Pages

Birthday Fairy by Audrie Ghaisani




Title                 :           Birthday Fairy
Categories       :           Oneshot
Genre              :           Friendship, mungkin sedikit humor
Rating             :           G
Theme Song    :           Ost. Playzone 2012 – Happy Days
Author             :           eghssni
Alasan mengikuti lomba :       Cause it’s his birthday!!!! *ganyante*
Cast                 : 1.       Yabu Kota
                        2.         Morimoto Natsune
Synopsis          : Di hari ulang tahunnya yang ke-23, seorang peri menghalangi perjalanan pulang Kota dan memberinya hadiah yang tak terduga.


*****

“Yamette kudasai..!”

            Kota sedikit terlonjak, mungkin kalau tidak ada teriakan melengking khas gadis SMP yang membuyarkannya dari lamunannya, perutnya sudah tertusuk tongkat peri imitasi berwarna merah muda lembut dengan bintang plastik di ujungnya. Dia tidak tahu harus berterima kasih atau malah marah-marah saat ini.

            Gadis SMP yang barusan membuat telinganya tuli, sekaligus nyaris menusuknya dengan tongkat peri imitasi itu memakai terusan berwarna putih dan sayap imitasi di punggungnya. Kota tidak tahu dia sedang cosplay atau memang begitulah pakaiannya sehari-hari. Yang jelas Kota tidak bisa menahan dirinya untuk memiringkan dirinya dan bertanya.

            “Kau ini apa?”

            Oke, kalau hal ini dia katakan kepada orang-orang normal, mungkin bekas merah berbentuk tangan sudah menjeplak di pipinya. Tapi gadis kecil satu ini justru terlihat senang dengan pertanyaan Kota.

            Ia memutar-mutar tongkatnya tinggi-tinggi, membuat bulu-bulunya menggelitik hidung Kota dan membuatnya ingin bersin. “Onii-chan tidak lihat? Aku ini seorang peri!” Katanya riang.

            “Peri Natsune!” Lanjutnya.

            “Baik—lah,” Sahut Kota. Tidak tahu harus menjawab apa. “Apa yang seorang peri inginkan dariku?” Tanyanya. “Mau mengambil nyawaku?”

            Gadis itu terlihat terkejut dengan ucapan Kota. Ia memukul laki-laki 23 tahun itu dengan tongkatnya. “Aku ini seorang peri, bukan shinigami!” Protesnya. “Dan selayaknya seorang peri, aku sedang menjalankan tugasku sebagai seorang peri!” Dia menggoyang-goyangkan tongkatnya lagi.

            “Yaitu?” Timpal Yabu sambil mengangkat alisnya.

            “Membuat seluruh dunia tersenyum!” Serunya sambil melonjak-lonjak. “Karena kulihat Onii-chan sedang tidak baik, maka aku memutuskan bahwa Onii-chan adalah client pertamaku.” Ujarnya sambil tersenyum cerah. “Lagipula Onii-chan hari ini ulang tahun kan? Mana boleh pria yang sedang berulang tahun berwajah lesu begitu!” Katanya.

            “Kau tahu darimana kalau aku sedang berulang tahun?” Tanya Kota sedikit takjub.

            “Setiap orang yang sedang berulang tahun, memiliki aura putih di sekelilingnya.” Jawab gadis itu sambil tersenyum misterius.

            “Begitu?” Timpalnya tidak tertarik. “Kalau kau benar-benar peri, kenapa tidak mengabulkan permohonanku?” Tanyanya. “Jangan buat Ryu berpisah dengan kami.” Gumamnya. “Jadikan Hey! Say! JUMP kembali bersepuluh.” Katanya.

            Kota tahu permohonannya tidak akan dikabulkan, bagaimanapun gadis abnormal di depannya ini tidak akan mungkin membuat keajaiban itu. Bahkan jika dia benar-benar peri.

            Tapi hal ini membuatnya mau tak mau merasa mau menangis. Dari kemarin, hal itulah yang terus terlintas di kepalanya. Apalagi di saat didapatinya Ryutaro tidak membalas semua e-mail nya untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-23 hari ini. Seperti tahun kemarin, seperti di hari ulang tahun member lain.

            Dia sering menanyakan kabar Ryutaro pada Juri, teman sekelasnya. Bertanya apakah Ryutaro sudah mendapat e-mail darinya dan kenapa dia belum juga membalasnya. Jawaban Juri selalu sama. Ryutaro tidak menerima e-mail apapun darinya.

            Padahal Yabu sudah berulang kali menelpon ke kantor pusat untuk memastikan bahwa e-mail nya terkirim dengan benar.

            Dia benar-benar kehilangan adik terkecilnya.

            Gadis kecil itu berhenti menyunggingkan senyumnya. Tongkatnya terkulai, mengikuti tangan yang menggenggamnya. Untuk sesaat peri jadi-jadian itu terlihat kehilangan cahayanya.

            Tapi kemudian, entah dapat kekuatan darimana gadis itu melonjak sambil berseru. “Yatta! Aku punya ide.” Serunya gembira. Ia memandang Kota yang kini menatapnya bingung.

            “Peri Natsune punya cara untuk membuat Onii-chan tidak sedih lagi,” Katanya gembira.

            “Kita akan....” Dia menggantung kalimatnya, menatap Kota, berharap pemuda di depannya itu penasaran.

            “Makan kue dango!” Teriaknya dengan heboh. Hingga Kota tidak heran, kalau dia akan menemukan namanya di halaman pertama tabloid gosip besok.

“Yabu Kota (Hey! Say! JUMP) tertangkap basah sedang bersama orang aneh.”

            Garing kayak Miyachika.

            “Hayaku! Hayaku!” Katanya bersemangat sambil menarik tangan Kota.

            Yah, Kota tidak punya pilihan selain mengikutinya kan?

*****

            Gadis itu baru berhenti berlari di depan kedai sederhana dengan interior khas Jepang. Ia menarik tangan Kota untuk masuk ke dalam kedai itu.

            Wangi manis sekaligus asin segera menguar menggelitik penciuman Kota. Membuat perutnya sedikit menggeliat. Kedai itu tidak bisa dibilang bagus, tapi membuatnya sedikit tenang.

            “Paman! Dua ya! Satu untuk yang sedang berulang tahun hari ini, satu lagi untuk seorang peri yang sedang menjalankan misi.” Seru gadis itu pada seorang paman penjaga kedai itu.

            “Aah, baiklah.” Paman itu tersenyum lebar.

            Tak berapa lama, dua porsi Kue dango hangat sudah terhidang di kedua eksistensi berbeda gender dan usia yang terpaut jauh itu. “Ini untuk Peri Natsune, dan ini untuk yang hari ini sedang berulang tahun,” Kata Paman itu sambil tertawa. “Nikmati ya.”
            “Terima kasih!” Gadis itu memandang kue bulat-bulat yang ditusuk dengan sepotong lidi itu dengan mata berbinar. Terlihat sangat kontras kalau dibandingkan dengan wajah Kota yang masih keheranan.

            “Umai!!!!” Gadis itu berseru sesaat setelah ia memasukan salah satu bola bulat itu ke mulutnya. “Seperti biasa, kue dango nya paman memang paling top!” Pujinya. “Onii-chan cepat coba!” Katanya bernada sedikit memerintah.

            Kota menurut. Ia mengambil salah satu lidi dan mencampurnya dengan saus. Seketika rasa manis sekaligus asin menyebar di seluruh lidah Kota. Memberikan kehangatan di sekujur tubuhnya. Jantungnya jadi berdebar dan seluruh tubuh merinding. Reaksi biasa kalau makan makanan enak.

            “Bagaimana?” Tahu-tahu, paman tadi muncul di depan Kota dan Natsune. Kota tidak bisa menjawab apa-apa selain mengacungkan jempolnya. Tapi kelihatannya Paman itu kelihatan cukup puas dengan reaksi Kota.

            “Ne, ne, Onii-chan,” Gadis itu mengibas-ngibaskan tongkatnya di depan wajah Kota. “Kue dango ini seperti keluarga kan?” Tanyanya sambil mengangkat sebatang lidi dengan empat kue bulat ditusukkan disana.

            “Kalau aku makan satu, berarti satu keluarga mereka hilang.” Katanya sambil makan satu kue yang berada di puncak lidi tersebut. “Dengar, dengar, kau bisa dengar suara tangisan ketiga keluarga yang lain?” Tanyanya sambil mengarahkan tangan kanannya ke samping telinga Kota.

            Kota tidak bisa memberi reaksi apa-apa selain “apaan sih” atas perilaku abnormal gadis itu.

            “Tapi, alasan setiap perpisahan adalah sebuah pertemuan yang baru, kan?” Ujar gadis itu. “Di suatu tempat di dalam tubuhku, kue dango itu pasti sedang berkenalan dengan yang lain. Dengan tenggorokan, usus, lambung,” Dia berhenti bicara untuk menatap wajah Kota.

            “Dan di setiap pertemuan, akan ada hati kosong yang kembali terisi kan?” Katanya. “Akan muncul lagi seulas senyuman baru.” Ia kembali bicara.

            “Seperti aku, yang sekarang tersenyum karena kenyang. Habis makan makanan enak!” Ujarnya sambil tertawa.
            “Ryu juga begitu,” Katanya. “Tahu tidak? Siapa yang paling gembira ketika Ryu harus berpisah dengan idol group itu?” Tanyanya.

            Gelengan kepala dari Kota lah jawaban dari pertanyaan gadis itu.

            “Adik perempuannya!” Jawabnya ringan. “dia yang kembali mendapatkan kakaknya yang dulu selalu mengganggunya, yang melindunginya dari anak-anak nakal, yang selalu menangis di depannya kalau tidak ada orang lain lagi yang melihat, kakaknya yang sekarang tidak Cuma dia lihat di layar televisi saja.” Jelasnya panjang lebar.

            “Kakaknya yang kini menjadi eksistensi nyata yang selalu ada di dekatnya.” Katanya lagi. “Hal itu bahkan tidak pernah berani diimpikannya.” Gumamnya.

            Kota menggigit bibirnya. Kue dangonya mulai mendingin tapi tak dihiraukannya. “Begitu ya?” Tanyanya.

            Tidak ada jawaban.

            Tapi kemudian Kota mengangkat kepalanya. Kali ini menyunggingkan seulas senyum. “Wakatta,” Katanya. “Begitu ya, aku mengerti.” Dia menganggukkan kepalanya. “Seharusnya aku tidak bersikap egois ya...” Gumamnya pada dirinya sendiri.

            “Onii-chan,” Gadis itu memanggil Kota.

            Tidak ada tanggapan.

            “Onii-chan!”

            “Onii-chan!!!”

            “Apa?” Tanya Kota sedikit tinggi.

            “Ini untukmu!” Katanya, menyerahkan sebuah kotak berbungkus kertas krep dan pita warna biru.

            “Apa ini?” Tanya Kota. Sedikit terkejut, darimana kotak ini muncul?

            “Hadiah!” Jawabnya sambil tertawa. “Otanjoubi Omedetou, Yabu-kun.” Katanya.

            Kota menerima kotak itu dengan perasaan campur aduk.

            “Sebetulnya ini titipan sih,” Katanya sambil mengelus dagunya. “Yang penting dengan ini misiku selesai!” Katanya sambil melonjak gembira. “Peri Natsune pergi dulu ya! Buka hadiahnya baik-baik, semoga saja kau tidak terkejut. Ja mata~” Katanya sambil mengayun-ayunkan tongkatnya. Lalu pergi keluar dari kedai kue dango itu.

            Sedangkan Kota masih terbengong-bengong dari tempat duduknya.

            Ia menatap kotak itu dengan tatapan kosong. Tapi dengan perlahan pemuda berusia 23 tahun itu meraihnya perlahan.

            Ia membuka pita pembungkus kotak itu dalam kesunyian. Sehingga kita bisa mendengar dengan jelas suara gesekan kertas yang dikoyak secara paksa oleh jemari Kota.

            Hal pertama yang dilihatnya adalah secarik kertas berwarna kuning dengan tulisan yang tidak terlalu rapi. Dan hal yang membuatnya cepat-cepat menyambar kertas itu adalah nama yang tertulis di bagian bawah kertas itu.

            Morimoto Ryutaro.

            Otanjoubi Omedetou!!
            Gomen ne, aku tidak membalas e-mail mu. Juga berbohong soal e-mail yang tidak sampai pada Juri. Aku juga tidak datang ke pesta ulang tahunmu. Aku takut. Takut jadi ingin kembali lagi bersama kalian. Padahal aku harus fokus belajar, kan?
            Untuk alasan itu juga aku menitipkan hadiahmu pada peri cerewet ini. Semoga Yabu-kun tidak pusing dengan ocehannya yang menyebalkan dan tidak normal :p
            Jadi, semoga menikmati ulang tahunmu yang ke-23, aku ikut merayakannya dari sini lho! :3 Semoga kau suka hadiahmu :))

Morimoto Ryutaro

            Kota menepuk kepalanya. Pantas saja senyum peri jadi-jadian itu sedikit tidak asing baginya.

            Kota tertawa sekali lagi membaca surat pendek itu. “Kakak beradik Morimoto ini,” Gumamnya. “Seperti biasa, selalu punya cara untuk membuatku kena serangan jantung.” Katanya sambil menggeleng-geleng. Ia menutup suratnya. Dan tanpa melirik ke dalam kotak hadiah dari Ryutaro, pemuda itu melanjutkan acara makan kue dangonya.

            Kue dango enak hadiah ulang tahun dari Peri Natsune


******
*note   : Yamete kudasai (stop)
            Onii-chan (panggilan untuk kakak laki-laki)
            Shinigami (dewa kematian)
            Otanjoubi Omedetou (selamat ulang tahun)
Apa ada yang kelewat?

            Apa ini? *emot banting meja* maafin Audrie yang bikin FF come back yang gak jelas gini ya m(_ _)m kalau ada yang tersinggung atau gimana karena saya pake Ryuu ya maaf yaa namanya juga fic kan~ saaaa~~ mungkin kecepetan tapi mumpung bisa on.... Happy Birthday Yabu-papa! *crying* Still wait for your solo single! Masa kalah sama Yamada? :P *ngajak ribut* aku gak bisa kasih apa-apa but this fic. Sorry TwT

No comments:

Post a Comment

your comment is precious to us :)