Pages

WHERE MY HEART BELONG Yuto Nakajima POV Chapter 2




WHERE MY HEART BELONGS Nakajima Yuto’s POV Chapter 2


Title : Where my heart belongs
Rate : PG-15
Genre : dark, crime, romance
Disclaimer : I don’t own anything except the story
Author : Shuri Airie
POV : Yamada Ryosuke
OC : Erinzu Ai


                Kita tak bisa menduga apa yang akan terjadi pada diri kita. Rencana telah dirangkai sedemikian rupa namun ada kalanya terjadi suatu hal yang bisa merubah rencana tersebut, entah menjadi semakin baik atau justru mengacaukan apa yang telah tertuang disana.
Tugas yang sedang berlangsung menjadi sedikit terhambat karena pikiranku terpecah menjadi dua. Tas kecil ini.. Ya, hanya tas ini. Jika tidak kukembalikan aku tidak tau nasib apa yang akan menimpa gadis itu. Dalam tas kecil yang cukup kusembunyikan dibalik jasku ini terdapat barang-barang yang mungkin sangat penting untuknya. Aku tidak bermaksud peduli, hanya saja ada hal lain yang ingin kuketahui bila aku bertemu dengannya lagi. Keganjilannya membuatku ingin memecahkan apa yang terjadi dibalik insiden Tochi Sakana itu….
Bertugas mengawasi bagian dalam kapal.Syukurlah aku ditugaskan mengawasi tamu juga. Itu artinya aku bisa mencari sosoknya dan memiliki kesempatan untuk menyerahkan tas miliknya.
Nah itu dia ..Sangat mudah menemukan sosoknya diantara kerumunan orang-orang kaya itu.
Gadis paling mungil masih dengan mengenakan gaun berhiaskan bulu-bulu. Sudah pasti dia tidak memiliki gaun lain untuk dipakai selain gaun putih bulu-bulu itu. Tak menyia-nyiakan waktu, aku menghampirinya.
“ Eh? Kau?!..”, sentaknya. Raut wajahnya terkejut ketika melihatku, lebih terkejut lagi ketika aku menyerahkan tas kecil miliknya.
“ Hey ! Ini tasku..Aku mencarinya kemanapun dan tidak berhasil menemukannya.Dimana kau menemukannya?“, tanyanya antusias.Matanya yang berbinar menatapku.
“ Oh itu .. “, belum sempat aku melanjutkan ucapanku, sesuatu bergetar dibalik jasku. Ada pesan dari Keito dan Yuya.Sudah saatnya menjemput dua arkeolog itu. Hampir jam 9 malam dan acara pelelangan akan segera dimulai.
“ Aku harus pergi. Ja~”
                “ Eh?”
Aku bergegas pergi keluar ruangan, Keito dan Yuya berjalan disampingku sesaat setelah meninggalkan ruangan.Sedikit lagi untuk sampai dikamar dua arkeolog itu. Di persimpangan depan tinggal belok kanan dan ..tunggu, Yamada sudah berada diluar dengan seorang pelayan. Ada apa? Aku mencium aura panas dari diri mereka.
“aa-aku tidak tau, aku hanya mengantarkan makan malam.” Pelayan itu tampak pucat.Aku melihat kedalam ruangan dan menemukan Chinen dengan Ryutaro tak sadarkan diri. Ada apa ini?
Aku dan Keito segera memindahkan tubuh Chinen dan Morimoto yang tergeletak disamping meja makanan mereka.Mereka tak sadarkan diri.Sudah pasti karena makanan yang diantarkan oleh pelayan itu.Yuya segera memeriksa makanannya.
Tiba-tiba seseorang masuk keruangan ini dan langsung membidikkan pistolnya kearah pelayan wanita itu.
“Narusawa Misaki, Menyerahlah!!!”
 Narusawa Misaki? Nama yang sangat kukenal.. Anak bangsawan itu kan? Yang benar??Tapi dia mengenakan seragam pelayan. Bagaimana mungkin..
                Lalu, siapa gadis itu?Tidak seperti wanita pada umumnya.Gadis itu terlihat garang. Namun sepertinya Yamada mengenalnya karena dia menyebut nama Ryumi ketika melihat gadis itu.
 “aku mohon lepaskan aku, demi apapun aku hanya disuruh melakukan hal ini. Mereka…. penjahat itu, yang menyamar dan menggunakan topeng wajah.Mereka yang menyuruhku memberi racun pada makanan ini.“ pelayan itu tersungkur kelantai. Aku tidak bisa menangkap maksud dari pelayan ini.
   “mereka? Siapa mereka?” tanyaku. Mungkinkah …
“bukankah kau diberitakan telah diculik? Kenapa kau ada di sini?”Keito pun kebingungan.Pelayan itu menjawab perlahan.
“salah satu tamu dikapal pesiar ini. Yoshizawa Toru…” , ucapan pelayan itu menggantung ketika dengan cepat gadis yang tadi dipanggil Ryumi itu melesat keluar ruangan. Entahlah apa yang ada dalam pikirannya. Kini aku harus berjaga disini.Baru saja Yamada memberikan komando.Keito ikut berjaga bersamaku sementara Yuya dan Yamada pergi ke acara pelelangan.
                Sepeninggal Yamada dan Yuya, Keito tetap bersiaga sementara aku mencoba memeriksa keadaan Chinen dan Morimoto.Aku harus memastikan bahwa dua arkeolog ini baik-baik saja.
                “ Yuto ..”, Keito bergumam pelan hampir tidak terdengar. Aku berbalik dan melihat Keito mengambil sikap siaga dibalik pintu yang telah ditutup ketika Yamada dan Yuya pergi tadi. Terdengar suara derap langkah perlahan mendekati pintu. Aku pun melakukan hal yang sama seperti yang Keito lakukan. Pistol kugenggam erat bersiap menemukan targetnya.
                “ Tunggu .. “ Keito mengintip dari celah pintu.
                “ Dia.. perempuan”
                “ Hah? Perempuan? Yang benar saja..“, sentakku dengan suara tertahan.
                “Iya, Perempuan mungil dengan gaun putih bulu-bulu”
                Perempuan mungil?Gaun putih bulu-bulu? Jangan-jangan ..
                Aku memasukan kembali pistolku ke balik jas dan membuka pintu itu dengan cepat.Benar saja seperti yang kuduga.Erinzu Ai sudah berada di hadapanku.Dia malah mengeluarkan senyum lebar seperti anak tk baru mendapat balon.
                “ Hai. Aku tadi mau bilang terima kasih tapi kau pergi begitu saja makanya aku mengikutimu”, jelasnya dengan wajah tanpa dosa.
                “ A-apa? Apa yang kau lakukan disini ?!!”
                “ Sudah kubilang, aku mau mengucapkan terima kasih”
                “ Kau mengenalnya Yuto? Siapa dia?”, Keito mengerutkan keningnya dan menatap aneh padaku dan gadis mungil ini.
                “ Ah, dia …”
                “ Hajimemashite. Erinzu Ai desu.Yoroshiku Onegaishimasu “, ucapnya seraya membungkukan badan. Gadis itu..untuk apa melakukan perkenalan diri? Tak ada yang mau berkenalan dengannya.Lagipula ..
                “ Tadi laki-laki jangkung ini.. “, dia terlihat berpikir sambil mengacungkan telunjuknya padaku.
                “ Tadi temanmu memanggilmu Yuto? Namamu?”, tanyanya. Aku hanya membuang muka.Namun gadis itu malah melanjutkan ucapannya.
“ Yuto memberikan tasku yang hilang kemarin. Aku mau mengucapkan terima kasih tapi dia malah keburu pergi jadi aku mengikutinya.Tadi aku sempat bingung ada beberapa orang yang masuk kamar ini kemudian tak berapa lama keluar lagi, tapi Yuto justru tidak keluar lagi makanya aku memberanikan diri untuk mencoba masuk. Eeeh sebelum aku mengetuk pintu, pintunya sudah terbuka ..hehe”
                Dia menjelaskan panjang lebar.Sungguh.Sejujurnya berapa umurnya?Dan … hehe? Cih!
                “ Eh? Bukankah mereka dua orang yg memiliki permata itu? Kenapa mereka malah tidur sementara acara lelangnya akan segera mulai?”, Erinzu mulai menyadari bahwa Chinen dan Morimoto terbaring ditempat tidurnya.
                “ Sudahlah. Ayo !”, aku menarik lengan Erinzu untuk segera pergi.
                “ Keito, maaf kutinggal sebentar. Kuserahkan padamu. Aku akan segera kembali”
                Keito menjawab dengan anggukan dan aku bergegas membawa gadis itu pergi menjauh dari ruangan.Aku berbelok dan berhenti beberapa langkah dari belokan.Cukup jauh dari ruangan tadi namun aku masih bisa mengawasi ruangan itu dari jauh sehingga aku bisa melihat siapa saja yang mendekati kamar itu.
                “ Hey! Lepaskan tanganku .. “
Aku melepaskan tangan gadis itu.Sekarang dia menatapku dengan pandangan... -Kau telah membuat balonku meletus dan harus menggantinya- seperti itu.
                “ Tadi kau ingin mengatakan terima kasih kan? Baiklah sama-sama. Sekarang cepat pergi”
                “ Apa? Kau mengusirku?Kau ingin aku pergi dari kapal ini?Cih, bagaimana mungkin?Aku mau ikut acara pelelangan.Kau ini kenapa? Aku kan bermaksud baik tapi kenapa kau ..
                Mataku terbelalak. Dari ujung sana terlihat dua orang mendekati ruangan itu dan..masuk. Apa?? Ada orang yang masuk ke ruangan itu.Bahaya !
                “ Cepat pergi dari sini !!”, perintahku.
                “ Apa? Apa maksudmu?”
                “Bukan mengusirmu dari kapal ini. Tapi menjauhlah dari tempat ini dan ruangan ini !”
                “ Eh?”
                “ SEKARANG, LARI !!!”
                Gadis itu terlihat bingung namun tak urung juga dia berlari dari sini.Bagaimana pun juga, ini sangat berbahaya dan gadis itu tak boleh berada didekat sini.Kuharap tak ada yang melihat kami.Setelah memastikan gadis itu menghilang dari sekitar sini, aku bergegas ke ruangan tadi.Semoga saja Keito bisa menanganinya dulu.
                Aku menggebrak pintu.Dua pria yang tengah mencari sesuatu itu terlonjak kaget begitu mendengar pintu terbuka. Disatu sudut Keito muncul, rupanya ia bersembunyi terlebih dahulu untuk menyergap mereka. Dengan sigap aku dan Keito menghampiri mereka lalu meraih tangannya.

                “ Kalian tertangkap !!” teriakku yang menimbulkan efek gema dalam ruangan ini.Aku sedikit mengulum senyum karena berhasil menangkap dua orang ini.Aku mengirim pesan singkat pada Yamada bahwa aku dan Keito berhasil menangkap mereka.Tiba-tiba aku merasa ada yg menekan tengkukku.Sangat cepat dan sesaat namun berhasil melumpuhkan pertahananku.Badanku tersungkur kelantai karena tenagaku mulai hilang.Sial.Tangkapanku lepas. Bagaimana dengan …. Ah! Keito pun terkena hal yang sama.
                “ Terima kasih, Daiki”, salah satu dari mereka mengucapkan terima kasih dan mengelus kepala orang yg dipanggil Daiki itu. Siapa sih Daiki?Sepertinya dia yang melakukan pukulan itu pada kami.Darimana dia muncul?tadi aku tidak melihatnya masuk ruangan ini. Dan sekarang mereka kabur dari ruangan ini.
Gawat, bagaimana ini?!. Sial, aku harus segera menghubungi Yamada.
“Ryosuke !!ketiga orang yang hendak mengambil permata itu berhasil kabur !!”, aku berkata hampir berteriak ketika walky talky-ku tersambung pada Yamada.
“APA?!!ketiga orang itu berhasil kabur?!!! Bagaimana bisa!!?” suara Yamada dari seberang sana. Aku menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana pun juga, Yamada adalah otak dari misi kita kali ini.
“baiklah, tenang saja. Ketua mereka sudah tertangkap. Bila kepalanya tertangkap maka buntutnya juga akan dengan mudah mengikutinya”
Fiuh..syukurlah. Mungkin aku bisa bernapas lega untuk sekarang.Tenagaku pulih sedikit demi sedikit.Kedua Arkeolog itu memang masih tak sadarkan diri.Tapi mereka berada ditangan kami. Aku tidak akan lengah kali ini.


Satu jam kemudian …
                “ Yuto, kita harus segera berkumpul ke ruang rahasia kita. Ini… buruk “, Keito berkata setelah mendapatkan pesan dari Yamada.
                Buruk? Jangan…
               
BRUKKK
Yuya memojokkan Yamada ke dinding begitu aku dan Keito tiba di ruang rahasia.
“APA YANG KAU LAKUKAN ?!!”, bentak Yuya. Ia terlihat sangat marah.
“Yuya, tenangkan dirimu” Aku menarik tangan Yuya berusaha melepaskannya dari tangan Yamada.Suasana mulai kacau, Yuya sangat marah pada Yamada yang telah melepaskan kepala perampok.Aku dan Keito berusaha menenangkan Yuya namun Yuya malah semakin naik darah sampai-sampai Keito harus menamparnya.Aku mengerti, tentu Yuya kecewa dengan Yamada. Bagaimana mungkin ia begitu saja melepaskan kepala perampok yang telah bertahun-tahun buron setelah membunuh banyak orang tak berdosa dan sekarang membawa anak tunggal dari klan Narusawa sebagai sanderanya..Namun, seperti yang Keito bilang, Yamada tentu memiliki alasan dan aku percaya itu. Sayangnya, ketika kami menunggunya mengatakan apa alasannya, Yamada terdiam cukup lama..Akhirnya dia hanya meminta maaf, meminta maaf karena tidak bisa menceritakan alasannya sekarang.
                Sungguh, aku kecewa ..Tapi, bukan berarti aku harus menghilangkan kepercayaanku. Hanya saja..Entahlah, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Yamada.
“kalian dengar? Dia bahkan tak mengungkapkan sedikitpun alasannya.Aku heran mengapa Nanami-san memintanya sebagai ketua kita dalam misi kali ini.apa karena dia … anak angkat Nanami-san??”
Yuya semakin menjadi, kata-kata seperti itu tak pantas dikeluarkan. Hanya akan memperparah keadaan. Dia ini ..
“Yuya, hentikan.Kau sudah keterlaluan” Keito membentak Yuya.
Kejadian panas itu belum sepenuhnya mendingin ketika tiba-tiba saja kami mendengar sebuah suara dari pintu depan. Aku reflex mengambil pistol, begitu pun yang lain. Yamada memintaku membuka pintu dan segera kulakukan.
“Na… Narusawa-san !!”
Aku dan yang lain sungguh kaget mendapati Narusawa yang berada dibalik pintu.Kali ini ia tidak memakai pakaian pelayan, tapi memakai gaun yang telah robek dan compang-camping. Apa yang terjadi? Dia berhasil kabur dari sanderaan komplotan penjahat itu?Dengan wajahnya yang sedikit terluka dan nafasnya terengah-engah.Iaterlihat lemas dan hampir pingsan. Yuya menggendong Narusawa dan memberikannya segelas air putih. Kami memberikan beberapa pertanyaan, namun dengan kondisinya yang seperti itu tentu tidak bisa memberikan jawaban.Ia bilang tidak dapat ingat apapun, hanya disuruh meminum sesuatu kemudian ia menangis dan pingsan.
Yuya memeriksa nadinya, lalu menyuruhku memeriksa kemungkinan kalau ia diracuni.Aku mengambil suntikan dan memeriksa sampel darahnya.
“ Teman-teman, ada faks dari Nanami-san. Dia bilang untuk tetap focus melindungi permata itu dan pemiliknya serta mengejar para perampok itu. dan Ryosuke, Nanami-san bilang kau tetap di kamar ini hingga misi selesai”
“APA!!”
“Ya, Ryosuke, karena kau belum bisa menceritakan alasanmu, kami tak bisa mengikutsertakanmu lagi dalam misi ini.”
“Tetapi bagaimana bisa…”, Yamada masih tidak bisa percaya.
“Itu permintaan dari kami semua”, kata Yuya seraya menepuk bahu Yamada.
“Nah, berikan pistolmu Ryo, ini perintah Nanami-san”
“Apa-apaan ini??hanya karena masalah sepele seperti ini kalian mengeluarkanku dari misi ini?”, Yamada bersikeras.
“Bukan begitu Ryosuke…”Aku mendekati Yamada dan menepuk bahunya. Berharap ia mau mengerti dengan maksud kami melakukan hal itu padanya. Namun Yamada malah menyingkirkan tanganku dari bahunya.Ia memberikan pistolnya dan bergegas keluar tanpa berkata sepatah katapun.
“ Apa ini tidak apa-apa? “, tanyaku yang cukup mengkhawatirkan Yamada. Keadaan belum membaik namun Yamada tidak bersenjata. Bagaimanapun juga, ia tentu menjadi incaran komplotan penjahat itu karena ia hampir membekuk kepala dari komplotan.
“ Tidak apa-apa. Kita akan melindunginya ..”, ucap Yuya. Syukurlah, walaupun Yuya sempat naik darah namun ia tidak melepaskan Yamada dari misinya. Lebih tepatnya, dari pertemanannya
                “ Baiklah, aku akan kembali ke kamar Chinen dan Morimoto untuk berjaga-jaga”, kataku. Keito mengikutiku dibelakang.
Markas kami dengan kamar Chinen dan Morimoto tidak begitu jauh.Tapi rasanya kaki ini langkahnya pendek hingga tak kunjung sampai di tempat tujuan.Padahal aku merasa tubuhku cukup tinggi.Seharusnya langkahku bisa lebar dan berjalan cepat.Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
                “ Yuto !”, Keito sudah lebih dulu berada di depan kamar Chinen dan Morimoto, tapi pintunya terbuka. Kami lengah lagi??Lebih gawat lagi, Ryuu sudah tak ada lagi dikamarnya.Hanya ada Chinen yang sudah setengah sadar namun masih sangat lemah.
                Desingan peluru terdengar tiga kali dari arah yang sama. Kakiku bergerak sendiri menuju tempat asalnya bunyi desingan peluru itu.Bergerak cepat, berlari menuju dek bawah.Dari dek bawah !Semoga tak terjadi hal buruk. Walau perasaanku tak enak tapi semoga saja ..
Itu ! Langkahku terhenti..
 Ada seorang wanita berlutut memeluk ..Morimoto-san?!!
               
Wanita itu menyadari keberadaanku.Ia terlihat panic. Aku bergegas menghampirinya namun ia
segera meninggalkan Morimoto-san. Tapi sebelum dia pergi, aku yakin. Sungguh, aku yakin aku melihatnya..

                Aku melihat wanita itu menyentuh bibir Morimoto dengan bibirnya.Apa aku tak salah lihat? Atau memang seharusnya aku tidak melihat hal itu?
                Wanita itu mulai menjauh
                “ Heii !!! “, teriakku. Aku hendak mengejarnya namun aku menyadari bahwa Morimoto terluka.Gawat, lengan kanannya menghasilkan darah yang cukup banyak membuat baju putihnya memerah dengan tetesan yang juga berwarna merah membasahi lantai.
                Kubiarkan wanita itu pergi.Aku harus menolong Morimoto-san terlebih dahulu. Tapi aku bisa mengingat dengan jelas setiap detail dari wajahnya..

                Aku mencoba menggendong Morimoto, namun ia meringis kesakitan. Sial, aku tak bisa membawanya sendiri dan akupun tak bisa meninggalkannya.

                “ Yuto .. “
               
                Eh? Siapa?
                Aku yang sedang berlutut disamping Morimoto mendongakkan kepalaku untuk melihat sipemilik suara. Suara perempuan..
                Aku mengenalnya.
                Erinzu Ai???
Lagi?!

                Aku mendengus, tak bisakah aku sekali saja tidak dipertemukan dengannya.Apalagi dalam kondisi sulit seperti ini.
                “ Kau sudah kusuruh untuk pergi, kenapa ..”
                “ Aku memang pergi, lalu aku bersembunyi. Bersembunyi untuk waktu yang lama hingga aku mendengar suara peluru dan entah kenapa aku bisa sampai kesini”
                Haaah… Aku tak tahu lagi harus berbuat apa untuk gadis ini. Haruskah aku mengikatnya dikamarnya lalu mengunci pintunya agar ia tidak datang padaku yang sedang bertugas? Sangat mengganggu.Bisa membahayakan keselamatannya bila dia tetap berada disekitarku. Kuakui memang ada yang ganjil dengannya namun ia tidak berbahaya bagi timku. Justru dia yg bisa saja terancam bahaya.
                “ Ya ampun.. Yuto! Dia terluka! Ayo selamatkan dia, Yuto!”Kini dia malah berteriak-teriak panic ketika melihat darah yang terus keluar dari lengan kanan Morimoto.
                “ Urusaiii ! Jangan memanggilku Yuto Yuto dan Yuto.Kau ini berlagak mengenalku saja”
                “ Memang aku mengenalmu. Namamu Yuto kan?”
                “ Nakajima Yuto. Jangan so kenal! Panggil Nakajima saja!”
                “ Na-ka-ji-ma san?”, ia malah memanggilku dengan terbata-bata.
                “ Baiklah. Panggil Yuto saja ..”, ujarku mengalah. Ia terlihat senang.
                “ Okey desu! Yuto-kun ..”
                “ Jangan so kenal !!” teriakku. Erinzu mendengus sebal.Ia memasang tampang serius.
                “ Tak bisakah kita membahas nama nanti saja? Dia sedang terluka dan kita harus segera menolongnya. Kau mau membiarkannya mati disini?”, cecar Erinzu.
               
                Aku mengutuk diriku sendiri.Kali ini aku merasa bodoh dan Erinzu Ai yang biasanya polos dan kekanak-kanakan sekarang malah terlihat pintar? Ia bisa serius juga ..
Kembali kufokuskan pikiranku pada keadaan.
                “ Aku tak bisa meninggalkan Morimoto-san. Kau tau kamarnya kan? Ruangan yang tadi kau masuki untuk berterima kasih padaku.Disana ada Keito.Bawa orang yang bernama Keito kesini”, perintahku. Entah apa yang merasukiku hingga aku bisa memberikan perintah penting padanya.
Haaaah..Shikatanai na..
                “ Yes sir, Laksanakan !”, sentaknya mengangkat tangan membuat posisi hormat dan berlari cepat meninggalkan tempat ini.Kuharap dia melakukannya dengan baik.

                Dalam keadaan darurat, aku masih bisa tersenyum …

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~To be continue~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)