Pages

WHERE MY HEART BELONGS Ryutaro Morimoto POV Chapter 2


            
'Sayaka, namanya seperti aku mengenalnya, tapi siapa' aku masih mengingat dengan kerasnya. Tapi, kenapa wajahnya mirip sekali dengan Mika.
            "Asalmu dari mana Morimoto-san?" tanya Sayaka semakin dekat.
            Dengan sigap ku menjawab "Nagoya"
            "Nagoya itu menyenangkan yaa, menyenangkan sekali." Sayaka mengatakan dengan senyum sedikit sedih.
            Setelah itu, tiba-tiba Sayaka pergi meninggalkanku. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal. "yasudahlah~"
            Aku dan Chinen pun kembali ke kamar untuk istirahat dan bersiap-siap untuk pelelangan besok. Tak bosan bosan aku untuk mengingat. Dari tempat pelelangan sampai kamarpun aku masih bersih keras untuk mengingat siapa itu Sayaka.
            Pada akhirnya otakku tak sanggup untuk lebih dalam mengingat.Dan aku pun bertanya kepada Chinen.
            "Yuri, apa kau mengenal perempuan yang bernama Sayaka, Ayukawa Sayaka." Jelasku
            "Sayakaa~ sepertinya aku pernah mendengar nama itu." Kata Chinen tak yakin.
            "Aku keluar sebentar ya yuri." Kataku yang langsung keluar setelah mendaat anggukan dari Chinen.
*****
            Entah kemana kakiku melangkah. Sembari menikmati angin laut yang bertiup yang merusak tatanan rambutku, aku pun masih memikirkan siapa wanita yg bernama Sayaka.
            Sesaat mengedarkan pandangan, ada sesuatu yang mengalihkan pandanganku dari indahnya laut pada malam hari ini. 'Dia, ahk Sayaka. aku ingat nama itu. tapi kenapa Sayaka yang mengikuti peleangan itu wajahnya mirip Mika.' . Lalu tak lama pandanganku terhenti pada sesuatu yang di genggam oleh wanita yang sedari tadi aku pandang. Terlihat seperti sebuah topeng kulit, iyaa, pasti itu topeng. Tak lama wanita itu pun memakai topeng tersebut dengan sempurna. 'DEGG!!!' Jantungku serasa sangat sesak. Sayaka, aku ingat!!!
            Aku pu bergegas lari menuju kamar. "nagoya itu menyenangkan yaa.. menyenangkan sekali" kata kata itu, terlintas tiba-tiba dalam benakku. Aku mempercepat langkahku kekamar berniat memberi tahu Chinen. Nama yang sejak tadi berkutat dalampikiranku, sebuah pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya.
            "Yuri!!!" Chinen tersentak mendengarku yang tiba-tiba membuka pintu dengan cukup kerasnya.
            "Ada apa Ryuu. kau mengagetkanku saja." Chinen mengusap-usap dadanya.
            "Aku sudah mengungatnya yuri, wanita itu" jawabku tersengal-sengal
            "Siapa?" Jawab Chinen agak tak menghiraukan.
            "Sayaka, aku ingat. Sayaka sahabat kita sewaktu SMP. apa kau mengingatnya"
            "Hahh, bukan kah dia sudah mati karena rumahnya terbakar?" Chinen tersentak kaget. Kini Chinen pun memperhatikanku dengan wajahnya yang masih tercengang.
            "Mungkin kau salah lihat Ryu, tidak mungkin orang mati bisa hidup kembali." Lanjut Chinen. Aku terdiam.
            "Tapi mengapa aku tidak ingat saat mendengar namanya" tanyaku heran.
            "Saya-chan, mengapa dia tidak menemui kita, kenapa dia tidak beritahu kalau dia masih hidup" tanya Chinen yang semakin membuatku bingung.
            "aku juga bingung Yuri, mungkin besok kita akan menemukan jawabannya." kataku membuat suasana agak sedikit tenang, tetapi tetap saja, Sayaka adalah teman, tidak.. sahabat aku dan Yuri. Kemana pun kakiku malangkah, pasti Sayaka turut ikut menemani.
            Aku pun membaringkan diri dikasur. Masih berfikir tentang Sayaka.
            Saat itu, aku bertemu orang yang kuanggap akan menemaniku seumur hidupku. Mika, dialah wanita yang menjadi pelabuhan terakhirku. Semenjak ia pindah dari sekolah lamanya ke sekolah kami, hidupku lengkap. Namun ada yang mengganjal setelah kejadian terbakarnya rumah Sayaka. Tak lama setelah kebakaran dirumah Sayaka, seminggu kemudian Mika ditemukan tidak bernyawa didalam kamarnya sendiri. 'kenapa, kenapa orang-orang yang kusayangi pergi begitu cepat. Sampai saat ini pun aku tidak akan merelakan siapapun yang telah merenggut nyawanya yang tidak berdosa. yaa.. dia tidak berdosa. Mika terkenal sebagai perempuan yang baik hatinya, selalu baik terhadap orang yang menjahatinya. Tetapi mengapa dia pergi dengan kondisi yang tidak wajar. Ditemukan mati dengan tusukan pisau tepat dijantungnya. seperti kata berita, yang membunuh Mika adalah perampok wanita yang belum diketahui identitasnya.
            Bertambahlah beban didalam kepalaku, "aah~ aku harus menyimpan tenagaku saat untuk pelelangan besok malam" kataku pada diri sendiri. Dengan segera aku memejamkan mata untuk sejenak menenangkan pikiran yang sedari tadi tak nyaman karena kehadiran Sayaka yang tiba-tiba.
            "aaah~ aku harus menyimpan tenagaku saat untuk pelelangan besok malam" kataku pada diri sendiri.
            Keesokan harinya tepatnya jam 12 aku pun berniat menghampiri Sayaka. Aku mencarinya dari ujung kapal hingga ke tempat-tempat tersembunyi sekali pun. Namun sebelum aku menemukan Sayaka, Keito-san datang dan menyuruhku untuk tidak berlama-lama didek kapal, karena akan membahayakan diriku nantinya.
            Setibanya di lorong menuju kamar, aku melihat sosok Sayaka yang telah bertopengkan wajah Mika itu terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Namun kurungakan niatku untuk bertemu dengannya.
            Jam menunjukan pukul 5 sore. Sedaritadi aku dan Chinen hanya berbincang tentang apa yang akan kami lakukan jika permata itu berhasil terjual dengan harga yang sangat tinggi.
            "Apa yang akan kau lakukan terlebih dahulu setelah kita memegang uang hasil pelelangan ini Ryuu" tanya Chinen padaku.
            "Pertama, aku akan memperindah makam orangtuaku dan makam Mika. Dan seterusnya aku ingin membeli rumah, mobil, motor besar.... ahh~ aku masih bingung apa yang harus kubeli lagi dengan uang sebanyak itu" kataku dengan tawa kecil diwajahku.
            "Lalu bagaimana denganmu Yuri" tanyaku kembali.
            Sama sepertiku, Yuri pun mempunyai keinginan yang besar dari uang hasil peelangan permata ini. Lalu tak lama kemudian datanglah pelayan dengan membawa hidangan makan malam kami.
            Pelayan itu pun keluar, namun yang aku herankan, mengapa Yamada-san mengikiuti pelayan itu keluar. Tanpa menghiraukan itu, aku dan Chinen melahap hidangan makan malam yang telah ada dihadapan kami.
            "Uwaaaaaa~ " Steak Truffel ini sangat enak kelihatannya, aromanya pun mebuat air liurku tak bisa kutahan.
            Kami pun melalap makan malam ini dengan lahapnya. Namun saat suapan kedua, kepalaku sekejap terasa sangat berat, penglihatan ku lama kelamaan kabur.
            "Yuri~" panggiku lirih. Tak lama aku terjatuh, dan kemudian penglihatanku sempurna menghitam.
*****
            "Aaw!" aku pun terbangun. Kepalaku masih terasa sakit. Remang-remang kumelihat dihadapanku telah ada seseorang yang telah menodongkan pistol kearahku.
            "Ohayou~ Morimoto-san" Kulihat Sayaka yang menodongkan pistol kearahku. Kulirik Chinen yang masih tak sadarkan diri.
            "Mau apa kau disini? mengapa kau menodongkan pistol kearahku?" Tanyaku sedikit ketakutan.
            "Berikan pernata itu!!" kata Sayaka sambil menarik pelatuknya dan bersedia untuk menembak.
            Tanpa berfikir panjang, aku pun memanggilnya dengan sebutan kami sewaktu SMP dulu.
            "Saya-chan, apa yang kau lakukan?" kataku yang masih tak bertenaga.
            "Apa maksudmu memanggilku dengan sebutan itu??!!" kina tangannya mulai bergetar.
            Tiba-tiba Chinen menendang pistol yang dipegang Sayaka hingga terpental jauh kebawah meja. Tak tau sejak kapan Chinen sadar dan melakukan hal itu. Dengan segera Chinen menyuruhku untuk pergi menjauh dari mereka. Aku heran mengapa para detektif tidak ada di tempat disaat seperti ini. Aku takut Sayaka melakukan sesuatu yang buruk terhadap Chinen. Namun sebelum aku berbalik menuju kamar, Sayaka sudah terlihat menyusulku dan mengejarku. Aku pun tersentak dan langsung berlari secepat yang kubisa.
            Sayaka mengejarku hingga ke dek bawah. Aku heran, mengapa perempuan ini sangat kuat mengejarku. Padahal aku terkenal pelari tercepat saat lomba antar SMA.
            "Kau sudah tidak bisa mengelak lagi Morimoto-san" Katanya masih memegang pistol.
            Nafasku terengah-engah. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku bersandar dikotak besar dibelakangku, mengumpulkan sedikit tenaga untuk melawan Sayaka yang sewaktu-waktu akan menjadi brutal tak terkontrol.
            "Saya-chan, aku tau kau Saya-chan" kataku yang masih terengah-engah. Dia terdiam.
            "Mengapa kau tidak menemuiku, mengapa kau bersembunyi selama ini?" tanyaku sedikit berteriak.
            Tampak wajah Sayaka memerah, terlihat seperti menahan amarahnya dan matanya sedikit berkaca-kaca.
            "Mengapa kau meninggalkanku dengan murid pindahan itu Ryu?" teriaknya membuatku tercengang.
            "Mengapa sikapmu berubah180° saat dia datang? aku tersingkir Ryu! Kau melupakanku! Apalagi setelah terbakarnya rumahku, tak sedikitpun kau mencariku, kau maupun Yuri, kalian sudah tidak mempudulikanku!!" kini air mata jatuh deras seketika.
            "Saya-chan, aku minta maaf" kataku panik.
            "wajah ini" Sayaka melepaskan topengnya "sesungguhnya aku tak sudi memakai wajah kotor seperti ini." lanjut Sayaka. Terlihat sebagian pipinya terluka bekas terbakar.
            "Saya-chan" aku kehilangan kata-kata.
            "Aku memang tak secantik Mika, Ryu!"
            "Saya-chan, polisi mengatakan bahwa kamu sekeluarga tewas, bahkan makammu pun ada. Mengapa bhkan kau yang menghampiri kami!" Aku memotong perkataannya.
            "Maafkan aku Saya-chan~" kataku yang melihat Sayaka terdiam dan agak menurunkan pistolnya.
            "Berikan permata itu!!" tiba-tiba Sayaka menodongkan pistolnya lagi.
            "Itu tidak mungkin!!" teriakku.
            "Apa kau mau kubunuh seperti aku membunuh cintamu dulu!!" teriaknys tiba-tiba. Aku terkejut mendengar pernyataannya.
            "KAU!!!" kataku membentak.
            "Ya!! Perampok wanita yang masih tak diketahui identitasnya, yang membunuh Matsumoto Mika adalah aku!!" Jelasnya dengan wajah yang sangat marah.
            "Tapi, mengapa kau membunuh Mika, mengapa kau menjadi perampok??" tanyaku heran.
            "Harta keluargku habis, aku dipungut oleh bos perqmpok handal, dan itu karena aku kecewa terhadapmu Ryu!!" Sayaka menembakan peluru pertamanya tak tentu arah.
            "Aku membunuh Mika karena kau telah melupakanku Ryu!! kau dan Yuri!! setelah aku membunuhmu, aku akan membunuh Yuri juga." Sayaka pun meluncurkan peluru keduanya tepat disamping melewati kepalaku.
            "Mengapa kau membunuh Mika" bentakku kencang, membuat Sayaka terkejut.
            "Karena aku mencintaimu Ryu!!" Sayaka menjawab dengan berlinang air mata. Namun dengan amarahnya, Sayaka tak sadar telah meluncurkan peluru tepat dilengan kananku.
            "Kau dan Yuri telah mencampakkanku setelah kalian memiliki wanita lain" Sayaka makin terisak.
            "Saya-chan~" panggilku tak berdaya.
            "Ryu!!!" Syaka tersadar melihatku telah bersimbah darah. Dia menjatuhkan pistolnya dan berlari kearahku.
            "Ryu, maafkan aku" Katanya sambil menyentuh pipiku lembut.
            "Tidak. Akulah yang harus meminta maaf, Saya-chan" aku menggenggam tangannya.
            Tiba-tiba seseorang datang karena telah mendengar 3 tembakan yang diluncurkan oleh Sayaka tadi. Ternyata itu Nakajima-san. Sayaka pun panik dan meninggalkanku. Sebelum ia meninggalkanku dia mengecup bibirku lembut dan berkata, "Aishiteru, gomen ne~"
            "HEI!!!" Nakajima-san mengurungkan niatnya mengejar Sayaka saat melihaku bersimbah darah.
            "Morimoto-san, daijoubu ka?" Nakajima-san panik.
            "Aku..." belum sempat aku menjawab, aku tak sadarkan diri karena lemah.


TBC~

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)