Well, in this part I
will stop to give you an illustration pict, so you can use your own imagination to
imagine the story.
Douzo …
Title : Before I’m leaving
Cast
:
Ryosuke Yamada as Ryo and Suke (twin)
Miyuki
Hitomi (OC)
Sakura Yamada (OC) Ryo and
Suke’s mother
Natsumi (OC) Ryo and Suke’s
grandpa
Genre
:
Dark, Angst
Rating : Pg-15 (maybe there is some harassment and
kissing etc.)
Length
:
Series
Language : Bahasa Indonesia
Author
:
Ruu-chan
- FB Link
:
-
Twitter : @Kei_ruu
- Site Link
: www.kei-ruu.blogspot.com
-
Ichiban : Inoo Kei
- Reason join this
project: because I love writing
Disclaimer : all character are not mine, the story is only
mine
Summary
: Ryota and Keisuke (suke)
is a twin brother with opposite character. They live
with their mother and
grandpa in his own house.
*********************************************************
“huwaaaa
Ryo-kun. Kau datang pagi sekali hari ini” Asako, teman sekelasku yang terkenal
memang suka bergosip sudah ribut ketika aku sampai di kelas. Hari ini memang
sepertinya aku datang terlalu pagi. Entah kenapa hari ini aku semangat sekali.
Bukan karena ada tugas dari sensei yang belum aku kerjakan, atau karena tugas
piket, tetapi hari ini adalah hari praktek olahraga favoritku, yaitu olahraga
renang !!
Ya,
aku suka sekali renang. Ada beberapa alasan yang membuatku suka pada olahraga
ini.
Pertama,
tidak membutuhkan tenaga banyak. Tidak seperti marathon atau sprint yang baru
berapa puluh menit saja sudah lelah, olahraga ini tak akan pernah membuatku
bosan walaupun sudah berjam-jam melakukannya.
Kedua,
olahraga ini tak membuat badanku bau keringat. Biar aku terkenal nakal dan
senang sekali berkelahi, aku paling benci apabila tubuhku bau keringat dan
lengket. Pasti aku langsung pergi untuk mandi dan memakai hampir setengah botol
parfumku.
Dan
alasan terakhir, renang itu membuat mata kita fresh . pemandangan di kolam renang pada saat sekolah itu ….
Gadis-gadis
teman sekelasku …..
“kyaaaa !!!” Maki, salah satu teman
wanitaku di kelas berteriak dan memecahkan lamunan pagiku ini.
“ada
apa maki? Kau berisik sekali” Asako protes padanya.
“kau
tau A-chan? Hari ini pelajaran renang kita akan digabung dengan kelas F. dan …
dan itu berarti… pagi ini aku akan melihat Suke-kun berenang!!”
Dasar wanita, setidaknya malu atau
seganlah sedikit. Kau mengatakan kalimat itu di depan kakak kembarnya.
Aku
sama sekali tak mengerti jalan pikiran para wanita. Kabarnya Maki memang sudah
lama menyukai Suke tetapi Suke berkali-kali menolaknya. Dan ketika A-chan
bilang kenapa tidak berkencan denganku saja karena wajahku sama dengan Suke,
dia menolak dan bilang tak suka padaku.
wanita
itu…
seperti
apa jalan pikirannya …
aku
tidak tahu …
sudahlah,
tak penting juga untuk memikirkan itu. jika Maki tau bahwa Suke berpacaran
dengan Mi-chan dia pasti akan gantung diri.
Aku
pergi ke ruang ganti baju dengan baju renang. Disana aku bertemu dengan Suke
yang memasang wajah ceria pagi ini. lebih tepatnyaa wajah-konyol-aneh-nya. Melihat
wajah Suke yang berbinar-binar itu sekilas aku mengingat kejadian kemarin. Saat
Mi-chan memelukku. Dalam hatiku aku sangat kasihan padanya. merasa bahwa akulah
kakak-terjahat-dan-terkejam di dunia. Seperti iblis yang memakai sayap putih
dan lingkaran kuning di atas kepalanya. Bermain dengan pacar adik kembarnya di
belakang.
Tetapi ….
Sudahlah
!!
Bukankah
Suke bahagia jika aku bahagia? Lagipula selama ini aku sudah banyak berkorban
untuknya kan? dan aku tak berniat berpacaran dengan Mi-chan hingga kami
menikah.
Kami
memasuki area kolam renang. Matahari tampak terik di atas kepala kami.
“Suke,
Ryo-kun”
Suara
Mi-chan dari jauh. Aku menoleh padanya, melihatnya dengan pakaian renang
berwarna merah maroon seragam renang sekolah kami. Rambutnya terurai siap untuk
dibungkus pembungkus kepala. Hampir semua anak lelaki disini tertegun melihat
mulusnya tubuh Mi-chan. Warna tubuhnya putih namun berbeda seperti orang jepang
dan kebanyakan dari kami. Putih-yang-seksi.
“ne,
Suke. Kau melamun ya?” Mi-chan melambai-lambaikan tangannya di wajah Suke.
“ah
Mi… Mi-chan, kau cantik … cantik sekali…”
“terimakasih..”
Mi-chan memasang senyum polosnya dan mengantri antrian di pinggir kolam.
Aku
memperhatikannya dengan seksama. dari mulai atas rambut hingga ujung kakinya. gadis ini boleh juga, tak kalah dengan
teman-teman kencanku. Ternyata Suke sangat pintar memilih wanita. Selain itu
dia juga terlihat mahir olahraga. Aku bisa merasakannya dari gerakan renangnya
yang terbilang lebih cepat dari rata-rata anak perempuan di kelas kami.
Mi-chan
menyelesaikan waktunya di kolam renang dengan waktu tercepat. Teman-temanku
terpana dengan keahliannya itu. dia pergi ke inggir kolam tempat kami
beristirahat dan kini giliran anak laki-laki yang maju. Dia terlihat denkat
sekali dengan Suke. Mi-chan memberikannya sebotol minuman isotonic untuk Suke
sebagai penyemangatnya. Suke maju beberapa antrian di depanku dan seperti
biasa, dia tertinggal jauh di belakang. Keahliannya berolahraga sangat buruk.
Mungkin karena ibu yang memanjakannya.
“Suke…
ayo semangat !! semangat !! kau pasti bisa !!”
Teriakan
beberapa gadis fans Suke untuk mendukungnya menggelegar ke seluruh indoor
ruangan renang. Suke memang cukup populer karena kepintarannya. Cukup banyak wanita
yang mengejar cintanya namun tak ada satupun yang diterima. Dan itu berarti,
cukup banyak juga gadis yang akan sakit hati ketika mendengar dia telah
berpacaran dengan Mi-chan.
Aku
terus melihat adikku yang lamban itu. dia semakin jauh tertinggal. Aku menghela
nafas, malu karena dia adik kembarku. Andai wajah kami tak sama, mungkin aku
tak akan semalu ini.
“sensei,
Suke-kun. Dia kenapa?” Mikoto salah satu temanku berteriak.
Sontak
mataku tertuju pada Suke dan tubuh Suke terhenti di tengah-tengah kolam renang.
Aku langsung terjun ke bawah dan menuju tubuh Suke.
Sial !! ada apa dengan Suke?!!
Ku
tarik tangannya dengan cepat. Sensei mebantuku mengambil Suke dan mengangkatnya
ke pinggir kolam renang. Dia memberikan Suke nafas buatan dan membawanya ke ruang
kesehatan. Karena khawatir, aku menemaninya kesana. Mi-chan terlihat khawatir
juga dan bermaksud mengikutinku tetapi sensei melarangnya dan meminta kelas
untuk diteruskan.
.
.
.
Sudah
satu jam aku di ruang kesehatan menunggu Suke untuk sadar. Sensei menyarankan
aku menelepon ibu namun aku tak mau. Bisa-bisa aku dihajar olehnya dan aku tak
mau membuatnya khawatir sampai jatuh sakit lagi.
“hei,
Suke. Mau kah kau berganti raga denganku? Aku ingin sesekali jadi dirimu”
Aku
berbicara sendiri dengan tubuh Suke yang masih tertidur. Sepertinya aku sudah
mulai gila. Gila karena tugasku yang akan aku takuti, jikalau ini akan terus
terjadi tanpa akhir.
“kak
…”
Suke
mulai mulai bersuara dengan lemah dan membuka matanya.
“Suke,
kau sudah sadar? Tadi kau tiba-tiba pingsan saat berenang. Sebenarnya kau
kenapa?” aku membantunya untuk bangkit duduk.
“aku
… entahlah … kepalaku sakit sekali kak..”
“sakit?”
“ya,
saat aku berenang tadi.. bayangan itu muncul lagi…”
“bayangan?
Bayangan apa?”
“aku
tak tahu, yang aku ingat, aku seperti mendengar teriakan suara seorang wanita,
dan barang-barang yang terpecah belah”
“hey
hey, jangan membuatku takut. Mungkin itu hanya halusinasimu. Mungkin kau
khawatir karena takut kakek akan memindahkanmu keluar negeri”
“mungkin
saja kak. Tapi …”
“Suke,
ngomong-ngomong soal itu, apa kau akan menyetujui kakek, kalau dia akan
memindahkanmu keluar negeri?” aku bertanya dan berharap Suke menjawab ‘ya’
“dan
berpisah lagi denganmu? Meninggalkan Mi-chan sendirian di Jepang?? Tentu saja
tidak kak” sesuai dengan dugaanku.
“begitu”
“kak,
aku tak mau lagi terpisah denganmu. Kita sempat beberapa tahun terpisah saat
kau ke Amerika dulu. Aku sangat kesepian di rumah. Apalagi semenjak ayah
meninggal. Rumah terasa semamin sepi”
“ya,
aku juga merasa begitu. Apalagi aku tak sempat bicara dengan ayah di saat-saat
terakhirnya”
“kak
…”
“ada
apa??”
“apakah
aku … akan mati??”
“apa
maksudmu? Semua orang juga pasti akan mati termasuk kau dan aku”
“bukan
begitu. Aku… entah kenapa ada yang aneh pada diriku. Aku terlihat semakin lama
semakin lemah … kak … aku…. Aku takut.. aku ..”
“sudahlah
Suke. Kau tak sakit. dank au tak lemah. Kau hanya kurang terlatih untuk menjadi
kuat” aku sedikit menghiburnya. Menutupi rasa bersalahku soal Mi-chan tempo
hari.
“arigatou,
Nii-chan” Suke tersenyum padaku. Senyum yang amat sangat tulus.
“Suke,
kau taka pa-apa?” Mi-chan datang dengan tergesa-gesa dan segera memeluk Suke.
Kelas renang telah selesai dan saat ini adalah saat istirahat
“aku
taka pa-apa sayang” Suke menenangkan Mi-chan.
“yokatta
. Suke, aku memmbawakan apel untukmu. Kubeli di kantin tadi. Biar aku yang
kupasi ya”
“un,
arigatou Mi-chan” Suke tersenyum padanya.
Mi-chan
mengambil sebuah pisau kecil dan mengupas apel itu di samping Suke. Suke
tersenyum melihat pacarnya memanjakannya. Dia tersenyum terus dan matanya
tertuju pada apel itu. aku memperhatikan arah mata Suke yang lama kelamaan
sedikit kosong. Aneh, suke tak pernah
seperti itu. dia terus memperhatikan cara Mi-chan mengupas apel dan terdiam.
Mulutnya sedikit bergumam tanpa suara. Mi-chan tak menyadari hal itu.
“Suke,
doushite?”
Suke
terdiam tak ada reaksi.
“Suke
…”
“aaarrghhh
…” Suke tiba-tiba mulai merintih kesakitan. Dia terus memegangi kepalanya.
“Suke,
kau kenapa?” Mi-chan menjadi panic.
Suke
terus berguling di kasurnya. Sensei segera masuk bilik kami karena erangan
Suke. Sensei memegangi tangannya namun Suke memberontak. Akhirnya dia memberikan
Suke sedikit obat penenang hingga Suke tertidur.
“Ryo-kun.
Sebaiknya orang rumahmu harus diberitahu hal ini. dan kita harus membawa Suke
ke rumah sakit.”
.
.
.
.
“Ryo
… Suke … bagaimana dia??? Bagaimana adikmu???” Ibu berlari dengan sempoyongan
ke arahku. Aku sedang menunggu Suke di depan kamarnya bergantian dengan
Mi-chan. Dia khawatir dengan keadaan Suke dan memaksaku untuk bergantian
dengannya menjaga Suke di kamar sampai ibu dan kakekku kesini.
“dia
taka pa-apa. dokter bilang dia perlu istirahat yang banyak”
“aku
mau ke dalam …” ibu sepertinya tak mendengar omonganku.
Sesaat
Mi-chan keluar dan memberi salam pada ibuku.
“bibi,
Selamat malam”
“kau…
siapa kau ..”
“ah
dia teman sekelas Suke bu” aku segera berbohong. Member kode pada Mi-chan untuk
tak memberitahu hubungan mereka dan sepertinya Mi-chan mengerti.
“begitu
. terimakasih karena telah menjaga Suke” ibuku membungkuk padanya mengucapkan
terimakasih. “tapi … aku ibunya. Aku sangat khawatir padanya…”
Ibu
segera masuk tanpa menghiraukan kami. Karena khawatir aku masuk mengikuti ibu.
Ibu duduk di samping Suke yang masih tertidur dan diberi selang oksigen. Aku
tak mengerti kenapa, tapi dokter bilang dia harus diberi oksigen yang cukup.
Ibu
mengelus-elus kepala Suke. Mencium keningnya dan sedikit menangis. Aku tak
tahan melihat ibu seperti ini. hey Suke, ayo bangun !! buat ibu kita
bersemangat lagi. Ayo bangun !! apa kau tak kasihan pada ibu???
Seolah
mendengar jerita dalam hatiku, tangan Suke bergerak perlahan. Mengikuti
gerakkan kepalanya. Wajah ibu berbinar melihat anak kesayangannya itu mulai
bangun.
“su..
suke .. kau sudah siuman” suara ibu berbisik di telinga Suke. “ini ibu nak …”
Suke
mulai membuka matanya. Melihat ke sekeliling ruangan dan juga pada ibu. Ibu
mengenggam tangannya dan tersenyum pada Suke.
Suke membanting genggaman tangan
ibu
Dia
melipat kakinya, menjauhi ibu kami dengan wajah yang sangat ketakutan. Aku
kaget. Sakit apa Suke sebenarnya?
“kau
…. Kau …” Suke mulai bersuara.
“Suke…
kau kenapa?”
“kau
… kau …” Suke menjauh dari tubuh ibu.“ PERGI !! PERGI KAU !!” Suke membentak
ibuku yang lemas melihat keadaannya.
“Suke
kau kenapa? itu ibu kita” aku berusaha membuat Suke tenang
“PERGI
KAU !! PEMBUNUH !! DASAR SETAN PEMBUNUH !!!” suke memelukku dengan wajah
ketakutan.
“Suke
.. sadarlah … kau kenapa??? dia ibu kita …” genggaman tangan Suke semakin kuat
di lenganku
“KAK,
DIA YANG MEMBUNUH AYAH KITA !! DIA YANG MEMBUNUH AYAH KAK …. !!!!”
Aku
sangat kaget mendengar kalimat Suke itu. seketika melihat wajah ibu. Ibu
terdiam. Menangis dan tubuhnya melemah. Suke masih memberontak menjauhi ibu. Seolah
ia sedang melihat seorang iblis yang akan mencabut nyawanya.
“Ryo
… kenapa ribut sekali?”
Kakek
dan dokter segera datang menghampiri ruangan ini yang semakin ribut oleh
berontakan Suke. Dokter meminta kakek untuk membantuku memegangi tubuh Suke
yang mengamuk. Ia menyuruh seorang suster menyiapkan suntikkan dan obat
penenang. Dengan cepat dokter itu sedikit memakai kekerasan untuk melawan
tenaga Suke yang lumayan kuat dan memasukkan jarum suntikan ke tubuhnya. Beberapa
detik kemudian Suke tertidur kembali. seluruh ruangan menjadi tenang.
“Su…Suke
… kenapa… kenapa dia jahat sekali padaku???”
Ibu
terduduk melihat Suke yang telah terbius. Ia menangis lagi. Kakek memeluknya. Aku
hanya memandangi mereka, tak mengerti apa yag sebenarnya terjadi di masa lalu. Siapa
yang benar? Siapa yang mengarang? Apakah Suke hanya berkhayal karena efek dari
penyakitnya? Tak mungkin kan? tak mungkin ibu .... yang ….
To be continued


ceritanya mulai dapat dipahami :)
ReplyDeletelanjut y