Title : Before I’m leaving
Cast
: Ryosuke Yamada as
Ryo and Suke (twin)
Miyuki Hitomi (OC)
Sakura
Yamada (OC) Ryo and Suke’s mother
Natsumi (OC) Ryo and Suke’s grandpa
Genre
: Dark, Angst
Rating : Pg-15 (maybe there is some harassment and
kissing etc.)
Length
: Series
Language : Bahasa Indonesia
Author
: Ruu-chan
- FB Link
:
- Twitter : @Kei_ruu
- Site Link : www.kei-ruu.blogspot.com
-
Ichiban : Inoo Kei
- Reason join this project: because I
love writing
Disclaimer : all character are not mine, the story is only
mine
Summary : Ryota and Keisuke (suke) is a twin brother
with opposite character. They live
with their
mother and grandpa in his own house.
A/N : well, I love JUMP >..<
*********************************************************
“ohayou,
Suke, Ryo” sebuah suara lembut datang menhampiri kami. Mi-chan telah sembuh
total setelah insiden beberapa hari yang lalu di taman bermain. Sejak saat itu
mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Mi-chan sering sekali mengajak Suke
berkencan dan mengundang kami untuk datang ke apartemennya untuk mengerjakan PR
bersama atau sekedar minum the dan makan kue.
“Ohayou,
Mi-chan. Genki ka?”
“un,
genki desu”
“Suke,
aku duluan ya.”
Aku
segera berlalu meninggalkan mereka. Memberi mereka sedikit ruang di pagi hari
untuk saling bertatap muka menyambut pagi hari ini. aku cukup senang Suke telah
mempunyai seorang kekasih. Akhir-akhir ini dia menjadi lebih ceria dan terlihat
sangat bergairah, selain itu Suke sudah terlihat mengobrol dengan beberapa
teman sekolahku meskipun tak banyak, tetapi ada sedikit kemajuan. Mungkin Mi-chan
yang mengajarinya cara untuk bergaul.
Ibu
dan kakek belum mengetahui tentang Suke yang mempunyai seorang pacar. Dia tak
mau aku memberitahu mereka. Padahal jika dia jujur, mungkin saja kencannya
dengan Mi-chan tak perlu aku buntuti terus dan mereka bisa bebas berdua. Yahhh sudahlah.
Suke sudah mulai dewasa, dia sudah bisa memilih pilihan untuk hidupnya. Lalu bagaimana
denganku??? Hei !! aku juga sudah mulai dewasa, sama seperti Suke, dan sudah
pasti mempunyai pilihan juga terutama mengenai wanita.
AH
!!! ngomong-ngomong soal wanita, lagi-lagi aku tertimpa sial. Karena waktu itu
aku langsung membawa Mi-chan yang pingsan ke rumah sakit tanpa memberitahunya
dan memang aku sangat lupa untuk mengabarinya, dia marah besar padaku dan
bilang tak ingin mengenalku lagi. Haaaaahhhhh, memang hidupku sangat sial, baru
saja dapat wanita seksi dan manis seperti itu, sudah ditinggal hanya dalam
waktu satu malam. lebih baik aku pergi ke kelas saja untuk melupakan hari itu.
Kumasuk
ke ruang kelasku yang sangat ramai, membanting ranselku dengan sedikit halus
dan meletakkan kepalaku di atas meja sambil terpejam. Memuaskan rasa ngantukku
karena begadang menelpon Hina-chan, anak sekolah perawat di perfektur Saitama
semalam. Siapa dia? Hahaha kalian tak usah Tanya. Dia adalah wanita yang sedang
magang di rumah sakit tempat Mi-chan di rawat dulu. Dia mengajakku berkenalan
duluan dan kami-pun bertukar nomor. Sangat cepatkan? Bukan Ryota namanya jika
tak bisa menggaet satu wanita saja dalam sehari.
“oy,
Ryo-kun. Daijobu ka?”
“daijobu.
Nande?”
SELAMAT PAGI DIBERITAHUKAN UNTUK
PARA MURID BAHWA HARI INI KARENA ADA RAPAT MEMPERSIAPKAN UJIAN, SELURUH
KEGIATAN SEKOLAH HANYA DIPERKENANKAN SAMPAI JAM 11 SIANG.
Semua
murid serentak meloncat kegirangan. Berisik sekali !! aku jadi tak bisa
meneruskan tidurku.
Ttrrrttt~
Aaahh,
ada apa lagi ini? aku lupa mematikan ponselku. Rupanya sebuah SMS dari Suke.
From : Suke
Kak, Mi-chan mengajak kita makan di
apartemennya. Kau mau ikut kan?
Sebenarnya,
tidak. Tapi pasti ibu akan protes jika aku tak pulang dengan Suke nanti. Apa aku
pergi saja ya saat mereka berpacaran? Tapi kakek memasang GPS pada ponselku dan
Suke agar terlihat ketika kami tidak bersama. Bahkan saat ponselku mati
sekalipun tetap saja ketahuan.
Reply to : Suke
Ya, tunggu aku di depan gerbang. Kita
naik taksi saja.
Aku
kembali meneruskan tidurku sebelum sensei masuk. Paling dia tak masuk karena
masih dalam suasana berduka cita atas kejadian kemarin. Saat kucing
kesayangannya mati karena memberontak ketika ada kucing liar ingin
mengawininya. Hanya karena itu matanya terlihat sangat sangat bengkak dari
kemarin, sepertinya kemarin malam dia habiskan dengan menangis. Benar-benar
konyol untuk sebuah harga diri seorang sensei. Kenapa di dunia ini hanya aku
saja yang normal????
.
.
.
.
“Kak,
sini ! sini ! aku sudah memberhentikan taksi.”
Suke
memanggilku dari dalam taksi yang sudah menungguku. Aku masuk kemudian duduk di
kursi depan. Kami melaju dan 20 menit kemudian sampai di apartemen Mi-chan. Kami
menyiapkan bahan-bahan yang direncanakan akan dimasak bersama.
“ah,
bagaimana ini? aku lupa membeli garam dan nori….” Mi-chan menepuk dahinya,
teringat bahwa ia melupakan sesuatu yang penting dalam bumbu masakan itu. “Ryo,
Suke. Aku pergi ke toko sebelah dulu ya. Kalian tunggu di sini saja.”
“jangan
Mi-chan, biar aku saja” Suke menawarkan diri
“kau
tahu tempatnya?”
“tentu
saja”
“baiklah..”
“ittekimasu”
“itterashai”
Mi-chan
segera memotong wortel, bawang, dan daging yang sudah dikeluarkan dari kulkas. Ia
sangat terampil dalam membentuk sayuran dan wortel-wortelnya. Aku hanya
melihatnya saja sambil bermain game di ponselku.
“au
!! sakit !!”
“doushitte?”
“tanganku
… teriris..”
Aku
melihat jarinya yang mengeluarkan darah. Kuhisap sedikit darahnya agar bersih.
Mi-chan memegangi kepalanya.
“Mi-chan,
kau tak apa-apa?”
“aku
… aku menderita darah rendah Ryo, mudah sekali pusing seperti ini”
“ah
tunggu, biar aku ambilkan obat untukmu”
Aku
berbalik melangkah ke kotak P3K namun tangan Mi-chan menarik tanganku. Dia menarik
tubuhku dan segera memelukku. Menghadapkan wajahnya pada dadaku. Terdengar suaranya
sedikit menangis.
“Mi-chan,
kau kenapa?”
“Ryo..
aku ….. aku tak tahu lagi harus bilang apa”
“ada
apa Mi-chan?”
“aku
menyukaimu Ryo, dari dulu aku sangat menyukaimu”
Alis
mataku terangkat. Apa yang barusan dia katakana? Apa karena dia sedang demam
lalu bicaranya tidak karuan seperti ini?
“Mi-chan,
sebaiknya kau istirahat.” Aku menghindari pelukannya.
“aku
tidak mau” Mi-chan menolak ajakanku. Dia menarik kerah seragam sekolahku dan
mendekatkan wajahku ke wajahnya, sesaat dia menatap mataku dan 5 detik
kemudian, bibir kami saling bersentuhan. Saling berpangutan. Mi-chan menutup
matanya dan menikmati setiap sentuhan bibirnya di bibirku.
APA
INI??? hey Ryo, dia pacar adik kembarmu !!
Segera
kulepaskan dekapan Mi-chan dan menghindari tatapannya. Nafasku terdengar tak
karuan dan kurasa Mi-chan menyadarinya.
“kau
… kenapa…?”
“aku
menyukaimu Ryo. Orang yang kucintai adalah kau. Sejak pertama bertemu denganmu
di hari pertamaku sekolah. Aku emlihatmu sedang membolos di atap tertidur
dengan waah ceria sendirian. Aku sangat iri denganmu, bisa hidup lepas tanpa
beban seperti itu. namun kenapa lama kelamaan rasa iri itu berubah menjadi
kagum… dan .. dan … aku… “
“tapi
kau pacar Suke”
“Ryo
maafkan aku karena akumemanfaatkan adik kembarmu. Aku sama sekali tak mencintainya. Aku hanya
menganggapnya sebagai sahabat baik dan kakakku. Aku menyukaimu. Dengan melihat
perlakuanmu padaku dank au yang selalu dikelilingi wanita cantik, aku tak
percaya diri untuk mendekatimu… aku ..”
“Mi-chan,
kau kejam”
“ryo,
maafkan aku”
Mi-chan
menarik tanganku dan mulai menangis. Aku tak tahu harus berkata apa lagi.
“aku
… aku rela berbuat apa saja demi kau. Aku rela mengerjakan PR-mu, membuatkan
bekal untukmu, bahkan .. bahkan.. aku rela untuk tidur denganmu. Aku rela kehilangan harga diriku untukmu. Asalakan kau
selalu bersamaku. Meskipun tak menjadi milikku, asalkan kau terus di sisiku…”
Aku
terdiam memikirkan tawarannya. Sepertinya boleh juga, tawaran gadis ini.
“bagaimana
dengan Suke? Aku tak mau bertengkar dengannya hanya karena seorang gadis”
“aku
akan tetap bersamanya. Aku akan menjadi kekasihnya jika kau mau. Jadi kita bisa
diam-diam bersama”
“jika
Suke tahu dia akan marah besar dan membencimu”
“aku
tak peduli. Selama ada kau, aku tak peduli apapun yang orang-orang katakana padaku”
“kenapa
kau sampai sejauh ini?”
“karena..
aku …”
“tadaima
!!” Suke datang. Sial, padahal sedikit lagi aku tahu jawaban dari gadis ini.
“ah
Suke, kau sudah pulang.”
“un,
ini garam dan nori nya”
“Ah
ya, Mi-chan, aku mau mandi boleh kan? tadi aku kecipratan kubangan kotor di
jalan”
“ya,
silahkan Suke. Anggap saja rumah sendiri” Mi-chan memasang senyum ramah. Suke
sama sekali tak tahu percakapan kami barusan.
Suke
segera pergi ke kamar mandi. Aku menghampiri Mi-chan dan tersenyum padanya.
belum dia sempat bertanya kenapa aku tersenyum aku langsung menarik dagunya dan
mencium bibir mungilnya berwarna pink muda itu. melumatnya dengan hati-hati.
Mi-chan terpejam lagi dan kedua tangannya melingkari pinggangku.
“terimakasih
karena telah mencintaiku.” Aku berbisik padanya dengan suara pelan “I love you
too”
Wajah
Mi-chan berbinar. Padahal aku hanya berkata itu untuk menyenangkannya. Aku sama
sekali tak mencintainya.
“dan
tolong rahasiakan ini dari Suke. Jadilah paar yang baik di hadapannya”
“un”
Mi-chan mengangguk seperti anak TK yang baru diperintah oleh guru
kesayangannya.
.
.
.
.
“wuuaaahhhhh.
Makanan buatanmu memang selalu enak Mi-chan.” Suke makan sangat banyak dan saat
ini sedang mengelus-elus perutnya denganwajah bodoh.
“arigatou,
Suke” Mi-chan tersenyum.
“Mic-han,
sudah larut, kami harus pulang”
“eh?
Secepat ini?”
“iya
kak, kenapa buru-buru?”
“dasar
bodoh, nanti ibu mencari kita. Lagipula kasihan ibu sendirian di rumah”
“benar
juga. Mi-chan. Gomen ne, kami harus segera pulang”
“daijobu.
Hati-hati di jalan ya”
Aku
dan Suke meninggalkan dia sendirian setelah makan. Yah, mungkin kami tak tahu
diri karena membiarkannya membersihkan rumah sendirian. Tapi ibu adalah hal
terpenting di dunia ini disbanding siapapun kan? lagipula sepertinya dia orang
kaya yang bisa menyewa jasa cleaning service dengan mudah. Aku melambaikan
tangan padanya dan member isyarat untuk bungkam sesaat setelah Suke keluar dari
pintu. Kutinggalkan dia dengan senyum dan dia membalas senyumku.
.
.
.
.
“tadaimaa” Serentak kami mengatakan itu
“Ryo,
Suke, darimana saja kalian berdua?”
“kami
habis main bu”
“benarkah?”
“ya,
di rumah teman kami” aku berusaha menenangkan ibu agar tak banyak bertanya.
“kau
sudah makan sayang?”
Ibu
mengelus-elus pipi Suke dan memperhatikan detil wajahnya. Suke terlihat
memincingkan satu matanya dan tangan kirinya memegangi dahi. Suke sama sekali
tak merespon pertanyaan ibu.
“Suke,
kau kenapa? Suke?”
“gelas…
merah… bel … aku.. aku ..”
“Suke
!!” ibu menggoyangkan sedikit badan Suke dan lamunan Suketrpcah. Aku agak heran
melihat tingkahnya itu.
“kau
kenapa?”
“ah
tidak bu. Aku hanya sedikit lelah”
“begitu”
“un.
iu aku ke kamar dulu ya”
“ya,
istirahtlah”
Suke
segera berjalan ke kamar sambil terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku
mengikutinya dari belakang. Menaruh barang-barangku di meja belajar. Suke
segera berbaring di kasurnya, dan dia masih melamun. Dia memegangi kepalanya lagi.
“kau
kenapa sih, Suke?”
“ah
tidak apa-apa kak”
“hey,
kau ini kembaranku. Aku tahu jika ada sesuatu yag tak beres denganmu”
“begini
kak, aku … entah kenapa akhir-akhir ini aku … sering terlihat muncul di
kepalaku. Banyangan-bayangan aneh, tapi aku sendiri heran itu apa.”
“maksudmu?”
“aku
.. seperti telah melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang seharusnya
tak aku lupakan. Tapi aku tak tahu apa.”
“hei
hei sudahlah Suke. Lebih baik kau tidur”
“ya,
mungkin karena hari ini aku terlalu leah kak”
“oyasumi
Suke”
Aku
langsung menarik selimutku memikirkan keadaan Suke. Mungkinkah itu karena
penyakitnya? Sebenarnya apa penyakit yang Suke derita? Apakah kronis?kenapa
kakek bilang belum saatnya aku mengetahuinya? Sudahlah, lebih baik aku tidur.
Aku
menutup mataku dan menghela nafas, menyambut esok pagi dan teringat kalimat
Mi-chan tadi sore, bahwa dia menawarkan
dirinya untuk kumiliki sepenuhnya. Dan itu berarti, mungkin ini kesempatan
aku untuk mencobanya. Hihihi
To be continued …




No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)