Title : Before I’m leaving
Cast
:
Ryosuke Yamada as Ryo and Suke (twin)
Miyuki
Hitomi (OC)
Sakura Yamada (OC) Ryo and
Suke’s mother
Natsumi (OC) Ryo and Suke’s
grandpa
Genre
:
Dark, Angst
Rating : Pg-15 (maybe there is some harassment and
kissing etc.)
Length
:
Series
Language : Bahasa Indonesia
Author
:
Ruu-chan
- FB Link
:
-
Twitter : @Kei_ruu
- Site Link
: www.kei-ruu.blogspot.com
-
Ichiban : Inoo Kei
- Reason join this
project: because I love writing
Disclaimer : all character are not mine, the story is only
mine
Summary
: Ryota and Keisuke (suke)
is a twin brother with opposite character. They live
with their mother and
grandpa in his own house.
A/N : well, I love JUMP >..<
*********************************************************
“kek,
sebenarnya ada apa? kenapa Suke bisa sampai seperti ini?” aku dan kakek duduk
di sofa kamar tempat ibu berbaring. Saat ini ibu telah tidur begitu juga dengan
Suke di kamarnya. Kakek menopang dagunya. Mungkin bingung darimana harus
memulainya. Sebenarnya, apa yang terjadi sebelum ayah meninggal? Dan saat aku
sedang tidak di Jepang? Memang pada saat hari kematian ayah, Suke berada di
rumah sakit dan dalam keadaan shock berat. Itu yang menjadi salah satu penyebab
kakek dan ibu begitu memproteksi Suke. Tapi … tapi … apa yang dikataan Suke
tadi…
Kurasa
terlalu ..
Kejam ….
Aku
takut …
Takut jika apa yang dikatakan Suke ..
Adalah
benar ….
“Ryo,
Suke … apa yang dikatakan Suke ,,,” aku sedikit menelan ludahku sendiri ssaat
kakek mulai berbicara “adalah benar”
Apa ??? apa maksud semua ini??
Bibirku
gemetar, tanganku mengepal dan wajahku berkeringat walau ruangan ini memiliki
AC yang cukup dingin. Tak bisa membayangkan bahwa apa yang Suke ceritakan tadi
adalah benar.
Ibu
..
Ibuku
.. adalah …
P e m b u n u h ???
Ayah
… apa …
“pasti
ada alasannya kan kek? Kenapa? kenapa ibu …”
“Ryo,
aku minta kau tetap merahasiakan hal ini. kau tak mau ibumu dipenjara kan?”
kakek menepuk pundakku dan aku mengangguk seolah tehipnotis olehnya.
“kek
.. aku ..”
“ibumu,
memiliki penyakit psikis yang dideritanya dari kecil. Psikiater bilang itu tak
dapat disembuhkan dan hanya datang beberapa kali”
“penyakit
apa kek? Ibu sakit apa?”
“ibumu
… seumur hidupnya dia akan merasa kesepian, semakin dia ditekan maka akan
semakin banyak rasa sedih dan berbuah menjadi dendam di dalam hatinya. Dan hari
itu … hari dimana kematiann ayahmu .. saat itu dia menginginkan Suke untuk
pindah ke Amerika menyusulmu.”
“menyusulku?”
“ya,
Shota sadar bahwa penyakit ibumu makin memburuk. Hampir tiap malam akhir-akhir
itu ibumu datang ek kamar Suke. Memeluknya namun sedikit mencakar-cakar bagian
tubuh Suke. Karena tak Suke tak mengerti apa-apa waktu itu. ia hanya mengerti
bahwa ibunya berusaha memeluk dirinya saat tidur dan terlalu keras.”
Dasar Suke bodoh !! kenapa dia tak
pernah cerita padaku
“tapi,
Suke tak pernah bercerita padaku”
“ya,
Suke kehiagan ingatannya. Saat ibumu menikam ayah kalian dengan pecahan botol
wine di meja makan. Dia sangat shock sehingga kehilangan sebagian ingatannya. Saat
ibumu ….”
“jadi
karena itu …”
“ya,
karena itu aku memintamu untuk terus mengawasi Suke. Mengawasi agar
kepingan-kepingan ingatannya tak kembali lagi. Agar ia tak membenci ibu kalian”
Saat
itu juga aku merasa bersalah. Pada kakek, ibu, Suke, dan semuanya. Selama ini
aku selalu berfikir egois. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan hanya
mementingkan diriku sendiri. Ternyata, selama ini Suke menderita.
“Ryo,
kumohon … jangan membenci ibumu. Dia seperti itu karena penyakitnya.”
“kek,
maafkan aku. Mulai sekarang, aku akan selalu menjaga Suke. Aku tak mau dia
menderita lebih dari ini”
“lalu
bagaimana? Jika Suke membenci ibumu?”
“aku
akan coba bicara dengan Suke …”
*****************
“ohayou,
Ryo, Suke. Aku sudah siapkan sarapan kesukaan kalian” ibu memcium kedua pipi
kami seperti biasa. Hanya saja bedanya, senyuman Suke tak tampak menghiasi
wajahnya. Hari ini adalah hari pertama Suke sekolah lagi setelah 3 hari di
rawat. Aku telah berhasil membujuk Suke untuk tak membocorkan apa yang dia
ingat pada siapapun. Aku tak mau ibu kami dipenjara dan Suke membencinya. Aku juga
merayu Suke untuk tak membeku pada
ibu. Dan sepertinya sedikit berhasil. Walau Suke tak sehangat dulu, yah aku
sangat memakluminya. Karena Ayah dan Suke begitu dekat dulu. Akupun juga
begitu. Ada sedikit bagian dari diriku yang sempat membenci ibu. Tapi,
mengingat ibulah yang mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan kami berdua,
ibulah yang semenjak ayah meninggal membanting tulang untuk merawat kami
berdua, mengajarkan kami banyak hal, menunggu kami pulang sekolah setiap sore
dan menyiapkan makan malan sendirian untuk kami, aku tahu ibu melakukan itu di
luar kesadarannya dan terkadang, sedikit bagian dari diriku itu keluar begitu
saja.
Tuhan, apa yang sebaiknya aku
lakukan?
“kami
pergi dulu bu” Suke menjawab ibu seadanya dan segera pergi tanpa memakan
masakan buatan ibu. Ibu terlihat bersedih karena hal itu.
“ah,
bu. Masakannya enak sekali. Boleh kubawa ke sekolah? Sekalian akan kubawakan
Suke juga. Dia pasti Suka.”
“apa
dia mau memakannya?” ibuku terlihat frustasi
“tentu
saja, bukankah selama ini dia sangat menyukai masakan ibu? Hari ini dia ada
tugas piket pagi, jika tidak datang sensei akan memotong nilai kebersihannya”
aku berusaha menenangkan ibu dengan seuntai kalimat yang tak pandai kurangkai.
“baiklah,
tolong ya Ryo. Ini untukmu dan ini untuk adikmu”
“un.
bawakan yang banyak ya bu” aku berusaha memasang wajah ceria berharap ibuku
pulih seperti sediakala.
***********
“oy
Suke. Ini” aku membawakan kotak bekal ke kelasnya dengan terburu-buru saat jam
istirahat tiba dengan nafas yang terengah-engah.
“apa
ini kak?”
“dari
ibu. Enak lho”
Suke
langsung berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkanku menuju kantin. Aku dengan
bodoh mengikutinya. Dengan cepat Suke mengantri makanan di kantin dan segera
mengambil beberapa makanan.
“hey,
kau kan sudah punya bekal. Buang-buang uang saja”
“terimakasih
kak, aku sudah beli makanan”
Tak
tahan dengan tingkah lakunya, aku segera menarik tangan Suke dan pergi ke atap
gedung sekolah.
“ada
apa sih kak?”
“Suke,
dengar. Apapun yang kau ingat. Seberapapun rasa bencimu yang sekarang timbul,
dia tetap ibu kita. Tak ada yang bisa merubah takdir itu”
“lantas
kenapa? dan tetap saja tak ada yang bisa merubah kenyataan kalau dia adalah
seorang PEMBUNUH !!”
Paaakkk
~
Tak
sadar aku memukul wajah Suke. Wajah adik kembarku sendiri. Suke terdiam. Terlihat
menahan emosinya padaku.
“kau
… apa kau tak sadar? Berapa beruntungnya dirimu?”
Aku
tertunduk. Mulai mengeluarkan semua isi hatiku.
“kau
.. yang dari kecil tak pernah terpisahkan dari ayah dan ibu. Selalu melihat
tawa mereka, selalu diperhatikan oleh mereka. Oleh ayah, ibu, kakek. …..
sementara aku … AKU SENDIRIAN !!”
Tak
sadar air mataku mulai menetes
“ya,
AKU SENDIRIAN SUKE. Sejak berumur 7 tahun tinggal sendiri di asrama yang sangat
jauh dari rumah. Setiap malam menunggu telepon dari ayah dan ibu yang kadang
hanya sebulan sekali menelpon. Dan saat mereka menelponku yang kudengar hanya
suara mereka yang sedang memperhatikanmu, menceritakan hari-harimu padaku dan
sangat jarang mereka menanyakan kabarku, prestasi yang selama ini aku buat
untuk hanya sekedar sepatah pujian dari mereka, dan setidaknya, menanyakan apa
yang kurasakan selama berada di asrama yang tak kukenal siapa=siapa disana.
TIDAKKAH KAU MENGERTI RASANYA HAL ITU??!!”
“kak
…”
“tak
peduli apakah ibu pernah membunuh… atau melakukan apapun … dia tetaplah ibu ..
orang yang sangat kuharapkan cinta dan kasihnya … yang selama ini hanya
ditumpahkan padamu …”
Aku
pergi meninggalkan Suke begitu saja tanpa menengoknya sama sekali. Aku tak
ingin dia melihat airmataku yang jatuh. Aku ingin selalu terlihat kuat. Ya,
dari dulu juga seperti ini. semata-mata, hanya untuk perhatian ayah dan ibu
yang sangat jarang kudapatkan.
Aku
memutuskan untuk pergi sebentar sepulang sekolah untuk sekedar mencari angin. Otakku
sudah terlalu penat dengan semua ini. jika aku ini terbuat dari bom, mungkin
aku sudah meledakkan kota ini karena terus menahan apa yang tertahan di hatiku.
“Ryo-kun.
Sedang apa disini?” suara seorang wanita menyapaku. Rupanya Mi-chan. Ah ya, aku
lupa jika jalan ini satu arah dengan apartemen Mi-chan.
“ah
aku hanya mencari angin”
“bukannya
tadi Suke sudah pulang duluan. Biasanya kalian selalu bersama. Ada apa? kalian
sedang bertengkar?”
“bukan
urusanmu” aku menjawabnya dengan ketus
Mi-chan
tersenyum, mengenngam tanganku yang dingin.
“tentu
saja urusanku, Suke adalah pacarku…..”
Senyumnya
sangat manis dan tangannya mulai menghangatkan tanganku.
“dan
kau … adalah orang yang kusayangi …” Mi-chan membisikkan kalimat itu di
telingaku .
aku
hanya diam, malas untuk menanggapinya.
“bagaimana
jika makan malam di rumahku? Aku ada cheese cake strawberry kesukaanmu lho”
Aku
hanya mengangguk pasrah. Lumayan juga makan cheese cake gratis. Begitu pikirku.
Lagipula aku sangat lapar karena memikirkan banyak hal. Aku mengikuti Mi-chan
ke apartemennya dengan wajah datar.
Trrrttt~
Ponselku
bergetar. Rupanya sms dari Suke.
From : Suke
Kak, aku minta maaf atas yang tadi.
Mulai sekarang aku akan mencoba bersikap seperti biasanya pada ibu dan
melupakan semuanya. Terimakasih atas teguranmu. Kau memang kakak terbaik.
Aku
menghela nafas lega. Dengan begini semua masalah beres. Hidup normalku akan
kembali seperti biasannya.
“doushita?
Sepertinya kau senang?” Mi-chan tersenyum padaku sambil memberikan teh hangat
yang dibuatnya dari dapur.
“ah,
tidak apa-apa. tiba-tiba saja aku merasa senang.”
“begitu”
“Mi-chan,
boleh aku menanyakan sesuatu?”
“apa?”
“sebenarnya,
ayah dan ibumu kemana? Selama ini kau tinggal sendirian. Apa kau merasa nyaman?”
“memangnya
kenapa? kau mau menemaniku tinggal disini? Hihihi”
“kau
ini, aku sedang bicara serius”
“habisnya
kau lucu sekali. Tiba-tiba bicara seperti itu. seperti tak ada pertanyaan lain
saja”
“ayolah
Mi-chan jawab pertanyaanku”
“ah,
aku mandi dulu ya Ryo. Kau makan saja duluan cheese cake nya”
Mi-chan
terlihat menghindar dariku. Ia segera pergi ke kamar mandi. Aku menghela nafas.
Semakin penasaran dengan kehidupan pribadinya. Jika ia memang hidup sendirian
di Tokyo, kenapa dia tidak bersekolah di asrama saja? Bukannya itu lebih aman
untuk wanita cantik seperti dia?
Aku
berkeliling apartemennya dan melihat-lihat barang apa saja yang di kumpulkan
oleh Mi-chan. Semua serba berwarna pink yang memang menggambarkan sisi
feminimnya. Bersih dan sangat rapi. Sangat berbeda dengan kamarku dan Suke. Aku
tak sengaja melihat sebuha kotak berwarna putih yang diletakkan di pojok
ruangan. Karena penasaran, aku membukanya. Rupanya sebuah bingkai foto cantik
dengan foto Mi-chan sewaktu kecil sedang digendong oleh ayahnya.
“Ryo,
bagaimana jika malam ini kau menginap disini?”
Tak
sadar Mi-chan telah selesai dari mandinya. Dia mengeringkan rambutnya yang
basah dan masih memakain pakaian handuk. Wangi tubuhnya bisa kucium waau jarak
kami lumayan jauh.
“tidak,
ibuku bisa khawatir nanti”
“hihihi,
kau ini. sudah umur berapa sih? Seperti anak TK saja. Bilang saja kau sedang
belajar untuk persiapan ujian di rumah temanmu. Lagipula… apa kau … tak mau mencobanya??”
Mi-chan
mendekatiku. Menyandarkan kepalanya di dadaku. Dalam hatiku aku sangat ingin melakukannya. Tapi …
“tentu
saja aku mau…” aku memeluk tubuh Mi-chan. Dan mencium keningnya.
Mi-chan
tersenyum menarikku ke kamarnya dan menyandarkanku di sofa depan tempat
tidurnya. Dia duduk di pinggir kasurnya. Memberiku kode untuk mengikutinya. Dengan
polosnya aku memenuhi ajakannya. Dia meyandarkanku lagi dan Membuatku rileks.
Mi-chan mengibaskan rambut yang menutupi dahiku. Mencium pipi kananku.
“Mi-chan.
apa ini pertama kali kau melakukannya?”
“jika
iya, memang kenapa?”
“tidak,
hanya saja. Jujur. Aku belum pernah melakukannya. Jadi aku belum berpengalaman”
“tenang
saja. Biarkan semuanya mengalir.”
Mi-chan
memandangi mataku, memasang senyum manisnya dan mendekatkan bibirnya pada
bibirku. Sedetik kemudian bibir kami saling berpangutan. Aku memejamkan mataku
dan emmeluk tubuhnya. Menikmati alunan bibir wanita yang ada di hadapanku ini.
BRAKKK~
Suara
pukulan pintu berbunyi.
APA???!!!
SUKE ?!?! kenapa dia bisa ada di sini??!!
“kau
… kalian … kenapa??”
“Suke,
aku bisa jelaskan hal ini”
Suke
segera pergi berlari cepat meninggalkan tempat kami. Aku ingin mengejarnya
namun Mi-chan melarangku. Ia takut Suke akan semakin marah jika aku
mengikutinya. Mi-chan memutuskan untuk mengejarnya.
Bagaimana ini?
Apa yang harus aku lakukan?
Aku
segera mengambil mantelku dan bergerak pulang ke rumah. Mungkin sja kakek bisa
membantuku menjelaskan semuanya pada Suke. Ah, tidak. Sebaiknya aku tak
ceritakan ini pada siapapun. Biar bagaimanapun kami sedang beranjak dewasa dan
harus menelesaikan masalah kami sendiri.
***********
“tadaima
…” aku pulan dengan tampang lesu. Menempuh kurang lebih satu jam naik bus dari
tempat Mi-chan untuk sampai ke rumahku.
“Okaeru,
Ryo. Kemana saja kau? Ibu khawatir kau tak langsung pulang” ibu membawakan
mantel dan tasku. Aku mencium kedua pipi ibu dan tersenyum lemas padanya. aku
senang karena biu mengkhawatirkanku.
“kau
kenapa Ryo?? Jika ada masalah, bicara saja pada ibu.”
“tidak
bu. Aku baik-baik saja”
“Ryo
…. Aku ini ibumu. Aku tahu jika ada yang tak beres dengan anak-anakku.” Ibu segera
menarik tanganku dengan lembut ke meja ruang keluarga. Aku hanya menunduk
merenung. Merasa bersalah pada Suke karena tergdak oleh setn dalam birahiku.
“nah,
ceritakan masalahmu pada ibumu. Setidaknya perasaanmu bisa jadi lebih lega. Jangan
buat ibu khawatir seperti ini. tak biasanya ibu melihat wajahmu speerti itu.”
“ibu,
sebenarnya ….”
Trrrttttt~
Telepon
rumahku berbunyi. Ah, baru saja aku ingin bercerita jujur pada ibu.
Ibu
mengangkat telepon rumah kami.
“selamat
malam. ya, memang benar kediaman Yamada di sini. Ada apa pak?”
BRUKK
Tubuh
ibu terjatuh. Mulut ibu sedikit menganga, pandangannya kosong. Ia terdiam dan
air matanya keluar.
“ibu?
Ada apa? ibu? “
Aku
semakin khawatir, kuambil telepon dari tangan ibu dan berbcara.
“selamat
malam. maaf saya Ryota Yamada. ini siapa?”
“selamat
malam, saya Nohara dari kepolisian. Mengabari bahwa saat ini terdapat
kecelakaan taksi dimana taksi itu terguling ke jurang dan terbakar sampai
habis. Di dalamnya ada dua orang mayat yang diketahui salah satunya dengan
tanda pengenal Keisuke Yamada. apa benar ini rumahnya?”
Aku
terdiam.
Suke ..
Adik kembarku ..
Tidak … tidak mungkin …
Ini semua ..
Bohong kan???
“Ah
maaf pak, mungkin anda salah. Itu tak mungkin adikku”
“tunggu
sebentar, kami mempunyai saksi di sekitar tempat kejadian yang mengaku mengenal
korban”
Terdengar
polisi itu memberikan teleponnya pada seseorang.
“Ryo,
Ryo ini aku Mi-chan….” Tidak, ini pasti bohongkan? Suara yang berganti ini,
suara wanta ini. ini bukan Mi-chan kan???
“ya,
ini .. Mi-chan”
“ryo,
tadi saat aku mengejar Suke. Dia menolak untuk mendengar penjelasanku dan pergi
naik taksi. Beberapa saatkemudian tak jauh dari tempat dia meninggalkanku
terdengar bunyi ledakan….” Suara Mi-chan terdengar semakin lama semakin
menangis.
“tidak…
tak mungkin kan??”
“ternyata,
mobil yang ditumpangi Suke…”
“TIDAK
!!!! Mi-Chan kumohon jangan main-main.”
“aku
tak main-main Ryo” Tangisa Mi-chan semakin kencang. Aku segera menutup
teleponnya, tak tahan dengan suara yang dihantarkan oleh kabel telepon itu.
Ibu
menangis, memandangiku berharap apa yang ia dengar tadi salah.
Aku
mulai menangis, memeluk ibuku dengan erat tanpa kata-kata. Tangisan ibu semakin
kuat seiring engan eratnya pelukanku yang seolah berbicara bahwa apa yang ibu
tadi dengar adalah benar.
“ibu
… kumohon … jangan menangis….”
To be continued


No comments:
Post a Comment
your comment is precious to us :)