WHERE MY HEART BELONGS Nakajima Yuto’s POV Chapter 2
Title : Where my heart belongs
Rate : PG-15
Genre : dark, crime, romance
Disclaimer : I don’t own anything except the story
Author : Shuri Airie
POV : Yamada Ryosuke
OC : Erinzu Ai
Kita
tak bisa menduga apa yang akan terjadi pada diri kita. Rencana telah dirangkai
sedemikian rupa namun ada kalanya terjadi suatu hal yang bisa merubah rencana
tersebut, entah menjadi semakin baik atau justru mengacaukan apa yang telah
tertuang disana.
Tugas yang sedang berlangsung
menjadi sedikit terhambat karena pikiranku terpecah menjadi dua. Tas kecil
ini.. Ya, hanya tas ini. Jika tidak kukembalikan aku tidak tau nasib apa yang
akan menimpa gadis itu. Dalam tas kecil yang cukup kusembunyikan dibalik jasku
ini terdapat barang-barang yang mungkin sangat penting untuknya. Aku tidak
bermaksud peduli, hanya saja ada hal lain yang ingin kuketahui bila aku bertemu
dengannya lagi. Keganjilannya membuatku ingin memecahkan apa yang terjadi
dibalik insiden Tochi Sakana itu….
Bertugas mengawasi bagian dalam
kapal.Syukurlah aku ditugaskan mengawasi tamu juga. Itu artinya aku bisa
mencari sosoknya dan memiliki kesempatan untuk menyerahkan tas miliknya.
Nah itu dia ..Sangat mudah menemukan sosoknya diantara kerumunan orang-orang kaya itu.
Nah itu dia ..Sangat mudah menemukan sosoknya diantara kerumunan orang-orang kaya itu.
Gadis paling mungil masih dengan
mengenakan gaun berhiaskan bulu-bulu. Sudah pasti dia tidak memiliki gaun lain
untuk dipakai selain gaun putih bulu-bulu itu. Tak menyia-nyiakan waktu, aku
menghampirinya.
“ Eh? Kau?!..”, sentaknya. Raut
wajahnya terkejut ketika melihatku, lebih terkejut lagi ketika aku menyerahkan
tas kecil miliknya.
“ Hey ! Ini tasku..Aku mencarinya
kemanapun dan tidak berhasil menemukannya.Dimana kau menemukannya?“, tanyanya
antusias.Matanya yang berbinar menatapku.
“ Oh itu .. “, belum sempat aku
melanjutkan ucapanku, sesuatu bergetar dibalik jasku. Ada pesan dari Keito dan
Yuya.Sudah saatnya menjemput dua arkeolog itu. Hampir jam 9 malam dan acara
pelelangan akan segera dimulai.
“ Aku harus pergi. Ja~”
“ Eh?”
“ Eh?”
Aku bergegas pergi keluar ruangan,
Keito dan Yuya berjalan disampingku sesaat setelah meninggalkan ruangan.Sedikit
lagi untuk sampai dikamar dua arkeolog itu. Di persimpangan depan tinggal belok
kanan dan ..tunggu, Yamada sudah berada diluar dengan seorang pelayan. Ada apa?
Aku mencium aura panas dari diri mereka.
“aa-aku tidak tau, aku hanya
mengantarkan makan malam.” Pelayan itu tampak pucat.Aku melihat kedalam ruangan
dan menemukan Chinen dengan Ryutaro tak sadarkan diri. Ada apa ini?
Aku dan Keito segera memindahkan
tubuh Chinen dan Morimoto yang tergeletak disamping meja makanan mereka.Mereka
tak sadarkan diri.Sudah pasti karena makanan yang diantarkan oleh pelayan itu.Yuya
segera memeriksa makanannya.
Tiba-tiba seseorang masuk keruangan
ini dan langsung membidikkan pistolnya kearah pelayan wanita itu.
“Narusawa Misaki, Menyerahlah!!!”
Narusawa Misaki? Nama yang sangat kukenal..
Anak bangsawan itu kan? Yang benar??Tapi dia mengenakan seragam pelayan.
Bagaimana mungkin..
Lalu, siapa gadis itu?Tidak seperti wanita pada umumnya.Gadis itu terlihat garang. Namun sepertinya Yamada mengenalnya karena dia menyebut nama Ryumi ketika melihat gadis itu.
Lalu, siapa gadis itu?Tidak seperti wanita pada umumnya.Gadis itu terlihat garang. Namun sepertinya Yamada mengenalnya karena dia menyebut nama Ryumi ketika melihat gadis itu.
“aku mohon lepaskan aku, demi apapun aku hanya
disuruh melakukan hal ini. Mereka…. penjahat itu, yang menyamar dan menggunakan
topeng wajah.Mereka yang menyuruhku memberi racun pada makanan ini.“ pelayan
itu tersungkur kelantai. Aku tidak bisa menangkap maksud dari pelayan ini.
“mereka? Siapa mereka?” tanyaku. Mungkinkah …
“bukankah kau diberitakan telah
diculik? Kenapa kau ada di sini?”Keito pun kebingungan.Pelayan itu menjawab
perlahan.
“salah satu tamu dikapal pesiar
ini. Yoshizawa Toru…” , ucapan pelayan itu menggantung ketika dengan cepat
gadis yang tadi dipanggil Ryumi itu melesat keluar ruangan. Entahlah apa yang
ada dalam pikirannya. Kini aku harus berjaga disini.Baru saja Yamada memberikan
komando.Keito ikut berjaga bersamaku sementara Yuya dan Yamada pergi ke acara
pelelangan.
Sepeninggal
Yamada dan Yuya, Keito tetap bersiaga sementara aku mencoba memeriksa keadaan
Chinen dan Morimoto.Aku harus memastikan bahwa dua arkeolog ini baik-baik saja.
“ Yuto
..”, Keito bergumam pelan hampir tidak terdengar. Aku berbalik dan melihat
Keito mengambil sikap siaga dibalik pintu yang telah ditutup ketika Yamada dan
Yuya pergi tadi. Terdengar suara derap langkah perlahan mendekati pintu. Aku
pun melakukan hal yang sama seperti yang Keito lakukan. Pistol kugenggam erat
bersiap menemukan targetnya.
“
Tunggu .. “ Keito mengintip dari celah pintu.
“ Dia..
perempuan”
“ Hah? Perempuan? Yang benar saja..“, sentakku dengan suara tertahan.
“Iya, Perempuan mungil dengan gaun putih bulu-bulu”
“ Hah? Perempuan? Yang benar saja..“, sentakku dengan suara tertahan.
“Iya, Perempuan mungil dengan gaun putih bulu-bulu”
Perempuan
mungil?Gaun putih bulu-bulu? Jangan-jangan ..
Aku
memasukan kembali pistolku ke balik jas dan membuka pintu itu dengan cepat.Benar
saja seperti yang kuduga.Erinzu Ai sudah berada di hadapanku.Dia malah
mengeluarkan senyum lebar seperti anak tk baru mendapat balon.
“ Hai.
Aku tadi mau bilang terima kasih tapi kau pergi begitu saja makanya aku
mengikutimu”, jelasnya dengan wajah tanpa dosa.
“
A-apa? Apa yang kau lakukan disini ?!!”
“ Sudah kubilang, aku mau mengucapkan terima kasih”
“ Kau mengenalnya Yuto? Siapa dia?”, Keito mengerutkan keningnya dan menatap aneh padaku dan gadis mungil ini.
“ Sudah kubilang, aku mau mengucapkan terima kasih”
“ Kau mengenalnya Yuto? Siapa dia?”, Keito mengerutkan keningnya dan menatap aneh padaku dan gadis mungil ini.
“ Ah,
dia …”
“ Hajimemashite. Erinzu Ai desu.Yoroshiku
Onegaishimasu “, ucapnya seraya membungkukan badan. Gadis itu..untuk apa
melakukan perkenalan diri? Tak ada yang mau berkenalan dengannya.Lagipula ..
“ Tadi
laki-laki jangkung ini.. “, dia terlihat berpikir sambil mengacungkan telunjuknya
padaku.
“ Tadi temanmu memanggilmu Yuto? Namamu?”, tanyanya. Aku hanya membuang muka.Namun gadis itu malah melanjutkan ucapannya.
“ Tadi temanmu memanggilmu Yuto? Namamu?”, tanyanya. Aku hanya membuang muka.Namun gadis itu malah melanjutkan ucapannya.
“ Yuto memberikan tasku yang hilang
kemarin. Aku mau mengucapkan terima kasih tapi dia malah keburu pergi jadi aku
mengikutinya.Tadi aku sempat bingung ada beberapa orang yang masuk kamar ini
kemudian tak berapa lama keluar lagi, tapi Yuto justru tidak keluar lagi
makanya aku memberanikan diri untuk mencoba masuk. Eeeh sebelum aku mengetuk
pintu, pintunya sudah terbuka ..hehe”
Dia
menjelaskan panjang lebar.Sungguh.Sejujurnya berapa umurnya?Dan … hehe? Cih!
“ Eh?
Bukankah mereka dua orang yg memiliki permata itu? Kenapa mereka malah tidur
sementara acara lelangnya akan segera mulai?”, Erinzu mulai menyadari bahwa
Chinen dan Morimoto terbaring ditempat tidurnya.
“
Sudahlah. Ayo !”, aku menarik lengan Erinzu untuk segera pergi.
“ Keito, maaf kutinggal sebentar. Kuserahkan padamu. Aku akan segera kembali”
“ Keito, maaf kutinggal sebentar. Kuserahkan padamu. Aku akan segera kembali”
Keito
menjawab dengan anggukan dan aku bergegas membawa gadis itu pergi menjauh dari
ruangan.Aku berbelok dan berhenti beberapa langkah dari belokan.Cukup jauh dari
ruangan tadi namun aku masih bisa mengawasi ruangan itu dari jauh sehingga aku
bisa melihat siapa saja yang mendekati kamar itu.
“ Hey!
Lepaskan tanganku .. “
Aku melepaskan tangan gadis
itu.Sekarang dia menatapku dengan pandangan... -Kau telah membuat balonku
meletus dan harus menggantinya- seperti itu.
“ Tadi
kau ingin mengatakan terima kasih kan? Baiklah sama-sama. Sekarang cepat pergi”
“ Apa?
Kau mengusirku?Kau ingin aku pergi dari kapal ini?Cih, bagaimana mungkin?Aku
mau ikut acara pelelangan.Kau ini kenapa? Aku kan bermaksud baik tapi kenapa
kau ..
Mataku
terbelalak. Dari ujung sana terlihat dua orang mendekati ruangan itu
dan..masuk. Apa?? Ada orang yang masuk ke ruangan itu.Bahaya !
“ Cepat
pergi dari sini !!”, perintahku.
“ Apa? Apa maksudmu?”
“Bukan mengusirmu dari kapal ini. Tapi menjauhlah dari tempat ini dan ruangan ini !”
“ Eh?”
“ SEKARANG, LARI !!!”
“ Apa? Apa maksudmu?”
“Bukan mengusirmu dari kapal ini. Tapi menjauhlah dari tempat ini dan ruangan ini !”
“ Eh?”
“ SEKARANG, LARI !!!”
Gadis
itu terlihat bingung namun tak urung juga dia berlari dari sini.Bagaimana pun
juga, ini sangat berbahaya dan gadis itu tak boleh berada didekat sini.Kuharap
tak ada yang melihat kami.Setelah memastikan gadis itu menghilang dari sekitar
sini, aku bergegas ke ruangan tadi.Semoga saja Keito bisa menanganinya dulu.
Aku menggebrak pintu.Dua pria yang tengah mencari sesuatu itu terlonjak kaget begitu mendengar pintu terbuka. Disatu sudut Keito muncul, rupanya ia bersembunyi terlebih dahulu untuk menyergap mereka. Dengan sigap aku dan Keito menghampiri mereka lalu meraih tangannya.
“ Kalian tertangkap !!” teriakku yang menimbulkan efek gema dalam ruangan ini.Aku sedikit mengulum senyum karena berhasil menangkap dua orang ini.Aku mengirim pesan singkat pada Yamada bahwa aku dan Keito berhasil menangkap mereka.Tiba-tiba aku merasa ada yg menekan tengkukku.Sangat cepat dan sesaat namun berhasil melumpuhkan pertahananku.Badanku tersungkur kelantai karena tenagaku mulai hilang.Sial.Tangkapanku lepas. Bagaimana dengan …. Ah! Keito pun terkena hal yang sama.
Aku menggebrak pintu.Dua pria yang tengah mencari sesuatu itu terlonjak kaget begitu mendengar pintu terbuka. Disatu sudut Keito muncul, rupanya ia bersembunyi terlebih dahulu untuk menyergap mereka. Dengan sigap aku dan Keito menghampiri mereka lalu meraih tangannya.
“ Kalian tertangkap !!” teriakku yang menimbulkan efek gema dalam ruangan ini.Aku sedikit mengulum senyum karena berhasil menangkap dua orang ini.Aku mengirim pesan singkat pada Yamada bahwa aku dan Keito berhasil menangkap mereka.Tiba-tiba aku merasa ada yg menekan tengkukku.Sangat cepat dan sesaat namun berhasil melumpuhkan pertahananku.Badanku tersungkur kelantai karena tenagaku mulai hilang.Sial.Tangkapanku lepas. Bagaimana dengan …. Ah! Keito pun terkena hal yang sama.
“
Terima kasih, Daiki”, salah satu dari mereka mengucapkan terima kasih dan
mengelus kepala orang yg dipanggil Daiki itu. Siapa sih Daiki?Sepertinya dia
yang melakukan pukulan itu pada kami.Darimana dia muncul?tadi aku tidak
melihatnya masuk ruangan ini. Dan sekarang mereka kabur dari ruangan ini.
Gawat, bagaimana ini?!. Sial, aku
harus segera menghubungi Yamada.
“Ryosuke !!ketiga orang yang hendak
mengambil permata itu berhasil kabur !!”, aku berkata hampir berteriak ketika
walky talky-ku tersambung pada Yamada.
“APA?!!ketiga orang itu berhasil
kabur?!!! Bagaimana bisa!!?” suara Yamada dari seberang sana. Aku menjelaskan
apa yang baru saja terjadi. Bagaimana pun juga, Yamada adalah otak dari misi
kita kali ini.
“baiklah, tenang saja. Ketua mereka
sudah tertangkap. Bila kepalanya tertangkap maka buntutnya juga akan dengan
mudah mengikutinya”
Fiuh..syukurlah. Mungkin aku bisa bernapas
lega untuk sekarang.Tenagaku pulih sedikit demi sedikit.Kedua Arkeolog itu
memang masih tak sadarkan diri.Tapi mereka berada ditangan kami. Aku tidak akan
lengah kali ini.
Satu jam kemudian …
“ Yuto,
kita harus segera berkumpul ke ruang rahasia kita. Ini… buruk “, Keito berkata
setelah mendapatkan pesan dari Yamada.
Buruk? Jangan…
Buruk? Jangan…
BRUKKK
Yuya memojokkan Yamada ke dinding
begitu aku dan Keito tiba di ruang rahasia.
“APA YANG KAU LAKUKAN ?!!”, bentak
Yuya. Ia terlihat sangat marah.
“Yuya, tenangkan dirimu” Aku
menarik tangan Yuya berusaha melepaskannya dari tangan Yamada.Suasana mulai
kacau, Yuya sangat marah pada Yamada yang telah melepaskan kepala perampok.Aku
dan Keito berusaha menenangkan Yuya namun Yuya malah semakin naik darah
sampai-sampai Keito harus menamparnya.Aku mengerti, tentu Yuya kecewa dengan
Yamada. Bagaimana mungkin ia begitu saja melepaskan kepala perampok yang telah
bertahun-tahun buron setelah membunuh banyak orang tak berdosa dan sekarang
membawa anak tunggal dari klan Narusawa sebagai sanderanya..Namun, seperti yang
Keito bilang, Yamada tentu memiliki alasan dan aku percaya itu. Sayangnya, ketika
kami menunggunya mengatakan apa alasannya, Yamada terdiam cukup lama..Akhirnya
dia hanya meminta maaf, meminta maaf karena tidak bisa menceritakan alasannya
sekarang.
Sungguh,
aku kecewa ..Tapi, bukan berarti aku harus menghilangkan kepercayaanku. Hanya
saja..Entahlah, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Yamada.
“kalian dengar? Dia bahkan tak
mengungkapkan sedikitpun alasannya.Aku heran mengapa Nanami-san memintanya
sebagai ketua kita dalam misi kali ini.apa karena dia … anak angkat
Nanami-san??”
Yuya semakin menjadi, kata-kata
seperti itu tak pantas dikeluarkan. Hanya akan memperparah keadaan. Dia ini ..
“Yuya, hentikan.Kau sudah
keterlaluan” Keito membentak Yuya.
Kejadian panas itu belum sepenuhnya
mendingin ketika tiba-tiba saja kami mendengar sebuah suara dari pintu depan.
Aku reflex mengambil pistol, begitu pun yang lain. Yamada memintaku membuka
pintu dan segera kulakukan.
“Na… Narusawa-san !!”
Aku dan yang lain sungguh kaget
mendapati Narusawa yang berada dibalik pintu.Kali ini ia tidak memakai pakaian
pelayan, tapi memakai gaun yang telah robek dan compang-camping. Apa yang
terjadi? Dia berhasil kabur dari sanderaan komplotan penjahat itu?Dengan wajahnya
yang sedikit terluka dan nafasnya terengah-engah.Iaterlihat lemas dan hampir
pingsan. Yuya menggendong Narusawa dan memberikannya segelas air putih. Kami
memberikan beberapa pertanyaan, namun dengan kondisinya yang seperti itu tentu
tidak bisa memberikan jawaban.Ia bilang tidak dapat ingat apapun, hanya disuruh
meminum sesuatu kemudian ia menangis dan pingsan.
Yuya memeriksa nadinya, lalu menyuruhku memeriksa kemungkinan kalau ia diracuni.Aku mengambil suntikan dan memeriksa sampel darahnya.
Yuya memeriksa nadinya, lalu menyuruhku memeriksa kemungkinan kalau ia diracuni.Aku mengambil suntikan dan memeriksa sampel darahnya.
“ Teman-teman, ada faks dari
Nanami-san. Dia bilang untuk tetap focus melindungi permata itu dan pemiliknya
serta mengejar para perampok itu. dan Ryosuke, Nanami-san bilang kau tetap di
kamar ini hingga misi selesai”
“APA!!”
“Ya, Ryosuke, karena kau belum bisa
menceritakan alasanmu, kami tak bisa mengikutsertakanmu lagi dalam misi ini.”
“Tetapi bagaimana bisa…”, Yamada
masih tidak bisa percaya.
“Itu permintaan dari kami semua”,
kata Yuya seraya menepuk bahu Yamada.
“Nah, berikan pistolmu Ryo, ini
perintah Nanami-san”
“Apa-apaan ini??hanya karena
masalah sepele seperti ini kalian mengeluarkanku dari misi ini?”, Yamada
bersikeras.
“Bukan begitu Ryosuke…”Aku
mendekati Yamada dan menepuk bahunya. Berharap ia mau mengerti dengan maksud
kami melakukan hal itu padanya. Namun Yamada malah menyingkirkan tanganku dari
bahunya.Ia memberikan pistolnya dan bergegas keluar tanpa berkata sepatah
katapun.
“ Apa ini tidak apa-apa? “, tanyaku
yang cukup mengkhawatirkan Yamada. Keadaan belum membaik namun Yamada tidak
bersenjata. Bagaimanapun juga, ia tentu menjadi incaran komplotan penjahat itu
karena ia hampir membekuk kepala dari komplotan.
“ Tidak apa-apa. Kita akan
melindunginya ..”, ucap Yuya. Syukurlah, walaupun Yuya sempat naik darah namun
ia tidak melepaskan Yamada dari misinya. Lebih tepatnya, dari pertemanannya
“ Baiklah, aku akan kembali ke kamar Chinen dan Morimoto untuk berjaga-jaga”, kataku. Keito mengikutiku dibelakang.
“ Baiklah, aku akan kembali ke kamar Chinen dan Morimoto untuk berjaga-jaga”, kataku. Keito mengikutiku dibelakang.
Markas kami dengan kamar Chinen dan
Morimoto tidak begitu jauh.Tapi rasanya kaki ini langkahnya pendek hingga tak kunjung
sampai di tempat tujuan.Padahal aku merasa tubuhku cukup tinggi.Seharusnya
langkahku bisa lebar dan berjalan cepat.Sudahlah, mungkin hanya perasaanku
saja.
“ Yuto
!”, Keito sudah lebih dulu berada di depan kamar Chinen dan Morimoto, tapi
pintunya terbuka. Kami lengah lagi??Lebih gawat lagi, Ryuu sudah tak ada lagi
dikamarnya.Hanya ada Chinen yang sudah setengah sadar namun masih sangat lemah.
Desingan
peluru terdengar tiga kali dari arah yang sama. Kakiku bergerak sendiri menuju
tempat asalnya bunyi desingan peluru itu.Bergerak cepat, berlari menuju dek
bawah.Dari dek bawah !Semoga tak terjadi hal buruk. Walau perasaanku tak enak
tapi semoga saja ..
Itu ! Langkahku terhenti..
Ada seorang wanita berlutut memeluk ..Morimoto-san?!!
Wanita itu menyadari keberadaanku.Ia terlihat panic. Aku bergegas menghampirinya namun ia
Ada seorang wanita berlutut memeluk ..Morimoto-san?!!
Wanita itu menyadari keberadaanku.Ia terlihat panic. Aku bergegas menghampirinya namun ia
segera meninggalkan Morimoto-san. Tapi sebelum dia pergi,
aku yakin. Sungguh, aku yakin aku melihatnya..
Aku melihat wanita itu menyentuh bibir Morimoto dengan bibirnya.Apa aku tak salah lihat? Atau memang seharusnya aku tidak melihat hal itu?
Aku melihat wanita itu menyentuh bibir Morimoto dengan bibirnya.Apa aku tak salah lihat? Atau memang seharusnya aku tidak melihat hal itu?
Wanita
itu mulai menjauh
“ Heii !!! “, teriakku. Aku hendak mengejarnya namun aku menyadari bahwa Morimoto terluka.Gawat, lengan kanannya menghasilkan darah yang cukup banyak membuat baju putihnya memerah dengan tetesan yang juga berwarna merah membasahi lantai.
“ Heii !!! “, teriakku. Aku hendak mengejarnya namun aku menyadari bahwa Morimoto terluka.Gawat, lengan kanannya menghasilkan darah yang cukup banyak membuat baju putihnya memerah dengan tetesan yang juga berwarna merah membasahi lantai.
Kubiarkan
wanita itu pergi.Aku harus menolong Morimoto-san terlebih dahulu. Tapi aku bisa
mengingat dengan jelas setiap detail dari wajahnya..
Aku mencoba menggendong Morimoto, namun ia meringis kesakitan. Sial, aku tak bisa membawanya sendiri dan akupun tak bisa meninggalkannya.
Aku mencoba menggendong Morimoto, namun ia meringis kesakitan. Sial, aku tak bisa membawanya sendiri dan akupun tak bisa meninggalkannya.
“ Yuto .. “
Eh? Siapa?
Aku
yang sedang berlutut disamping Morimoto mendongakkan kepalaku untuk melihat
sipemilik suara. Suara perempuan..
Aku mengenalnya.
Aku mengenalnya.
Erinzu
Ai???
Lagi?!
Aku mendengus, tak bisakah aku sekali saja tidak dipertemukan dengannya.Apalagi dalam kondisi sulit seperti ini.
Lagi?!
Aku mendengus, tak bisakah aku sekali saja tidak dipertemukan dengannya.Apalagi dalam kondisi sulit seperti ini.
“ Kau
sudah kusuruh untuk pergi, kenapa ..”
“ Aku memang pergi, lalu aku bersembunyi. Bersembunyi untuk waktu yang lama hingga aku mendengar suara peluru dan entah kenapa aku bisa sampai kesini”
“ Aku memang pergi, lalu aku bersembunyi. Bersembunyi untuk waktu yang lama hingga aku mendengar suara peluru dan entah kenapa aku bisa sampai kesini”
Haaah…
Aku tak tahu lagi harus berbuat apa untuk gadis ini. Haruskah aku mengikatnya
dikamarnya lalu mengunci pintunya agar ia tidak datang padaku yang sedang
bertugas? Sangat mengganggu.Bisa membahayakan keselamatannya bila dia tetap
berada disekitarku. Kuakui memang ada yang ganjil dengannya namun ia tidak
berbahaya bagi timku. Justru dia yg bisa saja terancam bahaya.
“ Ya
ampun.. Yuto! Dia terluka! Ayo selamatkan dia, Yuto!”Kini dia malah
berteriak-teriak panic ketika melihat darah yang terus keluar dari lengan kanan
Morimoto.
“ Urusaiii ! Jangan memanggilku Yuto Yuto dan Yuto.Kau ini berlagak mengenalku saja”
“ Memang aku mengenalmu. Namamu Yuto kan?”
“ Nakajima Yuto. Jangan so kenal! Panggil Nakajima saja!”
“ Na-ka-ji-ma san?”, ia malah memanggilku dengan terbata-bata.
“ Baiklah. Panggil Yuto saja ..”, ujarku mengalah. Ia terlihat senang.
“ Okey desu! Yuto-kun ..”
“ Jangan so kenal !!” teriakku. Erinzu mendengus sebal.Ia memasang tampang serius.
“ Urusaiii ! Jangan memanggilku Yuto Yuto dan Yuto.Kau ini berlagak mengenalku saja”
“ Memang aku mengenalmu. Namamu Yuto kan?”
“ Nakajima Yuto. Jangan so kenal! Panggil Nakajima saja!”
“ Na-ka-ji-ma san?”, ia malah memanggilku dengan terbata-bata.
“ Baiklah. Panggil Yuto saja ..”, ujarku mengalah. Ia terlihat senang.
“ Okey desu! Yuto-kun ..”
“ Jangan so kenal !!” teriakku. Erinzu mendengus sebal.Ia memasang tampang serius.
“ Tak
bisakah kita membahas nama nanti saja? Dia sedang terluka dan kita harus segera
menolongnya. Kau mau membiarkannya mati disini?”, cecar Erinzu.
Aku mengutuk diriku sendiri.Kali ini aku merasa bodoh dan Erinzu Ai yang biasanya polos dan kekanak-kanakan sekarang malah terlihat pintar? Ia bisa serius juga ..
Aku mengutuk diriku sendiri.Kali ini aku merasa bodoh dan Erinzu Ai yang biasanya polos dan kekanak-kanakan sekarang malah terlihat pintar? Ia bisa serius juga ..
Kembali kufokuskan pikiranku pada keadaan.
“ Aku
tak bisa meninggalkan Morimoto-san. Kau tau kamarnya kan? Ruangan yang tadi kau
masuki untuk berterima kasih padaku.Disana ada Keito.Bawa orang yang bernama
Keito kesini”, perintahku. Entah apa yang merasukiku hingga aku bisa memberikan
perintah penting padanya.
Haaaah..Shikatanai na..
“ Yes sir, Laksanakan !”, sentaknya mengangkat tangan membuat posisi hormat dan berlari cepat meninggalkan tempat ini.Kuharap dia melakukannya dengan baik.
Haaaah..Shikatanai na..
“ Yes sir, Laksanakan !”, sentaknya mengangkat tangan membuat posisi hormat dan berlari cepat meninggalkan tempat ini.Kuharap dia melakukannya dengan baik.
Dalam
keadaan darurat, aku masih bisa tersenyum …
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~To be
continue~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)