Pages

STAY WITH ME CHAPTER 4




Judul                     :  stay with me
Rating                   :  NC-21 if you don’t like something like sex stuff just don’t read it
Genre                   : romance, mystery
Cast                       : Nakajima Kento (JE)
                                 Sawada Mika (actually she’s vio-nee’s request and it was presented for her :p)
                                Kikuchi Fuma (JE)
Themesong        : YUI-  please stay with me
Disclaimer           : semua tokoh ada yang punya,  tapi ceritanya punya saya

Quote                   : “aku sama sekali tak peduli, meski kau adalah malaikat yang jatuh karena separuh sayapnya terbakar api neraka”
Prolog                   :
                Malam ini, malam di tahun ketiga sejak saat itu, saat-saat terakhir kita berdua. Saat yang seharusnya kita berbagi kebahagiaan bersama, namun menjadi hari yang amat sangat kusesali.  Kau yang satu-satunya membangkitkan semangat hidupku dan dia yang menjadi satu-satunya harapanku. Tuhan memang terlalu pintar menjadikan ini sebagai  bahan ujian untukku
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
                Hari pertama mika bekerja pada kento. Mika melewatinya dengan biasa saja, ia tak mau menghiraukan kento sama sekali. Mika hanya bekerja apa yang seharusnya mika kerjakan, tidak kurang dan tidak lebih. Mika selalu menghindar apabila kento mengajaknya mengobrol di luar pekerjaan. Kento berusaha keras mengambil hati mika namun sepertinya tak bisa. Sebenarnya kento tak ada niatan untuk menjadikan mika kekasihnya. Hanya saja kento tak suka jika mika membenci dirinya, apalagi selama ini tak ada wanita yang menolak kento untuk berkencan.
                
              “mika, tadi pagi aku menelponmu untuk menanyakan laporan tahap awal persiapan tapi handphonemu tak bisa dihubungi” kento bertanya, padahal ia hanya ingin tahu kenapa ponsel mika tak bisa dihubungi.
               
               “ah, sumimasen. Ponselku rusak dan aku berencana membelinya besok. Tetapi aku tak aka mengganti nomornya sehinngga orang kantor termasuk anda sudah bisa menghubungi nomor itu besok” katanya singkat.
               
               “oh begitu, baiklah” kento mempersilahkan mika kembali ke ruangannya. Ia terus berfikir bagaimana caranya mencari hal yang paling disuka mika. Akhirnya kento memutuskan untuk mengikutinya pulang dari kantor.
                
               Sepulangnya dari kantor mika membawa keluar mobilnya, ia tak pulang terlebih dahulu. Mika mampir ke supermarket dan membeli beberapa bahan makanan disana. Kento mengikutinya sendirian. Saat itu pukul 10 malam dan sangat sepi, jarak supermarket dan tempat mobil mika diparkir lumayan jauh. Mika berjalan ke mobilnya sendirian dengan barang belanjaannya dengan perasaan enteng pada awalnya. Sampai kemudian ia bertemu dengan 4 orang preman dipinggir jalan yang menggodanya, kento belum menyadari karena ia masih berada jauh di belakang mika. Keempat preman itu memegangi mika dan hendak memperkosa mika. Blazer yang mika pakai sudah robek oleh mereka. Kento datang dan mengahmpiri mereka, mengahajar mereka. Meskipun kalah jumlah, kento menang dan mengajak mika pulang. Mika shock dan ketakutan, rupanya trauma mika datang lagi. Ia hanya merengkuk menutupi wajahnya. Tak mengeluarkan satu katapun. Kento heran melihatnya. Mika teruss menangis menangis dan menangis. Mika teringat kejadian buruk yang dialaminya dulu, kejadian saat ia diperkosa oleh beberapa orang tak dikenal saat usianya 13 tahun. Kento yang tak tahu hal itu menggendong mika ke mobilnya, membawanya pulang ke apartemen mika.
                
             Sesampainya di apartemen mika, mika masih tetap ketakutan dan tak bicara. Kento menidurkannya di kasur, mika menutupi dirinya sendiri dengan selimut. Karena khawatir dengan keadaan mika yang terus seperti itu kento memanggil dokter pribadinya.
             
             “bagaimana keadaannya dok? Daritadi dia terus merengkuk ketakutan seperti itu” Tanya kento khawatir
               
              “sepertinya dia mengalami shock berat, namun ini di luar keahlian saya. Sebaiknya anda memanggil seorang psikiater jika besok ia masih seperti ini. Jika sudah membaik saya rasa tidak apa-apa. Saya sudah memberikannya obat penenang supaya dia tertidur”
                
              “baiklah, apa obat yang harus saya tebus?”
               
               “ini resepnya, dan berikan dosisnya sesuai dengan yang saya tuliskan. Saya permisi dulu”
               
               “ya, terimakasih dok” kento mengantar dokter itu keluar sampai depan pintu.
               
                Kento menghampiri mika yang sedang tertidur lelap. Ia mengelus-elus kepala mika. Mika mengigau.
                
              “fuma… fuma… jangan pergi, tolong aku.. fuma…”
               
              Kento duduk dan memeluk mika, seperti seorangg ibu memeluk anaknya yang sedang ketakutan. Kento memeluknya dengan hangat dan mengenggam tangan mika.
                
             “ssssttt, tenanglah. Aku ada di sini” kento menemani mika sepanjang malam hingga akhirnya ia tertidur.
             
             Pagi harinya mika terbangun, ada kento yang sedang duduk disampingnya. Ia kaget dan mendorong kento hingga ia terjatuh. Kento bangun kesakitan.
               
               “ittee” kento mengusap-usap kepalanya. “ada apa? Kenapa kau mendorongku?”
               
             “kau??! Apa yang kau…” belum sempat menyelesaikannya mika hendak terjatuh, kento reflek menangkapnya.
               
            “istirahatlah dulu. Badanmu masih lemah akibat obat dari dokter. Kau ingatkan kemarin diserang beberapa orang?”
               
              Mika teringat dan ia heran kenapa kento bisa ada disini, “kau.. kenapa kau bisa ada disitu kemarin?”
               
              “sudahlah, itu tidak penting. Yang penting sekarang kau istirahat dulu. Aku akan memberikan cuti untukmu” kento mebaringkan mika di tempat tidur. “berbaringlah, kau belum sarapan kan?” kento mengambil semangkuk bubur dari meja makan. Ia menyuapi mika bubur itu. Mika menolak untuk disuapi.
               
             “hei, kenapa kau masih keras kepala juga disaat seperti ini? memangnya dengan kondisi seperti itu kau bisa menahan mangkuk dan sendok yang terbuat dari marmer berat seperti ini dengan tanganmu?” kento mengoceh. “sudah, makan saja”
               
          Karena badan mika masih lemas, ia terpaksa membuka mulutnya. “enak sekali, kau beli dimana?” kata mika antusias. Dia memang menyukai makanan enak.
                “ini buatanku” jawab kento singkat
                “hontou? Pasti kau bohong” mika tak percaya “tuan muda sepertimu mana bisa membuat masakan seenak ini”
                “terserah jika kau tak percaya” jawab kento kesal
                Namun mika percaya sekarang ketika melihat bekas panic kotor serta peralatan memasak lain yang jarang ia pakai kini semuanya ada di tempat cuci piringnya. Jika peralatan itu hidup, mungkin mereka akan senang karena sudah sekian bulan tidak disentuh oleh mika.
                “fuma itu siapa?” Tanya kento sambil menyuapi mika
                Mika tersedak. “darimana kau tahu tentang fuma?”
                “tadi malam kau mengigau, memanggil nama itu. Tidak ibu ataupun ayahmu yang kau mintai tolong saaat ketakutan, tetapi dia. Sebenarnya dia siapa?”
                “bukan urusanmu” mika menghindar
                “pasti dia seseorang yang penting dalam hidupmu kan?” Tanya kento penasaran. “biar begini, aku juga membaca buku psikologi. Dan tak mungkin jika seseorang ketakutan seperti itu akan memanggil nama yang tidak penting bagi dirinya”
               
            Suasana pun menjadi hening, mika teringat fuma kembali. Saat-saat fuma menyemangatinya ketika ia sedang lemah seperti ini, saat ia menangis fumalah yang selalu memeluknya. Dan kento terus memikirkan siapa sebenarnya fuma itu. Ia takut jika ada oranglain di hati mika. Mika selesai memakan buburnya. Ada beberapa bubur yang tersisa di sudut bibir mika. Kento mengusapnya dengan sapu tangan. Mika terus menatapnya, ia memegang wajah kento, wajahnya mendekati wajah kento dan tak sadar mika mencium bibirnya. Kento membalas ciuman mika namun beberapa saat kemudian kento melepaskannya.
               
            “ah, maaf aku…. Tak sengaja …” mika malu pada kento. Ia yang biasanya galak pada kento entah kenapa saat ini sedang galau
              
             “ah tidak, aku maklum karena kau masih sakit” kento menjadi canggung juga. “aku.. aku harus pergi mengabari kosuke, ia pasti kerepotan karena aku ada beberapa rapat hari ini. sawada-san, cepat sembuh ya” kento pulang, menutup pintu apartemen mika, dan turun ke parkiran dengan berloncat-loncatan senang seperti anak kecil yang baru mendapat sejuta bungkus permen gratis.
               
             Mika masih tak tahu kenapa ia melakukan hal tersebut, entah kenapa etiap melihat kento ia selalu merasakan apa yang ia rasakan saat berada di dekat fuma. Mungkinkah fuma yang mengirimkan kento untuknya? Pertemuan di bar, di kantor, apakah itu bukan hanya suatu kebetulan? Apakah fuma mengirimkan doa pada Tuhan untuk mengirimkan mika seseorang agar ia tak kesepian seperti saat ini? entahlah.. yang jelas saat ini kesendirian mika sedikit demi sedikit mulai hilang.
                “fuma… apa ini juga kado darimu?” mika kembali berbaring. Ia merasa belum sanggup berjalan dan kemudian kembali tertidur.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
                Malam harinya ada seseorang yang membunyikan bel pintu apartemen mika. Mika sudah agak sehat dan dapat bekerja kembali besok. Ia membukakan pintu, rupanya kosuke, sekretaris kento. Mika mempersilahkannya duduk.
                
                “silahkan duduk Fujiyama-san”
                “ah, panggil saja kosuke. Ini bukan di tempat kerja kan sawada-san?”
                “hahaha dan kau juga dapat memanggilku mika jika kau mau” jawab mika ramah
                “kau ramah sekali ya, berbeda sekali dengan perlakuanmu ke kento hihi” ledek kosuke pada mika
                “bukan begitu,” mika membela diri “eh, kenapa kau memanggil nakajima-san dengan nama kecilnya? Dan ada keperluan apa kemari fuji.. ah kosuke-san?”
                “hahaha itu karena aku adalah teman masa kecilnya”
                “hontou?!” mika kaget. Ia menyela pembicaraan dengan menghidangkan kopi pada kosuke
                “ah, arigato mika” dia meminum kopinya. “aku adalah teman kecil kento, dari kecil orangtuaku sudah tidak ada dan aku diasuh oleh ayah kento.”
                “almarhum ayahnya?”
                “ya, dan aku diberikan amanat untuk selalu menjaga kento. Sebagai rasa terimakasih karena telah merawat dan menyekolahkanku sampai ke inggris. Aku akan terus menjaga amanat itu”
                “lalu apa keperluanmu datang kemari?”
                “aku hanya ingin minta tolong padamu, tadi pagi kento terlihat begitu senang. Ia bilang kau menciumnya tadi pagi. Aku tak pernah melihat kento sebahagia itu”
                “apa maksudmu? Aku tak mengerti?” mika masih bingung
                “apa kau tak mengerti? Dia mencintaimu mika, tulus mencintaimu. Belum pernah aku melihat kento benar-benar serius pada wanita selain padamu”
                Mika terdiam, ia masih tak percaya. “lantas kau hanya ingin mengatakan itu?”
                
               “tidak, sebenarnya aku ingin mengatakan padamu untuk tak membuat kento kecewa. Dia … dari kecil dia dan ayahnya telah ditinggal pergi ibu kento. Bibi pergi menikahi pria lain karena kento terlahir cacat dulu. Organ hatinya mengalami kerusakan sehingga hampir setiap hari kento harus kesakitan menjalani terapi. Ibunya tak bisa menerima kenyataan itu. Sadar bahwa ia tak bisa mendapat keturunan lagi selain kento, ibunya pergi meninggalkan kento dan ayahnya.kento yang saat itu berumur dua tahun dan tak tahu apa-apa hanya bisa bertanya kemana ibunya pergi. Ayahnya tak mau kento membenci ibunya. Ia bilang pada kento bahwa ibunya sedang pergi ke suatu tempat untuk suatu pekerjaan.”
                Mika masih terdiam mendengar cerita kosuke.
                “lalu kento mulai tumbuh dewasa dan sadar, bahwa ada yang tak beres dengan kehidupan rumahnya. Dengan terpaksa ayahnya menceritakan hal yang sebenarnya terjadi pada kento. namun kento tak pernah membenci ibunya. ia terus berharap ibunya menengoknya, melihat ia tumbuh besar dengan normal seperti anak-anak lain. Karena tubuh kento lemah, ia terus dibully di sekolahnya dan tak ada orang yang mau mendekatinya selain aku. Aku tahu kento selalu merasa kesepian. tetapi ia tak pernah benar-benar menunjukan rasa sepinya itu. Ia selalu berusaha tersenyum di depanku. Sampai pada akhirnya pada saat umurnya 19 tahun, ayahnya memutuskan untuk mencangkokkan hatinya demi kento. Ia tak mau masa depan kento hancur hanya karena keterbatasannya. Ayahnya mengorbankan nyawanya demi kento seorang. Sejak saat itu, kento bertekad untuk mengembangkan perusaahan milik ayahnya dan hanya focus pada pekerjaan. Serta tak pernah mengurusi hal-hal seperti cinta.”
                
                Mika merasa bersalah pada kento, dia menilai kento hanya dari penampilannya saja. Ternyata kento memiliki tekad yang kuat. Hanya saja ia tak pernah mengumbarnya.
                
               “dulu sewaktu SMP dia pernah jatuh cinta pada seorang wanita tempat ia bersekolah. Ia menceritakannya padaku. Setiap hari, setiap perkataan, perbuatan, dan apapun tentang gadis itu dia puja. Namu gadis itu menolaknya. Aku rasa itu wajar jika seorang wanita menolak seorang pria. Akan tetapi, ketika aku bertanya kenapa dia menolak kento dia menjawab nama bisa aku pacaran dengan orang cacat seperti dia. Kau tahu? Itu adalah perkataan paling kejam yang pernah didengar oleh telingaku, dan kento tak sengaja mendengarnya. Ketika khawatir dengan keadaan kento. Kento malah dengan ceria bilang padaku bahwa ia taka pa-apa. Dan semenjak saat itu dia terlihat tak pernah benar-benar lagi mencintai seorang wanita. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah pekerjaannya. Dan kali ini dia benar-benar mencintaimu mika. Jadi kumohon…” kosuke berdiri. Dia membungkuk pada mika. “kumohon jagalah hati dan perasaan kento. Sebagai teman masa kecilnya, dia sudah kuanggap adikku, aku tak mau dia menderita lagi. Kau tahu? Hidup tanpa cinta itu benar-benar hampa…”
                
            “ah, kosuke, tolong jangan membungkuk seperti itu. Baiklah baiklah aku tidak akan membuatnya kecewa, sekarang duduklah” dia gelisah tak enak pada kosuke
                
             “ah, sejujurnya kau sangat baik mika, aku bisa merasakannya dari awal kita bertemu”
             
            “tidak, kau terlalu memuji kosuke” wajah mika memerah. Mika tak tahu harus berbuat apa. Memang ada sebagian dalam diri kento yang membuatnya nyaman, tetapi sebagian diri kento yang lain membuat mika ingat pada fuma dan memberikannya kerinduan yang lebih pada fuma, dan mika takut hal itu akan menyakiti mereka berdua, kento dan mika .


To be continued…

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)