Pages

BEFORE I'M LEAVING part 6





Title                 : Before I’m leaving
Cast                 : Ryosuke Yamada as Ryo and Suke (twin)
                         Miyuki Hitomi (OC)
                        Sakura Yamada (OC) Ryo and Suke’s mother
                         Natsumi (OC) Ryo and Suke’s grandpa                                 
Genre              : Dark, Angst
Rating             : Pg-15 (maybe there is some harassment and kissing etc.)
Length             : Series
Language        : Bahasa Indonesia
Author             : Ruu-chan
- FB Link                    :
- Twitter          : @Kei_ruu
- Site Link       : www.kei-ruu.blogspot.com
- Ichiban          : Inoo Kei
- Reason join this project: because I love writing

Disclaimer       : all character are not mine, the story is only mine
Summary         : Ryota and Keisuke (suke) is a twin brother with opposite character. They live
                         with their mother and grandpa in his own house.
A/N                 : well, I love JUMP >..<



*********************************************************
“kek, sebenarnya ada apa? kenapa Suke bisa sampai seperti ini?” aku dan kakek duduk di sofa kamar tempat ibu berbaring. Saat ini ibu telah tidur begitu juga dengan Suke di kamarnya. Kakek menopang dagunya. Mungkin bingung darimana harus memulainya. Sebenarnya, apa yang terjadi sebelum ayah meninggal? Dan saat aku sedang tidak di Jepang? Memang pada saat hari kematian ayah, Suke berada di rumah sakit dan dalam keadaan shock berat. Itu yang menjadi salah satu penyebab kakek dan ibu begitu memproteksi Suke. Tapi … tapi … apa yang dikataan Suke tadi…
Kurasa terlalu ..
Kejam ….
Aku takut …
Takut  jika apa yang dikatakan Suke ..
Adalah benar ….
“Ryo, Suke … apa yang dikatakan Suke ,,,” aku sedikit menelan ludahku sendiri ssaat kakek mulai berbicara “adalah benar”
Apa ??? apa maksud semua ini??
Bibirku gemetar, tanganku mengepal dan wajahku berkeringat walau ruangan ini memiliki AC yang cukup dingin. Tak bisa membayangkan bahwa apa yang Suke ceritakan tadi adalah benar.
Ibu ..
Ibuku .. adalah …
P e m b u n u h ???
Ayah … apa …
“pasti ada alasannya kan kek? Kenapa? kenapa ibu …”
“Ryo, aku minta kau tetap merahasiakan hal ini. kau tak mau ibumu dipenjara kan?” kakek menepuk pundakku dan aku mengangguk seolah tehipnotis olehnya.
“kek .. aku ..”
“ibumu, memiliki penyakit psikis yang dideritanya dari kecil. Psikiater bilang itu tak dapat disembuhkan dan hanya datang beberapa kali”
“penyakit apa kek? Ibu sakit apa?”
“ibumu … seumur hidupnya dia akan merasa kesepian, semakin dia ditekan maka akan semakin banyak rasa sedih dan berbuah menjadi dendam di dalam hatinya. Dan hari itu … hari dimana kematiann ayahmu .. saat itu dia menginginkan Suke untuk pindah ke Amerika menyusulmu.”
“menyusulku?”
“ya, Shota sadar bahwa penyakit ibumu makin memburuk. Hampir tiap malam akhir-akhir itu ibumu datang ek kamar Suke. Memeluknya namun sedikit mencakar-cakar bagian tubuh Suke. Karena tak Suke tak mengerti apa-apa waktu itu. ia hanya mengerti bahwa ibunya berusaha memeluk dirinya saat tidur dan terlalu keras.”
Dasar Suke bodoh !! kenapa dia tak pernah cerita padaku
“tapi, Suke tak pernah bercerita padaku”
“ya, Suke kehiagan ingatannya. Saat ibumu menikam ayah kalian dengan pecahan botol wine di meja makan. Dia sangat shock sehingga kehilangan sebagian ingatannya. Saat ibumu ….”
“jadi karena itu …”
“ya, karena itu aku memintamu untuk terus mengawasi Suke. Mengawasi agar kepingan-kepingan ingatannya tak kembali lagi. Agar ia tak membenci ibu kalian”
Saat itu juga aku merasa bersalah. Pada kakek, ibu, Suke, dan semuanya. Selama ini aku selalu berfikir egois. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan hanya mementingkan diriku sendiri. Ternyata, selama ini Suke menderita.
“Ryo, kumohon … jangan membenci ibumu. Dia seperti itu karena penyakitnya.”
“kek, maafkan aku. Mulai sekarang, aku akan selalu menjaga Suke. Aku tak mau dia menderita lebih dari ini”
“lalu bagaimana? Jika Suke membenci ibumu?”
“aku akan coba bicara dengan Suke …”
*****************



“ohayou, Ryo, Suke. Aku sudah siapkan sarapan kesukaan kalian” ibu memcium kedua pipi kami seperti biasa. Hanya saja bedanya, senyuman Suke tak tampak menghiasi wajahnya. Hari ini adalah hari pertama Suke sekolah lagi setelah 3 hari di rawat. Aku telah berhasil membujuk Suke untuk tak membocorkan apa yang dia ingat pada siapapun. Aku tak mau ibu kami dipenjara dan Suke membencinya. Aku juga merayu Suke untuk tak membeku pada ibu. Dan sepertinya sedikit berhasil. Walau Suke tak sehangat dulu, yah aku sangat memakluminya. Karena Ayah dan Suke begitu dekat dulu. Akupun juga begitu. Ada sedikit bagian dari diriku yang sempat membenci ibu. Tapi, mengingat ibulah yang mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan kami berdua, ibulah yang semenjak ayah meninggal membanting tulang untuk merawat kami berdua, mengajarkan kami banyak hal, menunggu kami pulang sekolah setiap sore dan menyiapkan makan malan sendirian untuk kami, aku tahu ibu melakukan itu di luar kesadarannya dan terkadang, sedikit bagian dari diriku itu keluar begitu saja.
Tuhan, apa yang sebaiknya aku lakukan?
“kami pergi dulu bu” Suke menjawab ibu seadanya dan segera pergi tanpa memakan masakan buatan ibu. Ibu terlihat bersedih karena hal itu.
“ah, bu. Masakannya enak sekali. Boleh kubawa ke sekolah? Sekalian akan kubawakan Suke juga. Dia pasti Suka.”
“apa dia mau memakannya?” ibuku terlihat frustasi
“tentu saja, bukankah selama ini dia sangat menyukai masakan ibu? Hari ini dia ada tugas piket pagi, jika tidak datang sensei akan memotong nilai kebersihannya” aku berusaha menenangkan ibu dengan seuntai kalimat yang tak pandai kurangkai.
“baiklah, tolong ya Ryo. Ini untukmu dan ini untuk adikmu”
“un. bawakan yang banyak ya bu” aku berusaha memasang wajah ceria berharap ibuku pulih seperti sediakala.
***********
“oy Suke. Ini” aku membawakan kotak bekal ke kelasnya dengan terburu-buru saat jam istirahat tiba dengan nafas yang terengah-engah.
“apa ini kak?”
“dari ibu. Enak lho”
Suke langsung berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkanku menuju kantin. Aku dengan bodoh mengikutinya. Dengan cepat Suke mengantri makanan di kantin dan segera mengambil beberapa makanan.
“hey, kau kan sudah punya bekal. Buang-buang uang saja”
“terimakasih kak, aku sudah beli makanan”
Tak tahan dengan tingkah lakunya, aku segera menarik tangan Suke dan pergi ke atap gedung sekolah.
“ada apa sih kak?”
“Suke, dengar. Apapun yang kau ingat. Seberapapun rasa bencimu yang sekarang timbul, dia tetap ibu kita. Tak ada yang bisa merubah takdir itu”
“lantas kenapa? dan tetap saja tak ada yang bisa merubah kenyataan kalau dia adalah seorang PEMBUNUH !!”
Paaakkk ~
Tak sadar aku memukul wajah Suke. Wajah adik kembarku sendiri. Suke terdiam. Terlihat menahan emosinya padaku.
“kau … apa kau tak sadar? Berapa beruntungnya dirimu?”
Aku tertunduk. Mulai mengeluarkan semua isi hatiku.
“kau .. yang dari kecil tak pernah terpisahkan dari ayah dan ibu. Selalu melihat tawa mereka, selalu diperhatikan oleh mereka. Oleh ayah, ibu, kakek. ….. sementara aku … AKU SENDIRIAN !!”
Tak sadar air mataku mulai menetes
“ya, AKU SENDIRIAN SUKE. Sejak berumur 7 tahun tinggal sendiri di asrama yang sangat jauh dari rumah. Setiap malam menunggu telepon dari ayah dan ibu yang kadang hanya sebulan sekali menelpon. Dan saat mereka menelponku yang kudengar hanya suara mereka yang sedang memperhatikanmu, menceritakan hari-harimu padaku dan sangat jarang mereka menanyakan kabarku, prestasi yang selama ini aku buat untuk hanya sekedar sepatah pujian dari mereka, dan setidaknya, menanyakan apa yang kurasakan selama berada di asrama yang tak kukenal siapa=siapa disana. TIDAKKAH KAU MENGERTI RASANYA HAL ITU??!!”
“kak …”
“tak peduli apakah ibu pernah membunuh… atau melakukan apapun … dia tetaplah ibu .. orang yang sangat kuharapkan cinta dan kasihnya … yang selama ini hanya ditumpahkan padamu …”
Aku pergi meninggalkan Suke begitu saja tanpa menengoknya sama sekali. Aku tak ingin dia melihat airmataku yang jatuh. Aku ingin selalu terlihat kuat. Ya, dari dulu juga seperti ini. semata-mata, hanya untuk perhatian ayah dan ibu yang sangat jarang kudapatkan.
Aku memutuskan untuk pergi sebentar sepulang sekolah untuk sekedar mencari angin. Otakku sudah terlalu penat dengan semua ini. jika aku ini terbuat dari bom, mungkin aku sudah meledakkan kota ini karena terus menahan apa yang tertahan di hatiku.
“Ryo-kun. Sedang apa disini?” suara seorang wanita menyapaku. Rupanya Mi-chan. Ah ya, aku lupa jika jalan ini satu arah dengan apartemen Mi-chan.
“ah aku hanya mencari angin”
“bukannya tadi Suke sudah pulang duluan. Biasanya kalian selalu bersama. Ada apa? kalian sedang bertengkar?”
“bukan urusanmu” aku menjawabnya dengan ketus
Mi-chan tersenyum, mengenngam tanganku yang dingin.
“tentu saja urusanku, Suke adalah pacarku…..”
Senyumnya sangat manis dan tangannya mulai menghangatkan tanganku.
“dan kau … adalah orang yang kusayangi …” Mi-chan membisikkan kalimat itu di telingaku .
aku hanya diam, malas untuk menanggapinya.
“bagaimana jika makan malam di rumahku? Aku ada cheese cake strawberry kesukaanmu lho”
Aku hanya mengangguk pasrah. Lumayan juga makan cheese cake gratis. Begitu pikirku. Lagipula aku sangat lapar karena memikirkan banyak hal. Aku mengikuti Mi-chan ke apartemennya dengan wajah datar.
Trrrttt~
Ponselku bergetar. Rupanya sms dari Suke.

From : Suke
Kak, aku minta maaf atas yang tadi. Mulai sekarang aku akan mencoba bersikap seperti biasanya pada ibu dan melupakan semuanya. Terimakasih atas teguranmu. Kau memang kakak terbaik.
Aku menghela nafas lega. Dengan begini semua masalah beres. Hidup normalku akan kembali seperti biasannya.
“doushita? Sepertinya kau senang?” Mi-chan tersenyum padaku sambil memberikan teh hangat yang dibuatnya dari dapur.
“ah, tidak apa-apa. tiba-tiba saja aku merasa senang.”
“begitu”
“Mi-chan, boleh aku menanyakan sesuatu?”
“apa?”
“sebenarnya, ayah dan ibumu kemana? Selama ini kau tinggal sendirian. Apa kau merasa nyaman?”
“memangnya kenapa? kau mau menemaniku tinggal disini? Hihihi”
“kau ini, aku sedang bicara serius”
“habisnya kau lucu sekali. Tiba-tiba bicara seperti itu. seperti tak ada pertanyaan lain saja”
“ayolah Mi-chan jawab pertanyaanku”
“ah, aku mandi dulu ya Ryo. Kau makan saja duluan cheese cake nya”
Mi-chan terlihat menghindar dariku. Ia segera pergi ke kamar mandi. Aku menghela nafas. Semakin penasaran dengan kehidupan pribadinya. Jika ia memang hidup sendirian di Tokyo, kenapa dia tidak bersekolah di asrama saja? Bukannya itu lebih aman untuk wanita cantik seperti dia?
Aku berkeliling apartemennya dan melihat-lihat barang apa saja yang di kumpulkan oleh Mi-chan. Semua serba berwarna pink yang memang menggambarkan sisi feminimnya. Bersih dan sangat rapi. Sangat berbeda dengan kamarku dan Suke. Aku tak sengaja melihat sebuha kotak berwarna putih yang diletakkan di pojok ruangan. Karena penasaran, aku membukanya. Rupanya sebuah bingkai foto cantik dengan foto Mi-chan sewaktu kecil sedang digendong oleh ayahnya.
“Ryo, bagaimana jika malam ini kau menginap disini?”
Tak sadar Mi-chan telah selesai dari mandinya. Dia mengeringkan rambutnya yang basah dan masih memakain pakaian handuk. Wangi tubuhnya bisa kucium waau jarak kami lumayan jauh.
“tidak, ibuku bisa khawatir nanti”
“hihihi, kau ini. sudah umur berapa sih? Seperti anak TK saja. Bilang saja kau sedang belajar untuk persiapan ujian di rumah temanmu. Lagipula… apa kau … tak mau mencobanya??”
Mi-chan mendekatiku. Menyandarkan kepalanya di dadaku. Dalam hatiku aku sangat ingin melakukannya.  Tapi …
“tentu saja aku mau…” aku memeluk tubuh Mi-chan. Dan mencium keningnya.
Mi-chan tersenyum menarikku ke kamarnya dan menyandarkanku di sofa depan tempat tidurnya. Dia duduk di pinggir kasurnya. Memberiku kode untuk mengikutinya. Dengan polosnya aku memenuhi ajakannya. Dia meyandarkanku lagi dan Membuatku rileks. Mi-chan mengibaskan rambut yang menutupi dahiku. Mencium pipi kananku.
“Mi-chan. apa ini pertama kali kau melakukannya?”
“jika iya, memang kenapa?”
“tidak, hanya saja. Jujur. Aku belum pernah melakukannya. Jadi aku belum berpengalaman”
“tenang saja. Biarkan semuanya mengalir.”
Mi-chan memandangi mataku, memasang senyum manisnya dan mendekatkan bibirnya pada bibirku. Sedetik kemudian bibir kami saling berpangutan. Aku memejamkan mataku dan emmeluk tubuhnya. Menikmati alunan bibir wanita yang ada di hadapanku ini.
BRAKKK~
Suara pukulan pintu berbunyi.
APA???!!! SUKE ?!?! kenapa dia bisa ada di sini??!!
“kau … kalian … kenapa??”
“Suke, aku bisa jelaskan hal ini”
Suke segera pergi berlari cepat meninggalkan tempat kami. Aku ingin mengejarnya namun Mi-chan melarangku. Ia takut Suke akan semakin marah jika aku mengikutinya. Mi-chan memutuskan untuk mengejarnya.
Bagaimana ini?
Apa yang harus aku lakukan?
Aku segera mengambil mantelku dan bergerak pulang ke rumah. Mungkin sja kakek bisa membantuku menjelaskan semuanya pada Suke. Ah, tidak. Sebaiknya aku tak ceritakan ini pada siapapun. Biar bagaimanapun kami sedang beranjak dewasa dan harus menelesaikan masalah kami sendiri.
***********
“tadaima …” aku pulan dengan tampang lesu. Menempuh kurang lebih satu jam naik bus dari tempat Mi-chan untuk sampai ke rumahku.
“Okaeru, Ryo. Kemana saja kau? Ibu khawatir kau tak langsung pulang” ibu membawakan mantel dan tasku. Aku mencium kedua pipi ibu dan tersenyum lemas padanya. aku senang karena biu mengkhawatirkanku.
“kau kenapa Ryo?? Jika ada masalah, bicara saja pada ibu.”
“tidak bu. Aku baik-baik saja”
“Ryo …. Aku ini ibumu. Aku tahu jika ada yang tak beres dengan anak-anakku.” Ibu segera menarik tanganku dengan lembut ke meja ruang keluarga. Aku hanya menunduk merenung. Merasa bersalah pada Suke karena tergdak oleh setn dalam birahiku.
“nah, ceritakan masalahmu pada ibumu. Setidaknya perasaanmu bisa jadi lebih lega. Jangan buat ibu khawatir seperti ini. tak biasanya ibu melihat wajahmu speerti itu.”
“ibu, sebenarnya ….”
Trrrttttt~
Telepon rumahku berbunyi. Ah, baru saja aku ingin bercerita jujur pada ibu.
Ibu mengangkat telepon rumah kami.
“selamat malam. ya, memang benar kediaman Yamada di sini. Ada apa pak?”
BRUKK
Tubuh ibu terjatuh. Mulut ibu sedikit menganga, pandangannya kosong. Ia terdiam dan air matanya keluar.
“ibu? Ada apa? ibu? “
Aku semakin khawatir, kuambil telepon dari tangan ibu dan berbcara.
“selamat malam. maaf saya Ryota Yamada. ini siapa?”
“selamat malam, saya Nohara dari kepolisian. Mengabari bahwa saat ini terdapat kecelakaan taksi dimana taksi itu terguling ke jurang dan terbakar sampai habis. Di dalamnya ada dua orang mayat yang diketahui salah satunya dengan tanda pengenal Keisuke Yamada. apa benar ini rumahnya?”
Aku terdiam.
Suke ..
Adik kembarku ..
Tidak … tidak mungkin …
Ini semua ..
Bohong kan???
“Ah maaf pak, mungkin anda salah. Itu tak mungkin adikku”
“tunggu sebentar, kami mempunyai saksi di sekitar tempat kejadian yang mengaku mengenal korban”
Terdengar polisi itu memberikan teleponnya pada seseorang.
“Ryo, Ryo ini aku Mi-chan….” Tidak, ini pasti bohongkan? Suara yang berganti ini, suara wanta ini. ini bukan Mi-chan kan???
“ya, ini .. Mi-chan”
“ryo, tadi saat aku mengejar Suke. Dia menolak untuk mendengar penjelasanku dan pergi naik taksi. Beberapa saatkemudian tak jauh dari tempat dia meninggalkanku terdengar bunyi ledakan….” Suara Mi-chan terdengar semakin lama semakin menangis.
“tidak… tak mungkin kan??”
“ternyata, mobil yang ditumpangi Suke…”
“TIDAK !!!! Mi-Chan kumohon jangan main-main.”
“aku tak main-main Ryo” Tangisa Mi-chan semakin kencang. Aku segera menutup teleponnya, tak tahan dengan suara yang dihantarkan oleh kabel telepon itu.
Ibu menangis, memandangiku berharap apa yang ia dengar tadi salah.
Aku mulai menangis, memeluk ibuku dengan erat tanpa kata-kata. Tangisan ibu semakin kuat seiring engan eratnya pelukanku yang seolah berbicara bahwa apa yang ibu tadi dengar adalah benar.
“ibu … kumohon … jangan menangis….”
To be continued

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)