Pages

WHERE MY HEART BELONGS Chinen Yuri POV Chapter 2



Title : Where My Heart Belongs Genre : crime, dark, romance Rate : PG-15 Author : Earl (harukichi ebisawa) POV : Chinen Yuri OC : Watanabe Haruka

“Apa yang akulakukan kenapa aku memanggilnya Haruka” Ucapku lagi dalam hati. “Etto?” Ucap gadis itu pelan. “Ahhh Hhai, Chinen Yuri desu. Apakah kamu peserta lelang juga?” Tanyaku gugup. “Ah.. bisa di bilang seperti itu” Jawabnya sambil tersenyum. “Ahh Watanabe Haruka Desu” Sambungnya dengan sopan dan lembut. Akupun hanya diam karna sejak kejadian waktu itu aku merasa sangat bersalah dengan Haruka sehingga aku memutuskan untuk membuat Haruka lupa kepadaku sepenuhnya, ya SEPENUHNYA LUPA . TBC “Etto” Suara lembut seorang gadis membuyarkan lamunanku. Akupun menoleh kearah sumber suara tersebut. “H-hai?” Jawabku kikuk. “Apakah kau baik-baik saja?” Tanya Haruka. “Aku baik. Sampai mana tadi?” Tanyaku pada Haruka. “Etto aku harus pergi dulu jah” Ucap Haruka dan pergi meninggalkanku sendiri. Tidak sempat Haruka menjawab tiba-tiba saja datang seorang laki-laki tua yang menghampiri Haruka. Lelaki itu datang dan langsung mencium pipi Haruka, Jleb aku tiak tau kenapa tapi rasanya tanganku sudah ingin melayang ke wajah laki-laki itu. “Siaa laki-laki tua itu” pikirku. “Dia terlhat sangat akrab dengan Haruka. Apa itu ayahnya tapi seingatku ayah Haruka sudah meninggal saat Haruka berumur 2 tahun jadi itu siapa?” Pikirku.
Setelah pertemuanku dengan Haruka tadi, aku langsung teringat saat kejadian waktu itu kejadian yang menharuskanku menhapus semua ingatannya dan setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya, tapi tidak kusangka aku bertemu dengannya disini. Di pelelangan ini. “Haruka” Ucapku pelan sambil merebahkan badanku ke kasur. Yuri, apa kau mengenal perempuan yang bernama Sayaka, Ayukawa Sayaka." Ucap Ryu tiba-tiba yang membuat lamunanku bucar. "Ah . .Sayakaa~ sepertinya aku pernah mendengar nama itu." Jawabku ragu. "Aku keluar sebentar ya yuri." Kata Ryu dan langsung keluar meninggalkanku sendiri dikamar. “Sayaka” Ucapku pelan. “Sepertinya nama itu tidak asing lagi” Sambungku. “Sayaka, Haruka Ah!” Ucapku dan langsung duduk di kasur. Akupun mengobrak-ngabrik tasku untuk mencari sebuah album foto lama yang selalu kubawa dan Tap. “Sayaka” Ucapku pelan. Akupun langsung ingat siapa itu Sayaka. Sayaka teman lamaku dan Ryu dulu dan tidak lupa teman Haruka juga. “Tapi bukannya Sayaka sudah mati karna insiden kebakaran waktu itu” Pikirku serius. Sejujurnya aku tidak ingin mengingat insiden kebakaran itu karna insiden itu mengingatkanku kepada hal yang sangat menyakitkan. "Yuri!!!" Teriak Ryu yang tiba-tiba datang dan membuatku terkejut. "Ada apa Ryuu. kau mengagetkanku saja." Jawabku sambil mengusap-ngusap dadaku dan menyembuyikan album foto aku,Ryu, Sayaka dan Haruka.. "Aku sudah mengingatnya yuri, wanita itu" Ucap Ryu tersengal-sengal "Siapa?” Tanyaku. "Sayaka, aku ingat. Sayaka sahabat kita sewaktu SMP. apa kau mengingatnya" Jelas Ryu meyakinkanku/ "Hahh, bukan kah dia sudah mati karena rumahnya terbakar?" Ucapku dengan ekspresi kaget. “Aku sudah mengetahuinya Ryu” Ucapku dalam hati. "Mungkin kau salah lihat Ryu, tidak mungkin orang mati bisa hidup kembali." Sambungku dengan nada ragu. "Tapi mengapa aku tidak ingat saat mendengar namanya" tanya Ryu heran. “Saya-chan, mengapa dia tidak menemui kita, kenapa dia tidak beritahu kalau dia masih hidup" tanyaku dan tentu saja semua pertanyaanku ini hanya akting belaka karna aku tidak ingin Ryu tau apa yang sebenarnya terjadi dan aku juga tidak ingin kalau Sayaka yang kami bicarakan ini adalah Sayaka teman kami dulu karna kalau itu benar Sayaka teman kami dulu aku rasa masalahnya akan semakin rumit, dan tentu saja aku tidak ingin melibatkan Haruka dengan masalah ini lagi. "Aku juga bingung Yuri, mungkin besok kita akan menemukan jawabannya." Jawab Ryu. *** “Mungking besok kita akan menemukan jawabannya” Kata-kata Ryu itu berdenging dikepalaku. Apa maksudnya besok kita akan menemukan jawabannya?. Sampai sekarang aku terus memikirkannya. “Ryu, apa maksudmu menemukan jawabannya” Ucapku dalam hati. “Sepertinya aku harus mencari udara segar” Sambungku dan keluar dari kamar. Akupun melewati kamar Haruka dan tanpa aku sadari aku berhenti tepat di depan kamar Haruka. “Haruka” Ucapku pelan sambil memegang pintu kamar Haruka, TapTapTap suara langkah kaki mendekat kearahku dengan cepat akupun bersembunyi di belakang tanaman hias yang tidak jauh dari kamar Haruka. Aku tidak ingin dikira orang penguntit jadi lebih baik aku bersembunyi. Langkah kaki itupun berhenti tepat di depan kamar Haruka dan Jleb suara langkah kaki itu berasal dari seorang pria tua yang sepertinya salah satu dari sekian banyak pelelang. “Siapa dia” Ucapku pelan dan terus memperhatikan gerak-gerik pria itu. TokTok Pria itu mengetuk pintu kamar Haruka tidak sampai 1menit Haruka membukakan pintu dan *Chuu dengan santainya pria itu mencium Haruka dan jelas itu membuatku panas. “Siapa pria tua itu? Kenapa dengan santainya ia mencium Haruka? Dan kenapa Haruka tidak marah saat pria tua itu menciumnya” Ucapku kesal. Pria tua itupun masuk kedalam kamar bersama Haruka dan itu tambah membuatku penasaran dan kesal. Aku terus berpikir siapa pria itu. “Apakah itu ayah Haruka tapi mana mungkin karna ayah Haruka sudah meninggal saat Haruka berumur 5 tahun jadi siapa pria tua tadi”. Pikirku. Dengan perasaan kesal dan penasaran akupun mendekati kamar Haruka. “Apa yang mereka lakukan” Ucapku dalam hati. “Aku harus mengetahuinya” Ucapku dan mengumpulkan semua keberanianku untuk membuka pintu kamar Haruka. Tap tanganku sudah memegang gagang pintu Haruka tinggal satu langkah lagi. “Ayo” Ucapku. *** Keesokan harinya aku terus berpikir tentang Haruka ataupun Sayaka aku takut semua rahasia yang sudah ku simpan ini akan terbongkar. Aku tau aku sangat egois tapi aku tidak ingin Haruka terluka lagi karna kesalah pahaman ini. Karna sebuah kesalah pahaman Haruka berbuat seperti itu. Itu semua berawal saat itu. Waktu itu beberapa tahun yang lalu rumah Sayaka kebakaran tidak ada yang tersisa lagi bahkan Sayakapun meninggal dunia akibat kebakaran tersebut. Kami semua shock termasuk Ryu dan aku sangat yakin Ryu pasti sangat terpukul atas kejadian itu. -_____________- Flashback “Sayaka” Ucap Ryu sambil terus menatap rumah yang telah hangus oleh api. “Yuri, tolong katakan semua ini bohongkan? Iyakan?” Tanya Ryu sambil menggoyang-goyangkan tubuhku dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. “Ryu” Ucapku pelan. “Aku juga tidak ingin mempercayai ini” Sambungku sambil menundukkan kepalak. “Bohong” Ucap Ryu dengan nada tinggi. Akupn hanya diam karna tidak tau mau berkata apa lagi aku sangat sedih atas kejadian yang menimpa Sayaka di lain pihak aku juga sangat terpukul karna pelaku pembakarannya itu adalah Haruka. “Ryu, gomen” Ucapku dalam hati. 5 menit setelah kebakaran aku melihat Haruka berlari keluar dari rumah lewat pintu belakang. Dan pada saat itu aku langsung menghampiri Haruka dan kulihat tangannya gemetar dan wajahnya pucat ketakutan. “Haruka, ada apa?” Tanyaku khawatir melihat kondisi Haruka. “A-aku” Ucap Haruka gagap. “Kau kenapa?” Tanyaku tambah khawatir. “Aku yang membakar rumah Sayaka” Ucapnya dan langsung menangis sambil duduk di lantai. “Bohong” Ucapku pelan tidak percaya apa yang dikatakan Haruka. “Katakan itu bohong, Haruka” Ucapku dengan nada yang lebih tinggi. “ITU SEMUA SALAHMU” Teriak Haruka tiba-tiba yang membuatku kaget. “Eh?” Tanyaku bingung. “Itu semua karnamu. Karna kau lebih memperhatikan Sayaka dari pada aku” Sambung Haruka dengan nada sedikit melemah. “Apa maksudmu?” Tanyaku bingung. “Kau, kau yang membuatku melakukan ini. Karna kau aku melakukan ini. Kau selalu mengabaikanku dan lebih memperhatikan Sayaka padahal kau sendiri tau kalau aku menyukaimu tapikenapa kenapa Sayaka. Kenapa kau lebih memperhatikan Sayaka?” Ucap Haruka sambil menangis. “Haruka, bukan begitu kau salah paham” Ucapku menenangkan Haruka. “Aku dan Sayaka hanya teman. Aku hanya membantunya untuk dekat dengan Ryu dan kau adalah satu-satunya gadis yang aku cintai Haruka” Ucapku sambil memeluk Haruka. “Hontou?” Tanya Haruka ragu. “Un” Jawabku. “T-tapi sekarang aku seorang pembunuh. Aku yang membuat rumah Sayaka terbakar dan membuat Sayaka meninggal. Aku seorang pembunuh” Ucap Haruka dengan nada tertekan. “Tidak apa-apa. Aku akan mengurusnya lupakan saja semua kejadian tentang kebakaran itu” Jawabku. “Chi” Ucap haruka sambil melepaskan pelukanku dan menatapku dengan matanya yang bewarna coklat. “Kau tidak usah khawatir” Ucapku meyakinkan Haruka. -_______- Flashback END *** Waktu sudah menunjukkan piukul 5 sore. Aku dan Ryu assik berbicara apa yang akan kami lakukan setelah permata itu laku terjual dengan harga yang tinggi. "Apa yang akan kau lakukan terlebih dahulu setelah kita memegang uang hasil pelelangan ini Ryuu" tanyaku pada Ryu. "Pertama, aku akan memperindah makam orangtuaku dan makam Mika. Dan seterusnya aku ingin membeli rumah, mobil, motor besar.... ahh~ aku masih bingung apa yang harus kubeli lagi dengan uang sebanyak itu" Jawab Ryu dengan tawa kecil menghiasi wajanya. Akupun berpikir apakah Ryu akan masih tertawa seperti ini jika dia tau pelaku pembakaran itu adalah Haruka tapi aku mencoba menghilangkan pikiran itu jauh-jauh dari otakku karna aku tidak ingin merusak obrolanku dan Ryu. "Lalu bagaimana denganmu Yuri" tanya Ryu padaku. :Aku pun mempunyai keinginan yang besar dari uang hasil peelangan permata ini” Jawabku singkat sambil tersenyum.. Saat sedang assik mengobrol makanan kamipun sudah sampai tanpa pikir panjang aku dan Ryupun langsung melahapnya. "Uwaaaaaa~ " Steak Truffel ini sangat enak kelihatannya, aromanya pun mebuat air liurku tak bisa kutahan. Kami pun melalap makan malam ini dengan lahapnya. Namun saat suapan kedua, aku melihat ada yang aneh dari Ryu dan tiba-tiba. "Yuri~" panggil Ryu lirih.
*** "Mau apa kau disini? mengapa kau menodongkan pistol kearahku?" Tanya Ryu sedikit ketakutan. "Berikan permata itu!!" Jawab Sayaka sambil menarik pelatuknya dan bersedia untuk menembak. "Saya-chan, apa yang kau lakukan?" Ucap Ryu yang masih tak bertenaga. "Apa maksudmu memanggilku dengan sebutan itu??!!" kina tangannya mulai bergetar. Akupun tidak tahan dengan pura-pura tidak sadarkan diri dan hanya mendengar percakapan mereka dengan akupun menendang pistol yang dipegang Sayaka hingga terpental jauh kebawah meja. Dengan segera aku menyuruh Ryu untuk pergi menjauh dari mereka . Sayaka terus mengejar Ryu dan kesempatan itupun aku gunakan untuk kabur dari tempat ini dan tentu saja mencari para detektive itu untuk membantu Ryu karna aku tidak ingin Ryu kenapa-kenapa. Dan tiba-tiba saja terlintas dipikiranku untuk mengatakan semuanya kepada Ryu tentang siapa yang membakar rumah Sayaka.
tbc

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)