang dapat kulakukan sekarang adalah mengatur
tempo jantungku agar kembali normal.
“Kalau begitu…”, ia menggenggam tanganku dan tanpa
pikir aku langsung menatapnya.
“Apa?”, tanyaku penasaran
“Bunuh aku….”, sahutnya datar
Hah? Apa aku salah dengar? Apa wanita ini gila? Dia
memintaku untuk membunuhnya? Dasar wanita tak waras.
“Kau bilang apa tadi?! Apa kau sadar dengan
ucapanmu?”, tanyaku ketus
“Ya. Bunuh aku. Dengan begitu semua akan berakhir. Aku
tidak perlu menikah dengan tunanganku dan mungkin aku akan lebih bahagia mati
dengan cara seperti ini…”
“Cara seperti apa?”, tanyaku lagi yang masih bingung
dengan pernyataannya yang tiba-tiba.
“Mati ditangan orang yang kusu….”
Belum selesai ia melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba
anting komunikasiku bersuara, menyampaikan pesan dari Hikaru yang menyuruhku
untuk segera menyusulnya.
“Baik Hikaru, aku segera kesana!”, kumatikan alat
anting itu dan aku kembali menatapnya.
“Kurasa, tidak perlu kuperintahkan kau untuk tutup
mulut pun kau pasti akan tutup mulut tentang hal ini. Karena itu, aku tidak
akan ambil pusing tentangmu. Sekarang aku harus pergi. Jya!”
Aku keluar kamarnya dan berlari menuju tempat yang
diberitahukan Hikaru padaku.
Mati
ditangan orang yang kusu….
Aku bukan orang bodoh yang tidak bisa menebak
kelanjutan dari kalimat itu. Dan, benarkah? Benarkah kau menyukaiku? Apakah
kita merupakan contoh dari pasangan bodoh yang dapat menyukai satu sama lain
hanya dalam waktu dua hari? Lucu sekali, aku kerap kali mengatakan orang lain
bodoh tapi tanpa kusadari kebodohan itu sendiri bersarang dalam diriku yang
hanya akan keluar apabila aku dihadapkan padanya. Ya, pada Hoshino Hikari,
wanita angkuh yang sebelumnya kudaulat bahwa aku tak akan mau menghabiskan
seluruh hidupku hanya untuk bersamanya. Tapi, logika dan perasaan, dua hal yang
berbeda bukan?
***
“SIAL !! apa
yang harus kita lakukan sekarang? Mereka sudah tahu penyamaran kita!!”, Yabu
mondar-mandir dihadapan kami bertiga dan aku melihat Misaki yang diikat di
tiang kapal bagian paling bawah
Yabu mendekati Misaki dan dapat kupastikan apa yang ada di jalan
pikirannya. Tentu saja ia ingin membunuh Misaki dalam sekejap. Tapi, aku bisa
merasakan ada sesuatu yang lain dalam tatapan Misaki terhadap Yabu. Huft.
Bertambah lagi jumlah populasi wanita bodoh di dunia ini.
“Ketua, tahan emosimu. Dia masih berguna,
jangan dibunuh dulu”, aku berusaha menghalangi usaha Yabu. Aku pikir,
mungkin wanita ini dapat menjadi asset yang sangat berguna dalam pelaksanaan
rencanaku selanjutnya.
Aku mendekatinya dan berlutut dihadapannya.
“Misaki, aku dengar, kapal ini adalah kapal milik
perusahaan ayahmu kan?”, tanyaku.
“Ya” Misaki
menjawab singkat.
Dugaanku tepat. Tak diragukan lagi kami akan mendapatkan keuntungan yang
sangat besar dari wanita ini. Aku bercakap dengannya untuk beberapa saat, dan
percakapan itu berakhir pada ia yang setuju untuk memberikan kami akses untuk
menggunakan kamar khusus keluarga Narusawa yang tak terpakai.
Kubuka ikatan talinya dan ia terlihat bernafas lega. Lagi-lagi pemandangan
ini. Pemandangan seseorang yang memohon-mohon setengah mati agar terus
dibiarkan hidup dihadapanku.
“Apa kau bisa
membuka akses kamar itu?”, tanyaku.
“Hey Inoo-chan, nanti dia
kabur” Daiki yang tak percaya menodongkan pistol ke kepala Misaki.
“Daiki…”,
kutatap mata Daiki dengan tatapan percayalah-padaku
untuk kesekian kalinya dan dalam hitungan waktu kurang dari sedetik, Daiki
langsung berubah menjadi anak yang penurut padaku.
Wanita itu menjerit melawanku ketika ia sudah berhasil lepas dari ikatannya.
Huh? Dimana rasa terima kasihnya, dasar tidak tahu sopan santun, pikirku. Ia
bersikeras tidak ingin lagi membantu kawanan kami dan aku hanya bisa menghela
nafas mendengar penyataannya. Baiklah, kurasa tidak ada cara lain selain ini…
Kuambil pistol dan kutodongkan pistol itu ke arah Yabu. Semua yang ada
disitu sontak merasa terkejut atas tindakan tiba-tibaku. Aku tersenyum dan
sedikit mengangkat sudut bagian atas bibir sebelah kananku, menatap Misaki
dengan pandangan mengejek dan berusaha mempermainkan psikologisnya.
“Nah Misaki,
jika kau tak mau membukakan satu kamar yang aman untuk kami, Kou-chan akan mati
dengan tenang dipangkuanmu”
“INOO!!! APA
YANG KAU LAKUKAN!!” Daiki berteriak kencang, dasar anak bandel.
“Baiklah, aku
tak mau dia mati. Aku ingin dia mati di tanganku, bukan ditanganmu”
Misaki akhirnya menuruti kata-kataku dan ia mengajak kami yang sudah
memakai topeng lain dan menyamar sebagai pelayan. Tentu saja aku tidak ingin
ada celah sedikitpun dalam rencanaku sehingga aku tetap menodongkan pistol di
kepala Yabu. Daiki, Hikaru, dan Yabu menatap sinis kearahku tapi aku tetap
seperti aku adanya, tersenyum.
“Nah, ini
kamar yang biasa kupakai. Tak ada seorangpun yang bisa mengakses kamar ini
sekalipun polisi. Dan hanya bisa masuk menggunakan kartu ini” Misaki
memperlihatkan sebuah kartu dan dalam sekejap ku ambil
kartu itu.
“Misaki, segera keluar dari kamar ini dan untuk rencana berikutnya, kau
harus berpura-pura
terluka dan beristirahat di kamar ini dan kembali sebagai Narusawa Misaki yang
hanya boleh diketahui Yamada dan rekannya. Kalau rencana ini berhasil
kami akan membiarkanmu mengikuti
kelompok ini dan hidup bersama ketua dan mungkin yaah…menjadi kekasihnya”, bisikku
ditelinga Misaki.
Ia mengangguk padaku seperti anjing yang menurut pada majikannya. Tak
berapa lama, ia pun keluar dari ruangan itu.
Huft. Berakhir sudah kepura-puraan ini. Kulepaskan pistolku dan aku
membungkukkan diri di hadapan Yabu.
“gomen ne, ketua”, sahutku
Mereka bertiga nampak terkejut. Yang benar saja, apa mereka benar-benar
percaya bahwa aku ingin membunuh Yabu? Oh beritahu aku kalau kalian tidak
seperti itu. Memangnya berapa tahun sudah kita berkomplot sampai kalian tidak
mengerti jalan pikiranku? Aneh sekali.
“Kenapa kau
melakukan itu Inoo-chan?”, Yabu bertanya padaku. Aku tidak mengerti. Sungguh sangat tidak mengerti.
Bukankah jelas ada perbedaan dalam tatapan Misaki terhadap Yabu? Tapi mengapa
kalian masih bertanya ‘mengapa’ padaku?
“Dia …
menyukai ketua”, sahutku datar
“EEEHHHH!!??”
Yabu, Daiki, dan
Hikaru berteriak pada waktu yang sama.
Mereka bertiga memasang wajah yang sangat terkejut. Oh, please…
“Kau ini,
sejak kapan jadi ahli dalam hal percintaan?”
“Dasar bodoh,
aku mengukur nadinya saat mengikatnya. Entah mengapa saat melihat ketua dan
saat melihat kita nadinya berubah-ubah, jadi kusimpulkan begitu”
“Kalau salah
menyimpulkan nyawa ketua kan taruhannya” Daiki protes
“Hahaha tenang
saja Daiki. Kemungkinannya 90%”
Yabu menanyakan padaku tentang apa yang baru saja kubisikkan pada Misaki.
Kujelaskan saja apa yang telah kukatakan dan mereka semua menatapku dengan
tatapan tidak percaya.
“Sejak kapan
kau menjadi biro jodoh Inoo-chan”, tanya Daiki dan aku langsung
terbatuk pelan mendengar pertanyaan Daiki itu. Ya, sejak kapan. Sejak kapan aku
menjadi sensitif akan hal-hal menggelikan berbau percintaan seperti ini? Sama
sekali bukan diriku.
Kupukul kepala
Daiki dengan tumpukan kertas yang ada di tanganku.
“Dasar bodoh,
itu satu-satunya cara agar kita bisa bertahan di kapal ini. lagipula, permata
itu masih ada kan? Chinen dan Morimoto ternyata masih ada di kapal ini, begitu
juga dengan permata itu. dan, aku sangat tertarik pada fakta Yamada-san
melepaskan ketua begitu saja.”, aku berjalan mendekati Yabu dan berharap ada
sedikit penjelasan darinya.
Tapi ternyata harapanku tidak terpenuhi. Yabu bahkan tidak bisa mengingat
siapa itu Yamada Ryosuke. Kurasa Yamada ada hubungannya dengan masa lalu Yabu
yang tidak bisa diingatnya. Ya, memang, ketuaku ini kasihan sekali karena ia
kehilangan ingatannya saat berumur 17 tahun, dan sejak saat itulah aku yang
berusaha mengobati dan melakukan terapi padanya agar ia bisa sedikit demi
sedikit memanggil memorinya kembali. Terapi itu dihentikan sejak dua tahun yang
lalu, hal itu dikarenakan ketua yang tidak ingin lagi mengingat masa lalunya
yang kelam dan aku hanya bisa menurutinya. Aku mengerti. Mengerti benar akan
rasa kesedihan kehilangan orang yang dicintai. Maka dari itu, aku tidak ingin
lagi merasakan hal yang sama, atau bahkan melihat orang terdekatku merasakan
hal yang sama. Ya, tidak ingin lagi…
***
Setengah jam kemudian, Misaki masuk ke kamar baru kami
sesuai dengan yang kuperintahkan.
“Apa lagi rencanamu kali ini?”, tanya Misaki dengan
nada yang menantang. Huh, sombong sekali wanita ini dihadapanku. Coba saja
dihadapan Yabu, mana berani ia menunjukkan ekspresi seperti itu. Tapi sayangnya
Yabu sedang tidak disini, ia pergi keluar dengan Hikaru dan hanya menyisakan
aku dan Daiki.
“Minum ini…”, sodor Daiki padanya.
“Apa ini?”, ia bertanya heran
“Ini adalah racun dosis rendah. Minum saja dan mereka
akan percaya bahwa kau diracuni, sisanya kau yang urus Daiki!”, sahutku datar.
Aku berbalik meninggalkan Misaki dan Daiki. Aku sudah
meminta tolong Daiki untuk menggores beberapa bagian dari wajah Misaki agar ia
terlihat terluka dan rencanaku akan berjalan lancar seperti biasanya.
Kusandarkan tubuhku di kepala ranjang kamar itu.
Sungguh, aku kelelahan. Aku butuh sedikit istirahat. Tetapi, begitu kututup
mataku mencoba untuk beristirahat sejenak, kalimat Hoshino kembali terngiang
dalam ingatanku, memberikan sedikit rasa sakit yang mengernyit dalam otakku.
Hentikan.
Tolong aku.
Jangan buat
aku menjadi lebih abnormal daripada ini.
Hentikan
merasuki pikiranku.
Karena itu
hanya akan membuatku ingin menemuimu dalam hitungan waktu kurang dari
sepersekian detik.
Tapi, tentu saja aku tahu bahwa aku tidak akan pernah
berhasil untuk melupakannya. Itulah bagaimana aku tidak pernah mengerti kemana
logikaku pergi begitu memikirkannya. Bagaimana aku menjadi seorang Inoo Kei
yang idiot hanya karena bertatapan mata dengannya. Bagaimana aku menyukainya,
bukan hanya atas semua yang ada di dirinya, tetapi juga atas diriku yang
berubah signifikan ketika sedang bersamanya. Sungguh, tidak ada penjelasan
rasional atas itu.
***
Rencana selanjutnya, dimulai…
Kulangkahkan kakiku menuju dek belakang kapal,
ditemani oleh Hikaru yang bersembunyi dan selalu siaga setiap saat untuk
menolongku menghindari kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Kulihat targetku
sedang menggenggam erat besi pembatas kapal di malam yang tidak terlalu dingin
ini.
Aku berjalan perlahan, menimbulkan sedikit suara
langkah kakiku yang tidak terlalu nyaring.
“Pasti sakit
ya, diperlakukan seperti itu oleh mereka”, kataku tiba-tiba dan aku
dapat melihat dengan jelas ia terkejut dan kemudian ia berbalik menghadapiku,
mengobservasiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Tenang
saja, aku tak akan berbuat macam-macam. Kita sama-sama tak bersenjata”, lanjutku
santai. Nafasnya sedikit tidak beraturan ketika melihatku dan ia memicingkan
matanya, masih bersikap sangat waspada terhadapku.
“Perkenalkan,
aku Inoo kei” kusodorkan tanganku kehadapannya walaupun aku tahu ia tidak akan pernah
menyambutnya
Aku berusaha ramah kepadanya. Ah tidak, bukan berusaha ramah. Tapi aku
memang orang yang ramah. Paling tidak untuk kategori kawanan penjahat, aku
tergolong ramah karena aku selalu tersenyum dan tidak pernah melawan. Tetapi,
aku tidak mengerti mengapa ia terlihat sangat marah dengan keberadaanku. Aku
harus bagaimana? Sudah menjadi ramah pun, masih saja disalahkan. Lucu sekali…
“Siapa yang
mau tahu? Lagipula kenapa kau memberitahukan informasi seperti itu padaku yang
jelas-jelas musuhmu!!”
Dasar kekurangan kalsium, pantas saja badannya pendek dan mudah tersulut
emosi. Tak berapa lama kemudian, ia merebut tanganku dan melakukan bantingan
karate. Sial. Rasanya lumayan sakit. Ternyata si pendek ini bisa juga melakukan
hal-hal seperti itu. Aku terjepit dalam tahanan tangannya, tapi aku tidak akan
memberontak. Orang-orang seperti ini sangat mudah untuk dipengaruhi. Dasar si
bodoh Yamada Ryosuke. Ia bahkan melepaskan Yabu ketika Yabu sudah berada dalam
genggamannya. Dari situ saja aku sudah tahu seberapa mudahnya mencuci otaknya.
“Hahaha, Yamada
Ryosuke. Sudahlah, jujur saja pada dirmu sendiri. mereka tak membutuhkanmu lagi
atau harus sedikit kuubah frasa tadi? Mereka … tak mempercayaimu lagi?”
“Tidak!!”
Ia melepaskan cengkeramannya dariku. Lihat, begitu mudah untuk membebaskan
diriku darinya bukan? Hanya dengan dipancing seperti itu saja ia mudah sekali
melonggarkan pertahanannya atasku.
“Mempercayai
orang yang sama sekali tak percaya padamu. bukankah kau lebih bodoh dari seekor
babi yang makan kotorannya sendiri?”
“Apa maumu?”
“Kau tahu, kenapa
aku menghampirimu tak membawa senjata?”
“Tidak”, jawabnya
polos
“karena
aku percaya padamu”
“Bergabunglah
dengan kami. Ketua, aku, dan teman-temanku mempercayaimu”
“Hahahaha apa
kau gila? Bagian mananya dari diriku yang terlihat sedikitpun ingin bergabung
dari kalian? Mati beku di laut ini sekalipun aku tak akan sudi mengotori
tanganku seperti kalian.”
Kuambil sebatang rokok dari sakuku dan aku mulai menghisapnya. Bodoh. Untuk
apa aku harus berpura-pura terlihat keren seperti ini? Sejak kapan aku tahu
caranya merokok? Tapi, demi gengsiku dihadapannya aku menahan batukku
sedemikian rupa sehingga gaya merokokku terkesan alami.
Kudekati dirinya dan kutatap lurus kedalam mata coklatnya. Huh. Aku sedikit
mencibir memperhatikan gerakan retina dalam mata itu.
“Kau
berbohong, retina matamu memberitahukannya padaku. Manusia itu akan terlihat
saat ia berbohong dari matanya.”
Ia hanya terdiam menatapku. Apa kata-kataku sudah berhasil merasuki
pikirannya? Aku tertawa dalam hati. Kuperingatkan ia atas tawaran yang baru
saja kukeluarkan, dan aku berjanji dalam waktu dua jam lagi aku akan
menghampirinya untuk mengetahui jawabannya. Kutinggalkan ia yang sedang dalam
kebimbangan dibelakangku. Begitu tubuhku berbalik aku sudah tidak bisa lagi
menahan senyumanku karena tingkah polosnya. Ya, benar, dunia ini hanya dipenuhi
oleh orang-orang bodoh.
***
Aku sudah harus kembali…
Kembali menemui Yamada dan berusaha meyakinkannya. Tentu saja aku tidak
melewatkan satupun pergerakannya sejak aku meninggalkannya dua jam yang lalu.
Dan, otakku sudah terlalu terlatih untuk dapat menebak apa yang sekarang
dipikirkannya.
Kuhampiri ia yang terlihat sedang menungguku dan sesekali melihat jam
tangannya yang mahal.
“Ohayou.”
Kusapa ia dengan ramah sebagaimana aku yang biasanya. Ya, benar, hari sudah
menunjukkan pukul empat pagi dan dialah orang pertama yang kutemui pagi ini.
Adakah lagi yang lebih melelahkan daripada itu?
“Bagaimana?
Kau menerima tawaranku itu?”
“Ya, aku …
sudah tak ada lagi yang bisa kupercaya disana”
Ia memalingkan wajahnya dan aku berjalan mendekatinya. Kusandarkan bagian
dadaku pada pagar besi dan aku mencuri kesempatan untuk melihat lautan
bintangku yang sangat indah di horizon sana.
TTSSK~
Ia berusaha mencuri kesempatan untuk menyemprotkan sesuatu padaku tapi aku
tahu Hikaru cukup cepat dalam menembakkan Chlorosium yang kubuat dari jarak
jauh, bahkan lebih cepat sepersekian detik sebelum Yamada sempat menyemprotkan
gas air matanya padaku. Bodoh. Benar-benar orang bodoh. Dia pikir dia bisa melumpuhkanku
dengan trik anak kecil seperti itu? Tentu saja tidak…
Ia terlihat sangat menderita dan nafasnya tak beraturan. Tangan dan kakinya
pun tidak bisa bergerak sehingga ia tidak mungkin melawanku.
“Ada pepatah
yang mengatakan, orang baik itu tak pandai berbohong. Jangan lupa bahwa aku
sudah dua jam mengawasimu dari tempat yang jauh.”, sahutku datar.
Aku tersenyum padanya dan ia tidak memiliki daya apapun sekalipun hanya
untuk membalas kata-kataku.
“Huh, dasar
licik. Aku kira kau akan dengan mudah terjebak olehnya”, Hikaru
datang menghampiriku dan ia menjatuhkan Yamada
“Terimakasih
sudah menembakkannya dari jarak jauh Hikaru.”
Kubelai wajah Yamada yang terlihat sedikit bergetar itu. Nafasnya semakin
berkejar-kejaran dan ia terlihat meringis kesakitan. Tapi yah, aku tetap
tersenyum. Aku tidak dapat menghentikan belaianku di pipinya, di pipinya yang
sedikit berisi itu. Tidak kusangka menjatuhkan ketua tim mata-mata itu bisa
sesederhana ini, sesederhana hatiku yang menjerit kegirangan melihatnya tersakiti
tepat di depan kedua belah mataku.
***
Aku dan Hikaru kembali kekamar persembunyian kami dan
Hikaru meletakkan tubuh Yamada yang tak sadarkan diri di sofa, kulihat Yabu
sedang duduk bersandar di ranjang sambil membaca buku dan Daiki memakan pocky favoritnya.
“Melelahkan sekali…”, ucapku dan aku langsung
merebahkan diriku di empuknya ranjang kamar ini. Aaahh. Sangat nyaman, aku
tidak tidur semalaman karena aku harus melancarkan aksiku merayu ketua tim
mata-mata itu. Aku mencoba memejamkan mataku tetapi kalimat Hikaru sontak
membangunkanku dalam sekejap.
“Apa kau bilang tadi?”, tanya Yabu
“Kubilang aku melihat seseorang yang mendengarkan
percakapan Inoo-chan dengan Yamada”, sahut Hikaru mantap dan membuat semua mata
dari kami terpaku padanya.
“Siapa dia?”, tanya Daiki penasaran. Nafsu pembunuhnya
mulai bangkit kembali.
“Tinggal bunuh saja dia, beres kan masalahnya…”, sahut
Yabu datar dan ia kembali membaca bukunya.
“Ia anak tamu kehormatan itu. Anak dari keluarga
Hoshino…”, ucap Hikaru.
Eh? Sebentar? Anak keluarga tamu kehormatan Hoshino?
Hoshino Hikari?
Telingaku sepertinya tidak dapat menangkap maksud
perkataan Hikaru dengan baik. Sebentar, apa aku salah dengar?
“Bunuh saja dia…”, ucap Yabu dingin untuk kedua
kalinya. Mataku langsung melesat menatap Yabu dengan tatapan tidak percaya.
“Apa kau yakin itu Hoshino?”, tanya Daiki pada Hikaru
“Ya, aku yakin seyakin-yakinnya”, jawab Hikaru lagi.
“SEBENTAR!!”
Aku berdiri dengan cepat dan itu mengagetkan mereka
semua. Sungguh, ada apa ini? Kenapa si bodoh itu bisa berada disana pada waktu
itu? Kenapa ia tidak duduk manis saja dalam kamarnya?! Argh! Kapan otakku akan
berhenti berpikir kalau begini caranya!?!
“Ada apa?”, tanya Yabu bingung
“Hikaru, kurasa kau salah lihat!”, kuarahkan telunjukku
kehadapan Hikaru dan kurasa ia sangat terkejut atas tindakanku itu. Benar saja,
tidak biasanya seorang Inoo Kei akan bertindak seperti ini. Mereka terlihat
sangat tidak percaya dengan tingkahku saat ini, dan sungguh…aku pun sebenarnya
tidak percaya dengan apa yang kulakukan sekarang.
“Aku tidak salah lihat! Itu benar-benar dia!”, Hikaru
memajukan sedikit bibirnya dan ia terlihat sedikit kesal denganku.
“Kalau benar begitu, kurasa kita tidak perlu
membunuhnya!”, sahutku. Aku mulai memegang dahiku karena aku merasa otakku
sudah terlalu banyak berpikir. Kurasa aku bisa gila lama-kelamaan jika hal
seperti ini terjadi terus-menerus.
“Kau ini kenapa! Sudah perjanjian kita bukan bahwa
siapapun yang mengetahui tindakan kita harus dibunuh?!”, Yabu berdiri
dihadapanku dan ia terlihat sedikit terganggu dengan pernyataanku sebelumnya.
Aku bisa menyadari bahwa mereka masih tidak mengerti alasanku melakukan ini,
terkecuali Daiki. Ia menunjukkan wajah aku-tahu-alasan-nya dihadapanku dan itu
membuatku menghela nafas.
“Kalian ini! Sedikit-sedikit membunuh orang! Ia tidak
memegang peran krusial untuk menghancurkan kita bukan?! Seperti yang Hikaru
katakan ia HANYA mendengar pembicaraanku dengan Yamada! Bagian mananya dari
Hoshino yang harus kita bungkam?!!”, aku berteriak lantang dihadapan mereka
semua dan aku dapat melihat secara jelas Yabu yang membelalakan matanya
dihadapanku
“Inoo-chan, kau bercanda bukan? Kalau begitu selamat,
candaanmu sangat lucu”, Hikaru tersenyum sinis dan aku mengernyitkan dahiku.
Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa aku bercanda? Apa aku terlihat seperti
seseorang yang sedang bercanda?
“Aku tidak bercanda! Pokoknya aku tidak akan
membiarkan kalian membunuhnya! Bukankah Narusawa juga mengetahui tindakan kita?
Tapi ia tidak kau bunuh kan?!”, tanyaku sembari menatap mata Yabu.
“Kau kenapa?! Memang ada hubungan apa antara dirimu
dengannya?! Memangnya dia pacarmu, istrimu, atau ibumu?! Bukan salah satu dari
mereka kan?!!”, Yabu membalas kata-kataku dengan wajahnya yang memerah.
Sungguh, kami tidak pernah bertengkar seperti ini sebelumnya.
Tapi, Yabu benar. Dia bukan siapa-siapa untukku. Hanya
tamu kehormatan yang tidak sengaja kukenal di pelelangan kali ini. Dan benar
lagi, aku bahkan tidak dapat mengeluarkan satu alasanpun dari mulutku mengapa
aku bersikeras mempertahankan hidupnya.
“Benar. Ia bukan siapa-siapa dalam hidupku. Tapi,
kalau kau bertanya seperti itu, otakku mulai berpikir tentang berbagai alasan
mengapa aku harus melindunginya, dan karena terlalu banyaknya alasan itu, aku
kebingungan untuk memilih alasan terbaik dan menyampaikannya dihadapanmu. Ya,
sesederhana itu lah alasanku.”
Mereka masih terdiam dalam kebingungannya
masing-masing. Kurasa berada disini saat ini bukanlah waktu yang tepat. Tanpa
kusadari, pikiranku telah mengatur langkah kakiku untuk menjauh dari kamar
persembunyian kami. Aku berlari, berlari seakan tidak ada lagi hari esok yang
akan menyambutku.
Kakiku terhenti tepat didepan kamarnya. Di depan kamar
seorang wanita yang sudah membuatku kehabisan akal. Wanita yang sudah mengambil
alih semua tindakan logis dan hatiku, sehingga ketika berdiri dihadapannya aku
hanya seperti sebuah boneka rusak yang hanya dikendalikan oleh insting.
TOK…TOK…TOK…
Kuketuk pintu kamarnya dan kurang dari sepuluh detik
ia membuka pintu kamarnya. Tanpa ragu kulangkahkan kakiku memasuki ruang
pribadinya dan kukunci pintu dibelakangku.
Sedetik kemudian, kupeluk dirinya…erat.
Ini kedua kalinya aku memeluknya seperti ini. Sial.
Lagi-lagi jantungku berisik. Aku semakin menenggelamkan kepalanya di dadaku dan
samar-samar tercium bau shampoonya yang sepertinya baru beberapa saat yang lalu
ia pakaikan. Gawat. Ini semakin gawat…
“A-ada apa?”, ia berbisik di dadaku. Tetapi,
dibandingkan menjawab pertanyaannya, aku lebih memilih untuk tetap memeluknya
dengan erat seperti ini. Bodoh. Membayangkan kehilanganmu saja sudah cukup
membuatku gila. Membayangkan Daiki mengarahkan snipernya ke wajahmu, atau
membayangkan Hikaru menyuntikkan racunnya ke tubuhmu, bagaimana aku dapat hidup
dengan bayang-bayang itu semua? Tentu saja tidak bisa…
Otakku sudah terlalu terkontaminasi dengan
eksistensimu, sehingga tiap saat dalam hidupku aku selalu mengingatmu, dan itu
benar terjadi selama dua hari belakangan ini. Melihat senyummu waktu itu,
seluruh bagian dalam tubuhku seperti menerima asupan insulin yang tidak pernah
kurasakan sebelumnya. Lantas, bagaimana kalau kau mati? Dengan apa aku mampu
bertahan hidup?
“Tak akan kubiarkan…”, sahutku pelan.
“Eh? Apa katamu?”
“Tak akan kubiarkan mereka menyentuhmu…”, sambungku
lagi.
“Mereka? Siapa mereka?”
Ia bertanya polos dan kepolosannya itu semakin
mempererat pelukanku di tubuhnya.
Tiba-tiba aku merasa seseorang membuka kunci kamarnya.
Sebentar? Bagaimana kuncinya bisa terbuka dari luar?
“HIKARI!! ADA APA INI?!!”
Aku melepaskan pelukanku dalam sekejap dan mengatur
nafasku karena terkejut akan kehadiran ayahnya yang tiba-tiba.
“Ah a-ayah…”, ia terlihat sedikit panik dan kuakui aku
pun mengalami kepanikan yang sama.
Dalam sekejap aku mendengar suara tamparan yang keras
dan sedetik kemudian kulihat pipi kanan Hoshino memerah.
“KAU INI BENAR-BENAR MURAHAN!!! KENAPA KAU MAU SAJA
DIPELUK OLEH LELAKI TAK DIKENAL?!!”
Ayahnya berteriak nyaring dan menunjuk ke arahku.
Hoshino hanya terdiam dan yang kulihat ia hanya mengelus-elus pipinya, tapi
mataku cukup jeli untuk melihat tetesan-tetesan air yang mulai jatuh dari
matanya.
Detik itu, kurasakan ratusan pisau tajam menggerogoti
hatiku sedemikian brutalnya. Sungguh, kapan wanita ini akan berhenti membuatku
merasa cemas? Sejak kapan aku bisa merasakan kesedihan yang sama dengan apa
yang dialaminya sekarang? Benar-benar tidak logis. Dia yang memberiku bahagia
yang tak dapat kujelaskan akan selalu menjadi alasan atas sedihku yang juga tak
dapat kujelaskan.
“Sebentar Tuan…Itu bukan salah Hoshino, ah maksudku
Hikari. Aku yang seenaknya masuk kamarnya dan me…memeluknya…”, aku menghampiri
Hoshino dan memastikan pipinya tidak mengalami lebam, tetapi kemudian dalam
waktu singkat ayahnya mendorongku agar menjauh dari putrinya.
“KAU INI SIAPA?! BERANINYA MENGANGGU ANAKKU! DAN KAU
JUGA HIKARI, SEJAK KAPAN KAU MENJADI ORANG RENDAHAN SEPERTI INI!!!”
Ayahnya tidak berhenti melancarkan hinaan dari
mulutnya. Kalau hinaan itu untukku, aku masih bisa bertahan. Tapi, mengapa ia
tega menghina putrinya sendiri? Apa ia tidak sadar bahwa tubuh Hoshino sudah
bergetar hebat dan ia berusaha kuat menahan tangisannya? Kurasa, amarahku mulai
bangkit kembali.
“Tuan! Hikari tidak bersalah! Itu murni kesalahanku!”
Tiba-tiba ayahnya menarik tanganku untuk keluar dari
kamarnya. Aku hanya bisa mengikutinya karena tanpa kuduga ayahnya lumayan kuat
untuk menarikku secara paksa. Ia mengunci kamar Hoshino dari luar dan
dimasukkannya kunci itu ke sakunya.
“KAU TIDAK BOLEH KELUAR SAMPAI KAPAL INI BERLABUH DI
NYC!!!”, teriak ayahnya dari luar. Tidak ada jawaban. Aku bertaruh, ia sedang
menangis di dalam.
“Dan kau…jangan dekati anakku lagi!”, ia menunjukku
tepat di depan mataku. Aku hanya bisa terdiam dan otakku berpikir dengan tempo
yang melambat karena tak dapat kupungkiri aku sedang kelelahan. Sebelum aku
dapat membalas kata-katanya, beliau sudah menghilang dari pandanganku.
Aku tersadar dari lamunanku dan kudapati aku masih
berdiri di depan pintu kamarnya. Aku tidak dapat berbuat apa-apa tapi kuharap
ini dapat sedikit menghiburnya…
“Istirahatlah. Kalau kau ingin menangis, menangislah.
Tidak akan ada yang melihatmu, bahkan aku pun tidak dapat melihatmu. Maafkan
aku, tapi…percayalah padaku. Aku akan berusaha semampuku melindungimu”
Kusampaikan kata-kata itu dengan nada suara yang
lumayan pelan di pintunya, berharap ia akan mendengarnya walaupun
kemungkinannya hanya 50 persen. Ya…percayalah padaku.
***
Aku kembali melangkah ke kamar persembunyian kami.
Walaupun aku sedikit ragu, tetapi setelah 10 detik mengumpulkan keberanian, aku
melangkah masuk ke dalam. Kulihat Yabu masih berkutat dengan bukunya dan Hikaru
serta Daiki bertukar minuman.
“Dari kamar si nona besar?”, tanya Yabu tanpa
mengalihkan pandangan dari bukunya.
Aku hanya bisa terdiam dan tidak memiliki kata-kata
untuk membalasnya.
Kemudian Yabu menghampiriku dan aku hanya bisa
mendongakkan sedikit wajahku untuk melihatnya yang memang lebih tinggi 4 cm
dariku.
“Baiklah, aku tidak akan membunuhnya…”, ucap Yabu
tiba-tiba dan itu cukup membuatku terkejut.
“Dengan syarat ia tidak akan membocorkan apapun soal
kita…”, sambungnya lagi
“Pasti tidak. Kujamin itu…”, sahutku mantap.
“Tapi, kalau suatu saat ia ketahuan mengungkapkan
rahasia kita, maka kau sendiri yang harus membunuhnya dengan tanganmu yang
masih suci ini…”, Yabu mencibir sinis dan ia mengangkat tangan kananku di
hadapan wajahku.
Aku percaya Hoshino tidak akan mengatakannya pada
siapapun. Ya, aku sudah menyuruhnya untuk percaya padaku maka dari itu aku juga
harus percaya padanya.
“Baiklah.”, sahutku dan sedetik kemudian Yabu
tersenyum di hadapanku. Senyum tanpa matanya yang sangat kusukai dan aku tahu
tidak ada kebohongan di balik senyuman itu. Aku tahu Yabu tidak akan pernah
membohongiku. Ya, karena kami sudah berteman dan saling mempercayai satu sama
lain dalam kurun waktu yang lama.
***
Aku berjalan dengan hati-hati di koridor kapal,
memastikan tidak ada yang mengetahui pergerakanku dan aku menghampiri sebuah
kamar yang tidak pernah kusinggahi sebelumnya. Hoshino Kanata. Kamar ayah dari
wanita itu. Sudah dua jam berlalu sejak kejadian terakhir di depan kamarnya.
TOK…TOK…TOK…
Kuketuk pintu kamarnya dengan hati-hati dan beberapa
saat kemudian ayahnya sudah berdiri membukakan pintu untukku.
“Mau apa kau kesini?”, tanya ayahnya dingin
Aku terdiam sejenak, kemudian tanpa pikir panjang aku
segera berlutut dihadapannya. Mungkin beliau kaget, yah aku tak tahu bagaimana
ekspresinya karena yang dapat kulihat saat ini hanyalah karpet merah di kapal
ini.
“Maafkan aku. Kejadian semalam memang aku yang salah.
Aku tiba-tiba masuk kekamarnya dan ia tidak tahu apa-apa. Sungguh, kami tidak
berbuat apa-apa. Hanya aku yang memeluknya, itupun secara paksa dan ia tidak
melakukan sesuatu yang salah. Percayalah padaku…”
Aku menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatku.
“Tapi, aku mohon…serahkan ia padaku. Kalau Anda tidak
bisa menyayanginya, tidak bisa mengerti arti dari penderitannya, serahkan ia
padaku. Aku berjanji akan membahagiakannya, aku percaya pada diriku sendiri
bahwa aku mampu membuatnya tersenyum daripada Anda yang hanya bisa membuatnya
menangis. Mungkin aku memang lancang, tapi itulah yang kupikirkan…”
“Memangnya kau siapa?!”, tanya ayahnya dengan nada
yang meninggi.
Aku bangkit berdiri dan menyodorkan beberapa lembar
kertas dihadapannya. Tanpa ragu ayahnya langsung mengambil kertas itu dan
matanya terbelalak ketika mengetahui apa yang tergambar dan tertulis disana.
“Aku hanya orang biasa. Sangat biasa. Tetapi aku tidak
akan pernah menjadi seperti lelaki dalam foto itu. Namanya Ayukawa Taiyou
bukan? Tunangan Hoshino Hikari itu? Ya, seperti yang bisa Anda baca ia sering
terlihat dengan beberapa wanita lain. Aku menggunakan kemampuan hacking-ku untuk mencari tahu semua
tentangnya dan itulah yang kudapat. Sekarang, apa kau masih mau memberikan putri
semata wayangmu kepada lelaki macam dia?”
Aku menjelaskan panjang lebar dan tersenyum dalam hati
melihat ekspresi ayahnya yang sangat terkejut itu.
“Benarkah ini kau yang mendapatkannya?”, tanya beliau
lagi dan kali ini nadanya menjadi lebih rendah, ia menatapku dengan pandangan
memelas.
“Tentu saja”, jawabku tersenyum.
Kulihat ia meremas kertas ditangannya itu dan ekspresi
marah terpancar jelas di wajah beliau yang memerah.
“Nah, sekarang Anda pikirkan saja kemungkinan yang
lebih baik Tuan Hoshino. Saya permisi dulu…”
Kemudian aku berjalan menjauhi kamar ayahnya. Koridor
ini sangat sepi dan tidak ada seorangpun disini, membuatku dapat mengembangkan
senyum keberhasilan semauku.
Tidak
sia-sia aku mempunyai kemampuan hacking, mengedit foto, dan memalsukan data
dalam tingkat tinggi. Lihat, sangat berguna bukan?
---to be continued---


No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)