"Asalmu
dari mana Morimoto-san?" tanya Sayaka semakin dekat.
Dengan sigap
ku menjawab "Nagoya"
"Nagoya
itu menyenangkan yaa, menyenangkan sekali." Sayaka mengatakan dengan senyum
sedikit sedih.
Setelah itu,
tiba-tiba Sayaka pergi meninggalkanku. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal.
"yasudahlah~"
Aku dan Chinen pun kembali ke kamar
untuk istirahat dan bersiap-siap untuk pelelangan besok. Tak bosan bosan aku untuk
mengingat. Dari tempat pelelangan sampai kamarpun aku masih bersih keras untuk mengingat
siapa itu Sayaka.
Pada akhirnya
otakku tak sanggup untuk lebih dalam mengingat.Dan aku pun bertanya kepada Chinen.
"Yuri,
apa kau mengenal perempuan yang bernama Sayaka, Ayukawa Sayaka." Jelasku
"Sayakaa~
sepertinya aku pernah mendengar nama itu." Kata Chinen tak yakin.
"Aku keluar
sebentar ya yuri." Kataku yang langsung keluar setelah mendaat anggukan dari
Chinen.
*****
Entah kemana
kakiku melangkah. Sembari menikmati angin laut yang bertiup yang merusak tatanan
rambutku, aku pun masih memikirkan siapa wanita yg bernama Sayaka.
Sesaat mengedarkan
pandangan, ada sesuatu yang mengalihkan pandanganku dari indahnya laut pada malam
hari ini. 'Dia, ahk Sayaka. aku ingat nama
itu. tapi kenapa Sayaka yang mengikuti peleangan itu wajahnya mirip Mika.' . Lalu
tak lama pandanganku terhenti pada sesuatu yang di genggam oleh wanita yang sedari
tadi aku pandang. Terlihat seperti sebuah topeng kulit, iyaa, pasti itu topeng.
Tak lama wanita itu pun memakai topeng tersebut dengan sempurna. 'DEGG!!!' Jantungku
serasa sangat sesak. Sayaka, aku ingat!!!
Aku pu bergegas
lari menuju kamar. "nagoya itu menyenangkan
yaa.. menyenangkan sekali" kata kata itu, terlintas tiba-tiba dalam benakku.
Aku mempercepat langkahku kekamar berniat memberi tahu Chinen. Nama yang sejak tadi
berkutat dalampikiranku, sebuah pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya.
"Yuri!!!"
Chinen tersentak mendengarku yang tiba-tiba membuka pintu dengan cukup kerasnya.
"Ada apa
Ryuu. kau mengagetkanku saja." Chinen mengusap-usap dadanya.
"Aku sudah
mengungatnya yuri, wanita itu" jawabku tersengal-sengal
"Siapa?"
Jawab Chinen agak tak menghiraukan.
"Sayaka,
aku ingat. Sayaka sahabat kita sewaktu SMP. apa kau mengingatnya"
"Hahh,
bukan kah dia sudah mati karena rumahnya terbakar?" Chinen tersentak kaget.
Kini Chinen pun memperhatikanku dengan wajahnya yang masih tercengang.
"Mungkin
kau salah lihat Ryu, tidak mungkin orang mati bisa hidup kembali." Lanjut Chinen.
Aku terdiam.
"Tapi mengapa
aku tidak ingat saat mendengar namanya" tanyaku heran.
"Saya-chan,
mengapa dia tidak menemui kita, kenapa dia tidak beritahu kalau dia masih hidup"
tanya Chinen yang semakin membuatku bingung.
"aku juga
bingung Yuri, mungkin besok kita akan menemukan jawabannya." kataku membuat
suasana agak sedikit tenang, tetapi tetap saja, Sayaka adalah teman, tidak.. sahabat
aku dan Yuri. Kemana pun kakiku malangkah, pasti Sayaka turut ikut menemani.
Aku pun membaringkan
diri dikasur. Masih berfikir tentang Sayaka.
Saat itu, aku bertemu orang yang kuanggap akan
menemaniku seumur hidupku. Mika, dialah wanita yang menjadi pelabuhan terakhirku.
Semenjak ia pindah dari sekolah lamanya ke sekolah kami, hidupku lengkap. Namun
ada yang mengganjal setelah kejadian terbakarnya rumah Sayaka. Tak lama setelah
kebakaran dirumah Sayaka, seminggu kemudian Mika ditemukan tidak bernyawa didalam
kamarnya sendiri. 'kenapa, kenapa orang-orang yang kusayangi pergi begitu cepat.
Sampai saat ini pun aku tidak akan merelakan siapapun yang telah merenggut nyawanya
yang tidak berdosa. yaa.. dia tidak berdosa. Mika terkenal sebagai perempuan yang
baik hatinya, selalu baik terhadap orang yang menjahatinya. Tetapi mengapa dia pergi
dengan kondisi yang tidak wajar. Ditemukan mati dengan tusukan pisau tepat dijantungnya.
seperti kata berita, yang membunuh Mika adalah perampok wanita yang belum diketahui
identitasnya.
Bertambahlah beban didalam kepalaku,
"aah~ aku harus menyimpan tenagaku saat untuk pelelangan besok malam"
kataku pada diri sendiri. Dengan segera aku memejamkan mata untuk sejenak menenangkan
pikiran yang sedari tadi tak nyaman karena kehadiran Sayaka yang tiba-tiba.
"aaah~
aku harus menyimpan tenagaku saat untuk pelelangan besok malam" kataku pada
diri sendiri.
Keesokan harinya
tepatnya jam 12 aku pun berniat menghampiri Sayaka. Aku mencarinya dari ujung kapal
hingga ke tempat-tempat tersembunyi sekali pun. Namun sebelum aku menemukan Sayaka,
Keito-san datang dan menyuruhku untuk tidak berlama-lama didek kapal, karena akan
membahayakan diriku nantinya.
Setibanya di
lorong menuju kamar, aku melihat sosok Sayaka yang telah bertopengkan wajah Mika
itu terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Namun kurungakan niatku untuk bertemu
dengannya.
Jam menunjukan
pukul 5 sore. Sedaritadi aku dan Chinen hanya berbincang tentang apa yang akan kami
lakukan jika permata itu berhasil terjual dengan harga yang sangat tinggi.
"Apa yang
akan kau lakukan terlebih dahulu setelah kita memegang uang hasil pelelangan ini
Ryuu" tanya Chinen padaku.
"Pertama,
aku akan memperindah makam orangtuaku dan makam Mika. Dan seterusnya aku ingin membeli
rumah, mobil, motor besar.... ahh~ aku masih bingung apa yang harus kubeli lagi
dengan uang sebanyak itu" kataku dengan tawa kecil diwajahku.
"Lalu bagaimana
denganmu Yuri" tanyaku kembali.
Sama sepertiku,
Yuri pun mempunyai keinginan yang besar dari uang hasil peelangan permata ini. Lalu
tak lama kemudian datanglah pelayan dengan membawa hidangan makan malam kami.
Pelayan itu
pun keluar, namun yang aku herankan, mengapa Yamada-san mengikiuti pelayan itu keluar.
Tanpa menghiraukan itu, aku dan Chinen melahap hidangan makan malam yang telah ada
dihadapan kami.
"Uwaaaaaa~
" Steak Truffel ini sangat enak kelihatannya, aromanya pun mebuat air liurku
tak bisa kutahan.
Kami pun melalap
makan malam ini dengan lahapnya. Namun saat suapan kedua, kepalaku sekejap terasa
sangat berat, penglihatan ku lama kelamaan kabur.
"Yuri~"
panggiku lirih. Tak lama aku terjatuh, dan kemudian penglihatanku sempurna menghitam.
*****
"Aaw!"
aku pun terbangun. Kepalaku masih terasa sakit. Remang-remang kumelihat dihadapanku
telah ada seseorang yang telah menodongkan pistol kearahku.
"Ohayou~
Morimoto-san" Kulihat Sayaka yang menodongkan pistol kearahku. Kulirik Chinen
yang masih tak sadarkan diri.
"Mau apa
kau disini? mengapa kau menodongkan pistol kearahku?" Tanyaku sedikit ketakutan.
"Berikan
pernata itu!!" kata Sayaka sambil menarik pelatuknya dan bersedia untuk menembak.
Tanpa berfikir
panjang, aku pun memanggilnya dengan sebutan kami sewaktu SMP dulu.
"Saya-chan,
apa yang kau lakukan?" kataku yang masih tak bertenaga.
"Apa maksudmu
memanggilku dengan sebutan itu??!!" kina tangannya mulai bergetar.
Tiba-tiba Chinen
menendang pistol yang dipegang Sayaka hingga terpental jauh kebawah meja. Tak tau
sejak kapan Chinen sadar dan melakukan hal itu. Dengan segera Chinen menyuruhku
untuk pergi menjauh dari mereka. Aku heran mengapa para detektif tidak ada di tempat
disaat seperti ini. Aku takut Sayaka melakukan sesuatu yang buruk terhadap Chinen.
Namun sebelum aku berbalik menuju kamar, Sayaka sudah terlihat menyusulku dan mengejarku.
Aku pun tersentak dan langsung berlari secepat yang kubisa.
Sayaka mengejarku
hingga ke dek bawah. Aku heran, mengapa perempuan ini sangat kuat mengejarku. Padahal
aku terkenal pelari tercepat saat lomba antar SMA.
"Kau sudah
tidak bisa mengelak lagi Morimoto-san" Katanya masih memegang pistol.
Nafasku terengah-engah.
Jantungku berdetak sangat kencang. Aku bersandar dikotak besar dibelakangku, mengumpulkan
sedikit tenaga untuk melawan Sayaka yang sewaktu-waktu akan menjadi brutal tak terkontrol.
"Saya-chan,
aku tau kau Saya-chan" kataku yang masih terengah-engah. Dia terdiam.
"Mengapa
kau tidak menemuiku, mengapa kau bersembunyi selama ini?" tanyaku sedikit berteriak.
Tampak wajah
Sayaka memerah, terlihat seperti menahan amarahnya dan matanya sedikit berkaca-kaca.
"Mengapa
kau meninggalkanku dengan murid pindahan itu Ryu?" teriaknya membuatku tercengang.
"Mengapa
sikapmu berubah180° saat dia datang? aku tersingkir Ryu! Kau melupakanku! Apalagi
setelah terbakarnya rumahku, tak sedikitpun kau mencariku, kau maupun Yuri, kalian
sudah tidak mempudulikanku!!" kini air mata jatuh deras seketika.
"Saya-chan,
aku minta maaf" kataku panik.
"wajah
ini" Sayaka melepaskan topengnya "sesungguhnya aku tak sudi memakai wajah
kotor seperti ini." lanjut Sayaka. Terlihat sebagian pipinya terluka bekas
terbakar.
"Saya-chan"
aku kehilangan kata-kata.
"Aku memang
tak secantik Mika, Ryu!"
"Saya-chan,
polisi mengatakan bahwa kamu sekeluarga tewas, bahkan makammu pun ada. Mengapa bhkan
kau yang menghampiri kami!" Aku memotong perkataannya.
"Maafkan
aku Saya-chan~" kataku yang melihat Sayaka terdiam dan agak menurunkan pistolnya.
"Berikan
permata itu!!" tiba-tiba Sayaka menodongkan pistolnya lagi.
"Itu tidak
mungkin!!" teriakku.
"Apa kau
mau kubunuh seperti aku membunuh cintamu dulu!!" teriaknys tiba-tiba. Aku terkejut
mendengar pernyataannya.
"KAU!!!"
kataku membentak.
"Ya!! Perampok
wanita yang masih tak diketahui identitasnya, yang membunuh Matsumoto Mika adalah
aku!!" Jelasnya dengan wajah yang sangat marah.
"Tapi,
mengapa kau membunuh Mika, mengapa kau menjadi perampok??" tanyaku heran.
"Harta
keluargku habis, aku dipungut oleh bos perqmpok handal, dan itu karena aku kecewa
terhadapmu Ryu!!" Sayaka menembakan peluru pertamanya tak tentu arah.
"Aku membunuh
Mika karena kau telah melupakanku Ryu!! kau dan Yuri!! setelah aku membunuhmu, aku
akan membunuh Yuri juga." Sayaka pun meluncurkan peluru keduanya tepat disamping
melewati kepalaku.
"Mengapa
kau membunuh Mika" bentakku kencang, membuat Sayaka terkejut.
"Karena
aku mencintaimu Ryu!!" Sayaka menjawab dengan berlinang air mata. Namun dengan
amarahnya, Sayaka tak sadar telah meluncurkan peluru tepat dilengan kananku.
"Kau dan
Yuri telah mencampakkanku setelah kalian memiliki wanita lain" Sayaka makin
terisak.
"Saya-chan~"
panggilku tak berdaya.
"Ryu!!!"
Syaka tersadar melihatku telah bersimbah darah. Dia menjatuhkan pistolnya dan berlari
kearahku.
"Ryu, maafkan
aku" Katanya sambil menyentuh pipiku lembut.
"Tidak.
Akulah yang harus meminta maaf, Saya-chan" aku menggenggam tangannya.
Tiba-tiba seseorang
datang karena telah mendengar 3 tembakan yang diluncurkan oleh Sayaka tadi. Ternyata
itu Nakajima-san. Sayaka pun panik dan meninggalkanku. Sebelum ia meninggalkanku
dia mengecup bibirku lembut dan berkata, "Aishiteru, gomen ne~"
"HEI!!!"
Nakajima-san mengurungkan niatnya mengejar Sayaka saat melihaku bersimbah darah.
"Morimoto-san,
daijoubu ka?" Nakajima-san panik.
"Aku..."
belum sempat aku menjawab, aku tak sadarkan diri karena lemah.
TBC~


No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)