Judul : Someday
Rating : PG
Genre : Romance, Friendship
Cast : Nakajima Yuto as Negota Yuto
Okamoto Keito as Okamoto Keito
Marius Yo as Negota Marius
Nagasawa
Masami as Nagasawa Masami
Themesong : Dash – Hey! Say!
Jump
Disclaimer : all cast are not mine, the story is mine
Hidup
di pinggir sebuah stasiun dengan kemiskinan dan kesendirian dalam berjuang
mempertahankan hidup. Ya, itulah aku.
Negota Yuto, hidup bersama seorang adikku yang sangat berbeda fisiknya
dariku, namanya marius. Dia memiliki wajah orang asing sementara aku seorang
remaja jepang tulen. Mungkin karena kita dilahirkan dari ayah yang berbeda.
MUNGKIN??? Ya,
mungkin. Karena almarhum ibuku seorang wanita penghibur yang setiap malam tidur
dengan berbagai pria yang berbeda, mungkin termasuk ayah dari marius ini.
entahlah, jangankan ayah marius. Ayahku saja aku tak pernah tau seperti apa
rupanya. Yang jelas kami, tepatnya aku harus bisa kuat bertahan hidup. Untung
saja marius pintar dan mendapat beasiswa dari sekolahnya sehingga aku tak perlu
lagi repot mencari uang untuk dia bersekolah.
Bagaimana
denganku? Haaaaah, aku putus sekolah semenjak SMP. Sejak ibuku meninggal, aku
yang harus bertanggung jawab mencari uang untuk kami. Bersama dengan sahabatku
Okamoto Keito, kami lalui tiap hari bersama-sama dan mencari uang hanya untuk
sesuap nasi. Aku masih lebih beruntung dari Keito. Ia berasal dari panti asuhan
dan beberapa tahun yang lalu diadopsi oleh seseorang yang kemudian menjual
dirinya ke tempat pelacuran laki-laki. Untung saja dia berhasil melarikan diri
dan bertemu denganku. Karena tak punya uang untuk menyewa rumah, akhirnya kami
sepakat untuk tinggal bersama sekaligus mencari uang. Apapun akan kami lakukan
untuk menyambung hidup kami. Ya, meski dengan mencopet, menipu, bahkan mencuri
…….
************************************************************************************
Second
Day
Matahari
yang bersinar dengan cerah membangunkanku yang tidur lelap karena kelelahan
dari kemarin. Ahh badanku agak sakit, karena semalam aku bekerja keras bersama
keito dan marius. Anak bodoh itu, dia baru bilang semalam dengan mendadak kalau
dia butuh uang untuk mengetik dan mencetak tugasnya. Jadi aku dan keito harus
mencari uang extra untuk itu. terpaksa aku bekerja hingga larut malam. Seperti biasa,
aku selalu bangun paling lambat. Aku tak suka jika dipaksa bangun jika aku sedang
tidur, marius dan keito tau akan hal itu.
KRUUUK~ KRUUUK~ perutku berbunyi !! yah
wajar saja. Semalam aku hanya makan sepotong roti yang kubagi dua bersama
marius. Dan sekarang aku sangat lapar. Haaahhh,
nasibku !! sudahlah lebih baik aku mandi dan minum segelas air putih. Siapa tau
laparku hilang. Pikirku. Aku pergi ke meja makan dan kaget di atas meja
makan terdapat 3 porsi roti sandwich dan susu kotak ukuran besar. Marius sibuk
menyiapkan roti dan susunya. Sementara keito sedang mandi.
“hei
marius, darimana makanan sebanyak ini? kau mencuri ya?”
“enak
saja !! aku juga tak tahu. Keito-nii yang bangun paling awal. Begitu aku sudah
bangun, dia mandi dan menyuruhku untuk memakan ini” marius melahap sepotong
rotinya. “nii-chan ini enak sekali, ayo coba”.
Karena
lapar ku memakannya. Enak sekali, di dalamnya terisi telur rebus yang dipotong
rata, mayonnaise, irisan ikan tuna, salad, tomat, dan saus. Benar-benar makanan
yang hanya bisa kami beli dengan menghabiskan jatah sehari uang kami. Tapi,
darimana keito dapat makanan seenak ini? ah sudahlah, yang penting perutku ini
tidak terus bunyi seperti bel di stasiun yang tiap hari kudengar.
Keito
keluar dari kamar mandi kami yang kecil dengan toilet jongkok tradisional yang
sudah sangat jarang di jepang. Dia tersenyum melihat kami makan dengan lahap.
“bagaimana
makanannya? Enak?” keito bertanya pada kami
“un,
enak sekali” kataku yang masih mengunyah makanan. “tapi keito, darimana kau
dapat makanan selezat ini?”
“nagasawa-san
yang memberikannya”
Mendengar
nama itu seketika aku batuk dan memuntahkan sebagian roti yang ada di mulutku. Marius
segera memberikanku segelas air putih.
“nii-chan,
kau tidak apa-apa?”
“daijobu.”
Aku mengatur nafasku yang sempat kacau karena batuk. “kenapa wanita itu
mengirimkan ini?”
“dia
bilang makanan ini sebagian untuk marius. Katanya dia tahu marius kurang gizi
karena akhir-akhir ini semakin kurus. Makanya ia memberikan itu. dan ia juga
memberikannya pada kita atas permintaan maafnya yang kemarin karena telah
menyinggung perasaanmu.”
Hoo begitu. Jadi ini adalah serangan
suap-menyuap yang di lancarkannya padaku? Hmmm tapi boleh juga.
“mina,
aku pergi ke sekolah dulu. Terimakasih makanannya. Ittekimasu” marius segera
pergi dengan semangatnya untuk sekolah.
“ya,
hati-hati marius. Ucapkan terimakasih pada senseimu itu.” aku menitip pesan
lewat marius. Karena gengsi, aku tak mau menyampaikannya langsung.
“hei
yuto. Nagasawasan… dia entah kenapa sangat menarik” keito tiba-tiba bericara
serius padaku. Jarang sekali keito bicara seperti ini apalagi membicarakan
seorang wanita. Biasanya dia hanya cerita seadanya jika kutanyakan tentang
wanita-wanita yang ada di dekatnya.
“memangnya
kenapa dengan dia?” tanyaku santai.
“entahlah,
hanya saja… dia…” kento bicara sambil tersenyum “terlihat seperti malaikat
penyelamat di mataku”
“HAHAHAHAHAHA
!!!” aku tertawa kencang bahkan suaranya hampir keluar rumah.
“kenapa
kau tertawa?” keito tersinggung
“gomen
ne, aku hanya merasa geli, habisnya, kau jarang bicara manis seperti itu
apalagi tentang wanita”
“huh,
kau ini. lalu bagaimana?”
“bagaimana
apanya?”
“cara
untuk mendapatkan hatinya?” keito mulai serius lagi.
“yaah,
apa kau serius keito? sepertinya dia anak orang kaya. Lihat dari caranya
berbicara. Menceritakannya padamu tentang hal-hal yang ada di buka seperti
kemarin. Apa kau pikir orang seperti itu bukan orang yang kaya dan
berpendidikan?”
“hmmm
yappari. Lalu kenapa?”
“dasar
bodoh, dia tak selevel dengan kita. Mana mau dia pacaran dengan laki-laki
miskin speerti kita? Dia akan malu pada teman-temannya. Lagipula, seandainya
dia menerimamu, ayah dan ibunya belum tentu juga mau menerimamu kan? Itu hanya
akan menyusahkan hidupmu keito”
“aku
sudah memikirkan hal itu. tapi pikiranku tak bisa lepas darinya.”
“yah,
lebih baik kau cari wanita lain saja keito.” Kataku menasehatinya. Aku tak mau
sahabatku ini tersiksa hidupnya hanya karena seorang wanita. Apalagi wanita
sombong seperti dia. Meskipun mungkin hanya aku yang berpikiran begitu. Ada sesuatu
yang tak aku sukai dari wanita itu.
“sudah
yuto. Ayo rapihkan mejanya. Kita bekerja. Biar hari ini aku yang jadi umpan. Kau
kan kemarin hampir tertangkap.”
“un,
arigatoo”
Hari
itu kami bekerja di sebuah stasiun yang berbeda dengan kemarin. Kami takut jika
beroperasi di tempat yang kemarin. Penjaga stasiun akan hapal dengan wajah
kami. Keito yang menjadi umpannya . Dia mencari seorang wanita. Modus kali ini
agak berbeda. Keito mengajak wanita itu berbicara dengan bahasa inggirs hingga
wanita itu kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan keito. Sementara aku menunggu
kesempatan orang ini lengah. Modus yang
sangat cemerlang tetapi cara ini hanya bisa dilakukan keito jika ia yang
menjadi umpannya. Namun keito agak kapok dengan modus ini. karena dulu ada
seorang korbannya yang jatuh cinta padanya. Kau pasti heran kan? Yah, wanita
itu pada awalnya marah pada keito, tapi entah kenapa sepertinya dia sangat
mencintai keito. Menurutku wanita itu cukup cantik. Tapi keito bilang ia tak
suka padanya. Dan parahnya, wanita itu sudah ditiduri keito beberapa kali. Hingga
akhirnya wanita itu menuntut keito untuk menikahinya. Gila saja !! kami baru
berumur 19 tahun, dan keito pasti takmau dipaksa menikah pada saat umur segitu.
Karena wanita itu terus-terusan mengejar keito, keito memintaku bilang pada
wanita itu bahwa keito sudah mati tertabrak kereta. Baka keito !! dan bodohnya
lagi wanita itu percaya. Wanita memang sangat aneh.
Siang itu kami
mendapat korban sangat banyak di stasiun yang berbeda dan mala mini aku
berencana untuk sedikit bersenang-senang karena hari ini adalah ulangtahun
marius. Aku memang sengaja tidak berkata apapun untuk memberikan kejutan bagi
marius. Dan kami sudah sepakat untuk membelikan marius sepotong kue dan lilin
serta tas baru untuknya. Biar begini, aku dan keito sangat menyayangi marius. Kami
hidup saling menjaga dan menyayangi satu sama lain. Sebuah kehangatan keluarga
yang separuhnya telah hilang oleh kerasnya hidup.
“hei keito, sudah
jam 3 sore. Ayo kita ke toko itu. marius sedikit lagi pulang.”
“ah baiklah…”
Kami pergi ke
pusatkota dan member sepotong strawberry cake yang tidak terlalu besar dan sebuah tas biru muda,
warna kesukaan marius. Kami membungkus kado itu dan pulang dengan semangat. Menghiasi
rumah kecil kami dengan berbagai macam hiasan dan balon. Sama seperti saat aku
dan marius menyiapkan pesta kecil untuk ulangtahun keito.
Tetapi, ada yang
aneh. Marius belum pulang juga !! ini sudah jam 9 malam. Tidak wajar untuk
seorang anak SD belum pulang jam segini. Aku tak mampu membelikan marius sebuah
handphone. Ahhhh baka !! seharusnya aku menabung untuk itu. jadi aku bisa terus
memantau marius.
“yuto, aku
khawatir dengan marius. Bagaimana kalau kita menyusulnya ke sekolah?”
“ya, aku juga
khawatir. Biasanya jika ada tugas sekolah di rumah temannya, dia selalu
mengabariku pagi hari atau menyempatkan pulang ke rumah. Ayo keito. Semoga saja
tidak terjadi apa-apa.”
Aku dan keito
berjalan keluar rumah. Sesampianya di depan pintu rumah, marius terlihat
berjalan dengan seorang wanita. Mereka membawa banyak bungkusan.
“nii-chan !!”
marius melambai-lambaikan tangannya ke arahku dengan wajah ceria.
“yuto, bukankah
itu nagasawa-san?”
Mereka berdua
berjalan ke arah kami. Marius tersenyum lebar.
“darimana saja
kau?” tanyaku ketus
“ah nii-chan, tadi
aku habis jalan-jalan dengan sensei. Teman-teman bilang padanya bahwa hari ini
aku berulangtahun, jadi sensei mengajakku ke mall dan kita bermain bersama
seharian. Dia juga memberikanku sebuah kado, tapi aku baru boleh membukanya
saat di rumah” merius memperlihatkan bungkusan kado besar itu padaku.
Aku melihat sinis
pada wanita itu. entah kenapa ada rasa marahku padanya. “anda seharusnya
meminta izin padaku dulu nagasawa-san. Aku walinya”
“ah sumimasen” dia
membungkuk “tadi aku ingin menghubungimu dulu tapi marius bilang kau pasti
sedang bekerja dan sulit untuk menghubungimu.”
“sudahlah, sudah. Yang
penting marius kan tidak apa-apa.” Keito berbicara dengan ramahnya. “ayo mampir
dulu nagasawa-san”
“ah tapi ini sudah
malam okamoto-san..”
“mampirlah dulu
sensei. Kau pasti lelah. Istirahta saja dulu.”
“ya nagasawa-san. Aku
bisa mengantarmu rumah jika kau mau.” Keito menawarkan padanya, yang terlihat
seperti cara untuk mendekatinya bagiku.
“ah, baikhlah jika
marius yang memaksa….” Katanya sambil tersenyum.
Kami duduk di atas
tatami . kue yang tadi kami beli, disantap bersama. Marius sangat senang dengan
ulangtahunnya hari ini. mungkin karena bertambah satu orang lagi yang merayakan
ulangtahunnya di rumah kami. Aku masih melihat sini pada wanita itu. masih
tidak suka dengan kedatanggannya dan kelancangannya mengajak adikku pergi
seenaknya hingga selarut ini. kado yang tadi kami bungkus belum aku berikan
pada marius karena amarah yang aku tahan daritadi belum juga mereda.
“sensei, boleh aku
membuka kado darimu?” marius bertanya
dengan tak sabar.
“jika kau mau,
buka saja” katanya sambil tersenyum.
Keito memandangi
wanita itu seperti seorang bocah yang baru pertama kali jatuh cinta. Entah kenapa
sahabatku yang satu itu memang selalu bisa menghiburku dengan tingkah laku
anehnya.
Merius membuka
bungkusan besar itu. aku juga sedikit penasaran dengan isinya. Dan … APA??!! Ternyata
di dalamnya adalah sebuah tas berukuran besar dan juga berwarna biru muda. Warna
yang sama dengan tas yang kubelikan untuk marius. Hanya saja tas ini sepertinya
lebih besar, warnanya juga tidak pudar dan terbuat dari kulit. Tidak seperti
tas kumal yang kubeli dari toko di pinggir jalan. Apa sebenarnya yang wanita ini inginkan?
Aku segera
menyembunyikan tasku. Ada sedikit rasa malu di dalam hatiku. Marius, adik
kandungku yang dari kecil aku jaga, setiap ulangtahunnya pasti selalu aku
berikan kado sekarang dibelikan kado yang sama dengan kualitas paling baik oleh
oranglain. Memang kedengarannya sepele. Tapi bagiku yang mempunyai harga diri
tinggi…….
“waaahhh !! hontou
arigato sensei” marius memeluk wanita itu. “aku akan memakainya ke sekolah
setiap hari.”
Keito yang melihat
aku mengepalkan tangan segera mengalihkan pembicaraan. Ia takut amarahku meluap.
Belum sempat mengalihkan pembicaraan, aku berdiri dan membentak sensei yang
dengan sukses mengambil hati adikku itu.
“KELUAR !!! AKU
TAK MAU MELIHATMU DI RUMAH INI LAGI!!” aku membentaknya dengan kasar. Semua orang
yang ada di ruangan itu kaget.
“nii-chan !!”
marius takut aku berbuat kasar.
“marius pergi ke
tempat tidurmu !!”
“tapi nii-chan…”
“aku bilang pergi
ke tempat tidurmu !!!” dan akhirnya aku membentak marius juga
“nii-chan jahat ….”
Marius pergi ke tempat tidurnya dan menangis. Karena aku membentaknya, dank
arena malu pada senseinya.
“yuto, kau tak
boleh seperti itu” keito menenangkanku
“diam kau keito !!
aku yang berkuasa di rumah ini” entah setan apa yang merasuk ke tubuhku hingga
aku marah seperti ini.
“aku permisi dulu”
wanita itu pergi dengan cepat.
“kau keterlaluan
yuto, dia tak punya salah apa-apa” keito pergi meenyusul wanita itu dan tak
kembali dalam waktu yang cepat. Sepertinya dia mengantarkan wanita itu pulang.
Tuhan … apa yang terjadi padaku?? Aku tak
pernah kasar pada seorang wanita
sebelumnya. Aku … aku … tak sadar aku menitihkan airmataku. Aku tak tahu
apa yang sebenarnya terjadi padaku. Ini hanya masalah sepele namun tak tahu
kenapa hatiku sakit, sakit sekali.
Aku memutuskan
untuk pergi keluar dan menjernihkan pikiran. Berniat menghabiskan malam itu di
luar, Sendirian.
To
be continued …

