Pages

BEFORE I'M LEAVING part 2


Title                 : Before I’m leaving
Cast                 : Ryosuke Yamada as Ryo and Suke (twin)
                         Miyuki Hitomi (OC)
 Sakura Yamada (OC) Ryo and Suke’s mother
                         Natsumi (OC) Ryo and Suke’s grandpa                                 
Genre              : Dark, Angst
Rating             : Pg-15 (maybe there is some harassment and kissing etc.)
Length             : Series
Language        : Bahasa Indonesia
Author             : Ruu-chan
- FB Link                    :
- Twitter          : @Kei_ruu
- Site Link       : www.kei-ruu.blogspot.com
- Ichiban          : Inoo Kei
- Reason join this project: because I love writing

Disclaimer       : all character are not mine, the story is only mine
Summary         : Ryota and Keisuke (suke) is a twin brother with opposite character. They live
   with their mother and grandpa in his own house.
A/N                 : well, I love JUMP >..<



*********************************************************
“Suke … ku mohon jangan Suke …
 Jangan …. 
 JANGAN …!!”

*
*
*


Sial !! mimpi itu lagi. Ada apa denganku? Sudah 3 hari berturut-turut aku bermimpi yang sama.
                Ada apa ini? kenapa firasatku jadi buruk??
Apakah …
                “selamat pagi kak” Suke yang sudah rapi memakai seragam sekolahnya masuk ke kamarku, sepertinya hendak membangunkanku. “????? Ada apa kak?? Kenapa wajahmu seperti itu?” Suke mendekatiku.
                “tidak, tidak apa-apa. ngomong-ngomong, kenapa kau sudah rapi jam segini? Ini masih terlalu pagi.”
“ya, aku sedang mempersiapkan sesuatu” Suke tersenyum sambil membawa kotak bekal yang dia perlihatkan padaku. Bekal nasi dengan berbagai sayur, lauk pauk dan buah yang lengkap.
“untukku? Terimakasih…” Aku langsung mengambil potongan buah jeruk yang ada di dalamnya.
“bukan kak …” Suke langsung menarik kotak bekal itu. “ini untuk Mi-chan. Sebagai terimakasih karena sudah menolong kita kemarin”
“kau yang membuatnya?”
“ya”
“kenapa tak buatkan juga untukku?”
“tentu saja aku sudah buatkan. Ada di bawah. Mandilah dulu”
“baiklah …”
Aku pergi mandi dengan segera karena sudah tak sabar memakan masakan Suke. Dia memang pandai memasak. Sifatnya yang tertutup dan pendiam serta dirinya yang lemah selama ini seolah mengarahkan dia ke kreatifitasannya untuk membuat sesuatu sendirian. Termasuk memasak dan menjahit. Bahkan masakan dia lebih enak dari masakan ibu. Dia juga hobi menggambar dan matematika. Tak sepertiku yang lebih suka olahraga. Kami memang sangat berbeda, walaupun wajah kami sama. Bagai langit dan bumi.
“selamat pagi ibu..” aku berusaha membuat ibu senang lagi dengan mencium pipinya, dia membalas ciumanku di pipi. Rupanya ibu sudah tak marah lagi. Suke menarik nafas lega. Aku segera menuju ke meja makan dan menyantap apa yang Suke masak pagi ini.
Kami segera berangkat begitu jam menunjukan pukul 8. Kali ini kami diantar mobil oleh orang suruhan kakek karena ibu yang memintanya. Ibu masih takut jika keadian kemarin terulang lagi. Aku dan Suke memasuki gerbang sekolah yang sudah hampir di tutup karena biasanya kami tak pernah datang terlambat dengan kereta yang super cepat.
“wah, Ryo-kun, Suke-kun. Kalian terlambat juga?”
Suara yang tak asing muncul. Rupanya suara gadis jelek itu lagi.
“ah selamat pagi Mi-chan.” Suke menyapanya dengan hangat seperi sinar matahari pagi itu.
“selamat pagi gadis jelek” Aku juga menyapanya.
“kak, sudah …” Suke memperingatkanku untuk tak membuat masalah di pagi hari.
Dia hanya cemberut di depan wajahku lalu berbelok ke arah Suke.
“selamat pagi Suke-kun” dia menyapa dengan ramah HANYA pada Suke.
“Mi-chan, aku punya sesuatu untukmu” Suke mengeluarkan kotak bekal makanan yang tadi dia buat dan langsung memberikannya pada Mi-chan.
“untukku?”
“ya, karena bingung ingin membalas budimu kemarin, akhirnya aku putuskan untuk memasak ini”
“kau yang masak? Benarkah?”
“ya”
“waah kerennn. Terimakasih Suke.”
“un, sama-sama Mi-chan.”
Kami memasuki gedung sekolah dan memakai sepatu sekolah. Mi-chan meninggalkan kami lebih dulu.
“Mi-chan” Suke memanggilnya
“ya?”
“anu, kelasmu … di kelas apa?”
“aku di kelas 3F. ada apa Suke?”
“nanti saat istirahat, bagaimana jika kita makan bersama? Aku ingin minta pendapatmu tentang masakanku. Enak atau tidak”
Aku sedikit tertawa, ternyata adikku ini sedang mencari cara agar bisa mendekati Mi-chan. Usahanya boleh juga. Aku sangat ingin tertawa melihat wajah malu-malu Suke saat itu. mungkin begitulah wajahku jika dalam keadaan malu. Hahaha.
“baiklah, istirahat nanti kita makan bersama”
“benarkah? Ka..kalau begitu.. sam.. sampai jumpa Mi-chan”
“un, sampai jumpa Suke.”
Gadis itu berjalan melewatiku dengan muka acuh. Aku mengeluarkan lidahku untuk meledeknya. Kulihat adikku yang meloncat-loncat kegirangan dan segera memasuki kelas yang berbeda denganku.
……………..

Bel istirahat sekolah berbunyi. Aku segera mengambil dompetku untuk membeli makan siang di kantin. Di sana Suke sudah mengambil tempat di dekat jendela untuk menunggu Mi-chan. Suke mengajakku makan bersama juga namun aku tahu diri. Aku tak ingin mengganggu keasyikan adikku. Bagaimanapun, sangat jarang dia jatuh cinta seperti itu.
5 menit kemudian Mi-chan datang. Aku makan sambil menyaksikan mereka dari jauh. Mereka asyik mengobrol dan saling tertawa, seolah dunia milik mereka berdua. Syukurlah, kulihat senyum cerah dari wajah Suke. Setidaknya gadis jelek itu bisa membuat Suke bahagia dan mungkin dalam waktu lama. Ku dengar Mi-chan baru beberapa minggu di sekolah ini namun sudah popular di beberapa kalangan laki-laki popular juga. Dan sepertinya banyak yang mengincarnya untuk jadi kekasihnya. Dan Suke termasuk orang yang beruntung karena katanya, Mi-chan adalah gadis penyendiri dan tak mempunyai banyak teman. Hampir sama seperti adikku dan sangat berbeda denganku.
Mi-chan selesai dengan makanannya dan tak lama pergi meninggalkan Suke. Beberapa menit kemudian Suke langsung mengahampiriku dengan wajah memerah seperti orang bodoh.
“kak, kau tahu? Mi-chan bilang masakan ku sangat enak” Hal bodoh yang sangat tak penting untuk dilaporkan padaku.
“lalu?”
“lalu … dia mengajakku untuk memasak masakan perancis bersama hari sabtu ini. haaahhhhhhhh” Suke menghela nafasnya seolah baru menghirup udara segar dari serangan padang pasir yang lebat.
“memasak dimana?”
“di apartemennya”
“yasudah, asalkan jangan bentrok dengan waktu kencanku”
“hee? Kau juga mau ikut?”
“tentu saja !! aku bisa dihajar ibu bila tak ada di sisimu”
“tapi kak … ini kan kencan pertama ku…”
“tenang saja Suke, aku tak akan mengganggu kencan kalian. Aku ini professional”
Aku berdiri menepuk pundak Suke kemudian kembali ke kelasku. Lagipula siapa yang mau mengganggu waktu mereka. Aku sama sekali tak tertarik untuk menganggu dua orang penyendiri seperti mereka.
………………………………………

Sekarang bel waktu pulang berbunyi. Syukurlah karena aku hampir saja terkena giliran untuk mengerjakan soal matematika di depan kelas. Tadinya aku ingin menyuruh Suke untuk bertukar peran menjadi Ryo dan menyuruhnya mengerjakan soal latihan ini. tetapi Suke menolak dengan alasan semua guru sekarang bisa membedakan kami. Karena Suke sangat pintar di kelas dan dia peringkat satu untuk percobaan ujian Nasional minggu lalu. Dan aku?? Hahahaha aku mendapat peringkat yang sama dengan ulangtahunku, 905 untuk perfektur tempatku tinggal. Angka yang cukup fantastis dan membuat ibu serta kakek menggelengkan kepalanya.
Kami pulang bersama seperti biasa. Namun aku merasa daritadi saat aku menjemput Suke di kelasnya. Ada beberapa mata yang menatap kami. Dan… sial !! rupanya Suke mendapat giliran piket kelas. Terpaksa aku harus menunggunya sampai jam 5 sore. Padahal aku sudah janji dengan Sakura dari sekolah khusus wanita MC untuk karaoke bersama. Terpaksa kubatalkan.
Kami berjalan bersama begitu Suke selesai membersihkan kelasnya. Namun ia masih saja sempat ke ruang guru untuk memberikan barang yang tertinggal. Setelah itu kami melewati lapangan dan …
“oy, kalian kembar bersaudara.” Sawada. Salah satu teman populer kami bersama dengan teman-temannya.
“ada apa Sawada??” Dia bukan musuhku dan juga bukan temanku. Namun kami cukup akrab saat sedang membolos kelas bersama.
“Ryo-kun. Bisa kah kau bilang pada adikmu yang manis itu … untuk tidak dekat-dekat dengan Mi-chan??”

“Mi-chan? Ah, anak baru itu maksudmu?”
“apa urusanmu melarangku?” tiba-tiba Suke marah dan menjadi berani? Mungkin ini yang dinamakan cinta buta.
“wohohoho Ryo-kun, rupanya adikmu yang seperti anak kucing ini sudah berubah menjadi seekor macan kecantikan Mi-chan ya? Kau tak tahu? Mi-chan itu pernah tidur denganku …”
PAKKK !!
“JANGAN PERNAH MEMBICARAKAN HAL KOTOR TENTANGNYA !!!!” Suke mengamuk bak macan yang baru dibangunkan dari tidurnya.
                Dengan cepat Suke menghajar Sawada. Teman-teman Sawada tak ambil pusing, mereka langsung menghajar Suke Serempak.
“HENTIKAN !!” aku balas mengahajar mereka satu persatu. Sawada menarik kerah baju Suke kemudian menhajar wajahnya bertubi-tubi lalu menendangnya membabi buta. Aku yang tadi memukul mereka namun karena kalah jumlah tenagaku menipis dan terlempar cukup jauh dari Suke yang tak berdaya. . 




“kalian semua !! hentikan!! Atau kupanggilkan polisi !!” Suara Mi-chan terdengar dari jauh. Beberapa anak-anak itu langsung lari dan menghilang. Aku menguatkan diri untuk bangkit dan membopong Suke, karena tenagaku yang hampir habis aku tak kuat lagi. Mi-chan membantuku. Menggandeng tanganku dan mengangkat Suke. Untunglah Suke tak apa-apa. juga tak ada luka lebam lagi di wajahnya.
Mi-chan membawaku dan Suke ke apartemennya. Menyuruhku dan Suke untuk duduk dan menunggunya yang membeli obat di apotek.
“Ryo, terimakasih karena sudah menolongku.” Suke berdiri di hadapanku. Aku hanya diam melihatnya.
“terimakasih?”
“ya, kau selalu melindungiku, tak peduli kau juga terluka, kau selalu ada di sampingku ketika aku membutuhkanmu. Sebagai saudara kembar, aku ingin melakukan banyak hal untukmu. Tapi aku tak bisa. Lain kali, jika tubuhku sudah tak lemah lagi, aku akan melindungimu. Membuatmu bahagia. Aku janji … Ryo …”
“ha? Kenapa? apa yang tadi kau bilang? Tolong ulang lagi” Aku memang agak tak mendengar Suke karena sibuk membersihkan luka di wajahku.
“sudahlah, lupakan. Memang Terkadang kau ini memang bodoh” Suke meninggalkanku di ruangan itu lalu ke kamar mandi.
“kenapa dia?” aku berbicara sendiri. Tak mengerti dengan sikap Suke saat itu.
“Ryo-kun. Bagaimana? Masih sakit?” tak lama  Mi-chan datang membawa beberapa obat yang baru saja ia beli. Ia membasuh lukaku dan mengompresnya. Wajahnya sangat datar ketika mengobatiku namun tangannya sangat hangat. Aku belum pernah merasakan kelembutan seorang wanita seperti ini. selama ini aku hanya bersenang-senang dengan wanita lain tanpa menyentuhh mereka. Bahkan ibuku pun tak pernah menyentuhku seperti ini. selama ini dia selalu sibuk mengurus Suke. Yah, apabila bisa mengeluarkan seluruh hatiku pada ibu,…
Aku ….
Aku seperti tak ada selama ini …
Suke ..
Entah kenapa hanya dia yang selalu …
Andai saja wajah dan suaraku tak sama dengan Suke, tanggal lahirku tak sama dengannya, mungkin aku bisa bertanya dengan enteng pada ibu ….
bertanya …
Apakah aku ini anak kandungnya ….
Atau bukan ….  
Namun wajah kami yang sama, suara kami, serta tanggal lahirku, seolah menjadi borgol yang mengekangku, dalam penjara takdir menyedihkan ini.
Aku mempunyai kehidupanku sendiri…
Cita-citaku sendiri …..
Hal yang ingin aku kerjakan sendiri ……..
Aku …
Hanya bisa mengeluh…
Di balik senyuman keceriaanku …
Dan semua itu ..
Hanya demi …
Ibu …
“Kau Sudah kembali Mi-chan” Suke baru saja keluar dari toilet dan menyambut Mi-chan dengan hangat. “maaf ya, kami berdua selalu merepotkanmu”
Merepotkan? Kami? Hei Suke, sebenarnya tadi aku tak butuh pertolongannya. Aku bisa menghajar mereka satu persatu. Jangan memakai aku sebagai salah satu strategimu untuk mendapatkan dia.
Aku hanya bisa mengeluh dalam hati dan berusaha memaklumi kedangkalan strategi cinta Suke.
“oy, gadis jelek. Kemana ayah dan ibumu?”
“jangan panggil aku gadis jelek, aku punya nama” gadis itu menekan luka ku kuat-kuat sampai aku menjerit kesakitan.
“baiklah.. baiklah … Mi-chan. Maafkan aku” aku menurut saja apa katanya. Daripada nanti sore ada berita di Koran bahwa anak bernama Yamada Ryota terbunuh karena temannya.
“ayah dan ibuku sedang di luar negeri. Aku tinggal sendiri disini” Jawabnya singkat.
“begitu” Jawabku singkat juga.
“kalian makan malam saja disini. Kebetulan bahan-bahan makanan masih banyak”
“benarkah? Jadi kami boleh makan disini” Suke kegirangan.
“ya, tentu saja”
“terimakasih Mi-chan …”
Gadis ini baik juga, lagipula dia cukup mandiri. Hidup sendirian di apartemen ini. sedikit banyak aku kasihan padanya. pasti dia merasa kesepian. Tetapi, dia lebih beruntung dariku. Karena bisa melakukan apa yang ingin dilakukannya sendiri.
“oy Mi-chan. Gara-gara kau kita jadi seperti ini” entah kenapa kalimat itu sepintas keluar dari mulutku.
“kak, kau jahat sekali” Suke memasang wajah seram.
“iya iya, maafkan aku. Gara-gara aku kalian jadi seperti ini.”
“Mi-chan, apa benar yang dikatakan Sawada? Bahwa kau …”
“kak!! Hentikan. Bukan saatnya bicara itu”
Mi-chan menyiapkan the untuk kami sambil terdiam. Dia berbalik dengan senyum manis bibir pink-nya.
“tentu saja tidak. Mana mungkin aku melakukan itu”
“tentu saja!! Aku tak percaya apa yang dikatakan Sawada.”
“terimakasih Suke”
Mi-chan kemudian mengajak Suke untuk mengobrol tentang hobi mereka. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh. Aku sudah 3 tahun satu sekolah dengan Sawada, bahkan kami dulu berasal dari SMP yang sama. Dan walaupun Sawada terkenal nakal dan liar. Dia tak pernah berbohong pada siapapun karena dia berasal dari keluarga berada.
Entahlah …
Kenapa aku jadi memikirkan itu?
Benar atau tidak, itu bukan urusanku juga kan? selain itu kami baru saja saling kenal.
Tetapi ….

To be continued …

2 comments:

  1. aaa to be continue .... still waiting ^^

    ganbatte kudasai...

    #kk gak ninggalin komen dulu yah dek, kk drop komen kalo udah sampe deadline :)

    ReplyDelete

your comment is precious to us :)