Rating : NC-21 if you don’t like something like sex
stuff just don’t read it
Genre :
romance, mystery
Cast :
Nakajima Kento (JE)
Sawada Mika (actually she’s vio-nee’s request
and it was presented for her :p)
Kikuchi
Fuma (JE)
Themesong : YUI-
please stay with me
Disclaimer :
semua tokoh ada yang punya, tapi
ceritanya punya saya
Quote :
“aku sama sekali tak peduli, meski kau adalah malaikat yang jatuh karena
separuh sayapnya terbakar api neraka”
Prolog :
Malam
ini, malam di tahun ketiga sejak saat itu, saat-saat terakhir kita berdua. Saat
yang seharusnya kita berbagi kebahagiaan bersama, namun menjadi hari yang amat
sangat kusesali. Kau yang satu-satunya
membangkitkan semangat hidupku dan dia yang menjadi satu-satunya harapanku.
Tuhan memang terlalu pintar menjadikan ini sebagai bahan ujian untukku
…….………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Hujan lebat
terjadi di Tokyo hari itu, seolah menyanyikan alunan duka cita untuk kepergian
fuma. Udara suram nan menyedihkan sangat terasa hari itu. Semua orang sedih,
semua orang menangis. Termasuk mika yang sebulan lagi akan menikah dengan fuma
yang kini telah terbujur kaku menjadi mayat di depan gadis itu. Ia terus
menangis menangis tanpa henti. Sama seperti ayah, ibu, dan adik fuma. Fuma yang
begitu mereka banggakan, fuma yang tampan dan cerdas yang selalu menjadi
kebanggaan setiap orang, fuma yang
selalu mencintai mika, menyayangi mika. Fuma yang selalu ada di setiap
mika bersedih. Kini harus pergi begitu saja diusianya yang masih muda. Hei fuma !! ayo bangun !! bangun lah dan
tampar aku !! bilang padaku bahwa ini Cuma mimpi !! ini Cuma surprise mu
seperti biasa. Katakana padaku bahwa kau hanya menjahiliku. Penuhi janjimu
untuk menikahiku !! hanya itu kalimat yang dijeritkan mika di dalam hati
selagi mayat fuma masih di dalam peti mati. Mika masih tak percaya,
satu-satunya orang yang dicintainya kini telah pergi untuk selamanya. Sakura mendekati
mika dan memeluknya, ikut menangis bersama mika. Sakura adalah orang kedua yang
terpukul atas kematian fuma. Dia terus memeluk mika seolah mika adalah
kakaknya. Selain kakaknya tak ada lagi tempat sakura bercerita kehidupan
SMA-nya.
“mika-nee,
kakak, sebelum ia pergi dengan mobil, ia sempat memberikan ini padaku” sakura
memberikan gelang cokelat yang diberikan mika padanya “nii-chan, aku yakin dia
ditabrak oleh seseorang. Dia tak pernah menyalahi aturan dalam berkendara. Dia juga
selalu hati-hati, polisi bilang ada seseorang yang menyalip mobilnya hinngga
dia jatuh ke jurang. Namun polisi belum dapat memastikan betul hal itu. Di hari
di saat kecelakaan itu, waktu itu hujan deras. Dia memaksa mencari tempat yang
cocok untuk pernikahan kalian karena besoknya dia harus kembali bekerja. Dia
tak mau gelang ini rusak karena hujan, maka dari itu nii-chan… nii-chan…” tak
sempat meneruskan kata-katanya sakura menangis kembali. Dia memberika gelang
itu pada mika. “aku rasa, gelang ini seharusnya disimpan kembali padamu”
“arigato…
arigato sakura-chan…..” mika mengenggam gelang itu dan memeluk sakura. Ia tak
tahu lagi harus bilang apa. Seluruh hidupnya kini seolah berhenti karena
kematian fuma.
Ibu fuma
yang memang sudah mengenal mika sejak mereka berpacaran datang padanya dan
memeluknya
“mika-chan…”
“kikuchi-san,
aku harap kau bisa tegar..maaf orangtua ku belum bisa kemari karena terhalangi
sesuatu”
“un, tidak
apa-apa . tidak mika, aku rasa kau yang sangat terpukul atas kepergiannya. Dia…
sudah memberikan banyak kasih dan sayangnya padaku selama ini, dia terus
membuat aku dan suamiku bangga dengan semua prestasinya. Dan kini, ketika dia
ingin membahagiakan dirinya sendiri dengan menikahimu, dia… dia… kenapa dia
harus pergi secepat ini..” ibu fuma menangis. Ia tak kuat dan pingsan. Semua orang
menolongnya dan membaringkannya di kamar. Memang, tak ada satu-pun yang sanggup
akan hal ini. Apalagi mika, seolah separuh bagian tubuh mika menjadi lumpuh. Apa aku bisa menjalani hidupku seperti
biasanya?
Saatnya
mayat fuma dikremasikan. Kini fuma yang selalu tersenyum dan tertawa riang
telah menjadi butiran debu yang disebarkan oleh keluarganya di pinggir pantai. Fuma
yang tegar, fuma yang riang dan fuma yang dewasa yang selalu membuat mika kuat
untuk menjalani hidup. Pada siapa mika akan bertumpu? Malam harinya mika
kembali ke hotel di tengah Tokyo. Ia terus menangis dan menangis di kamar. Memeluk
foto fuma yang sedang tersenyum. Dia mengambil ponselnya dan menelepon kode
tujuan paris. Rupanya mika menelpon ibunya. Mika menelpon ibunya sambil
menangis.
“mika…
maaf aku tak bisa langsung pergi ke Tokyo. Beberapa hari lagi aku akan kesana
untuk menengok keluarga kikuchi-san. Mika.. ibu tak mau ka uterus bersedih, aku
tahu fuma adalah orang yang penting dalam hidupu, tapi aku tak mau kau tak
semangat lagi” ibunya mencoba membangkitkan semangat mika.
“ibu…
ibu tak mau membuatku bersedih kan?” mika bertanya dengan suara rendah.
“ya. Memangnya
ada apa mika?” ibunya sedikit takut.
“kalau
begitu izinkan aku untuk tinggal menetap di Tokyo. Paris… di paris terlalu
banyak menyimpan kenangan aku dan fuma. Aku tak sanggup untuk mengingatnya. Mulai
saat ini aku ingin memulai hari baru. Fuma bilang aku harus kuat menjalani
hidup dan aku akan menjalaninya.”
Awalnya
ibu mika sempat tak setuju. Namun karena Tokyo adalah ibu kota jepang dan
jepang adalah Negara asal mereka, ibu mika mengizinkannya untuk menetap di Tokyo
. mulai saat itu mika tinggal di sebuah apartemen di Tokyo dan bekerja sebagai
manager di sebuah mall paling besar di Tokyo. Memang benar mika menjalani hari
barunya, namun entah kenapa mika lebih senang menyendiri dan menghabiskan
malamnya di diskotik dengan pergi minum sendirian. Lalu pada malam itu, malam
yang menjadi awal kehidupan baru bagi mika…..
Di malam
minggu saat-saat orang lelah karena bekerja dan memilih untuk menghabiskan
weekend mereka bersama kekasih atau teman-teman, mika memilih menghabiskan
waktunya di sebuah klub malam langganannya dengan sebotol chivas dan segelas
cocktail. Semenjak kematian fuma, mika sering pulang mabuk-mabukan dan
menyendiri. Banyak pria yang emndekatinya kemudian ditolak mika mentah-metah
dengan alasan ingin focus pada kariernya. Saat itu seperti biasa, mika mabuk
berat dengan kesendiriannya. Namun begitu ia ingin menambah minumannya,
bartender menolak karena semua minuman sudah di booking oleh seseorang yang
saat itu sedang berulangtahun. Mika yang saat itu sedang mabuk berat
marah-marah pada bartender dan semua orang memperhatikannya.
“siapa,
yang berani-beraninya melarangku mem..be..li.. minuman.. di sini..” katanya
dengan setengah sadar. “kau tahu tidak !! a..ku.. ini pelanggan se..tia disini”
mika terus mengoceh pada bartender itu . bartender yang tidak tahu apa-apa
hanya diam. “bawa aku ke orang yang sudah membooking semua minuman ini!!”
perintahnya pada bartender itu. Dia menurut saja pada perintah mika. Dibawanya mika
pada seorang lelaki tampan dengan kemeja hitam yang sedang duduk diapit kedua
wanita-wanita cantik. Dialah yang saat ini sedang berulangtahun dan membooking
semua minuman yang ada di club itu. Mika menghampirinya masih dengan setengah
sadar.
“hei
kau..berani-beraninya kau melarangku untuk membeli minuman disini..”
“maaf
nona, apa maksudmu…??” Tanya lelaki itu
“kau
kan, yang telah membooking semua minuman sehinga aku tak bisa membelinya lagi. Apa
alasanmu hah!!?? Kau ingin jadi jagoan disini?!!” mika semakin mabuk
“maaf
nona sepertinya kau mabuk berat, hari ini adalah ulangtahunku dan aku
membookingnya untuk teman-temanku, dan semua yang ada di klub ini boleh
memintanya. Jika mau, akan kuberi kau sebotol chivas lagi jika kau merasa
tersinggung….” Katanya menyambut mika dengan baik hati
“ahhh..
sudah tidak usah !!” mika semakin galak karena pengaruh alcohol.
“kento,
sudahlah abaikan saja dia. Dia sedang mabuk. Kau ini memang terlalu baik” kata
salah seorang wanita yang tadi duduk di sebelahnya.
Kento mendekati
mika. Mika yang sudah terlalu banyak minum muntah di atas kemeja mahal kento. Semua
orang yang ada disitu kaget. Mika yang selesai muntah dengan tiba-tiba tidur di
pangkuan kento. Teman-teman kento hendak menolongnya namun kento menolak,
dengan kemeja berlumuran muntahan mika ia pergi menggendong mika ke dalam
mobilnya . menuju sebuah hotel milik ayahnya. Dengan cepat ia memesan satu
kamar suite room. Kento menidurkan mika di tempat tidur dan kemudian ia
membersihkan diri dari muntahan mika lalu mandi.
Selesai
mandi kento keluar dengan hanya menggunakan boxer . dia mengeringkan rambutnya
sambil menggerutu.
“apa-apaan
wanita ini, menghampiriku disaat mabuk dan tiba-tiba muntah di kemejaku. Menyusahkan
saja. Tapi.. dia lumayan cantik juga ya..” dia mendekati mika yang sedang
tertidur pulas. Ditepuknya pipi mika pelan-pelan. “hei, bangun. Nona, ayo
bangun”
Mika terbangun,
matanya terbuka namu kesadarannya belum kembali. Mika memandangi wajah kento
yang hanya 5cm dari wajahnya. Mika yang setengah mabuk membayangkan bahwa yang
di depannya adalah fuma. Dengan tiba-tiba ia mencium bibir kento, menariknya
hingakento ada di pelukannya.
“hei,
apa-apaan kau..” kata kento ingin menghindar. Mika tak mempedulikan perkataan
kento dan terus mencium, memeluk, dan mencumbu kento hingga akhirnya kento
terangsang. Mika berhenti, mungkin karena kesadarannya sedikit kembali. Namun karena
sudah kepalang terangsang, kento melanjutkannya. “aku tak suka setengah-setengah
nona” katanya sambil menahan mika dengan tangannya. Ia mencumbu mika terus
menerus hingga mika tenggelam di tengah mabuk dan terangsang. Kento membuka
mini dress mika yang berwarna merah hingga mika hanya memakai bra dan celana
dalamnya saja. Kento mencumbu dada mika, permainan kento hampir sama dengan
fuma. Sehingga membuat mika sangat nyaman. Karena mabuk mika tak bisa
menyeimbangkan permainan kento dan kento tahu hal itu. Kento mengakhiri
permainannya dengan membuka celana dalam mika. Ia memasukkan penisnya ke dalam
area kewanitaan mika. Memainkannya seolah itu adalah permainan jungkat-jungkit.
Kento klimaks. Ia lelah dan kemudian tertidur di samping mika yang tak
menggenakan apa-apa.
“kau… wanita yang aneh, tiba-tiba datang dan
menyerahkan dirimu seperti ini. Tetapi rasanya, kau bukan wanita penghibur. Sepertinya
kau wanita berpendidikan. Siapa sebenranya kau?” kento berbicara pada mika yang
tertidur kembali. Ia mengambil tagihan titipan sebotol chivas yang masih ada di
genggaman mika dan melihatnya.
“jadi
namamu sawada mika?” katanya sambil mencuri bon titip beli chivas milik mika. “baiklah…”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Keesokan
paginya mika terbangun di tempat tidur hotel sendirian. Ia sangat kaget karena
terbangun tanpa sehelai benang sedikitpun dan hanya berselimutkan bed cover
hotel. Ia berusaha mengingat apa yang semalam terjadi namun ia tak bisa. Yang dia
ingat hanyalah ia marah-marah pada bartender karena ada seseorang yang
membooking seluruh minuman di club itu. Mika berusaha mencari informasi. Ia menelpon
manager club itu. Dan mencari tahu siapa orang yang membooking seluruh minuman
pada malam itu, dan pastinya ia adalah orang yang sangat kaya. Dan benar saja,
biaya hotel tempat mika tidur saat itu juga wine tahu 1980-an seharga 25000yen
dengan tulisan ‘bawalah ini sebagai permintaam maafku karena semalam kau tak
bisa minum sesukamu’ semua sudah ditanggung orang itu. Dan akhirnya mika mendapatkan sebuah nama
yaitu ‘Nakajima Kento’.
“Nakajima
Kento, aku akan marah-semarah-marahnya padamu karena membawaku ke kamar hotel
saat aku mabuk” semangat mika sangat membara. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“mosh,
mosh, negota-san. Ada apa hari minggu menelpon?” rupanya telepon dari rekan
kerja mika di kantor.
“ano,,
sawada-san. Sepertinya perusahan XX telah menerima proposal kita untuk
mengadakan merging dengan mereka mengenai pembangunan mall baru di perfektur
saitama, dan mereka mengingikan rapat perdana hari ini”
“hontou??!!”
Mika bangun dengan senang. Proyek yang diusulkannya berhasil menarik minat
pihak investor “baiklah, aku akan tiba disana setengah jam lagi negota-san”
mika segera pergi dan seketika lupa dengan amarahnya pada kento. Ia pulang ke
apartemennya dan mandi. Mika segera berdandan dengan pakaian terbaiknya dan
memakai parfum terkenal dari paris. Setelah rapat ini mika akan mencari lelaki
yang ia pikir melecehkannya itu.
Sesampainya
di kantor mika segera mempersiapkan diri di ruang rapat, ia duduk dan
menyeruput kopi kesukaannya.
“nah,
perkenalkan mika. Presiden direktur XX company yang menyetujui proposal kita,
nakajima kento”
Mika yang
tadinya dengan damai menyeruput kopi langsung tersedak dan batuk-batuk begitu
mendengar nama nakajima kento. Dia memandangi kento dari atas sampai bawah dan
samar-samar berusaha mengingat apakah orang yang mebawanya ke hotel benar-benar
dia. Kento mengeluarkan senyumnya yang menawan pada mika. Membuat para
sekretaris dan karyawati yang menghadiri
rapat saat itu iri pada mika karena disenyumi oleh orang yang paling
berkuasa atasan keputusan yang diambil oleh perusahaan XX sebagai perusahaan
partner incaran mereka. Mika memimpin rapat hari itu karena pada awalnya
mika-lah yang mengusulkan project ini. Mika memimpinnya dengan professional
namu sedikit canggung. Bukan karena pertama kalinya ia memimpin sebuah rapat,
melainkan karena ia tahu bahwa orang yang semalam tidur bersamanya adalah calon
atasannya nanti dan ia takut hal ini akan tersebar luas dan berpengaruh pada
kariernya. Kento yang duduk di depan mika saat itu sama sekali tidak mendengar
apa yang mika presntasikan dan hanya tertawa kecil sambil sesekali tersenyum
melihat mika yang canggung. Atasan mika agak taku melihatnya, mereka takut
jikalau mika salah mempresentasikan projectnya.
“bagaimana
najakima-san. Presentasi dan project yang diusulkan sawada-san hari ini”
“ah,
ya. Saya rasa cukup menarik. Jadi kapan persiapannya akan dimulai” kento
menerimanya
“jadi…
anda menerimanya?” Tanya negota-san memastikan
“ya
negota-san, saya rasa project kali ini cukup menarik dan karyawan anda sangat
pintar mempresentasikannya, tetapi tidak cukup pintar untuk menyembunyikan rasa
gugupnya” kento berkata sambil bercanda. Kento dan negota berjalan keluar
beriringan. Mika menyusul mereka
“ano…
nakajima-san, bisa kita bicara sebentar?” Tanya mika meminta waktu kento
“ya? Ada
apa sawada-san. Jika ada hal penting bicarakan disini saja” kento bercanda pada
mika. Negota-san hanya melirik mika dan mengira-ngira apa yang sebenarnya
terjadi
“sumimasen,
tetapi saya rasa saya tak bisa membicarakannya disini”
“ah
sumimasen, ada yang harus aku urus nakajima-san” negotasan langsung mengerti
dan pergi menghindar.
“jika
ingin membicarakan kejadian tadi malam sebaiknya bicarakan saja di ruanganmu,
tak baik jika didengar orang apalagi di tempat kerja yang sacral seperti ini”
suasana yang tadi formal seketika berubah karena kalimat pembuka dari kento
tadi.
“baiklah,
kita ke ruanganku” mereka pergi ke ruangan mika. Mika ingin marah namun masih
ingat bahwa mulai besok kento adalah atasannya dalam project ini. Dan ia tak
mau karirnya gagal hanya karena laki-laki hidung belang ini. Begitu pikirnya
“apa
yang sebenarnya kau lakukan padaku kemarin malam” Tanya mika memulai
pembicaraan.
“hahaha,
harusnya aku yang bertanya padamu sawada-san. Kau tiba-tiba datang marah-marah
padaku sambil mabuk lalu muntah di kemeja-ku yang mahal. Dan seharusnya aku
meminta ganti rugi padamu.tetapi aku malah memberimu wine mahal itu kan?”
“janganbercanda,
tadi pagi aku terbangun tanpa menggenakan apapu, apa yg sebenarnya kau lakukan
padaku!!!?” mika marah.
Kento marah
dan memojokkan mika ke tembok. Ia melihat wajah kento yg agak kesal yang hanya
5 cm dari wajahnya. “kau masih belum ingat ya apa yang terjadi semalam? Kalau begitu
akan kubuat kau mengingatnya” kento mencium bibir mika. Mika hendak mendorong
kento namun ia kalah tenaga. Di tengah-tengah ciuman kento ia ingat apa yang
terjadi semalam, bahwa ia yang mengajak kento duluan untuk bercinta di tengah
keadaan mabuk berat.
Tok tok tok seseorang mengetuk pintu
ruangan mika, sepertinya sekretaris mika yang memberikan laporan rapat hari
ini.
“anggap
saja ini salam perkenalan dariku” kento meraphkan kemeja dan jasnya kemudian
keluar dari ruangan mika
“ah
sumimasen menganggu waktumu sawada-san” kata sekretaris mika. Mika tak
menanggapi sekretarisnya dan hanya terlamun. Sentah keapa disaat kento
menciumnya, ia teringat sosok fuma. Fuma yang selalu ada di sampingnya dan kini
telah pergi ke sisi Tuhan.
To be continued…


fuma ,,,, :(
ReplyDeletekenapa fuma gg sama kento saja .. trus punya anak marius, shori dan sho .. hehehehheheee