Pages

STAY WITH ME CHAPTER 2




Judul                     :  stay with me
Rating                   :  NC-21 if you don’t like something like sex stuff just don’t read it
Genre                   : romance, mystery
Cast                       : Nakajima Kento (JE)
                                 Sawada Mika (actually she’s vio-nee’s request and it was presented for her :p)
                                Kikuchi Fuma (JE)
Themesong        : YUI-  please stay with me
Disclaimer           : semua tokoh ada yang punya,  tapi ceritanya punya saya

Quote                   : “aku sama sekali tak peduli, meski kau adalah malaikat yang jatuh karena separuh sayapnya terbakar api neraka”
Prolog                   :
                Malam ini, malam di tahun ketiga sejak saat itu, saat-saat terakhir kita berdua. Saat yang seharusnya kita berbagi kebahagiaan bersama, namun menjadi hari yang amat sangat kusesali.  Kau yang satu-satunya membangkitkan semangat hidupku dan dia yang menjadi satu-satunya harapanku. Tuhan memang terlalu pintar menjadikan ini sebagai  bahan ujian untukku

…….………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
                Hujan lebat terjadi di Tokyo hari itu, seolah menyanyikan alunan duka cita untuk kepergian fuma. Udara suram nan menyedihkan sangat terasa hari itu. Semua orang sedih, semua orang menangis. Termasuk mika yang sebulan lagi akan menikah dengan fuma yang kini telah terbujur kaku menjadi mayat di depan gadis itu. Ia terus menangis menangis tanpa henti. Sama seperti ayah, ibu, dan adik fuma. Fuma yang begitu mereka banggakan, fuma yang tampan dan cerdas yang selalu menjadi kebanggaan setiap orang, fuma yang  selalu mencintai mika, menyayangi mika. Fuma yang selalu ada di setiap mika bersedih. Kini harus pergi begitu saja diusianya yang masih muda. Hei fuma !! ayo bangun !! bangun lah dan tampar aku !! bilang padaku bahwa ini Cuma mimpi !! ini Cuma surprise mu seperti biasa. Katakana padaku bahwa kau hanya menjahiliku. Penuhi janjimu untuk menikahiku !! hanya itu kalimat yang dijeritkan mika di dalam hati selagi mayat fuma masih di dalam peti mati. Mika masih tak percaya, satu-satunya orang yang dicintainya kini telah pergi untuk selamanya. Sakura mendekati mika dan memeluknya, ikut menangis bersama mika. Sakura adalah orang kedua yang terpukul atas kematian fuma. Dia terus memeluk mika seolah mika adalah kakaknya. Selain kakaknya tak ada lagi tempat sakura bercerita kehidupan SMA-nya.
                “mika-nee, kakak, sebelum ia pergi dengan mobil, ia sempat memberikan ini padaku” sakura memberikan gelang cokelat yang diberikan mika padanya “nii-chan, aku yakin dia ditabrak oleh seseorang. Dia tak pernah menyalahi aturan dalam berkendara. Dia juga selalu hati-hati, polisi bilang ada seseorang yang menyalip mobilnya hinngga dia jatuh ke jurang. Namun polisi belum dapat memastikan betul hal itu. Di hari di saat kecelakaan itu, waktu itu hujan deras. Dia memaksa mencari tempat yang cocok untuk pernikahan kalian karena besoknya dia harus kembali bekerja. Dia tak mau gelang ini rusak karena hujan, maka dari itu nii-chan… nii-chan…” tak sempat meneruskan kata-katanya sakura menangis kembali. Dia memberika gelang itu pada mika. “aku rasa, gelang ini seharusnya disimpan kembali padamu”
                “arigato… arigato sakura-chan…..” mika mengenggam gelang itu dan memeluk sakura. Ia tak tahu lagi harus bilang apa. Seluruh hidupnya kini seolah berhenti karena kematian fuma.
                Ibu fuma yang memang sudah mengenal mika sejak mereka berpacaran datang padanya dan memeluknya
                “mika-chan…”
                “kikuchi-san, aku harap kau bisa tegar..maaf orangtua ku belum bisa kemari karena terhalangi sesuatu”
                “un, tidak apa-apa . tidak mika, aku rasa kau yang sangat terpukul atas kepergiannya. Dia… sudah memberikan banyak kasih dan sayangnya padaku selama ini, dia terus membuat aku dan suamiku bangga dengan semua prestasinya. Dan kini, ketika dia ingin membahagiakan dirinya sendiri dengan menikahimu, dia… dia… kenapa dia harus pergi secepat ini..” ibu fuma menangis. Ia tak kuat dan pingsan. Semua orang menolongnya dan membaringkannya di kamar. Memang, tak ada satu-pun yang sanggup akan hal ini. Apalagi mika, seolah separuh bagian tubuh mika menjadi lumpuh. Apa aku bisa menjalani hidupku seperti biasanya?
                Saatnya mayat fuma dikremasikan. Kini fuma yang selalu tersenyum dan tertawa riang telah menjadi butiran debu yang disebarkan oleh keluarganya di pinggir pantai. Fuma yang tegar, fuma yang riang dan fuma yang dewasa yang selalu membuat mika kuat untuk menjalani hidup. Pada siapa mika akan bertumpu? Malam harinya mika kembali ke hotel di tengah Tokyo. Ia terus menangis dan menangis di kamar. Memeluk foto fuma yang sedang tersenyum. Dia mengambil ponselnya dan menelepon kode tujuan paris. Rupanya mika menelpon ibunya. Mika menelpon ibunya sambil menangis.
                “mika… maaf aku tak bisa langsung pergi ke Tokyo. Beberapa hari lagi aku akan kesana untuk menengok keluarga kikuchi-san. Mika.. ibu tak mau ka uterus bersedih, aku tahu fuma adalah orang yang penting dalam hidupu, tapi aku tak mau kau tak semangat lagi” ibunya mencoba membangkitkan semangat mika.
                “ibu… ibu tak mau membuatku bersedih kan?” mika bertanya dengan suara rendah.
                “ya. Memangnya ada apa mika?” ibunya sedikit takut.
                “kalau begitu izinkan aku untuk tinggal menetap di Tokyo. Paris… di paris terlalu banyak menyimpan kenangan aku dan fuma. Aku tak sanggup untuk mengingatnya. Mulai saat ini aku ingin memulai hari baru. Fuma bilang aku harus kuat menjalani hidup dan aku akan menjalaninya.”
                Awalnya ibu mika sempat tak setuju. Namun karena Tokyo adalah ibu kota jepang dan jepang adalah Negara asal mereka, ibu mika mengizinkannya untuk menetap di Tokyo . mulai saat itu mika tinggal di sebuah apartemen di Tokyo dan bekerja sebagai manager di sebuah mall paling besar di Tokyo. Memang benar mika menjalani hari barunya, namun entah kenapa mika lebih senang menyendiri dan menghabiskan malamnya di diskotik dengan pergi minum sendirian. Lalu pada malam itu, malam yang menjadi awal kehidupan baru bagi mika…..
                Di malam minggu saat-saat orang lelah karena bekerja dan memilih untuk menghabiskan weekend mereka bersama kekasih atau teman-teman, mika memilih menghabiskan waktunya di sebuah klub malam langganannya dengan sebotol chivas dan segelas cocktail. Semenjak kematian fuma, mika sering pulang mabuk-mabukan dan menyendiri. Banyak pria yang emndekatinya kemudian ditolak mika mentah-metah dengan alasan ingin focus pada kariernya. Saat itu seperti biasa, mika mabuk berat dengan kesendiriannya. Namun begitu ia ingin menambah minumannya, bartender menolak karena semua minuman sudah di booking oleh seseorang yang saat itu sedang berulangtahun. Mika yang saat itu sedang mabuk berat marah-marah pada bartender dan semua orang memperhatikannya.
                “siapa, yang berani-beraninya melarangku mem..be..li.. minuman.. di sini..” katanya dengan setengah sadar. “kau tahu tidak !! a..ku.. ini pelanggan se..tia disini” mika terus mengoceh pada bartender itu . bartender yang tidak tahu apa-apa hanya diam. “bawa aku ke orang yang sudah membooking semua minuman ini!!” perintahnya pada bartender itu. Dia menurut saja pada perintah mika. Dibawanya mika pada seorang lelaki tampan dengan kemeja hitam yang sedang duduk diapit kedua wanita-wanita cantik. Dialah yang saat ini sedang berulangtahun dan membooking semua minuman yang ada di club itu. Mika menghampirinya masih dengan setengah sadar.
                “hei kau..berani-beraninya kau melarangku untuk membeli minuman disini..”
                “maaf nona, apa maksudmu…??” Tanya lelaki itu
                “kau kan, yang telah membooking semua minuman sehinga aku tak bisa membelinya lagi. Apa alasanmu hah!!?? Kau ingin jadi jagoan disini?!!” mika semakin mabuk
                “maaf nona sepertinya kau mabuk berat, hari ini adalah ulangtahunku dan aku membookingnya untuk teman-temanku, dan semua yang ada di klub ini boleh memintanya. Jika mau, akan kuberi kau sebotol chivas lagi jika kau merasa tersinggung….” Katanya menyambut mika dengan baik hati
                “ahhh.. sudah tidak usah !!” mika semakin galak karena pengaruh alcohol.
                “kento, sudahlah abaikan saja dia. Dia sedang mabuk. Kau ini memang terlalu baik” kata salah seorang wanita yang tadi duduk di sebelahnya.
                Kento mendekati mika. Mika yang sudah terlalu banyak minum muntah di atas kemeja mahal kento. Semua orang yang ada disitu kaget. Mika yang selesai muntah dengan tiba-tiba tidur di pangkuan kento. Teman-teman kento hendak menolongnya namun kento menolak, dengan kemeja berlumuran muntahan mika ia pergi menggendong mika ke dalam mobilnya . menuju sebuah hotel milik ayahnya. Dengan cepat ia memesan satu kamar suite room. Kento menidurkan mika di tempat tidur dan kemudian ia membersihkan diri dari muntahan mika lalu mandi.
                Selesai mandi kento keluar dengan hanya menggunakan boxer . dia mengeringkan rambutnya sambil menggerutu.
                “apa-apaan wanita ini, menghampiriku disaat mabuk dan tiba-tiba muntah di kemejaku. Menyusahkan saja. Tapi.. dia lumayan cantik juga ya..” dia mendekati mika yang sedang tertidur pulas. Ditepuknya pipi mika pelan-pelan. “hei, bangun. Nona, ayo bangun”
                Mika terbangun, matanya terbuka namu kesadarannya belum kembali. Mika memandangi wajah kento yang hanya 5cm dari wajahnya. Mika yang setengah mabuk membayangkan bahwa yang di depannya adalah fuma. Dengan tiba-tiba ia mencium bibir kento, menariknya hingakento ada di pelukannya.
                “hei, apa-apaan kau..” kata kento ingin menghindar. Mika tak mempedulikan perkataan kento dan terus mencium, memeluk, dan mencumbu kento hingga akhirnya kento terangsang. Mika berhenti, mungkin karena kesadarannya sedikit kembali. Namun karena sudah kepalang terangsang, kento melanjutkannya. “aku tak suka setengah-setengah nona” katanya sambil menahan mika dengan tangannya. Ia mencumbu mika terus menerus hingga mika tenggelam di tengah mabuk dan terangsang. Kento membuka mini dress mika yang berwarna merah hingga mika hanya memakai bra dan celana dalamnya saja. Kento mencumbu dada mika, permainan kento hampir sama dengan fuma. Sehingga membuat mika sangat nyaman. Karena mabuk mika tak bisa menyeimbangkan permainan kento dan kento tahu hal itu. Kento mengakhiri permainannya dengan membuka celana dalam mika. Ia memasukkan penisnya ke dalam area kewanitaan mika. Memainkannya seolah itu adalah permainan jungkat-jungkit. Kento klimaks. Ia lelah dan kemudian tertidur di samping mika yang tak menggenakan apa-apa.
                “kau…  wanita yang aneh, tiba-tiba datang dan menyerahkan dirimu seperti ini. Tetapi rasanya, kau bukan wanita penghibur. Sepertinya kau wanita berpendidikan. Siapa sebenranya kau?” kento berbicara pada mika yang tertidur kembali. Ia mengambil tagihan titipan sebotol chivas yang masih ada di genggaman mika dan melihatnya.            
                “jadi namamu sawada mika?” katanya sambil mencuri bon titip beli chivas milik mika. “baiklah…”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
                Keesokan paginya mika terbangun di tempat tidur hotel sendirian. Ia sangat kaget karena terbangun tanpa sehelai benang sedikitpun dan hanya berselimutkan bed cover hotel. Ia berusaha mengingat apa yang semalam terjadi namun ia tak bisa. Yang dia ingat hanyalah ia marah-marah pada bartender karena ada seseorang yang membooking seluruh minuman di club itu. Mika berusaha mencari informasi. Ia menelpon manager club itu. Dan mencari tahu siapa orang yang membooking seluruh minuman pada malam itu, dan pastinya ia adalah orang yang sangat kaya. Dan benar saja, biaya hotel tempat mika tidur saat itu juga wine tahu 1980-an seharga 25000yen dengan tulisan ‘bawalah ini sebagai permintaam maafku karena semalam kau tak bisa minum sesukamu’ semua sudah ditanggung orang itu.  Dan akhirnya mika mendapatkan sebuah nama yaitu ‘Nakajima Kento’.
                “Nakajima Kento, aku akan marah-semarah-marahnya padamu karena membawaku ke kamar hotel saat aku mabuk” semangat mika sangat membara. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
                “mosh, mosh, negota-san. Ada apa hari minggu menelpon?” rupanya telepon dari rekan kerja mika di kantor.
                “ano,, sawada-san. Sepertinya perusahan XX telah menerima proposal kita untuk mengadakan merging dengan mereka mengenai pembangunan mall baru di perfektur saitama, dan mereka mengingikan rapat perdana hari ini”
                “hontou??!!” Mika bangun dengan senang. Proyek yang diusulkannya berhasil menarik minat pihak investor “baiklah, aku akan tiba disana setengah jam lagi negota-san” mika segera pergi dan seketika lupa dengan amarahnya pada kento. Ia pulang ke apartemennya dan mandi. Mika segera berdandan dengan pakaian terbaiknya dan memakai parfum terkenal dari paris. Setelah rapat ini mika akan mencari lelaki yang ia pikir melecehkannya itu.
                Sesampainya di kantor mika segera mempersiapkan diri di ruang rapat, ia duduk dan menyeruput kopi kesukaannya.
                “nah, perkenalkan mika. Presiden direktur XX company yang menyetujui proposal kita, nakajima kento”
                Mika yang tadinya dengan damai menyeruput kopi langsung tersedak dan batuk-batuk begitu mendengar nama nakajima kento. Dia memandangi kento dari atas sampai bawah dan samar-samar berusaha mengingat apakah orang yang mebawanya ke hotel benar-benar dia. Kento mengeluarkan senyumnya yang menawan pada mika. Membuat para sekretaris dan karyawati yang menghadiri  rapat saat itu iri pada mika karena disenyumi oleh orang yang paling berkuasa atasan keputusan yang diambil oleh perusahaan XX sebagai perusahaan partner incaran mereka. Mika memimpin rapat hari itu karena pada awalnya mika-lah yang mengusulkan project ini. Mika memimpinnya dengan professional namu sedikit canggung. Bukan karena pertama kalinya ia memimpin sebuah rapat, melainkan karena ia tahu bahwa orang yang semalam tidur bersamanya adalah calon atasannya nanti dan ia takut hal ini akan tersebar luas dan berpengaruh pada kariernya. Kento yang duduk di depan mika saat itu sama sekali tidak mendengar apa yang mika presntasikan dan hanya tertawa kecil sambil sesekali tersenyum melihat mika yang canggung. Atasan mika agak taku melihatnya, mereka takut jikalau mika salah mempresentasikan projectnya.
                “bagaimana najakima-san. Presentasi dan project yang diusulkan sawada-san hari ini”
                “ah, ya. Saya rasa cukup menarik. Jadi kapan persiapannya akan dimulai” kento menerimanya
                “jadi… anda menerimanya?” Tanya negota-san memastikan
                “ya negota-san, saya rasa project kali ini cukup menarik dan karyawan anda sangat pintar mempresentasikannya, tetapi tidak cukup pintar untuk menyembunyikan rasa gugupnya” kento berkata sambil bercanda. Kento dan negota berjalan keluar beriringan. Mika menyusul mereka
                “ano… nakajima-san, bisa kita bicara sebentar?” Tanya mika meminta waktu kento
                “ya? Ada apa sawada-san. Jika ada hal penting bicarakan disini saja” kento bercanda pada mika. Negota-san hanya melirik mika dan mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi
                “sumimasen, tetapi saya rasa saya tak bisa membicarakannya disini”
                “ah sumimasen, ada yang harus aku urus nakajima-san” negotasan langsung mengerti dan pergi menghindar.
                “jika ingin membicarakan kejadian tadi malam sebaiknya bicarakan saja di ruanganmu, tak baik jika didengar orang apalagi di tempat kerja yang sacral seperti ini” suasana yang tadi formal seketika berubah karena kalimat pembuka dari kento tadi.
                “baiklah, kita ke ruanganku” mereka pergi ke ruangan mika. Mika ingin marah namun masih ingat bahwa mulai besok kento adalah atasannya dalam project ini. Dan ia tak mau karirnya gagal hanya karena laki-laki hidung belang ini. Begitu pikirnya
                “apa yang sebenarnya kau lakukan padaku kemarin malam” Tanya mika memulai pembicaraan.
                “hahaha, harusnya aku yang bertanya padamu sawada-san. Kau tiba-tiba datang marah-marah padaku sambil mabuk lalu muntah di kemeja-ku yang mahal. Dan seharusnya aku meminta ganti rugi padamu.tetapi aku malah memberimu wine mahal itu kan?”
                “janganbercanda, tadi pagi aku terbangun tanpa menggenakan apapu, apa yg sebenarnya kau lakukan padaku!!!?” mika marah.
                Kento marah dan memojokkan mika ke tembok. Ia melihat wajah kento yg agak kesal yang hanya 5 cm dari wajahnya. “kau masih belum ingat ya apa yang terjadi semalam? Kalau begitu akan kubuat kau mengingatnya” kento mencium bibir mika. Mika hendak mendorong kento namun ia kalah tenaga. Di tengah-tengah ciuman kento ia ingat apa yang terjadi semalam, bahwa ia yang mengajak kento duluan untuk bercinta di tengah keadaan mabuk berat.
                Tok tok tok seseorang mengetuk pintu ruangan mika, sepertinya sekretaris mika yang memberikan laporan rapat hari ini.
                “anggap saja ini salam perkenalan dariku” kento meraphkan kemeja dan jasnya kemudian keluar dari ruangan mika
                “ah sumimasen menganggu waktumu sawada-san” kata sekretaris mika. Mika tak menanggapi sekretarisnya dan hanya terlamun. Sentah keapa disaat kento menciumnya, ia teringat sosok fuma. Fuma yang selalu ada di sampingnya dan kini telah pergi ke sisi Tuhan.
To be continued…

1 comment:

  1. fuma ,,,, :(
    kenapa fuma gg sama kento saja .. trus punya anak marius, shori dan sho .. hehehehheheee

    ReplyDelete

your comment is precious to us :)