Pages

Guardian Angel by Hikari Natsumi



Tittle                : Guardian Angel
Categories       : Oneshoot
Genre             : Romance, Angst, Friendship
Rating             : PG 13
Theme Song    : Kyuh Yun-Hope is A Dream That Doesn’t Sleep (inspirasi)
Author : Miftahul Hasanah (Hikari Natsumi—aku ndiri)
           
            -Umur : 15th
            -Alasan Mengikuti Lomba : Ingin mencoba pengalaman baru ^^
Cast                 : Kota Yabu (Main character), Michi Fujiro (Main character), Kei Inoo, Daiki Arioka, Hikaru Yaotome, Yuya Takaki, Yuuri Yabu (OC), Risako Nami (OC), Yabu no Otousan to Okaasan.
Synopsis           : pengorbanan seorang gadis demi menyelamatkan malaikat pelindungnya.... .

**********************************************************
The flowers cut and brought inside
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you’re free

          Yabu berdiri jauh dari pemakaman kekasihnya. Berharap hari itu adalah sebuah drama yang akan segera berakhir. “Terimakasih Michi. Aishiteru. Aishiteruyo.”
(flashback)
          “Yabu..” panggil gadis cantik yang terbaring lemah di atas kasur yang berbalut cover bedputih.
          “Michi.. kau sudah sadar? Syukurlah. Sebentar akan kupanggilkan dokter.” Saat yabu hendak beranjak dari tempat duduknya, Michi menarik lengannya. Seakan tak membiarkan kekasihnya pergi. “Doushitano?”
          “Jangan pergi! Temani aku sebentar saja Yabu!” pinta Michi.
          Yabu tersenyum simpul dan mengusap lembut kening Michi. “Baiklah..” Yabu kembali duduk di samping tempat tidur Michi.
          “Yabu...”
          “Hmm?”
          “Kufikir..semua ini akan sia-sia.”
          “Apa yang kau maksud?” Yabu menatap kekasihnya dengan penuh pertanyaan.
          “Sebelumnya.. terimakasih karena kau telah menemaniku selama ini. Terimakasih karena kau telah menjadi malaikat pelindungku selama ini. Terimakasih telah menghiasi hidupku Yabu.” Michi tersenyum dan memandangi wajah kekasihnya yang masih kebingungan.
          “Tidak perlu berterimakasih. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai calon suamimu.”
          Michi terlihat diam sesaat. “Kau akan menyesal Yabu.”
          “Menyesal.. nande?”
          “Karena kau telah memilih wanita lemah dan tidak berguna sepertiku. Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk hidup di dunia yang keras ini.” Raut wajah Michi berubah. Bagi Yabu, hanya dengan perubahan raut wajah kekasihnya saja, itu dapat membuat hatinya sakit.
          Yabu menggenggam tangan Michi dan mengecupnya. “Ssstt.. jangan berkata seperti itu. Aku, Kota Yabu. Bersumpah akan selalu berada di samping Michi Kawaguchi dalam keadaan suka maupun duka. Selalu menjaga Michi, selalu melindunginya dari apapun. Aku bersumpah, aku rela mati untuk melindungi Michi, untuk mengembangkan senyum Michi, untuk membuat Michi bahagia selamanya. Aku bersumpah akan menjadi ayah yang baik bagi anak-anakku dan Michi kelak. Akan menjadi suami yang bertanggung jawab dan tidak akan membiarkan keluarganya dalam kesusahan. Aku bersumpah akan hidup bersama Michi hingga maut yang memisahkan.” Michi yang mendengar sumpah Yabupun tidak kuasa menghalau air matanya. Yabu yang melihat kekasihnya itu hanya bisa tersenyum bahagia dan memeluk Michi dengan erat seakan tidak ingin membiarkan kematian untuk mengambil kekasihnya.
          “Arigatou Yabu.. hiks,, hiks,,”
          “Douita honey..” Yabu mengusap lembut kepala kekasihnya dan mengecup keningnya.
          11 menit lamanya mereka berpelukan. Yabu mulai merasakan kejanggalan. Pelukan Michi tak seerat sebelumnya. Dan tubuhnya sangat lemas.
          “Michi!” panggil Yabu. “Sayang.. Michi.. kau kenapa?” Yabu melepaskan pelukannya dan melihat kekasihnya mengeluarkan darah pada hidungnya. “Oh Kamisama Michiiii bangun Michi.. Michi bangun sayang. Jangan bercanda! Michi bangun!” Yabu menekan tombol darurat yang berada di meja dekat Tempat tidur.
          “Michi banguuunn!!! Bangun sayang! Ayo bangunlah kumohon..” Yabu menggoyang tubuh kekasihnya berkali-kali.
          Tidak lama kemudian, dokterpun segera masuk ke dalam ruang ICU yang ditempati Michi. “Tuan tolong keluar sebentar!” pinta seorang suster yang membawa berbagai alat dokter tersebut.
          “Tapi suster.. aku harus menunggunya.”
          “Tuan, saya mohon keluar sebentar! Biar dokter memeriksanya.”
          Yabu menghampiri dokter yang sedang memakai stetoskop “Dokter, tolong selamatkan tunangan saya dokter! Tolong dok!”
          “Akan saya usahakan Tuan. Silahkan tunggu sebentar di luar.”
          Yabupun keluar dari ruang ICU. Dengan langkah gontai dia menuju ruang tunggu. Yabu terduduk lesu. Kakinya yang selama ini membawanya kemana-mana seakan tidak berfungsi, fikirannya berkecamuk tak tentu arah, isakannya mulai terdengar, isakan yang dalam dan menyakitkan.
          “Hiks.. hiks.. hiks.. Michi.. bertahanlah sayang! Hiks.. hiks.. Kamisama aku mohon jangan ambil nyawanya. Kamisama aku mohon jangan ambil nyawanya.. hiks.. hiks.. Kamisama Onegaishimasu. Onegaishimasu. Onegai.. entah kenapa di saat yang memilukan itu, dia merasakan rasa sakit di bagian perutnya. Yabu meringis kesakitan entah ada apa dengan dirinya. “Arrghh itai..”ucapnya sambil memegangi perutnya. Rasanya ada sesuatu yang ditusuk tusukkan ke perutnya. Kepalanya berdenyut, cengkraman tangan pada bajunya semakin kuat, pandangannya kabur dan semua berputar, Yabu memejamkan matanya sekuat mungkin. Dia membuka matanya dan segalanyapun menjadi gelap.
          Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan Michi. Dokter itu mencari-cari Yabu yang ternyata tertidur dengan pipi basah dan wajah yang memilukan di samping deretan kursi untuk menunggu pasien. Dokter itu menghampiri Yabu yang terkulai lemas. ‘Kasian sekali pemuda ini’ batin sang dokter.
          “Tuan.. bangunlah tuan!” dokter tersebut menyentuh pundak Yabu. Namun, tidak ada balasan sama sekali. “Tuan.. bangun tuan!” dokter itu berjongkok tepat di depan Yabu dan menyentuh wajah pemuda itu. Ekspresi datar sang dokter langsung berubah seketika saat dia merasakan ada yang tidak beres dengan pemuda itu.
          “Suster! Cepat kemari suster! Bawakan kursi roda!” dokter itu berteriak dengan nada khawatir.
          Beberapa saat kemudian datang beberapa suster yang segera membawa Yabu ke ruang UGD.
                                  *****SKIP*****
          Yabu membuka perlahan matanya, merasakan masih ada sesuatu yang menusuk perutnya walaupun tidak sesakit yang tadi. Sinar matahari pagi yang telah membangunkannya. Dia melihat sekeliling dan menemukan sebuah buket bunga dan juga kakak perempuannya yang tertidur pulas di atas sofa.
          ‘Apa yang terjadi?’ tanyanya dalam hati.
          “Uuunnggghhh...” Yabu menoleh ke arah kakaknya yang terbangun. Tatapannya sayu.
          “Kouchan kau sudah bangun.” Kakak Yabu segera mmenghampirinya. “Syukurlah kau sudah sadar Yabu. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Dia menggenggam tangan adiknya sangat erat. Hangat, itulah yang dirasakan Yabu.
          “Oneechan.. ada apa denganku? Sejak kapan aku terbaring di sini?”
          “Sudah tiga hari kau tak sadarkan diri Kouchan. Kau pingsan saat berada di ruang tunggu rumah sakit.”
          Yabu terdiam sejenak. “Untuk apa aku berada di ruang tunggu rumah sakit oneechan?” Yabu menatap kakaknya dengan penuh kebingungan.

          Kakaknya tersenyum kecil “Tentu saja untuk Michi. Siapa lagi. Kau yang selalu bersikeras untuk menjaganya, bukan? Apa kau lupa?”
          “Dare? Michi? Dia... siapa?”
          Yuuri, kakak Yabu, benar-benar terkejut dengan pertanyaan adiknya. “Kau tidak kenal dengan Michi? Dia tunanganmu Yabu! Apa saat kau pingsan ada yang mengotak-atik otakmu?”
          “Tunangan? Kapan aku mempunyai tunangan oneechan? Bukannya otousan mau menjodohkanku?”
          “Kau sakit ya Kou?” Yuuri menyentuh dahi adiknya. “Kau tidak demam. Apa kau salah makan? Jangan-jangan kau jajan sembarangan lagi ya sebelum pingsan? Kau menolak perjodohan itu Kouchan. Kau pergi dari rumah bersama Michi karena otousan tidak menyetujui hubungan kalian. Kami sekeluarga telah mencarimu kemana-mana. Sampai suatu hari, okaasan yang sekarang berada di Mexico bersama otousan, mendapat telfon dari rumah sakit ini dan mengabarkan bahwa kau pingsan dan sakit keras. Mereka langsung menghubungiku dan mengatakan tentang keadaanmu.”
          Yabu masih terdiam. Tidak paham dengan apa yang baru saja dikatakan kakaknya.
          “Kau tidak hilang ingatankan? Michi adalah gadis yang sangat kau cintai. Michi adalah gadis yang menderita kelainan pada jantungnya. Sebab itulah otousan tidak menyetujui hubungan kalian.” Raut wajah Yuuri semakin khawatir.
          Yabu mencoba mengingat siapa gadis yang bernama Michi tersebut. Namun tiba-tiba dia merasakan sakit di kepalanya. “Arrghh itai.. itai..” Yabu meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
          “Kouchan! Doushitamashita? Kau kenapa?” Yuuri panik, tentu saja, dia panik setengah mati dan segera memencet tombol darurat. “Kouchan kau kenapa?”
          Beberapa saat kemudian dokter datang, “Suster tolong ambilkan obat penenang!”
          “Kouchan.. hiks.. kau kenapa Kouchan.. hiks..hiks... Kouchan!” tangis Yuuri pecah.
          Dokter segera menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh Yabu. Obat penenang itu bekerja sangat cepat, Yabupun langsung terhanyut dalam tidurnya.
          “Dokter.. ada apa dengan adik saya?” tanya Yuuri.
          “Kita bicarakan di luar saja nona!”
          Yuuri menatap wajah letih adiknya dan mengecup lembut kening adiknya.
          Di luar ruang UGD, dokter menjelaskan tentang keadaaan Yabu kepada Yuuri.
          “Apakah.. dia pernah terserang kanker sebelumnya?”
          “Ya dok. Dia pernah terserang kanker hati sebelumnya. Tapi, itu sudah lama sekali dan sudah sembuh.”
          Dokter tersebut terlihat berfikir sejenak. “Apakah dia mempunyai maag?”
          “Memangnya kenapa dok? Yah.. dia mempunyai maag, tapi itu maag ringan.”
          Dokter itu terlihat memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya. “Seperti yang duga. Tuan Yabu mengidap kanker hati. Dan kanker itu mulai menyerang otaknya.” Suara dokter itu melemah.
          “Tidak mungkin.” Yuuri menutup mulutnya untuk mencegah isakan tangisnya. “Bagaimana bisa dok? Bagaimana bisa?”
          “Kalau menurut saya,karena Tuan Yabu sering kelelahan dan maagnya sering kambuh, kanker itu kembali. Maag Tuan Yabu tidak dapat dikategorikan sebagai maag ringan lagi nona. Sehingga Maag tersebut menimbulkan kanker untuk kesekian kalinya. Dan karena kanker tersebut mulai menyerang otak, Tuan Yabu akan mengalami hilang ingatan ringan. Biasanya orang yang akan dilupakan adalah orang yang bener-benar sangat disayangi oleh pasien.”
          “Apakah ada cara untuk menyembuhkannya dok?”
          “Hanya ada satu nona, donor hati. Namun, sekarang ini sangatlah sulit untuk mencari seorang donor hati. Karena donor hati dapat menghilangkan nyawa pendonornya. Pihak rumah sakit akan ikut membantu nona untuk mencarikan donor hati yang tepat. saya ikut berduka atas hal ini. Saya permisi dulu nona!” dokter itupun pergi meninggalkan Yuuri yang hanya diam dalam isak tangisnya.
                          ******SKIP******
          Keesokan harinya, Yuuri mendatangi kamar Michi. Ketika dia membuka pintu, dia menyadari satu hal. Michi semakin terlihat berbeda. Aura yang dipancarkannya tak sebahagia yang dulu.
          “Michi.. ohisashiburi!”
          Michi melihat Yuuri yang berdiri di ambang pintu. “Yuuri Oneesan ohisashiburi desunee..silahkan masuk!”
          Yuuri tersenyum dan menghampiri Michi. “Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat semakin kurus Michi. Apakah kau jarang makan? Adikku tidak mengurusmu dengan baik ya?” canda Yuuri.
          “Chigau.. bukan karena itu oneesan. Yabu benar-benar telah merawatku dengan baik selama ini. Tapi aku heran, sudah 3 hari dia tidak menjengukku. Oneesan tidak akan mengambilnya pergikan?” Michi menatap Yuuri dengan tatapan khawatir.
          “Tenang Michi.. aku menyetujui hubungan kalian sejak awal. Aku sangaaaaaattt menyetujuinya. Kau tau, bahkan aku pernah menghayal aku sedang menggendong keponakanku.” Yuuri tersenyum. Namun, sinar matanya tetaplah redup.
          “Oneesan, ada apa datang kemari?”
“Aku ke sini untuk membicarakan tentang  keadaan Kouchan. Kuharap kau bisa menerima apa yang akan kukatakan.” Yuuri mulai bersikap serius. Jujur, dia tidak sanggup untuk mengatakan hal ini. Dia takut keadaan Michi akan semakin memburuk.
          “Yabu? Dia baik-baik sajakan oneesan?” tersirat kekhawatiran di cahaya mata Michi.
          Yuuri menghela nafas dengan beratnya. Mau tidak mau, dia harus mengatakannya. “Kouchan.. dia.. terserang kanker.”
          Suasana ruangan Michi hening seketika. “Kanker ya?!” suara Michi memecah keheningan. Yuuri menghela nafas berat dan menganggukkan kepalanya.
          Michi tersenyum pahit. Seakan tidak cukup cobaan yang dihadapinya. “Lalu? Bagaimana keadannya?” Michi bertanya sedatar mungkin. Dia tidak ingin memperburuk keadannya. Yabu yang telah mengajarkannya bagaimana cara mengendalikan perasaan. Yabu telah mengajarkan banyak hal kepada Michi. Itulah yang sangat dikagumi Michi dari Yabu. Yabu telah mengajarkan banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan.
          “Kankernya.. hiks...” terdengar isakan kecil dari Yuuri.
          “Teruskan oneesan!” Michi sudah berlinangan air mata. Tapi, dia tetap berusaha untuk mengendalikan perasaanya.
          “Kankernya mulai menyebar ke otak. Dan...” Yuuri menghela nafas berat  untuk kesekian kalinya. “Hiks.. hiks.. dia mengalami hilang ingatan Michi.”
          Michi merasakan ada petir yang menyambar dirinya. Petir itu seakan menusuk langsung tepat pada jantungnya yang sekarang ini sedang susah payah dikendalikan oleh si pemilik. Petir itu menyerap seluruh tenaga Michi yang tersisa. Menghancurkan segala harapan yang telah dia bangun bersama Yabu selama ini. Air matanya tak terbendung lagi. Michi menangis dalam kebisuan. Dia menggenggam erat tangan yang lain, diletakkannya di depan dada.
          “Kouchan.. tidak mengingat apapun hiks.. tentang..dirimu Michi..hiks.. hiks.. gomen, gomen ne, gomen michi!”
          “Apa-apaan ini? Kamisama, kenapa kau melakukan ini? Kamisama kenapa kau melakukan ini pada orang yang aku cinta? Apakah Yabu melakukan kesalahan? Kamisama kenapa kau lakukan ini?” Michi berteriak sejadi-jadinya. “Hiks.. hiks.. hiks.. Kamisama.. hentikan semua ini! Aku tidak kuat Kamisama.. apa kau belum puas membuat hidupku semenderita ini?”
          “Michi... jangan berkata seperti itu Michi! Hiks.. Michi..”
          “Nande? Kenapa aku tidak boleh berkata seperti itu? Hiks.. Kamisama tidak adil. Dia benar-benar tidak adil. Kenapa dia membuat hidupku semenderita ini oneesan? Hiks.. hiks.. Kamisama.. hentikan semua ini hiks.. hiks.. onegaishimasu!”
Yuuri memeluk tubuh Michi yang terguncang hebat. “Michi, jangan seperti ini!”
          “Oneesan.. apa yang harus kulakukan? Hiks.. hiks.. aku sangat mencintainya oneesan..” Michi membalas pelukan Yuuri dengan erat.
          Michi tidak habis pikir, apakah ada cobaan yang akan menimpanya lagi nanti? Kenapa Tuhan belum puas menguji dirinya? Sekarang ini, dia tidak peduli dengan kesehatannya. Dia meyakinkan dirinya bahwa dialah yang akan membantu malaikat pelindungnya itu sembuh. Sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya, dia pasti akan rela. Asal Yabu bahagia, dia akan mengorbankan semua yang dimilikinya.
                                           *******SKIP******
(Universitas Waseda)
          “Baiklah saya akan mengajukan beberapa pertanyaan bagi kalian. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya, maka dia akan mendapat kesempatan untuk tour di beberapa universitas lain di Jepang, diantara lain Universitas Tokyo, Universitas Internasional Sophia, Universitas Meiji dan masih banyak lagi.” Ucap Kitagawa sensei yang sedang mengajar di kelas Yabu. “Sebelumnya, saya akan mengabsen kalian terlebih dahulu.” Kitagawa sensei mengambil buku absen dari dalam tasnya dan mulai mengabsen.
          “Arioka Daiki?”
          “Hadir sensei.” Ucap lelaki chibi itu sambil mengangkat tangan kanannya.
          “Inoo Kei?”
          “....” pria berwajah cantik nan pintar itu hanya mengangkat tangannya.
          “Takaki Yuya?”
          “Selalu hadir sensei.”
          “Yaotome Hikaru?”
          “Hadir.”
          “Yabu Kota?” tidak ada jawaban. “Yabu Kota?” sensei memanggilnya sekali lagi. “Dimana Yabu Kota?”
          Daiki mengacungkan tangannya, “Sensei, dia sudah 4 hari tidak masuk.”
          “4 hari? Ada yang tau dia kenapa?”
          “Tidak ada keterangan sensei.” Jawab Daiki selanjutnya.
          Setelah mengabsen 20 murid yang berada di kelas tersebut, Kitagawa sensei mengajukan beberapa pertanyaan.
*******SKIP********
(Pulang Sekolah)
          Daiki sedang membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. “Anoo Hikaru! Apa kau benar-benar tidak tau dimana Yabu sekarang?”
          Hikaru yang sedang membenahi sepatunya menoleh ke arah Daiki. “Entahlah Daichan. Dia memang suka menghilang.”
          “Kenapa aku merasakan firasat buruk ya?”
          “Itukan hanya perasaanmu!” celetuk Kei.
          “Hei kau! Aku benar-benar merasakan hal buruk sedang terjadi.”
          “Akukan sudah bilang, itu hanya perasaanmu. Lagi pula, bagaimana bisa orang sepertimu mempunyai perasaan? Cihh lucu. Ha  ha  ha.” Tandas Kei. Dia memang terkenal dengan sifat dingin dan kata-katanya yang pedas. Namun, semuanya tau bahwa dia itu sebenarnya sangatlah peduli.
          Tiba-tiba terdengar suara ‘BRUG!’ kontan, Hikaru, Kei, dan Daiki menoleh ke arah sumber suara tadi. Terlihat Yuya yang sedang kesusahan berdiri karena posisi badannya berada di antara kursi dan meja, namun kakinya berada di atas meja.
          “Anak bodoh! Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kei dengan dingin.
          “Diamlah! Tidak usah bertanya jika ujung-ujungnya kau mengataiku ‘bodoh’. Kaulah yang bodoh! Aku sedang jatuh tidak dibantu malah dipelototin.” Runtuk Yuya.
          “Baka Takaki. Hahahahah!!!!” Hikaru tertawa keras diikuti oleh Daiki. Sedangkan Kei hanya berlalu begitu saja. Hikaru dan Daiki segera membantu Yuya.
          “Kenapa kau bisa jatuh seperti itu?” Hikaru mengusap air matanya yang keluar gara-gara menertawakan Yuya.
          “Aku tadi hanya tertidur.”
          “Hahahahahah Yuyan benar-benar bodoh. Hahahaha!” Daiki terus tertawa sampai sebuah jitakan mendarat ke kepalanya.
          “Itaii,,, kenapa kau memukulku?” Daiki mengelus-elus kepalanya dengan gayanya yang imut.
          “Ekspresimu itu sangat kawaii Daichan.” Hikaru mencubit pipi gembul Daichan.
          “Berhenti mencubit pipiku!”
          Yuya tersenyum datar. “Oiya, apa kalian tidak ada niat menjenguk Yabu?”
          “Menjenguk Yabu? Dia sakit? Kenapa kau tidak mengatakannya kepada sensei tadi? Kau ini benar-benar baka!”
          “Berhentilah mengataiku ‘bodoh’  chibi! Kalau aku bodoh, aku tidak mungkin bisa masuk Universitas Waseda. Aku sengaja tidak memberitahukan hal ini pada sensei dulu.” Yuya menduduki meja dan menaruh kakinya di sebuah kursi.
          Hikaru ikut duduk di sampingnya. “Nande?”
          “Aku tidak berselera mengatakannya pada sensei. Untuk apa aku mengatakannya?”
          “Tentu saja supaya dia tidak diskors yuyaaaaaaaaannnn!!” Daiki berteriak sekencang-kencangnya di telingan kanan Yuya.
          “Chiiibbbiiiiiiii hentikanlah sikapmu yang menyebalkan itu!” Yuya membalas perbuatan Diki dengan berteriak kembali ke telinga Daiki.
          “Itu karena kau baka.”
          “Sudahlah.. Yuyan, apa kau tau di mana Yabu?” sahut Hikaru.
          “Yang sakit itu sebenarnya bukan Yabu. Tapi Michi.” Jawab Yuya yang menggosok-gosok telinganya karena entah kenapa masih ada bunyi dengungan gara-gara teriak Daiki barusan.
          “Michi? Dare?”
          Daiki yang sedang menggosok-gosok telinga, akibat teriakan yuya, angkat bicara, “Dia itu pacarnya Yabu. Bisa dibilang calon istri Yabu.”
          Pernyataan itu berhasil membuat mata Hikaru yang tidak begitu lebar, membulat sempurna, sebulat maka Daiki. “Serius? Yabu udah punya pacar?”
          “Sepuluh rius. Kalau aku tidak salah ingat, hubungan mereka tidak direstui orang tua Yabu, sehingga Yabu membawa Michi kabur bersamanya. Michi, dia itu adalah anak dari keluarga konglomerat yang mempunyai cabang perusahaan di 37 negara. Ibunya telah meninggal 11 tahun yang lalu dan Ayahnya menikah lagi. Sayangnya ibu tirinya sangat tidak menyukai Michi. Suatu hari ayahnya terkena stroke, sehingga kekuasaan berpindah ke tangan ibu tiri Michi. Ibu tirinya berniat membuang Michi karena Michi dianggapnya tidak berguna. Michi mengidap kelainan pada jantung sehingga dia tidak bisa kerja berat. Akhirnya, ibu tiri Michi membuangnya ke panti asuhan yang berada di Finlandia.” Daiki menghela nafas. “Kau ingatkan saat Yabu ijin pergi ke luar negri?! Dia pergi ke Finlandia untuk mengunjungi neneknya yang sakit. Nah, di saat itulah Yabu dan Michi bersatu.”
          “Kau stalkerkan?” tuduh Yuya sembarangan sambil menunjuk-nunjuk pipi Daiki.
          “Kau kira aku teroris? Enak saja. Yabu sendiri yang menceritakannya padaku. Sudahlah aku mau pulang dulu.” Daiki menarik tangan Hikaru dan berjalan cepat keluar kelas meninggalkan Yuya yang sibuk membereskan barang-barangnya.
          “Chotto! Daichan! Kenapa kau menarik tanganku? Kalau mau pulang, pulang saja sendiri!” tolak Hikaru.
          “Sudahlah Hikaru, Ayo ikut aku! Hari ini aku diantar sama otousanku, gara-gara mobilku sedang diservice.” Daiki mengeluarkan jurusnya. Puppy eyes dan chubby cheeks-nya yang digembungkan.
          “Hentikan itu!” Hikaru mencubit pipi Daiki. “Hari ini aku ada kencan dengan Nami. Jadi, pulanglah sendiri dan jangan bermanja seperti ini! Karena kau sudah berumur 18 tahun keatas.” Hikaru melepaskan cengkraman Daiki di pergelangan tangannya dan berlalu begitu saja.
          “Hikaru! Baka! Aku pulang dengan siapa?” teriak Daiki.
          Hikaru menghentikan langkahnya dan berbalik mmenghadap Daiki. “Kaukan bisa pulang dengan Yuyan.”
          “Tidak mau! Kalau aku pulang bersamanya nanti aku pasti diturunkan di tengah jalan lagi.”
          Hikaru tertawa sambil memegangi perutnya, “Itu masalahmu! Dasar pinguin!” Hikaru kembali melanjutkan jalannya dan melambaikan tangannya pada Daiki yang masih bingung. “Jyaa Daichan!”
          “Awas saja kau Hikaru! Aku akan merebut Nami darimu.”
          “Omaeeee!” Hikaru berbalik lagi dan berlari ke arah Daiki.
          Daiki berlari sambil tertawa menuju kelasnya. Dia telah memutuskan untuk meminta Yuyan mengantarnya pulang.
                                     ********SKIP********
(Rumah Sakit)
          Yabu baru saja menyantap sarapannya. Dia mengambil segelas air yang telah disediakan di meja dan beberapa obat yang harus diminumnya segera demi kesembuhannya. Lebih tepatnya, untuk mencegah bertumbuhnya kanker yang berada di dalam tubuhnya.
          ‘Tok tok tok’ Yabu mendengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang. “Silahkan masuk!” jawab Yabu.
          “Kouuucchhhaaaaann!!!!” teriak Daiki yang langsung memeluk Yabu, diikuti oleh Hikaru, Yuya, dan Nami yang mengikutinya dari belakang.
          “Eh! Kau?” Yabu sedikit terkejut dengan perlakuan Daiki. “Kenapa kau memanggilku Kouchan?”
          “He he he,, aku hanya ikut-ikut Yuuri oneesan saja kok.” Daiki melepaskan pelukannya dan duduk di sebelah Yabu. “Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat semakin kurus saja. Apa kau mau menjadi seperti tiang bambu? Hah? Kau itu sudah kurus seharusnya kau lebih menjaga kesehatanmu Yabu! Kau masih ingat akukan? Aku Daichan. A-ri-o-ka-Da-i-ki” omel Daiki.
          “Kau seperti ibu-ibu saja Daichan. Tentu saja aku mengenalmu.” Yabu tertawa geli. “Aku baik-baik saja. Sangat malah. Oneechan saja yang berlebihan.”
          Hikaru tersenyum mendengar jawaban Yabu. “Kau juga ingat akukan?”
“Un. Tentu.”
“Ah, Yabu perkenalkan. Ini Nami.” Hikaru nenunjuk ke arah kekasihnya.
          “Risako Nami desu. Yoroshiku onegaishimasu.” Nami membungkukkan badannya di depan Yabu.
          Yabu tersenyum simpul. “Yabu Kota desu. Yoroshiku mo.”
          Selagi mereka berbincang-bincang, Yuyan mengotak-atik barang-barang Yabu yang ada di atas meja dekat sofa, dan dia tidak sengaja menemukan sebuah foto dengan bingkai kecil yang sederhana.‘Nani kore?’ tanyanya dalam hati. Yuyan mengeluarkan foto itu dari bingkai dan membolak-baliknya. “Eh!” kejutnya.
          Yabu dan lainnya spontan langsung menoleh ke arahnya. “Yuyan, doushitano?” tanya Yabu.
          “Uhm.. iie, daijoubu.”
          “Kau tidak melakukan hal anehkan Yuyan?” tanya Daiki yang menyipitkan matanya dan menatap Yuya curiga.
          “Hei chibi, jangan memulainya lagi!”
          Yabu tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Kalian ini dari dulu memang tidak pernah berubah. Ngomong-ngomong, dari mana kalian tau kalau aku sedang sakit?”
          “Yuuri oneesan-lah yang memberitahu kami.” Jawab Hikaru.
          Menyadari tidak ada yang sedang memperhatikannya, Yuya diam-diam keluar dari ruangan Yabu. Dia berjalan menuju ke bagian reception dengan membawa sebuah foto yang dipungutnya tadi. ‘Aku harus bertemu dengan Michi, apa yang sebenarnya terjadi?’ tanya Yuya dalam hati.
          “Sumimasen!”
          “Ada yang bisa saya bantu Tuan?” tanya seorang suster yang mengurus bagian reception.
          “Anoo, dimana ruangan pasien yang bernama Michi Kawaguchi?”
          “Oh, nona Michi berada di ruang ICU untuk sementara ini Tuan.”
          “Ah, baiklah arigatou gozaimasu.”
          Yuya berjalan menuju ruang ICU berharap dapat bertemu  dengan kekasih Yabu dengan segera.
                                           *******SKIP******
Chiisana kata ni shoikonda bokura no mirai wa
Choudo kyou no yuuhi no you ni yureteta no ka naa
          Kei terbangun dari tidurnya. “Mnnnhhh!!” desah Kei ketika menyadari Handphone-nya lah yang telah membangunkannya. Kei meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja. ‘Untuk apa anak ini menelfonku? Mengganggu saja’ gumamnya dalam hati saat menyadari bahwa Yuyalah yang menelfonnya.
          “Hai, moshi mosh! Doushitano? Kau mengganggu tidurku, baka!” ujar Kei yang bangkit dari tempat tidurnya.
          “Gomen. Kei bisakah kau ke rumah sakit sekarang? Ada yang perlu kubicarakan denganmu. Ini penting Kei.”
          Kei mengernyitkan dahinya, “Apa maksudmu? Ke rumah sakit? Kau sakit? Tumben, ternyata kau juga bisa jatuh sakit.” Kei selalu saja bersikap seperti itu.
          “Aku serius Kei. Sekarang juga!”
          “Iya iya bawel!” Kei segera mengganti pakaiannya dan bergegas menuju rumah sakit.
(Sesampainya di rumah sakit)
          “Yuyaaaann!!”
          Yuyan yang saat itu memakaikan headset di telinganya, tidak begitu jelas mendengar suara Kei. Yang dia lakukan hanya melirik ke arah kanan dan menyibukkan dirinya kembali bersama sebuah foto yang dia temukan ditumpukan barang-barang milik Yabu.
          “Takaaakkkiiii!!” Kei berlari ke arah Yuyan. “Kau ini, dari tadi aku sudah menelfonmu, tetapi kenapa kau tidak mengangkatnya?”
          Yuyan tidak mendengarkan omelan yang ditujukan padanya saat itu.
          “Yuya Takakiiiiii! Kau tuli ya?!” Kei menjitak keras kepala Yuyan an berhasil membuat orang itu tersadar.
          “Itaaiii! Inoo baka! Apa yang kau lakukan?” Yuyan mengaduh sambil mengelus-ngelus kepalanya yng terkena jitakan keras dari sahabatnya tersebut.
          “Aku baru saja menjitakmu. Kenapa? Kau mau membalasnya? Ayok!”
          “Tidak. Siapa juga yang mau menjitak kepala anehmu itu!”
          “Omaaeeeee!”
          “Sudahlah, sini duduk!” Yuyan menarik lengan Kei sehingga sahabatnya itu duduk persis di sebelahnya. “Baca Ini!” dia menyodorkan sebuah foto yang terdapat banyak coretan di bagian belakangnya.
          Kei membaca coretan-coretan tersebut, dan ekspresinya berubah seketika. “Nani kore? Di mana kau menemukan ini? Siapa yang menulis ini?”
          “Michi. Kekasih Yabu.” Ucap Yuya datar.
          “Michi?” tanya Kei.
          “Un. Kasian dia. Kau tau? Dia mengidap kelainan jantung dan dirawat di rumah sakit ini.”
          “Dan apa maksudnya dengan ini? Kalau Michi memang kekasih Yabu, kenapa dia menulis catatan seperti ini?”
          “Itu yang membuatku bingung. Apa yang diderita Yabu? Satu hal yang pasti_” ucapan Yuya terpotong oleh Kei.
          “Dia bukan hilang ingatan. Hilang ingatannya disebabkan oleh suatu penyakit. Yah.. dia tidak hanya sakit hilang ingatan, tapi juga menderita penyakit lain yang dapat merenggut nyawanya.” Sahut Kei.
          “Kita harus menemui Michi.”
          “Apa kau tahu ada di mana ruangannya sekarang?”
          “Tentu saja. Yoh!” Yuya dan Kei pergi menuju ruangan Michi untuk meminta penjelasan.
          Sesampainya di depan ruang ICU, Kei dan Yuya mengintip ke dalam ruangan dari celah kaca yang ada di pintu. Mereka melihat seorang gadis cantik yang sedang memandang kosong ke arah jendela. Wajahnya pucat pasi seakan tiada kebahagiaan yang ingin datang menjenguk hidupnya yang kelam.
          “Masuklah lebih dulu!” desak Kei yang menyiku lengan Yuya.
          “Kau saja!”
          “Kenapa harus aku?”
          “Dan kenapa juga harus aku?”
          Mendengar hal itu Kei langsung melotot tajam ke arah Yuya dan berhasil membuat Yuya mengalah. “Baiklah. Aku dulu.”
          “Akhirnya kau mengalah juga.”
          “Aku hanya tidak ingin matamu keluar hanya karena kau sering melototiku.”
          Kei mencubit lengan Yuya sekeras-kerasnya dan berhasil membuat Yuya mengaduh kesakitan.
          “Itai! Apa yang kau lakukan?!”
          “Siapa itu? Masuklah!” Mereka berdua mendengar suara lembut dari dalam ruangan yang tidak lain adalah suara Michi.
          Yuya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Michi dan diikuti oleh Kei yang berada di belakangnya. “Ohayou!” sapa Yuya yang mengangkat tangan kakannya sambil cengar-cengir.
          Michi memasang wajah bingung dan menyapa mereka. “Ohayou gozaimasu!” Michi menundukkan kepalanya. “Anata wa dare?”
          “Hajimemashite. Boku wa Takaki Yuya desu. Kochira wa Inoo Kei desu.” Kata Yuya sambil menunjuk ke arah Kei.
          “Ada yang bisa kubantu? Silahkan!” Michi mempersilahkan Yuya dan Kei untuk duduk di sofa.
          Mereka berdua menuruti kata-kata Michi. “Anoo kimi wa...”
          “Atashi wa... Michi.”
          “Anoo, kami adalah teman dekat Yabu.” Yuya memulai percakapan.
          “Yabu? Bagaimana keadaannya?”
          “Baik. Dia baik-baik saja.” Sahut Kei.
          Michi menerawang ke arah luar. “Bukan baik, tapi masih baik. Aku tak menyangka dia bisa melupakanku. Hanya aku. Dan kenapa harus aku? Dasar penyakit sialan.” Runtuk Michi yang masih memasang ekspresi datar.
          Yuya dan Kei saling menatap saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Michi. “Hanya melupakanmu?” tanya Yuya.
          “Penyakit sialan?” tanya Kei.
          Michi kembali memandangi  mereka berdua. “Ada apa dengan ekspresi kalian?”
          “Uhm.. Michi, sebenarnya Yuuri oneesan hanya memberitahu kami bahwa Yabu hanya menderita hilang ingatan ringan saja. Jadi kami berdua tidak mengerti dengan perkataanmu barusan.” Yuya menatap Kei untuk melanjutkan kata-katanya.
          “Dan apakah Yabu hanya melupakanmu? Bagaimana bisa? Dan apakah penyakit sialan yang kau maksud itu hilang ingatan?” lanjut Kei.
          “Chigau! Kau salah! Yabu..” Michi terdiam. Sebenarnya, dia masih tidak menyangka semua ini akan terjadi. Yabu yang sekarang ini telah melupakannya. Orang yang telah menyelamatkannya dari kehidupan yang kejam, sekarang sudah tidak ada lagi.
          “Kau kenapa? Apa yang terjadi pada Yabu?”tanya Yuya menyelidik. Namun Michi tetap diam saja.
          “Hei kau! Jawab pertanyaanku apa yang terjadi pada Yabu?”
          “Yuya, tenanglah!” sergah Kei. Yah.. disaat tertentu, hati dinginnya dapat berubah menjadi hati malaikat. Dan Kei akan menjadi orang yang sangat lembut.
          “Michi, bisakah kau memberitahu kammi apa yang sebenarnya terjadi pada Yuya?” tanya Kei dengan pelan.
          Michi kembali menatap ke arah keluar jendela dengan tatapan yang menerawang. Mereka bertiga lenyap dalam kesunyian, tidak ada satu orangpun yang ingin bertanya lagi, entah itu Kei, maupun Yuya.
          “Maaf jika kita hanya mengganggumu di sini! Kami pamit!” Kei berdiri dan menarik tangan Yuya.
          “Apa yang kau lakukan?”
          “Ikuti saja aku!” bisaik Kei di telinga Yuya.
          Mereka berdua berjalan keluar ruangan dengan perlahan. Namun, beberapa saat kemudian, mereka mendengar isakan kecil yang bahkan dapat menyayat hati mereka. Michi menangis. Entah kenapa tangisannyapun dapat membuat orang yang mendengarnya mengetahui betapa sakit dirinya saat ini.
          Kei berbalik ke arahnya. “Tunggu di sini!” kata Kei kepada Yuya. Kei berjalan mendekati Michi dan menyentuh pundaknya. “Daijoubu desuka?”
          “Hiks.. hiks.. Yabu.. Yabu menderita kanker hati.. hiks.. hiks..”
          “YAPPARI!” teriak Yuya. Dia langsung berlari keluar dari ruangan Michi.
          Kei melihat ke arah Yuya yang sudah hilang di balik pintu. ‘Apa-apaan dia?!’ ucapnya dalam hati. Kei menoleh ke arah Michi yang masih terguncang hebat karena tangisnya. “Michi..daijoubu?”
          “Semua ini hiks.. karena..aku.”
          “Semua bukan salahmu. Bagaimana kau bisa menyalahkan dirimu sendiri?”
          “Dia terlalu lelah menjagaku.. hiks.. sehingga makannya tak teratur. Maagnya kambuh berkali-kali, tapi aku tak pernah memperhatikan itu. Dia terserang kanker hati yang sekarang mulai menyerang otaknya. Dan dia menderita amnesia ringan. Hiks.. aku benar-benar bodoh! Dia selalu menjagaku dan merawatku dengan baik, dan bagaimana bisa aku.. tidak memperhatikan kesehatannya sama sekali? Aku benar-benar bodoh!”
          “Michi tolong jangan salahkan dirimu! Itu takkan pernah ada gunanya! Sekrang sudah terlambat.” Kei menatap sendu gadis itu.
          “Belum.”
          “Apa yang kau maksud?”
          “Penyakit itu dapat disembuhkan jika ada seseorang yang mendonorkan hatinya untuk Yabu. Dan aku bisa melakukan itu.”
          “Dame! Kau tidak boleh melakukan itu! Jantungmu sudah lemah dan sekarang kau mau hidup tanpa hati. Apa kau sudah gila? Kau tidak akan pernah bisa hidup Michi!”
          Michi berbalik menatap Kei. Ditatapnya sahabat kekasihnya itu. “Kau sahabatnya bukan? Kau tidak ingin membuatnya sedihkan? Tolong jangan beritahu dia tentang ini! Dan jangan beritahukan ini pada siapapun. Termasuk Yuuri oneesan dan temanmu yang tadi.”
          “Gomen aku tidak bisa Michi. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal ini. Kau bisa mati Michi!”
          “Untuk apa aku hidup jika Yabu telah melupakanku? Untuk apa? Kalau saja dia sembuh, apakah dia bisa mengingatku lagi? Kalau Yabu tidak segera mendapatkan donor hati, dia juga akan mati! Dia adalah malaikat pelindungku Kei. Dia tidak boleh mati.”
          “Tapi Michi_”
          “Kau bukanlah Tuhan yang bisa mengatur semuanya! Jika kau dapat menyembuhkan Yabu, aku akan bersujud padamu.”
          Kata-kata Michi berhasil membuat Kei tertegun di tempatnya. Dia tidak menyangka bahwa gadis itu telah mnyerah dengan semua permasalahan yang dihadapinya. “Aku akan membuatnya mengingatmu.”
          “Tidak mungkin!”
          “Mungkin saja.”
          “Jangan mengatakan sesuatu yang hanya menimbulkan harapan sia-sia.”
          “Ini tidak akan sia-sia.”
          “Berhentilah berkata seperti itu. Aku ingin istirahat.” Michi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memalingkan wajah dari Kei.
          Kei menghela nafasnya. “Aku akan tetap melakukannya.”
          “Terserah! Dan aku juga akan melakukan apa yang ingin kulakukan. Kau tidak punya melarangku.” Michi memejamkan matanya, berusaha mengacuhkan Kei yang sekarang masih menatapnya sendu.
          “Jangan pernah melakukan hal bodoh! Aku pamit. Maaf telah mengganggumu.” Kei berjalan keluar dari ruangan Michi.
                                  *******SKIP*******
“Hahahahahaha,, benarkah? Itu benar-benar konyol!” Yabu tertawa mendengar cerita dari Daiki yang sekarang mencoba menghiburnya.
“Dari dulu diakan memang sering begitu. Tertidur di kelas dan jatuh dari kursinya dengan posisi yang menggelikan.”
          “Kau benar Daichan. Aku jadi ingin melihatnya saat jatuh.” Yabu menghapus air matanya karena kebanyakan tertawa saat itu.
          “Eh, Daichan!” panggil Hikaru.
          Daiki menoleh ke arah Hikaru yang baru saja memanggilnya. “Ada apa?”
          “Kemana perginya si Yuyan?”
          “Eh benar juga ya, mungkin dia sedang jalan-jalan ke taman.” Jawab Daiki.
          “Kei mana?” tanya Yabu tiba-tiba.
          “kalau yang kau maksud itu Inoo, mungkin dia sedang tidur di rumahnya. Kenapa? Kangen?” Daiki menggoda Yabu terus menerus. “Iyakan? Kamu kangen sama Inoo?”
          “Sudahlah hentikan itu! Itu tidak lucu!” jawab Yabu kesal.
                                   ********SKIP*******
          Sudah seminggu Yabu diperbolehkan pulang oleh dokter, dengan syarat, setiap 2 hari sekali, dia harus memeriksakan keadaannya.
(Di taman kota)
          “Ahhhh aku tidak bisa mengerjakan ini! Ini benar-benar memeras otakku!” Yabu menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon yang besar dan rindang.
          “Kau harus menyelesaikannya Yabu! Inikan bagianmu.” Ucap Kei yang duduk di depan Yabu sambil menyantap bento yang dibawanya dari rumah.
          “Berikan bentomu padaku! Aku lapar Kei. Otakku tidak akan berjalan dalam keadaan perut kosong.”
          “Uso! Sebelum aku sampai di sini, aku yakin kau sudah memakan sesuatu. Sudahlah jangan mencari banyak alasan! Cepat kerjakan tugasmu!” Kei kembali menyantap bentonya.
          “kenapa otakmu sangat cerdas? Padahal kita sama-sama makan bento di pagi hari.”
          “Aku lebih banyak memakan kari buatan okaasanku. Mungkin itu yang membuat otakku lebih CERDAS darimu.” Kei menekankan pada kata ‘CERDAS’ pada suaranya.
          Yabu kembali berusaha mengerjakan tugas Kimia yang diberikan oleh Kitagawa sensei.  Padahal Kei sudah mengambil bagian-bagian yang tersulit, namun Yabu tetap tidak dapat mengerjakan bagian yang mudah dengan lancar. Dibandingkan Yabu, Kei jauh lebih cerdas.
          “Yabu!”
          “Uhm?”
          “Kau ingat Michi?”
          Yabu menghentikan kegiatannya dan menatap Kei. “Dari dulu kau selalu bertanya ‘Kau ingat Michi?’ Yuuri oneechan juga selalu menanyakan hal itu padaku. Siapa sebenarnya Michi? Apa dia begitu penting di hidupku? Aku tidak peduli siapa dia!” Yabu membanting alat tulis yang digenggamnya dan kembali bersandar pada pohon yang berada di belakangnya.
          “Ini!”
          “Apa ini?”
          “Bacalah! Aku memintanya dari Yuyan dan dia mencurinya dari ruanganmu saat kau dirawat di rumah sakit.”
          Yabu melihat sebuah foto yang sudah kusut. “Siapa perempuan ini?”
          Kei mengalihkan pandangannya saat Yabu menatapnya penuh kebingungan.
          “Apa dia Michi?” Yabu mengalihkan pandangannya ke arah foto tersebut. Terlihat dia sedang memeluk seorang gadis. Yabu membalik foto itu dan ditemukannya beberapa coretan kecil yang membuatnya tercengang. ‘Dulu kita bersama, dan sekarang sudah tidak lagi.’ ‘Yabu, kapan kau akan mengingatku seperti dulu?’ ‘Kau adalah malaikat pelindungku, namun itu dulu.’ ‘Aku akan melakukan apapun demi kesembuhanmu.’ ‘Get well soon Yabu!’ ‘Aku Michi. Kau ingat aku?’ dan masih banyak coretan kecil yang berada dalam foto tersebut.
          “Kalau kau sudah sembuh, apa yang kau inginkan?”
          “Aku ingin.. menikah denganmu.”
          “Kalau itu sudah pasti”
          “K..Kei..” Yabu memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa ada yang mencengkram kuat.
          Kei menoleh ke arah Yabu. “Daijoubu? Yabu?”
          “Kau itu malaikat pelindungku Yabu.”
          “Benarkah?”
          “Un.”
          “Dan kau?”
          “Kalau aku adalah orang yang beruntung mempunyai malaikat sepertimu.”
          Tersirat kekhawatiran di raut wajah Kei. “Yabu kau kenapa?”
          Yabu mencengkram kepalanya yang terasa sangat sakit. “Arrrrgggghhh! Perutku!”
          “Kepalamu kenapa? Perutmu kenapa? Yabu jawab aku!”
          “Apakah kita harus melakukan ini semua?”
          “Kita harus pergi Michi. Aku ingin hidup bersamamu!”
          “Tapi bukan seperti ini caranya Yabu.”
          “Sudahlah Michi ayo kita pergi!”
          Yabu mencengkram kuat perut dan kepalanya yang terasa sangat sakit. Pandangannya buram, dia hanya melihat seorang gadis yang tersenyum kepadanya. “Michi?”
          “Hahahaha baka! Untung saja temanmu membangunkanmu.”
          “Tapi dia terlambat!”
          “Itu salahmu sendiri Yabu!”
          Yabu berdiri dengan langkah gontai, dia berjalan tanpa arah.
          “Yabu! Kau kenapa?” Kei  mengikuti Yabu dari belakang dan memegang bahunya.
          Yabu menoleh ke arah Kei dengan tatapan kosong. Dia hanya dapat melihat gadis yang tersenyum manis padanya. “Michi! Michi! Michi!” lama-kelamaan segalanya menghilang dalam kegelapan.
                                              *******SKIP*******
Maiorita tenshi no youna  Kimi no egao wa
Kamisama ga boku ni kureta
Saikou no purezento

          “Moshi mosh Inoo? Doushitano?”
          “Daichan cepat ke rumah sakit sekarang!”
          “Ada apa?”
          “Yabu.. dia..”
          “Hah!” Daiki berdiri dari tempat duduknya. “Baiklah aku akan ke sana segera.”
          “Doushitamashita?” tanya Hikaru khawatir.
          “A, bikkurishita! Aku sedang makan nih!” protes Yuya.
          “Kei menelfonku dan mengatakan bahwa Yabu sedang kritis di rumah sakit!”
          “HAH!!!!” teriak Hikaru dan Yuya.
          Mereka bertigapun segera pergi ke rumah sakit.
                   ******SKIP******
          “Suster! Suster!” panggil Michi.
          Tidak lama kemudian, datang seorang suster dengan membawa sebuah catatan di lengannya. “Ada apa nona?”
          “Aku dengar hari ini ada pasien bernama Yabu Kota yang masuk ruang UGD?” tanya Michi terburu-buru.
          “Benar nona.”
          “Apa dia baik-baik saja?”
          “Keadaannya sangat buruk. Dia tidak sadarkan diri. Kata dokter, hari ini dia harus segera mendapatkan donor hati. Jika tidak_”
          “Jika tidak?” potong Michi.
          Suster itu menggelengkan kepalanya dan menunduk. “Dia akan kehilangan nyawanya.”
          Michi terkejut mendengar perkataan suster itu. Yabu, orang yang telah lama dicintainya akan meninggalkannya begitu saja. “Bisakah.. aku yang menjadi pendonornya?”
          Suster itu terlihat lebih terkejut. “Tidak mungkin nona!”
          “Kenapa? Hanya jantungku yang bermasalahkan? Hatiku masih baik-baik saja.”
          “Itu berbahaya nona!”
          “Ini hakku. Aku yang punya hak. Tolong katakan pada dokter, aku ingin menjadi pendonornya.” Ucap Michi tegas. Keputusannya telah bulat. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi padanya. Selama Yabu hidup, itu sudah cukup baginya. Entah Yabu akan mengingatnya atau tidak, dia sama sekali tidak memikirkan hal tersebut.
          “Tapi... baiklah nona, saya akan segera kembali.”
          “Terimakasih suster, tapi, tolong jangan katakan aku yang menjadi pendonor!”
          “Baiklah nona.” Dengan berat hati suster itupun segera meninggalkan ruangan Michi dan menuju ke ruangan dokter.
          ‘Yabu, bertahanlah! Kamisama berikan kekuatan untuk Yabu’ Michi meletakkan kedua tangannya di depan dada. Sekarang ini, dia hanya bisa berdo’a. ‘Kamisama tasukete.. jagalah Yabu.. Onegaishimasu!’
                                          *******SKIP********
          “Kita harus segera mencari pendonor hati tersebut.”
          “Tapi siapa dokter? Siapa?” tanya Yuuri yang terlihat sangat gelisah.
          Mereka dikagetkan dengan tiba-tibanya pintu terbuka oleh seorang suster.
          “Ada apa suster?”
          “Sumimasen sensei! Saya telah menemukan orang yang bersedia mendonorkan hatinya kepada Tuan Yabu.
          “Siapa suster?” tanya Yuuri terkejut.
          “Sumimasen. Orang itu tidak ingin disebutkan identitasnya.”
          “Baiklah, kalau begitu kita akan memulai operasinya hari ini. Suster, siapkan ruang operasi segera! Aku akan segera memeriksa keadaan Tuan Yabu sekarang ini juga.”
          “Baik dokter.” Suster itupun segera berlalu.
          Yuuri terlihat sangat bahagia, namun, dia tetap memikirkan siapa orang yang telah rela mendonorkan hatinya untuk Yabu. ‘Arigatou Kamisama. Hontou ni arigatou!’ seru Yuuri dalam hatinya.
(Di ruang UGD)
          “Apakah Yabu akan sadar? Kenapa dia tidak segera membuka matanya?” tanya Daiki yang melihat nanar ke arah Yabu yang sekarang tubuhnya telah dipenuhi oleh peralatan-peralatan rumah sakit.
          “Mi..chi. Mi..chi!”
          “Yabu! Kau! Buka matamu Yabu!” Kei mendengar Yabu bersuara.
          “Ada apa Inoo?” tanya Hikaru yang berada di samping Daiki.
          “Di..dia sadar!” jawab Kei.
          Yuya, Daiki, Hikaru dan Kei mengelilingi tempat tidur Yabu yang belum juga membuka matanya.
          “Michi? Mi..Michi?”
          “Apakah dia mengigau?”
          “Kei! Bisakah kau membawa Michi kemari?” tanya Yuya.
          “Un. Baiklah.” Kei segera keluar dari ruang UGD dan berlari menuju ruangan Michi.
          Sesampainya di ruangan Michi, dia tidak melihat seorangpun yang ada di sana. “Kemana Michi?” Kei keluar dari ruangan Michi dan bertanya kepada seorang suster. “Sumimasen, apakah suster tahu pasien bernama Michi yang dirawat di ruangan ini?”
          “Oh, nona Michi berencana untuk mendonorkan hatinya untuk pasien bernama Yabu Kota. Sekarang dia sedang dipersiapkan di ruang operasi.” Jawab suster tersebut.
          “APA? Terimakasih suster!” Kei segera berlari ke ruang operasi untuk menemui Michi. ‘Dia sudah gila! Benar-benar gila!’ batin Kei.
          Sesampainya di ruang operasi, Kei melihat ke dalam lewat celah pintu yang masih terbuka sedikit. Terlihat Michi yang sedang berbaring di atas tempat tidur lengkap dengan baju operasi yang berwarna hijau tua. Dia menangis dan tersenyum. Kei tidak bisa melakukan apa-apa saat itu. Sulit baginya untuk meyakinkan Michi. Kei melangkahkan kakinya kembali ke ruang UGD tempat Yabu dirawat.
          “Dimana Michi? Daritadi Yabu terus memanggil namanya Kei!” seru Hikaru saat melihat Kei yang baru saja tiba di ruangan Yabu.
          Kei berjalan mendekati Yabu dan menggenggam tangannya. “Gomen. Gomen ne Yabu! Gomen!” Kei menitikkan air matanya. “Gomen Yabu! Aku tak dapat mencegahnya.”
          “Apa yang kau maksud Kei? Dimana Michi?” tanya Daiki yang melihat Kei menangis.
          Beberapa saat kemudian, muncul seorang dokter dan beberapa suster yang sudah siap dengan pakaian dan masker yang akan dipakainya saat mengoperasi Yabu nanti.
          “Dokter!” Kei menatap dokter itu penuh harap. “Apakah Michi akan selamat?”
          Dokter itu menatap ke arah Yabu dan menatap Kei kembali. “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya.” Dokter dan suster-suster itu langsung membawa Yabu ke ruang operasi. Diikuti oleh Kei dan yang lainnya.
                                       *******SKIP*******
          Yabu membuka matanya. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di perut sebelah kanannya. “Ini dimana?” Dia melihat ke arah kiri dan mendapati seorang gadis yang masih terkulai lemas. “Michi? Apa itu kau?”
          Yabu berusaha bangun dari tempat tidurnya. Namun, hal itu terasa sangatlah sulit. Perutnya sangat sakit karena luka bekas operasi belum mengering. Dia membatalka nniatnya dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. “Michi bangunlah!” Karena tidak jawaban dari Michi, Yabu memutuskan untuk kembali tidur.
          “Yabu?” suara lembut seorang gadis mengurungkan niat Yabu untuk kembali tidur.
          “Michi? Kau sudah bangun?” Yabu menatap gadis itu penuh arti.
          Wajahnya pucat pasi, namun dia tetap memaksakan seulas senyum untuk Yabu. “Daijoubu ka?”
          “Un. Kimi wa?”
          “Daijoubu desu.” Jawab gadis itu.
          “Bagaimana kita bisa berada dalam satu ruangan Michi?”
          “Aku yang memintanya.” ujar Michi berbohong.
          “Hontou ni?”
          Michi mengangguk lemas dan kembali mengulas senyumnya. Dia hanya merasakan kekosongan di perut sebelah kanannya. ‘Apakah hatiku sudah berada di tubuhmu Yabu?’ tanya Michi dalam hati.
          “Nee Michi! Kenapa kau terlihat sangat pucat?” tanya Yabu khawatir. Dia merasakan ada yang aneh.
          “Aku baik-baik saja Yabu.”
          “Bisakah kita pergi jalan-jalan besok? Aku ingin pergi berdua bersamamu Michi! Aku akan meminta ijin pada dokter, kalau dia tidak mau aku akan terus memaksanya. Apa kau mau? janji ya?”
          “Baiklah, aku berjanji.” Michi terus mengulas senyumnya, hanya itu yang bisa diberikannya pada Yabu. ‘Baiklah aku mau Yabu. Tapi, apakah besok aku masih hidup?’ tanya Michi dalam hati. Michi memejamkan matanya dan berharap keajaiban akan selalu menyertainya.
(Keesokan Harinya)
          “Ohayou Yabu!!!” teman-temannya datang menjenguknya, yang tidak lain adalah Kei, Hikaru, Yuya, dan Daiki.
          “Ohayou!” sapa Yabu yang duduk di sebelah tempat tidur Michi. “Kenapa kalian tidak masuk?”
          “Otanjoubi Omedatou! Otanjoubi Omedatou! Omedatou Yabu Kota, Otanjoubi Omedatou! Otanjoubi Omedatou Yabuuuuu!!” seru mereka berempat.
          “Hah?”
          Michi mengecup lembut lembut pipi kekasihnya. “Otanjoubi Omedatou Yabu!”
          Yabu menatap Michi bingung. “Ini hari..”
          “Kau lupa? Hari ini ulang tahunmu Yabu” Michi tersenyum.
          “Nee Yabu, gomen. Kami tidak membawa kue seperti biasanya karena dokter belum mengijinkanmu untuk makan sembarangan. Tapi tenag saja, kami membawa kado yang sangat istimewa untukmu Yabu.” Ucap Yuya antusias.
          “Apa itu?” tanya Yabu yang memasang wajah penasarannya.
          “Tadaaaa!” orang tua Yabu muncul dari belajang mereka, Yuuri juga ada di sana.
          “Otousan! Okaasan!” panggil Yabu.
          “Otanjoubi Omedatou Kouchan!” Ibu Yabu langsung memeluk anak tersayangnya. “Maafkan ibu sayang! Karena ibu baru bisa menjengukmu sekarang! Otanjoubi Omedatou!”
          “Okaasan!” Yabu memeluk erat seorang wanita yang sekarang berada dalam pelukannya. “Aku sangat merindukanmu! Maafkan aku okaasan!”
          Yabu melepaskan pelukannya dan memeluk sang ayah. “Otousan! Maafkan Kota Otousan!”
          “Daijoubu.” Ucap ayah Yabu.
          “Yabu?” panggil Michi.
          Ibu Yabu memandang ke arah Michi. Sebelumnya Yuuri telah mengatakan padanya bahwa Michilah yang mendonorkan hatinya kepada Yabu. Ibu Yaby mendekati Michi dan langsung memeluknya dan menangis.
          “Arigatou Michi! Arigatou!”
          “Obasan!”
          “Jangan panggil aku seperti itu! Mulai sekarang kau boleh memanggilku Okaasan. Michi, mulai sekarang kau adalah anakku.”
          “Okaasan!”
          “Yah.. panggil aku seperti itu sayang!” Ibu Yabu memeluk Michi sekali lagi.
          Yabu tersenyum melihat Ibunya dan Michi berpelukan. Dia memandang ke arah ayahnya. “Otousan?”
          “Ini adalah kado ulang tahunmu Kota. Ayah merestui hubungan kalian”
          “Arigatou otousan!”
                                 ***********SKIP************
          “Kau yakin tidak mau kutunggu?” tanya Hikaru yang masih ada dalam mobil.
          “Tidak usah, biarkan aku bersama Michi sendirian. Nanti aku akan menghubungimu.” Jawab Yabu yang berdiri di belakang Michi yang duduk di atas kursi roda.
          “Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi aku segera ya! Jyaa naa!” Hikaru melambaikan tangannya dan segera melaju pergi meninggalkan Yabu dan Michi di Okinawa. Mereka berdua jalan-jalan bersama, persis dengan janji yang mereka buat tadi malam.
          Yabu mendorong kursi roda Michi dan pergi berjalan-jalan menikmati pemandangan di sana. “Michi?”
          “Uhm?”
          “Janji kepadaku kau takkan meninggalkanku ya?”
          Michi terdiam mendengar perkataan Yabu. ‘Gomen ne Yabu’
          “Michi?”
          “Un. Aku berjanji. Yabu aku tidak ingin duduk di sini. Aku ingin berjalan.” Pinta Michi yang menarik-narik lengan baju Yabu.
          “Kau bisa?”
          “Kan kau bisa membantuku.”
          Yabu tersenyum simpul. “Baiklah. Hati-hati!” Yabu membantu Michi berdiri dan membopongnya berjalan.
          Di sepanjang perjalanan, mereka tertawa bersama dan bercanda bersama. Seakan tak tahu kematian berada tepat di depan mereka. Mereka berdua duduk di bawah pohon yang sangatlah rindang, berpelukan seakan tak akan ada yang bisa memisahkan mereka.
          “Yabu,, kalau nanti aku pergi, apa kau akan melepaskanku?”
          “Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku akan terus memegang tanganmu dan tidak akan mengijinkanmu pergi dariku.”
          “Aku serius Yabu.”
          “Iya iya.. uhm.. jika kepergianmu itu membuatmu bahagia, aku akan melepaskanmu. Aku pasti akan melepaskanmu.” Yabu tersenyum dan mempererat pelukannya.
          “Yabu?”
          “Uhm?”
          “Otanjoubi Omedatou! Daisuki.”
          “Arigatou..Aishiteru Michi.”
          “Ini pertamakalinya kau mengucapkan kata itu Yabu.”
          “Mulai sekarang, aku akan sering mengucapkannya. Aishiteru!”
          Michi meneteskan air matanya. Rasanya benar-benar bahagia. Yabu memeluk erat dirinya dari belakang. Namun, entah kenapa dia merasakan kantuk yang sangat.
“Bolehkah aku beristirahat sebentar? Aku lelah Yabu.”
          “Tidurlah sayang, tidurlah!”
          Michi memejamkan matanya perlahan. “Aishiteruyo!”
          “Boku mo.”
          Berjam-jam telah berlalu, namun, Michi tidak kunjung bangun dari tidurnya. Hal itu membuat Yabu menjadi khawatir. “Michi? Kau tidur lama sekali! Oiya apa kau tahu orang yang mendonorkan hatinya untukku? Aku ingin bertemu dengan orang itu. Aku ingin berterimakasih karena dia bersedia mendonorkan hatinya untukku. Namun, apakah masih mungkin? Apa menurutmu dia masih hidup?”
          Tetap saja tidak ada jawaban dari Michi.
          “Michi bangunlah! Kenapa kau tidur terus?” kekhawatiran Yabu memuncak saat tubuh Michi terasa sangat lemas.
          “Michi? Apa kau baik-baik saja? Bangunlah Michi!”
          Yabu melepaskan pelukannya dan melihat darah segar keluar dari hidung Michi. “Miichiiiii!!!!” Yabu menangis ketakutan. “Kau kenapa Michi? Buka matamu! Aku mohon!” Yabu memberanikan diri untuk menyentuh pergelangan kekasihnya, namun, dia tidak merasakan apa-apa.
          Tangis Yabu memuncak, tubuhnya terguncang hebat, dia memeluk kekasihnya yang telah beristirahat dengan tenang.
          “Michiiiii!! Tidurlah Michi! Beristirahatlah dengan tenang, aku akan selalu menjagamu. Aku janji!”
                                      *******SKIP*******
(Flashback END)      
Seseorang menyentuh bahunya dari belakang. “Douzo!”
            “Apa ini?”
            “Bacalah! Aku pergi dulu!”
            “Arigatou Daichan!” Yabu membuka surat yang diberikan oleh Daiki.
          Gomen Yabu, mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada. Dengan kepergianku ini, jangan anggap aku sudah lenyap dari hadapanmu! Karena ‘hatiku’ selalu berada dalam tubuhmu. Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya. Akulah orang yang telah  mendonorkan ‘hati’ku padamu. Apa kau marah?
            Yabu mulai meneteskan air matanya. “Michi!”
            Aku tidak ingin kau pergi, jadi biar saja aku yang pergi. Karena untuk selamanya, kau adalah malaikat penjagaku. Kau harus menjaga ‘hati’ku dengan baik-baik. Janji?!
          “Un. Aku berjanji” jawab Yabu lirih.
            Aku merasa benar-benar beruntung memilikimu. Kau menyelamatkanku dari kehidupanku yang kelam. Kau melindungi dari kematian yang selama

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)