Pages

BEFORE I'M LEAVING part 4


Title                 : Before I’m leaving
Cast                 : Ryosuke Yamada as Ryo and Suke (twin)
                         Miyuki Hitomi (OC)
                        Sakura Yamada (OC) Ryo and Suke’s mother
                         Natsumi (OC) Ryo and Suke’s grandpa                                 
Genre              : Dark, Angst
Rating             : Pg-15 (maybe there is some harassment and kissing etc.)
Length             : Series
Language        : Bahasa Indonesia
Author             : Ruu-chan
- FB Link                    :
- Twitter          : @Kei_ruu
- Site Link       : www.kei-ruu.blogspot.com
- Ichiban          : Inoo Kei
- Reason join this project: because I love writing

Disclaimer       : all character are not mine, the story is only mine
Summary         : Ryota and Keisuke (suke) is a twin brother with opposite character. They live
                         with their mother and grandpa in his own house.
A/N                 : well, I love JUMP >..<



*********************************************************
“ohayou, Suke, Ryo” sebuah suara lembut datang menhampiri kami. Mi-chan telah sembuh total setelah insiden beberapa hari yang lalu di taman bermain. Sejak saat itu mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Mi-chan sering sekali mengajak Suke berkencan dan mengundang kami untuk datang ke apartemennya untuk mengerjakan PR bersama atau sekedar minum the dan makan kue.
“Ohayou, Mi-chan. Genki ka?”
“un, genki desu”
“Suke, aku duluan ya.”


Aku segera berlalu meninggalkan mereka. Memberi mereka sedikit ruang di pagi hari untuk saling bertatap muka menyambut pagi hari ini. aku cukup senang Suke telah mempunyai seorang kekasih. Akhir-akhir ini dia menjadi lebih ceria dan terlihat sangat bergairah, selain itu Suke sudah terlihat mengobrol dengan beberapa teman sekolahku meskipun tak banyak, tetapi ada sedikit kemajuan. Mungkin Mi-chan yang mengajarinya cara untuk bergaul.
Ibu dan kakek belum mengetahui tentang Suke yang mempunyai seorang pacar. Dia tak mau aku memberitahu mereka. Padahal jika dia jujur, mungkin saja kencannya dengan Mi-chan tak perlu aku buntuti terus dan mereka bisa bebas berdua. Yahhh sudahlah. Suke sudah mulai dewasa, dia sudah bisa memilih pilihan untuk hidupnya. Lalu bagaimana denganku??? Hei !! aku juga sudah mulai dewasa, sama seperti Suke, dan sudah pasti mempunyai pilihan juga terutama mengenai wanita.
AH !!! ngomong-ngomong soal wanita, lagi-lagi aku tertimpa sial. Karena waktu itu aku langsung membawa Mi-chan yang pingsan ke rumah sakit tanpa memberitahunya dan memang aku sangat lupa untuk mengabarinya, dia marah besar padaku dan bilang tak ingin mengenalku lagi. Haaaaahhhhh, memang hidupku sangat sial, baru saja dapat wanita seksi dan manis seperti itu, sudah ditinggal hanya dalam waktu satu malam. lebih baik aku pergi ke kelas saja untuk melupakan hari itu.
Kumasuk ke ruang kelasku yang sangat ramai, membanting ranselku dengan sedikit halus dan meletakkan kepalaku di atas meja sambil terpejam. Memuaskan rasa ngantukku karena begadang menelpon Hina-chan, anak sekolah perawat di perfektur Saitama semalam. Siapa dia? Hahaha kalian tak usah Tanya. Dia adalah wanita yang sedang magang di rumah sakit tempat Mi-chan di rawat dulu. Dia mengajakku berkenalan duluan dan kami-pun bertukar nomor. Sangat cepatkan? Bukan Ryota namanya jika tak bisa menggaet satu wanita saja dalam sehari.
“oy, Ryo-kun. Daijobu ka?”
“daijobu. Nande?”
SELAMAT PAGI DIBERITAHUKAN UNTUK PARA MURID BAHWA HARI INI KARENA ADA RAPAT MEMPERSIAPKAN UJIAN, SELURUH KEGIATAN SEKOLAH HANYA DIPERKENANKAN SAMPAI JAM 11 SIANG.
Semua murid serentak meloncat kegirangan. Berisik sekali !! aku jadi tak bisa meneruskan tidurku.
Ttrrrttt~
Aaahh, ada apa lagi ini? aku lupa mematikan ponselku. Rupanya sebuah SMS dari Suke.
From : Suke
Kak, Mi-chan mengajak kita makan di apartemennya. Kau mau ikut kan?
Sebenarnya, tidak. Tapi pasti ibu akan protes jika aku tak pulang dengan Suke nanti. Apa aku pergi saja ya saat mereka berpacaran? Tapi kakek memasang GPS pada ponselku dan Suke agar terlihat ketika kami tidak bersama. Bahkan saat ponselku mati sekalipun tetap saja ketahuan.
Reply to : Suke
Ya, tunggu aku di depan gerbang. Kita naik taksi saja.
Aku kembali meneruskan tidurku sebelum sensei masuk. Paling dia tak masuk karena masih dalam suasana berduka cita atas kejadian kemarin. Saat kucing kesayangannya mati karena memberontak ketika ada kucing liar ingin mengawininya. Hanya karena itu matanya terlihat sangat sangat bengkak dari kemarin, sepertinya kemarin malam dia habiskan dengan menangis. Benar-benar konyol untuk sebuah harga diri seorang sensei. Kenapa di dunia ini hanya aku saja yang normal????
.
.
.
.
“Kak, sini ! sini ! aku sudah memberhentikan taksi.”
Suke memanggilku dari dalam taksi yang sudah menungguku. Aku masuk kemudian duduk di kursi depan. Kami melaju dan 20 menit kemudian sampai di apartemen Mi-chan. Kami menyiapkan bahan-bahan yang direncanakan  akan dimasak bersama.
“ah, bagaimana ini? aku lupa membeli garam dan nori….” Mi-chan menepuk dahinya, teringat bahwa ia melupakan sesuatu yang penting dalam bumbu masakan itu. “Ryo, Suke. Aku pergi ke toko sebelah dulu ya. Kalian tunggu di sini saja.”
“jangan Mi-chan, biar aku saja” Suke menawarkan diri
“kau tahu tempatnya?”
“tentu saja”
“baiklah..”
“ittekimasu”
“itterashai”
Mi-chan segera memotong wortel, bawang, dan daging yang sudah dikeluarkan dari kulkas. Ia sangat terampil dalam membentuk sayuran dan wortel-wortelnya. Aku hanya melihatnya saja sambil bermain game di ponselku.
“au !! sakit !!”
“doushitte?”
“tanganku … teriris..”
Aku melihat jarinya yang mengeluarkan darah. Kuhisap sedikit darahnya agar bersih. Mi-chan memegangi kepalanya.
“Mi-chan, kau tak apa-apa?”
“aku … aku menderita darah rendah Ryo, mudah sekali pusing seperti ini”
“ah tunggu, biar aku ambilkan obat untukmu”
Aku berbalik melangkah ke kotak P3K namun tangan Mi-chan menarik tanganku. Dia menarik tubuhku dan segera memelukku. Menghadapkan wajahnya pada dadaku. Terdengar suaranya sedikit menangis.
“Mi-chan, kau kenapa?”
“Ryo.. aku ….. aku tak tahu lagi harus bilang apa”
“ada apa Mi-chan?”
“aku menyukaimu Ryo, dari dulu aku sangat menyukaimu”
Alis mataku terangkat. Apa yang barusan dia katakana? Apa karena dia sedang demam lalu bicaranya tidak karuan seperti ini?
“Mi-chan, sebaiknya kau istirahat.” Aku menghindari pelukannya.
“aku tidak mau” Mi-chan menolak ajakanku. Dia menarik kerah seragam sekolahku dan mendekatkan wajahku ke wajahnya, sesaat dia menatap mataku dan 5 detik kemudian, bibir kami saling bersentuhan. Saling berpangutan. Mi-chan menutup matanya dan menikmati setiap sentuhan bibirnya di bibirku.
APA INI??? hey Ryo, dia pacar adik kembarmu !!
Segera kulepaskan dekapan Mi-chan dan menghindari tatapannya. Nafasku terdengar tak karuan dan kurasa Mi-chan menyadarinya.
“kau … kenapa…?”
“aku menyukaimu Ryo. Orang yang kucintai adalah kau. Sejak pertama bertemu denganmu di hari pertamaku sekolah. Aku emlihatmu sedang membolos di atap tertidur dengan waah ceria sendirian. Aku sangat iri denganmu, bisa hidup lepas tanpa beban seperti itu. namun kenapa lama kelamaan rasa iri itu berubah menjadi kagum… dan .. dan … aku… “
“tapi kau pacar Suke”
“Ryo maafkan aku karena akumemanfaatkan adik kembarmu.  Aku sama sekali tak mencintainya. Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat baik dan kakakku. Aku menyukaimu. Dengan melihat perlakuanmu padaku dank au yang selalu dikelilingi wanita cantik, aku tak percaya diri untuk mendekatimu… aku ..”
“Mi-chan, kau kejam”
“ryo, maafkan aku”
Mi-chan menarik tanganku dan mulai menangis. Aku tak tahu harus berkata apa lagi.
“aku … aku rela berbuat apa saja demi kau. Aku rela mengerjakan PR-mu, membuatkan bekal untukmu, bahkan .. bahkan.. aku rela untuk tidur denganmu. Aku rela kehilangan harga diriku untukmu. Asalakan kau selalu bersamaku. Meskipun tak menjadi milikku, asalkan kau terus di sisiku…”
Aku terdiam memikirkan tawarannya. Sepertinya boleh juga, tawaran gadis ini.
“bagaimana dengan Suke? Aku tak mau bertengkar dengannya hanya karena seorang gadis”
“aku akan tetap bersamanya. Aku akan menjadi kekasihnya jika kau mau. Jadi kita bisa diam-diam bersama”
“jika Suke tahu dia akan marah besar dan membencimu”
“aku tak peduli. Selama ada kau, aku tak peduli apapun yang orang-orang katakana padaku”
“kenapa kau sampai sejauh ini?”
“karena.. aku …”
“tadaima !!” Suke datang. Sial, padahal sedikit lagi aku tahu jawaban dari gadis ini.
“ah Suke, kau sudah pulang.”
“un, ini garam dan nori nya”
“Ah ya, Mi-chan, aku mau mandi boleh kan? tadi aku kecipratan kubangan kotor di jalan”
“ya, silahkan Suke. Anggap saja rumah sendiri” Mi-chan memasang senyum ramah. Suke sama sekali tak tahu percakapan kami barusan.
Suke segera pergi ke kamar mandi. Aku menghampiri Mi-chan dan tersenyum padanya. belum dia sempat bertanya kenapa aku tersenyum aku langsung menarik dagunya dan mencium bibir mungilnya berwarna pink muda itu. melumatnya dengan hati-hati. Mi-chan terpejam lagi dan kedua tangannya melingkari pinggangku.
“terimakasih karena telah mencintaiku.” Aku berbisik padanya dengan suara pelan “I love you too”
Wajah Mi-chan berbinar. Padahal aku hanya berkata itu untuk menyenangkannya. Aku sama sekali tak mencintainya.
“dan tolong rahasiakan ini dari Suke. Jadilah paar yang baik di hadapannya”
“un” Mi-chan mengangguk seperti anak TK yang baru diperintah oleh guru kesayangannya.
.
.
.
.
“wuuaaahhhhh. Makanan buatanmu memang selalu enak Mi-chan.” Suke makan sangat banyak dan saat ini sedang mengelus-elus perutnya denganwajah bodoh.
“arigatou, Suke” Mi-chan tersenyum.
“Mic-han, sudah larut, kami harus pulang”
“eh? Secepat ini?”
“iya kak, kenapa buru-buru?”
“dasar bodoh, nanti ibu mencari kita. Lagipula kasihan ibu sendirian di rumah”
“benar juga. Mi-chan. Gomen ne, kami harus segera pulang”
“daijobu. Hati-hati di jalan ya”
Aku dan Suke meninggalkan dia sendirian setelah makan. Yah, mungkin kami tak tahu diri karena membiarkannya membersihkan rumah sendirian. Tapi ibu adalah hal terpenting di dunia ini disbanding siapapun kan? lagipula sepertinya dia orang kaya yang bisa menyewa jasa cleaning service dengan mudah. Aku melambaikan tangan padanya dan member isyarat untuk bungkam sesaat setelah Suke keluar dari pintu. Kutinggalkan dia dengan senyum dan dia membalas senyumku.
.
.
.
.
 “tadaimaa” Serentak kami mengatakan itu
“Ryo, Suke, darimana saja kalian berdua?”
“kami habis main bu”
“benarkah?”
“ya, di rumah teman kami” aku berusaha menenangkan ibu agar tak banyak bertanya.
“kau sudah makan sayang?”
Ibu mengelus-elus pipi Suke dan memperhatikan detil wajahnya. Suke terlihat memincingkan satu matanya dan tangan kirinya memegangi dahi. Suke sama sekali tak merespon pertanyaan ibu.
“Suke, kau kenapa? Suke?”
“gelas… merah… bel … aku.. aku ..”
“Suke !!” ibu menggoyangkan sedikit badan Suke dan lamunan Suketrpcah. Aku agak heran melihat tingkahnya itu.
“kau kenapa?”
“ah tidak bu. Aku hanya sedikit lelah”
“begitu”
“un. iu aku ke kamar dulu ya”
“ya, istirahtlah”
Suke segera berjalan ke kamar sambil terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku mengikutinya dari belakang. Menaruh barang-barangku di meja belajar. Suke segera berbaring di kasurnya, dan dia masih melamun.  Dia memegangi kepalanya lagi.
“kau kenapa sih, Suke?”
“ah tidak apa-apa kak”
“hey, kau ini kembaranku. Aku tahu jika ada sesuatu yag tak beres denganmu”
“begini kak, aku … entah kenapa akhir-akhir ini aku … sering terlihat muncul di kepalaku. Banyangan-bayangan aneh, tapi aku sendiri heran itu apa.”
“maksudmu?”
“aku .. seperti telah melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang seharusnya tak aku lupakan. Tapi aku tak tahu apa.”


“hei hei sudahlah Suke. Lebih baik kau tidur”
“ya, mungkin karena hari ini aku terlalu leah kak”
“oyasumi Suke”
Aku langsung menarik selimutku memikirkan keadaan Suke. Mungkinkah itu karena penyakitnya? Sebenarnya apa penyakit yang Suke derita? Apakah kronis?kenapa kakek bilang belum saatnya aku mengetahuinya? Sudahlah, lebih baik aku tidur.
Aku menutup mataku dan menghela nafas, menyambut esok pagi dan teringat kalimat Mi-chan tadi sore, bahwa dia menawarkan dirinya untuk kumiliki sepenuhnya. Dan itu berarti, mungkin ini kesempatan aku untuk mencobanya. Hihihi
To be continued …



No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)